Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Sehat, Mah, Pah.


"Mbak!" Alda tidak mau lepas dari Bik Nah. Si rambut jarang menangis sesegukan. Wajahnya sampai memerah, tidak mau pembantu rumah tangga itu pergi mudik.


Gana ikut sedih. Pasalnya Bik Nah adalah salah satu dari ketiga Art yang amat dekat dengan Alda. "Duh, Nduk. Kalau bisa dibawa, kamu pasti Bibik bawa, Nak," ucap Bibik yang ikut menangis. Ia mengecup Alda berulang kali. Alda menoleh ke arah Gana dan Ammar dengan gelengan kepala. "Nanan, gih!" maksudnya, jangan pergi.


Adela, Taya, Rora dan Aidan juga memandang sendu ketiga Art mereka yang akan di antar mudik oleh sopir ke kota tujuan masing-masing. Dan akan kembali ke rumah ini setelah delapan hari dari kampung.


Gana sudah memberikan gaji, THR, hampers lebaran untuk dibawa pulang dan barang-barang lainnya untuk para Art yang sudah setia kepadanya. Terutama kepada Bik Nah, Art yang paling lama bekerja dengannya. Bik Nah sampai dibangunkan rumah di kampung oleh Ammar dan Gana, karena kelihaian dalam bekerja, amanah dan sayang kepada Anak-anak.


"Nanti, Bibik nya pulang lagi kok, Nak," ucap Gana. Ia raih Alda dari gendongan Bibik dan anak itu bergeliat tidak mau. Tangisannya semakin kencang.


Adela mengelus kaki Alda dari bawah. "Iya, Dek. Nanih Adek boyeh kok ikut, Bibik."


Semuanya menautkan alis. Bukannya menenangkan malah membuat suasana semakin runyam. Mendengar ucapan Adel membuat Alda menghentikan tangis, ia mengangguk-anggukan kepala setuju. "Yuk, gih ...," serunya kepada Bibik, mengajak wanita itu pergi dari rumah. Seakan Gana dan Ammar tidak ada artinya lagi.


Aidan menjawil pipi Adela gemas. "Kamu nih!"


Adela tertawa-tawa saja.


...🌾🌾🌾...


"Duh capek!" seru Aidan sembari mengusap peluh yang bertengger di kening. Anak lelaki itu baru saja dititah sang Mama untuk membersihkan kamar nya sendiri. Pun sama dengan Taya dan Rora.


Mereka juga diminta untuk mengumpulkan baju-baju yang sudah tidak terpakai, buku-buku bacaan, mainan dan apa saja benda yang sudah tidak dipergunakan untuk dikumpulkan menjadi satu lalu disumbangkan. Gana juga sudah menyiapkan beberapa hampers lebaran untuk anak-anak di panti asuhan.


"Hanya segitu aja, Nak?" tanya Gana kepada Aidan yang sudah berbaring tengkurap di sofa, melepas kelelahan dan haus. Gana menilik dua kardus berukuran sedang yang sedang Ammar jejerkan di dinding.


Tanpa mengangkat kepala untuk menatap Mamanya, Aidan menjawab, "Iya, Mah. Segitu aja, yang lain masih aku pakai." sebenarnya masih banyak yang ingin Aidan berikan, tapi ia sudah lemas. Rasanya malas untuk mengepak-ngepak. Kalau saja para Art tidak pulang kampung dan Art sementara sudah masuk, ia akan menyuruh mereka untuk membantu.


Gana mengelus lembut punggung anak lelakinya. "Ayo sana ke kamar lagi. Baju mu masih banyak yang bisa disumbangkan."


Dalam palingan wajah, ia mencebik. Ia pikir Mamanya akan mengerti, nyatanya tidak. "Tapi, aku---"


"Ayo cepat!" nada Gana sudah berubah lugas. Ia bangkit dari sofa karena mendengar suara Alda yang menangis dari kamar, habis bangun tidur, Gana bergegas ke kamar untuk menyusui anak itu.


"Pah ...," panggil Rora dari lantai dua.


Ammar yang juga berkeringat karena sudah bulak-balik, turun-naik tangga menurunkan kardus-kardus berisi barang-barang ketiga anaknya, menjawab lemah, "Iya, Nak. Tunggu."


Ammar mengutuk sedari tadi kepada tukang service lift langganan. Mengapa mereka sulit sekali di hubungi. Lift di rumah mendadak tidak bisa beroperasi, membuat ia harus mengeluarkan tenaga.


"Pah, aku capek. Bisa enggak Papa aja yang benahin baju-bajuku?" pinta Aidan memelas di ketiak Papanya.


Ammar mendengus. "Papa juga capek. Tapi harus tetap di suruh kerja rodi sama Mamamu, mana lagi puasa---"


"APA TADI? Papa ngomong apa?"


Keduanya menoleh manakala ratu di rumah ini sudah berkata dengan nada melengking. Aidan dan Ammar menoleh, dan yang paling menyakitkan bukan tatapan mata Gana yang melotot tapi cangkir berkaki yang berisikan es jeruk. Buliran embun dingin, menetes keluar di permukaan gelas.


Gleg.


Tenggorokan Aidan dan Ammar terasa perih.


Mana waktu saat ini menunjukan pukul dua siang, sedang panas-panas, sedang haus-haus di goda dengan pemandangan yang amat menggelitik tenggorokan.


"Duh pengin ...," gumam Aidan pelan. Apalagi Alda yang dalam gendongan Gana ikut menyesap. Dan mengecap lidah nikmat setelahnya.


Gana melototkan mata kepada Aidan.


"Tinggal sehari ini puasa, masa enggak kuat!" dengus Gana. "Jam empat sore, nanti mau diambil sama orang panti. Makanya jam tiga harus kelar semua."


"Hem," sahut Anak dan Bapak bersamaan dengan bibir yang dimiringkan. Melangkah lagi mereka meniti anak tangga yang sangat tinggi ke atas.


"Mah, akuh mau mih goleng pakai baco," ucap Adela sambil mengelus-elus perut Mamanya.


Yang mana suara anak batita itu di dengar jelas oleh seisi penghuni rumah. "Bisa enggak sih jangan sebut-sebut makanan dan minuman, aku kan jadi pengin. Tenggorokan kering banget, rasanya udah enggak tahan. Pengin minum," ucap Taya kepada Rora yang mana langkah Ammar dan Aidan pun sudah tiba di hadapan mereka.


"Taya mau buka?" tanya Ammar. Melihat wajah Taya yang sudah pucat, rasanya tidak tega. Dua jam, anak itu antusias membersihkan kamar, menata boneka-boneka dan barang-barang lainnya.


Rora merangkul Adiknya. "Masa batal, Dek. Tinggal beberapa jam lagi kok, puasa juga tinggal sehari," ucap Rora menguatkan, berbeda dengan sang Papa yang tidak tegaan.


Taya hanya mendengus lemah, ia mendekap Rora. "Aku capek banget, seprai baru belum di pasang, Kak," balasnya. Dari usia dini, Gana sudah mengajarkan anak-anak perempuannya termasuk Aidan untuk bisa mengganti seprai sendiri dan harus membersihkan ranjang setelah bangun tidur. Jika hal kecil saja tidak bisa dan terbiasa, lantas dewasa akan seperti apa? Tidak semua bisa kita limpahkan kepada Art.


"Iya udah, nanti Kakak yang gantiin," jawabnya.


"Ih, enak banget. Aku juga dong mau," ucap Aidan. Ia bergelendot manja di lengan Rora. "Sama beresin baju-bajuku juga, ya, Kak,"


"Iya." jawab Rora. Kedua adiknya tersenyum senang. Mereka bersamaan mencium pipi Kakaknya.


Ammar tersenyum melihat kebaikan hati Anak pertamanya. Biarlah ia saja yang letih, yang penting kedua adiknya ini tidak sampai batal puasa. Ya, begitulah kecantikan hati yang dimiliki Malvinia Aurora, seperti namanya.


"Pah ...," seru Gana dari bawah.


"Kenapa, Mah?" Ammar berbalik tanya.


"Suapin, Adel. Mama kebelet," ketiganya tertawa ketika Papanya memberikan ekspresi malas. "Jangan sampai buka, ya, Pah. Semangat!" goda Aidan. Sang Papa ikut terkekeh, ia berlalu dengan dua kardus barang-barang Rora dan Taya yang akan ia jadikan satu dengan kardus-kardus yang sudah berjejer dibawah.


...🌾🌾🌾...


"Biarin Gemma, mumpung lagi napsu makan," balas Mama. Wanita itu tengah mengiris-ngiris puding mangga permintaan Gana, sebelum tiba di rumah ini. Karena pada saat awal puasa, Gana dan Ammar sudah di rumah Papa Bilmar dan Mama Alika. Maka, sekarang gantian. Malam takbiran dan shalat Ied, Gana dan Ammar berada di Rumah Papa Galih dan Mama Difa.


"Tuh dengerin apa kata Mama. Mumpung aku lagi enggak mual. Apapun aku makan sekarang." ucap Bumil dengan raut semangat.


"Paling habis melahirkan, siap menjadi anggota tim sumo," timpal Gelfa dengan kekehan.


Gana hanya mendengus malas dan menyergah. "Enggak mungkin lah, aku itu cepat kurus!"


Gelfa hanya mencebik bibir tanda tidak percaya.


"Enggak apa-apa gendut juga, tetap cantik kok," puji Papa.


Gana tersenyum. "Cantikan mana aku sama Gelfa, Pah,"


Gelfa melototkan mata pura-pura. "Ya aku lah, hidungku lebih mancung dari Kakak!" Gelfa tak mau kalah.


Gifali mencium Mama. "Ya cantikan Mama lah, kalian berdua enggak ada apa-apa nya."


"Haha, betul tuh! Jauh banget," timpal Gemma.


"Cincin kalian mana? Kok enggak di pakai?" tanya Papa kepada Gelfa dan Gana. Lebaran tahun ini sang Papa membelikan cincin berlian untuk anak-anak perempuannya saja.


"Kalau Kak Gelfa di jual, Pah. Buat beli alat pancing Kak Fadil. Wkwkw," Gelfa melempar kue yang tengah ia genggam ke dada Gemma, sontak lelaki itu bergegas kabur karena dirinya di kejar oleh Gelfa.


Ammar yang tengah duduk tidak jauh dari mereka, tersenyum menatap keharmonisan dan kehangatan keluarga istrinya. Malam lebaran yang indah dengan alunan takbir di seluruh Masjid membuat hatinya sedih, ia teringat kedua orang tuanya yang hanya berdua di rumah.


"Dek ...." Ammar menoleh ke belakang mana kala ada seruan dan usapan dari Maura di pundaknya. Ammar bergegas bangkit mengekor langkah sang Kakak yang tengah menatap ponsel sambil berjalan menuju halaman belakang.


"Sini, duduk!" Maura menepuk sisi kosong di sebelahnya. Ammar menurut dan duduk disamping Maura.


Dan Ammar tersenyum saat menatap wajah Mama dan Papa nya yang sudah muncul di layar gawai Maura. Kakak dan Adik itu melakukan video call.


"Lagi apa, Nak?" tanya Mama dari seberang sana. Papa Bilmar hanya tersenyum di sebelah Mama.


Suara takbir yang terus mengalun indah di telinga mereka ditambah suara Mama Alika yang begitu lembut, membuat hati keduanya berdesir. Entah mengapa air mata mereka menggenang, teringat dosa yang pernah ia perbuat kepada orang tua baik yang di sengaja maupun tidak di sengaja.


"Kok nangis? Kayak balita ajah," ledek Papa. Yang mana lelaki tua itu pun mulai memasang wajah sendu. Kaca-kaca di bola mata Papa tampak. "Besok kesini kan? Lebaran di sini? Papa kangen nih," ujar Papa.


"Iya dong, habis shalat Ied, langsung ke rumah Papa," jawab Ammar dan Maura bersamaan. Ammar masih bisa menjaga agar tidak menangis, hanya saja air matanya menggenang-genang. Berbeda dengan Maura, yang sudah menyeret ingus untuk masuk kembali ke dalam hidung, karena air matanya berleleran jatuh.


Papa dan Mama mengangguk. "Hati-hati di jalan. Jangan lupa besok sungkem, minta maaf sama mertua kalian. Titip salam dari Mama dan Papa," ucap Mama.


Dan perintah itu mendapatkan anggukan kepala sedih dari kedua anaknya.


"Kok Papa pakai syal?" tanya Ammar. Ada syal yang melingkar di leher Papa.


Terlihat Mama mengecup pipi Papa. "Doain, ya, Nak. Papa dari tadi pagi tubuhnya hangat. Hari ini enggak puasa, gulanya tinggi soalnya. Takut drop."


"Ya Allah, Pah ...." lirih mereka berdua. "Kenapa enggak bilang kalau Papa sakit?" tanya Ammar cemas. "Kakak pikir Mama sama Papa sehat-sehat saja," timpalnya.


Papa menggeleng dan berkilah. "Tapi tadi udah di suntik sama Mama. Sudah enakan 'kok." Papa hanya tidak mau membuat anak-anaknya khawatir.


Ammar dan Maura termenung, mereka menatap kedua orang tuanya yang sudah beruban dan bertubuh kurus. Masih bisa kah tahun depan mereka bertemu dalam bulan suci penuh Rahmat ini?


"Besok kita ke Dokter, ya, Pah," ucap Ammar yang diiringi anggukan kepala oleh Maura.


Papa tertawa. "Besok lebaran, mana ada Dokter spesialis yang buka."


Dan ketika Ammar ingin menjawab, kedua menoleh saat ada yang memanggil namanya dan sang Kakak.


"Bun ...."


"Pah ...."


Gifali dan Gana bersamaan memanggil istri dan suami mereka. Ikut duduk di sebelah pasangan masing-masing. Melambaikan tangan penuh rindu kepada Mama dan Papa mertua.


Dalam gema takbir, pasangan suami istri itu saling mendekap menatap kedua orang tuanya dari jauh.


"Panjang umur ... sehat terus, Mah, Pah," ucap mereka semua.


"Aamiin, Nak. Aamiin ...," jawab Mama dan Papa.


...🌾🌾🌾...


...Assalamualaikum, sayang-sayang....


...Selamat hari raya Idhul Fitri ... Minal Aidin Walfaidzin ... mohon maaf lahir dan batin, ya, semua🙏🙏....


Ammar bayi🕊️🕊️