Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Jangan Mencurigai Aku!


"Farhan?" selak Gana. Manik matanya melebar dengan tatapan tidak suka kepada suaminya.


Ammar hanya diam belum mau menjawab. Lelaki itu menarik napas pelan, lantas mengucap pamit kepada Papa untuk pergi ke kamar membawa Gana.


Ammar mendekatkan kursi roda Gana didekat sofa, dan ia duduk di sana, berhadapan dengan Gana di dalam kamar mereka.


"Jangan gitu dong, sayang. Farhan itu kan temen aku dari kecil. Apa-apa kita selalu bareng sampai sekarang. Rekan kerja pula. Farhan tuh buka orang lain, tapi udah aku anggap kaya saudara." Ammar tetap meyakinkan. Sebisa mungkin memberikan penjelasan, walau ini sudah berkali-kali.


Gana bungkam. Tapi tetap saja hatinya tidak enak. Melihat istrinya seperti kesal, Ammar hanya bisa mengusap wajah gusar. Menghembuskan napasnya lagi ke udara karena merasa penat.


"Tapi aku ngerasa kalau Farhan itu orang yang harus di waspadai!" senyumnya masam.


Ammar tertawa. "Waspadai gimana? Farhan bukan orang jahat. Ingat Gana, kita berhutang nyawa kepada Farhan. Dia lah yang menolong kita waktu itu."


Ammar terus mengulang-ngulang dan Gana muak mendengarnya. Entah mengapa bukan perasaan iba karena sudah dibantu, tapi Gana malah semakin benci dengan lelaki itu.


"Tapi kenapa di saat bersamaan dia bisa ada di sana?"


"Aku sudah menjelaskan berkali-kali tentang alasannya kepadamu, kenapa masih enggak percaya, sih?" jawab Ammar. Raut wajahnya terlihat mulai lelah.


Karena insting seorang istri selalu benar. Istri tidak pernah salah. Semenjak jawaban itu Ammar layangkan, Gana memilih diam. Percuma baginya, mata Ammar sudah tertutup.


Hening.


Ammar berusaha mencairkan suasana yang terasa mendadak dingin. Ia sadar baru saja mengucap dengan nada tinggi kepada Gana. "Mandi, yuk."


Gana menggeleng. "Untuk apa kamu bela-belain pulang dulu, hanya untuk memandikan aku? Kan ada Farhan yang lebih penting. Dia sedang menunggu kamu." kecemburuan Gana semakin terlihat. Wanita itu melengos, menatap ke arah lain.


Kalau mau marah, tolong jangan sekarang. Dirinya sedang letih, batin Ammar.


"Gana, tolong. Enggak sekarang!" Ammar membuat Gana kembali tersentak. Tentu Ammar tidak mau memutuskan tali persahabatannya, hanya karena insting Gana yang tidak jelas. Terkadang Ammar sampai ingin menjelajahi isi otak Gana, mengapa sebegitu bencinya kepada Farhan.


Wajarlah, lelaki akan selalu menggunakan logika. Ia butuh fakta. Tidak seperti wanita yang hanya bisa memakai perasaannya saja.


Ammar melepas jas nya lalu ia sampirkan di atas sofa. Menaikan lengan baju sampai ke sikut. Dan menaikan celana sampai ke betis.


"Tapi aku tetap enggak suka kamu berteman sama dia, Ammar!" Gana tidak mau kalah. Ia kembali menoleh menatap suaminya. Bisikan dari hatinya membuat ia berani.


Ammar kembali mendesahkan napas berat. Ia memijat pangkal dahinya karena pening. Di kantor sudah banyak kerjaan, mana ia harus bolak-balik kantor-rumah-kafe, tempat pertemuannya dengan klien nanti.


"Aku enggak mau kamu pergi!" Gana merengek, menggenggam tangan suaminya. "Setiap ngelihat kamu berdekatan sama Farhan, dada aku tuh gemeteran. Kayak takut gitu." Gana memegang dadanya.


"Aku pergi enggak ketemu dia, sama klien yang lain."


"Bohong ya?"


Uh, ya ampun. Ammar menggeleng samar. Keras kepala sekali wanita ini. Seakan ucapan untuk menasehati Gana barusan begitu saja mental.


Ammar memegang bahu istrinya. Menatap jelas dengan sorotan fokus.


"Kamu masih belum bisa menelaah ucapan ku barusan? Baik, aku ulangi kalau begitu. Kita berhutang budi kepada Farhan, dia sudah menolong nyawamu dan nyawaku. Berusaha membantu untuk mencari dalang dari kejadian ini. Apa kamu tidak bisa melihat kebaikannya?"


Gana mendengus. "Oke, kalau kita memang berhutang budi kepadanya, aku bisa mengucap kata terima kasih dan memberikan uang kepadanya. Tapi aku tidak mau kamu berdekatan lagi dengan Farhan! Aku tidak suka, Ammar! Aku ngerasa dia itu enggak baik!"


Ammar memejam kedua mata menahan amarah yang sepertinya akan meledak karena tidak kuat dengan rengekan Gana yang menurutnya semakin tidak jelas.


"Kasih aku satu aja alasan, yang membuat aku untuk bisa mengiyakan ucapan kamu, bisa?"


Gana menunduk. Dirinya bingung. Memang hanya insting yang terpatri. Selebihnya ia belum bisa menemukan bukti dari balik instingnya.


"Enggak ada bukti 'kan? Cuman perasaan kamu aja? Nerka-nerka pakai hati yang enggak jelas unsurnya apa? Ada pepatah yang bilang kalau enggak kenal maka enggak sayang. Kalau kamu udah kenal sama Farhan, kamu pasti percaya sama pepatah itu. Farhan itu udah lebih dari sahabat, Gana. Aku anggap dia seperti saudara aku sendiri." kini tangan Ammar yang sedari tadi memegang bahu, lantas turun untuk menggenggam tangan sang istri.


"Jangan gampang berprasangka, sayang. Kamu tau kan hal itu enggak baik?" suara Ammar kembali lembut, begitu halus seperti kapas.


Karena Gana tidak mengetahui bagaimana Farhan bisa memapah tubuh Ammar yang sedang dirundung kesedihan dalam kisah masa lalu, agar bisa berdiri, berpijak dan mengerangakan taring kepada musuh-musuhnya.


"Mandi ya." ajak Ammar. Ia merengkuh tubuh istrinya untuk dibawa masuk menuju kamar mandi.


Gana mengangguk lemah. Hatinya sedikit teriris karena malu akan nasihat yang Ammar cuatkan. Walau jauh di lubuk hatinya, Gana tetap saja merasa tidak suka dan aneh kepada Farhan.


Ammar beringsut, lalu membungkuk untuk menggendong Gana dari kursi roda. Ketika kaki nya baru saja ingin melangkah, kembali terhenti karena Gana menepuk bahunya. "Aku mau ikut kamu ketemu klien ya. Soalnya aku bosan dirumah terus." kilah Gana.


Ammar tahu, hal itu adalah alibi istrinya saja. Gana ingin mengecek apakah Ammar berbohong? Benar-benar bertemu klien atau Farhan.


***


"Kenapa diam terus? Marah sama aku?" tanya Gana yang hanya pasrah di dudukan di atas closed. Ammar fokus menyirami tubuh Gana dengan air shower untuk menghilangkan cairan sabun yang melekat.


Ammar tertawa nyeleneh. "Aku enggak akan pernah bisa marah sama kamu ..." padahal di dalam hatinya ia sedang mencoba menahan sabar.


"Angkat keteknya." Gana mengangkat tangannya ke atas. Ammar mengusapnya dengan iringan air shower.


Gana menatap Ammar dengan tatapan lain. Jantungnya terus berdegup tidak karuan. Ia tidak malu lagi polosan seperti ini. Kadang, suara saliva yang tertelan sampai terdengar jelas di dalam kerongkongan Ammar. Ia takjub dengan kemolekan dan kemulusan tubuh istrinya. Walau ada cacat sedikit di sekitar kulit kaki dan pahanya. Tapi ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu, baginya kelebihan Gana yang lain masih luas untuk menutupi luka kecil tersebut.


Jika bisa, Ammar ingin sekali menyergap Gana di ranjang sampai puas, tapi sayang yang dirinya tahu sang istri belum bisa mencintainya secara utuh. Membiarkan Gana untuk beradaptasi dulu, tapi membuat dirinya tidak peka dengan perubahan sikap Gana yang mulai suka padanya.


"Sayang, apa enggak sebaiknya kamu di rumah aja? Istirahat! Nanti pulangnya aku bawakan makanan deh."


Gana yang sedang melamun menatap Ammar dengan kilatan benih-benih cinta langsung terlonjak. "Kamu enggak mau aku ikut? Kamu malu bawa aku?"


Ammar menggeleng cepat. "Yaa-enggak dong. Masa malu. Hanya takut kamu bosan dan capek, lebih baik di sini. Tiduran, nonton tivi, ngobrol sama Mama dan Papa." Ammar meletakan gagang shower kembali ditempatnya. Meraih handuk untuk mengelap tubuh istrinya yang basah. "Aku janji akan makan malam di rumah."


Gana menggeleng dengan bibir mengerucut. "Aku tetap mau ikut! Sekali-kali makan malam diluar kan bagus juga." Gana tetap memaksa. Sejatinya ia sangat hafal, kalau Ammar sudah seperti ini. Pasti ada yang lelaki itu tutupi.


"Mama 'kan pasti masak, gak enak dong kalau makanannya enggak di makan." Ammar mencoba terus meyakinkan istrinya yang sedari tadi bersikeras merengek ingin di ajak. Karena selama tinggal di sini, Mama Difa selalu memasak untuk suami, anak, menantunya. Walau ada ketiga art di rumah ini.


"Berarti bener 'kan, kamu mau pergi sama Farhan?"


Ammar memilih diam. Rasanya jika terus menjawab ucapan Gana, mereka hanya akan ribut, dan Ammar mengutuk hal itu. Menggendong tubuh Gana yang hanya terlilit handuk lalu di dudukan dibibir ranjang. Ammar melangkah ke lemari Gana untuk meraih pakaian.


"Ammar ..."


"Hemm." jawabnya hanya dengan deheman.


"Pakai dress yang bunga-bunga hortensia aja, warna kuning." titah Gana.


Tapi, kening Gana langsung mengerut ketika Ammar kembali dengan piyama Spongesbobs ditanganya. Lelaki itu tidak menuruti kemauan istrinya.


"Kok piyama? Aku kan mau ikut kamu." Gana kembali merengek tidak suka. Ingin beranjak ke lemari sendiri tapi ia tidak bisa.


"Aku ingin kamu di rumah!" Ammar memberi perintah.


"Enggak mau!"


"Tolong mengerti Gana, aku bertemu dengan klien bukan dengan Farhan! Aku sedang berjuang mencari nafkah buat kamu! Harusnya kamu mendoakan suamimu, bukan malah mencurigainya yang tidak-tidak!"


DEG.


Suara bariton Ammar kembali terdengar. Gana sampai mengedikkan pangkal bahu karena kaget. Ammar melepas kaitan handuk ditubuh istrinya dan memakaikan piyama dengan gerak cepat di tubuh Gana. Ammar pun tersentak sendiri dengan ucapannya. Ia tidak pernah seperti ini kepada Gana, tapi mau bagaimana lagi. Gana memang tidak boleh ikut.


***


Like dan Komennya ya jangan lupa😘