Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Nasihat Dari Seorang Suami.


Waktu sudah menunjukan pukul 21:00 malam, dengan mata yang sudah berat, ingin terpejam serta berkali-kali menguap, Ammar dengan setia masih terduduk dengan buku terbentang dipangkuan nya.


Sesekali matanya berpindah dari lembaran buku lalu ke arah daun pintu kamar yang tertutup rapat, tidak jauh dari posisinya sekarang.


Ia berharap istrinya mau keluar dari kamar. Sudah tiga hari berlalu pasca keributan di restoran dan pertemuan antara Gana dan Adri terjadi. Mulai malam itu, Gana memutuskan untuk tidur di kamar berbeda.


Entah apa yang ia rasakan sekarang. Awalnya ia yang sudah melepaskan Adri kepada Mutiara secara ikhlas. Namun ketika melihat Adri kembali berkumpul dengan Mutiara, kenapa ada perasaan sakit yang begitu membara. Gana terus saja membandingkan dirinya dengan Adri dan Mutiara.


Dimana lelaki itu masih bisa berbahagia dengan keluarganya. Tapi dia? Dirinya harus sekuat mungkin menerima takdir hidup dengan lelaki yang belum bisa ia cintai. Semakin ia ingin belajar mencintai Ammar, rasa cintanya kepada Adri malah tidak mau pupus, bahkan semakin kuat.


Ditambah lagi rasa bersalah kepada Ammar, karena ia merasa sudah menjadi istri yang gagal. Belum bisa mencintai dan melayaninya secara fisik. Belum lagi Dewi Fortuna selalu berbisik, kalau dia sudah banyak menebarkan dosa karena sudah melalaikan Ammar. Namun ia bisa apa? Hatinya masih tetap saja beku.


Gana syok. Sepanjang hari ia hanya menangis dan menangis. Dirinya tersiksa. Sampai rasanya ingin mengakhiri hidup. Adri betul-betul sudah membuat hidup Gana hancur, menderita dan terserak tidak berdaya.


Prang.


Kembali terdengar bunyi barang pecah dari dalam kamar. Entah apa yang Gana rusak didalam. Ammar bangkit dari kursi lalu mendekat. Di sana juga ada Yuni yang ingin menghampiri.


"Saya aja." ucap Ammar. Yuni mengangguk dan memundurkan langkah.


"Sayang ..." dengan lembut Ammar memanggil nama istrinya.


Mengetuk-ngetuk pintu berkali-kali sampai punggung tangannya memerah. Ingin sekali pintu itu di dobrak. Tapi Ammar takut Gana akan semakin kalut, karena wanita itu bilang. Hanya ingin sendiri, dan menenangkan fikiran.


"Makan yuk, aku suapi." Ammar mengulangi. "Nanti kamu sakit." sambungnya.


Hening. Tidak ada sautan apapun dari dalam. Hanya ada isakkan tangis pelan yang bercampur dengan angin di udara.


Ammar menghela napas dengan usapan pelan di dada. Tidak pernah dalam hidupnya, melihat kedua orang tuanya pernah ribut seperti ini. Bertengkar sampai pisah kamar.


Tidak pernah juga terbayang dalam hidupnya, bisa menikah dengan jalan rumah tangga yang seperti ini. Ia juga ingin diperhatikan dengan kelembutan kasih sayang seorang istri layaknya seperti suami yang lain.


Tapi mau bagaimana lagi? Ia kembali menggadang-gadang kata cinta sebagai kekuatan untuk menerima semua penderitaan ini.


Gana meminta Ammar untuk mendoakan dirinya, tapi lelaki itu tidak melakukannya. Bagaimana bisa Allah menggetarkan hati seorang istri, jika suami saja tidak mau membantu dalam doanya.


Ammar rindu Gana. Tiga hari tidak tidur bersebelahan dengan wanita itu membuat dirinya sulit untuk memejam mata.


"Yun ..." seru Ammar.


Yuni mengangguk dan menghampiri. "Iya, Pak."


"Kamu siapkan makan malam Ibu di nampan, lalu bawa ke sini. Nanti kamu yang ketuk pintunya, kalau udah terbuka, saya yang akan masuk." Ammar berbisik.


Yuni mengangguk. "Baik, Pak. Yuni siapkan dulu." Yuni bergegas pergi ke meja makan, menuruti semua permintaan majikannya. Sepanjang hari, Gana akan makan makanan yang dibawakan Yuni. Hanya Yuni yang boleh masuk ke dalam kamar, itu pun tidak terlalu lama.


Ammar sudah tidak bersuara lagi didepan pintu, ia ingin Gana tahu. Kalau dirinya sudah pergi.


Yuni kembali dengan sebuah nampan di tangannya. "Makan malam Ibu, sudah siap, Pak." ucap Yuni.


"Saya yang ketuk, kamu yang bicara ya."


Yuni mengangguk.


Tok tok tok.


"Bu, makan malam dulu ya. Ini sudah Yuni bawakan."


"Saya enggak lapar." suara Gana terdengar berat. Membuat hati Ammar berdesir kuat, ia rindu mendengar suara Gana yang selama tiga hari ini bungkam.


"Paksa terus." bisik Ammar kepada Yuni.


"Mubazir, Bu. Sudah kepalang Yuni ambilin. Kasian nasinya nanti nangis."


Hening sesaat, sepertinya yang menempati kamar sedang berfikir. Gana pun merasa lapar, tapi karena rasa sedihnya lebih besar. Ia mengurungkan niatnya untuk makan.


Ingin mendiamkan saja Yuni dan menarik selimut, lagi-lagi perutnya berbunyi. Tentu hati dan bibit jadi berkhianat.


"Kamu masak apa, Yun?" tanya Gana.


"Ik--"


"Bebek bakar." selak Ammar. Yuni menyerengitkan dahi, ia menatap makanan yang sedang ia bawa. "Tapi Yuni bawanya ikan bakar, Pak."


"Sst! Udah ... ikutin apa kata saya!"


"Ibu nanti tambah marah, Pak."


"Yun!" Ammar mendelik.


Yuni meringis sambil mengigit bibir bawahnya. "Bebek bakar, Bu." seru Yuni.


Tak berapa lama, Ammar tersenyum karena merasakan ada langkah kaki yang menghampiri pintu lalu memutar kunci. Ia tahu sekali, mendapati hati wanita ini dengan makanan kesukaannya.


Dan ia benci, kenapa ide seperti itu baru muncul malam ini. Siall, banget. Haha.


Ammar menitah Yuni untuk mundur selangkah, karena Ammar akan mendorong pintu itu, dan bergegas masuk kedalam.


Dan.


"Awww!!" Gana berteriak, ketika Ammar yang masuk kedalam kamarnya. Ammar mengunci tubuh Gana yang sedang mengelus dada karena kaget.


"Bawa masuk makanannya, Yun."


"Kamu mau ngapain!" seru Gana. "Aku mau makan kamu---eh!"


Bukan hanya Gana yang tercengang, tapi Yuni pun sama. "Maa-maksudnya, aku mau kamu makan, Gana." Ammar membetulkan ucapannya.


Gana tetap bergeliat ingin meminta dilepaskan. Tapi Ammar tetap membelit tubuhnya. Napas keduanya beradu.


Yuni meletakan nampan berisi makanan di meja, kemudian melangkah cepat untuk meninggalkan kamar, dan menutup kembali pintu kamar dengan rapat.


"Lepasin!" Gana masih meronta. Namun kekuatan rontaan nya terasa lemah sekali. Ia tidak mempunyai daya. Tubuhnya lemas.


Ammar membawa Gana untuk duduk di bibir ranjang. Memeluk wanita itu, walau Gana masih saja menolak untuk di peluk. Mau bagaimana pun Gana mengelak, dekapan Ammar tetap saja tidak bisa ia lawan.


"Aku udah jahat sama kamu." lirih Gana. Kini tangan nya yang sejak tadi ia gunakan untuk mendorong dada Ammar, berubah melingkar di perut suaminya. Gana menangis di dada lelaki itu.


Ammar tetap mengunci tubuh Gana dengan kedua lengannya.


"Aku tau itu. Dan aku sudah memaafkan kamu."


Hati Gana semakin terpelintir.


"Untuk apa sih, mengurung diri dikamar, tidak mau makan, tidak mandi, hanya karena memikirkan lelaki bajingann itu? Padahal di sana, dia sedang asyik bercumbuu mesra dengan istrinya, atau sedang bermain dengan kedua anaknya. Lalu kamu? Membiarkan diri kamu bau asem kayak gini, tidak mandi berhari-hari? Dan beruntungnya kamu mendapatkan aku sebagai suamimu. Yang mau menerima kamu walau pun sudah bau asem dan kecut kayak gini." Ammar tertawa.


Rayuan apa itu?


Gana berhenti dari tangis. Bukannya sedih dan menangis. Ia malah tertawa. Menggigit lengan Ammar sampai lelaki itu meringis.


"Enggak makan berhari-hari aja, udah langsung berubah jadi kanibal. Pengen makan daging manusia." Ammar kembali membercandai.


"Ya udah sana, kalau aku bau. Untuk apa kamu peluk? Kamu cium? Kamu---"


Suara Gana terhenti, ketika Ammar melabuhkan bibirnya di depan bibir Gana. Hanya menempel tanpa pergerakan. Kedua mata mereka masih terbuka, lebih tepatnya Gana yang tersentak karena diserang mendadak.


Ammar melepasnya, dan menarik wajahnya.


"Bela-belain mikirin suami orang, sampai mulut kamu bau, enggak sikat gigi. Tapi tetap aja, hanya aku yang mau cium kamu."


Ammar menempelkan bibirnya lagi, dan memagut sekilas. "Eum ... bau nya." dalih Ammar.


Gana mencubit lengan Ammar. "Enak aja! Aku wangi kok." wanita itu meng hah kan napas ke telapak tangan lalu di kibaskan ke lubang hidungnya.


Gana meringis malu. "Iya, ya. Kok bau." cicitnya. Lalu membekap mulut dengan kedua tangannya. "Kamu sana ah, aku malu."


Ammar tertawa.


"Apakah Adri pernah melihat keadaan kamu yang sedang seperti ini? Bau asem, bau jigong, rambut berantakan, persis kayak orang gak waras."


Dengan wajah sendu, Gana menggeleng.


"Lelaki itu pasti selalu melihat kamu dengan keadaan cantik, wangi dan bersih, dan tidak seperti yang sedang aku lihat sekarang.


Gana terdiam, ia menatap bayangannya yang begitu kacau di bola mata Ammar. Seperti sedang mengingat sesuatu di masa lampau.


"Bau banget sih pelayan itu. Aku rasa dia tidak pakai deodoran. Pokoknya kamu jangan sampai bau asem seperti dia, aku tidak suka."


Gana mengangguk. Ingatan tentang ucapan Adri, membuat ia membenarkan ucapan Ammar.


"Hanya kamu yang tulus. Dan aku bodohh belum bisa membalasnya." ucap Gana dengan kepala tertunduk. Wanita itu kembali lirih dan terisak. "Maaf ..."


"Makanya lepaskan dia. Bawa masuk aku ke hatimu. Mau sampai kapan kamu pelihara si medusa itu? Dia mah lagi asik ngerem anget-anget kayak gini sama istrinya. Sedangkan kamu? Dingin-dinginan sama aku? Adil 'kah, Gana?"


"Dan, Lucu nya tuh, aku yang seorang suami lagi nguatin istrinya, biar move on dari mantan? Kayak gini nih, aku yang bodoh atau terlalu baik? Coba aja kalau lelaki lain di posisi aku sekarang, kamu pasti udah disabet pakai gesper, Gana."


Gana tertawa dengan mata yang melebar. Ia menggelengkan kepala seperti sedang menunjukan kebodohannya.


"Aku yang bodohh Ammar, aku memang bodoh." Gana menghela napasnya berkali-kali. Mengusap wajahnya gusar.


"Aku akan bersikap adil sama kamu." ucapnya. Lalu bergegas membuka kancing-kancing piyamanya. Melepas piyama itu dan membuangnya ke atas lantai.


Bola mata Ammar membelalak, ketika melihat kulit dada Gana yang sangat putih. Di saat malam pertama mereka yang gagal, Ammar hanya bisa mengendus aroma, tahu jika kulitnya mulus terbebas dari biang keringat. Namun warnanya hanya remang-remang saja kala itu.


Ammar mendorong saliva nya lamat. Mulutnya sedikit menganga, menatap kain berenda berwarna merah maroon menutup dua bongkahan salju yang sudah pernah ia cicipi sebelumnya.


Walau dadanya berdesir, dan kulitnya meremang karena mulai tersulut gejolak hasrat yang sengaja Gana mainkan. Ammar masih bisa berfikir secara rasional. Ia menghalau tangan Gana ketika masih berusaha untuk membuka kaitan bra di belakang punggungnya.


"Lepaskan dulu dia dengan ikhlas, agar hatimu tenang. Kemudian setelah itu belajar mencintai aku. Aku ingin kamu melepas mahkotamu ketika kamu sudah ikhlas dan sudah bisa menerima aku ... Aku akan menunggu."


Tidak ada kata yang bisa Gana ucapkan lagi untuk menimpali ucapan Ammar. Ganaya hanya bisa berhambur memeluk suaminya.


***


Walau enggak mandi, tetap cantik kok💛💛