
Rumah mewah Ammar dan Gana terasa ramai pagi ini. Karena tamu yang di tunggu-tunggu sudah datang. Mahendra datang bersama Dafa dan Danisha. Alex bersama Anggi. Farhan bersama Falan. Para istri mereka ditinggal di rumah.
Sejak pagi-pagi sekali Gana sudah repot di dapur bersama para art mereka untuk memasak menu makan siang. Ada juga beberapa cemilan yang ia pesan di luar. Yanti, pun ikut membantu Gana.
"Sini, Kakak bantuin," ujar Dava. Rora yang sedang memperhatikan Falan tengah bermain dengan Taya, lantas menoleh. Anak itu mengangguk. Dava meraih kuas cat air yang sedari tadi di genggam oleh Rora. Dava mulai membantu Rora untuk mewarnai.
"Yah, Kakak, ini tuh salah!" Taya mencebik. Falan tersenyum dan menjawil pipinya.
"Ya udah kita bongkar lagi, ya," jawab Falan. Rora menoleh lagi, menatap Falan dan Taya yang kembali tertawa-tawa.
Sejatinya, Rora ingin sekali bermain dengan Falan. Tapi anak lelaki yang hanya berbeda tiga bulan dengannya tersebut lebih memilih bermain dengan Taya. Dari dulu, Falan memang lebih gemas kepada Taya.
"Rora ...." Dava mencolek bahu Rora untuk menatap canvas. Tadi, Rora menggambar seekor kucing dan sekarang Dava mewarnainya.
"Wah, bagus banget." puji Rora.
"Kamu suka?"
Rora mengangguk.
"Mau gambar apa lagi? Biar nanti Kakak yang warnain." Dava, anak sulung Mahendra yang saat ini sudah duduk di bangku SMP menawarkan keahliannya. Dava memang pintar melukis. Hobi dirinya dan Rora sama. Sama-sama suka menggambar.
"Salah dong, Taya!" lagi-lagi Rora menoleh, saat Falan membetulkan puzzle yang sedang di rangkai Taya.
"Haha. Kok jadi aneh, ya, Kak," timpal Taya.
Terlihat Rora menghela napas, anak itu cemburu. Ia menatap Dava, bukan menjawab tawaran Dava. Namun, ia memberikan respon yang di luar ekspektasi. "Udahan aja gambarnya, Kak. Aku capek." Rora beranjak bangkit berdiri. Ia melangkah menuju dapur untuk mengambil minum. Dava melihati Rora dan mengekor langkah anak itu.
"Kamu yang bener dong mainnya! Masa nembak aja enggak bisa!" sungut Anggi. Ia memarahi Aidan yang di anggap tidak becus saat bermain PS dengannya. "Ke kanan!" titah Anggi memberi aba-aba.
"Iya, Kak."
Aidan tidak berkecil hati. Ia tidak marah ketika di omeli Anggi yang usianya lebih tua tiga tahun dengannya yang saat ini tengah duduk di kelas empat SD. Aidan tidak merajuk. Ia malah senang, karena tidak lagi bermain PS sendirian. Maka setiap habis shalat, Aidan akan selalu berdoa untuk meminta adik yang sedang di kandung Mamanya, berjenis kelamin laki-laki.
"Huwaaaaaaa ... Abang! Nih, nakal!" Danisha menangis sambil menunjuk Adela ke arah Dava yang tengah mengekor langkah Rora ke dapur. Sontak, Dava menghentikan langkah. Ia menghampiri adiknya. Pun dengan Rora.
Wajah Danisha sudah belepotan bedak. Bibirnya merah menyalah. Adela mendandaninya asal. Danisha yang umurnya hanya beda lima bulan dengan Adela, sejak tadi sedang main dandan-dandanan. Ia tidak menyangka jika akan di dandani macam badut oleh si keriting. Pakai kosmetik Gana yang ia ambil diam-diam dari meja rias sang Mama.
"Natah nanis? Inih 'tan tantik. Cinih-cinih akuh bedatin agih, ya," ujar Adela. Ia malah ingin mengusapkan lagi bedak di wajah Danisha yang sudah sangat putih.
Rora dan Dava menyergah nya. Buru-buru Dava menggendong Danisha yang menangis.
"Cantik dari mana, Dek? Itu wajah Kakak udah kayak setan," ujar Rora menunjuk Danisha yang masih menangis dan di tenangkan oleh Dava, kepada Adela.
Adela mencebik. Bibirnya maju ke depan menahan sedih, dan akhirnya si keriting ikut menangis. "Maca cih kayak cetan, Kak!" Ia tidak suka di kritik. Aidan dan Taya ikut menghampiri Adiknya yang sedang menangis.
Melihat Dava sedang menenangkan Danisha. Aidan pun ingin ikut seperti itu. "Gendong, ya, sama Kakak."
Adela mengangguk. Aidan menggendongnya. "Udah jangan nangis. Kamu nya salah."
Adela diam saja. Tangisannya meredah, di gendong Aidan rasanya nyaman sekali.
"Baikan, ya, sama, Adek." Dava mengusap air mata di wajah Adiknya. Bedak dan maskara pun luntur. Danisha menggeleng. "Ndak mauh 'ah, dia nakal, Kak!"
Rora menghampiri Danisha. "Maafin, Adel, ya. Adel masih kecil, dia enggak ngerti, sayang." bujuk Rora. Gadis itu meraih tissue untuk membersihkan wajah Danisha.
"Kok di hapus? Kan dandanannya bagus." desis Falan. Ia ikut menghampiri kerusuhan itu.
"Kakak 'ih!" Taya memukul pelan lengan Falan. Bukannya menenangkan, lelaki itu malah tertawa-tawa karena lucu melihat wajah Danisha. Seakan menular, tawa Falan membuat Adela tertawa. Danisha yang merasa semakin di ejek, lantas menangis lagi.
"Tuh 'kan, nangis lagi. Kakak 'sih ngeledek!" dengkus Taya. Falan si jahil menghentikan senyum jenaka nya.
"Udah ayo, kita main lagi." Falan menggandeng tangan Taya untuk di bawa ke tempat semula. Dan Rora menatap kepergian mereka dengan tatapan ingin dan sedih. Rora juga ingin bermain dengan Falan. Tetapi anak lelaki itu seakan hanya suka dengan Maizana Attaya.
Rora memutus kontak mata. Ia beralih menatap Danisha yang masih dibelai-belai Dava.
"Jangan nangis, ya."
...๐พ๐พ๐พ...
"Silahkan, Pak. Di minum teh nya," ucap Yanti kepada anggota mantan mafia yang saat ini sudah berkumpul di lantai dua, tengah bermain biliyard.
Mahendra, Alex dan Farhan yang sedang memperhatikan Ammar bermain, menoleh ke arah Yanti di meja bartender.
"Wow, yahut!"
"Gedek, cok!"
"Bahenol, yak."
Mereka bertiga berbisik dan saling melempar kagum ke arah Yanti. Namanya juga lelaki, normal kalau memuji. Mereka pun kaget mengapa ada sosok Yanti di rumah Ammar. Sejak kapan? Dan Ammar menghentak punggung mereka dengan ujung stick biliyard.
"Jaga mata! Aku tusuk 'mata kalian pakai gagang ini!" Ammar mengarahkan ujung stick ke bola mata mereka bertiga secara bergantian.
"Yanti, kamu bisa turun!" titah Ammar. Yanti yang malah duduk di meja bartender. Melongo, kenapa di usir pikirnya.
"Oh, ya, baik, Pak." Yanti tersenyum manis sebelum berlalu. Ia masih mempunyai ide untuk datang lagi ke sini, karena piring berisi cemilan belum ia antarkan.
"Ternyata, teman-temannya, Bapak. Enggak kalah tampan, ya," kata Yanti dalam hatinya. Ia masuk ke dalam lift dengan wajah mesam-mesem.
"Woilah, cemburunya sampai begitu." ledek Mahendra kepada Ammar.
"Cemburu, kumis, lu! Jangan macem-macem ngomongnya! Nanti kalau Gana dengar. Bisa runyam!"
Alex tertawa. "Tadi itu siapa? Pembantu baru?"
Ammar mengangguk dan kembali menilik bola untuk ia sundul ke sudut meja. "Baby sitter nya Adela dan Alda." dan, Yanti merasa tidak cukup hanya jadi baby sitter di rumah ini. Jika ia bisa jadi sosok perhatian Ammar, mengapa tidak? Rasanya ia ingin menjadi istri kedua. Mimpi yang sangat membagongkan.
"Pintar dia pilih pembantu. Cakep begitu." kekeh Farhan. "Ada lagi, nggak?" imbuhnya.
Alex dan Mahendra berdecak tawa. "Ucapan Farhan harusnya di rekam 'nih," ujar Mahendra
"Terus kirim ke binik nya," timpal Alex.
"Dan jadilah perang dunia ... buahaha," sambung Ammar.
"Jangan 'lah, aku bisa di gorok nanti sama Farina."
"Kalau Mulan tau ada cewek bahenol di sini, aku pasti enggak di bolehin main ke sini."
"Beuh, sama kayak, Anna. Diam-diam gitu istriku pencemburu. Mana mungkin di bolehin ke sini."
Ammar ikut bersua dalam tawa, "Kemarin malam saja, Gana merajuk. Dia tanya, cantikan mana dia apa Yanti katanya."
"Terus kamu jawab apa?" tanya Alex penasaran.
"Ya aku jawab. Cantikan si Farhan 'lah!"
Baru saja ingin menyundul bola, Farhan mendelik. "Dasar bayi lintah!" rutuk nya.
Gelak tawa mereka pun terdengar setelah nya.
Dan.
DEG.
Seketika gelak tawa mereka padam, saling menatap bola mata masing-masing. Pasalnya, mereka tahu. Sebelum kedatangan mereka hari ini, para istri lebih dulu bertandang ke rumah Ammar kemarin.
Mahendra, Farhan dan Alex mendadak merenung. Mereka mengingat bagaimana keanehan istrinya tadi malam.
"Duh!"
...๐พ๐พ๐พ...
"Duh Abang Ji Chang Wook emang nggak ada matinya, deh. Cocok banget main sama Yoona." Gana yang sedang mandi susu di bath up, berseru senang saat menonton film the K2 di dvd player yang terpasang di dinding kamar mandi. Namanya juga sultan, di kamar mandi ada televisinya. Bukan hanya Sisca Khol saja yang punya tivi di kamar mandi. Haha korban tiktok.
Ammar sengaja memasang televisi di sana, kadang mereka karaokean sambil merendam diri dalam cairan susu.
Gana yang tenang karena sudah menguncikan Yanti di kamarnya. Bisa leyeh-leyeh menikmati me time tanpa di ganggu. Mumpung suaminya sedang sibuk dengan teman-temannya. Pun dengan Four A yang sedang main di ruang tengah. Kalau Alda sedang tidur di ranjang. Jika terbangun, tinggal di susui, nanti juga pulas lagi. Namun, sayangnya.
Si cerewet ini, salah. Ia pikir yang ada di kamar tadi adalah Yanti, maka ia langsung menguncinya. Padahal tidak tahu saja dirinya, Bik Nah yang sedang menangis-nangis di kamar karena merasa terkunci di dalam. Yanti sejak tadi sudah bulak-balik ke atas lantai tiga untuk membawakan makanan dan minuman untuk anggota mantan mafia.
"Katanya udah di kunciin! Gimana 'sih?" Farina yang baru sampai di ambang pintu rumah Gana dan Ammar, melihat Yanti tengah masuk ke dalam lift membawa nampan berisi beberapa cemilan.
Bersamaan dengan itu, Anna dan Mulan pun sampai. Merasa takut, para istri ini pun akhirnya menyusul.
"Mbak Gana memang selalu teledor!" decak Mulan. Pasalnya Gana sudah mengirim sinyal aman ke grup bidadari hati Mafia, ia mengatakan kalau dirinya sudah menguncikan Yanti. Namun, para istri Mafia ini seakan tidak yakin. Dan benar saja, Gana teledor.
Anna hanya bisa meringis dan mengangguk-anggukan kepala. Ia juga terlihat sebal. Mengapa Yanti begitu bahenol, cantik dan manis. Haha.
Tidak tahu saja mereka. Yang sedang di bicarakan tengah berendam mandi susu tanpa beban. Malah, tengah menikmati film drakor kesukaannya.
Haha. Si Gana.
...๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ...
Duh kembarannya Rora, Taya, Adela dan Alda. Gimana gak cantik, orang mandinya aja pakai susu denkaw. Haha.
Like dan Komennya, ya, buat si bumil sayang