
"Bagaimana?" tanya Papa Bilmar.
"Saya kehilangan jejaknya, Tuan. Motor saya kempes di pertengahan jalan menuju dermaga."
"Ah, bodohh! Dasar Detektif cap ingus. Gitu aja enggak becus! Cepat lacak, kalau mereka enggak ketemu juga, saya naikin gaji kamu!"
"Wah ... Alhamdulillah, Tuan. Akhirnya naik gaji." betul memang di setiap kesulitan pasti ada kemudahan, fikir si Roy Miyoshi.
"Enak aja! Bibir saya keseleo tadi. Pokoknya CEPAT CARI ANAK SAY----"
Krek.
Pintu kamar terbuka. Menyembul lah sosok istrinya dari luar, lantas masuk ke dalam, dengan wajah setengah panik sambil menggenggam ponsel.
Lelaki yang sudah berbaring di ranjang selama seminggu ini karena sakit tipes, buru-buru menyembunyikan ponselnya di dalam selimut.
Maura terpaksa berbohong kepada Ammar, kalau Papa mereka sedang sakit keras. Padahal hanya sakit biasa yang sudah keluar dari fase kritisnya. Maura tidak ada cara lain untuk mengancam, agar Ammar segera pulang.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Papa. Melihat wajah istrinya yang mendung, membuat ia berkeluh gegana.
Pasangan suami istri ini tidak akan menyangka kalau mereka saling memegang rahasia masing-masing.
Berbeda dengan Mama yang sudah tahu sejak awal tentang kepergian Ammar. Kalau Papa baru tahu tentang Ammar dan Gana yang masih hidup dan menetap di Makassar, sekitar tujuh bulan belakangan ini, sebelum Aidan lahir.
Niatnyanya, lelaki itu ingin langsung menyambangi Ammar. Ada dua hal yang ia urung melakukannya dalam waktu dekat. Kesehatannya yang selalu turun naik, bingung untuk menjelaskan pelacakannya yang berhasil kepada keluarga dan ia baru tahu, kalau anak lelakinya ini sedang dalam sanderaan anak buah Frady.
Papa mengusut perkara Ammar sampai tuntas, dan ia kembali sakit setelah mengetahui kepergian Ammar hanya karena pembalasan dendamnya kepada Farhan.
Papa benci sekali dengan Farhan, ingin membalaskan dendam anaknya tapi lagi-lagi ia tidak mampu. Papa sangat menyayangi Papi Nino, Papinya Farhan. Ia terus memegang rasa hormat kepada sahabatnya yang sudah berpulang.
Papa menutup perkara ini dari Mama, agar istrinya tidak kembali serangan jantung, padahal tanpa Papa sadari, Mama sudah lebih dulu tahu darinya. Papa hanya bisa curhat kepada Ayah Dion, tentang perbuatan Farhan yang sudah menyelakai anak dan menantunya.
Mama menggeleng sambil merangkak naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut dan mengecup kening suaminya. "Mama baik-baik aja, Pah." jawabnya bohong.
Lelaki yang sudah ia nikahi puluhan tahun ini, tidak percaya begitu saja. Si Panji petualang tidak akan mudah tertipu oleh kelinci yang ringkih ini. Nyatanya ia tetap berhasil di tipu daya. Haha.
"Kok wajahnya kayak bebek cemberut gitu?" tanya Papa sambil mengelus tangan Mama yang sedang memeluk perutnya.
"Enggak apa-apa, Pah. Mama hanya lagi susah kentut."
Papa menyerengitkan dahi. "Jangan kentut lah. Kentut kamu tuh bau. Kayak truk sampah lagi lewat."
Mama berdecak malas. "Siapa yang bilang sih kentut itu wangi? Dimana-mana kentut itu bau."
"Tapi kentut Mama itu memang bau." kelakar Papa.
"Iih!!" decak Mama memukul pelan tangan suaminya.
"Walau bau, Papa tetap sayang." Papa mengecup pipi Mama.
"Beneran, Pah?" tanyanya manja.
"Iya sampai ke tayi-tayi kamu. Aku cinta."
"Haha." akhirnya Mama bisa tertawa. Pun sama dengan Papa, juga tertawa walau tertahan tidak selepas biasanya. Hatinya masih gegana, gelisah dan was-was. Mau tertawa rasanya pun sulit. Papa sedang pusing memikirkan kemana anak lelakinya pergi.
Dirasa suaminya diam. Mama kembali hening. Teringat lagi dengan Ammar. Wanita itu sedang harap-harap cemas dengan riwayat telepon masuk dari Ammar yang seolah sudah di angkat. Tapi siapa yang mengangkatnya? Suaminya 'kah? Atau Maura? Ammar langsung ditelepon balik, tapi sayang gawai lelaki itu sudah tidak aktif.
Tapi melihat tatapan suaminya biasa aja tanpa rasa curiga, ia bisa sedikit lega. Dan saat ini, kecurigaannya hanya menuju ke arah Maura. Namun sayang, Maura lebih dulu masuk ke dalam kamar setelah mengangkat telepon dari Ammar. Ia memilih menghindar dari Mama.
Papa melabuhkan kecupan di kening Mama berkali-kali untuk menguatkan dirinya sendiri, kalau Ammar hanya pergi sebentar.
"Kalau aja kamu tau, Al. Anak kita dan istrinya masih hidup. Dan sudah punya anak. Malah mau tiga. Kamu pasti seneng banget." batin Papa. Ia ingin sekali menangkap Ammar dan menyeretnya pulang, tapi masalah yang dihadapi Ammar bukan lah masalah receh dan gampang. Ia tahu anak lelakinya mempunyai pemikiran matang.
"Kalau aja kamu tau, Bil. Cucu kita udah dua. Kamu pasti enggak sakit-sakit kayak begini." batin mereka saling bersautan. Mama menatap leher Papa, jakun lelaki itu bergerak-gerak. Elusan lembut Mama berikan di dada Papa. Untuk menekan rasa bersalahnya. Dan ia kembali tertipu. Papa lah yang lebih tau bagaimana kondisi Ammar sekarang. Mama pasti syok kalau mengetahui Gana kembali hamil.
Dan keduanya mulai terlelap menuju alam mimpi. Ia sisakan masalah tentang Ammar untuk esok lagi. Seakan tubuh para orang tua ini sudah tidak kuat dan lelah.
Benar-benar Ammar, begitu menguras jiwa dan raga kedua orang tuanya.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Maura dan Gifali mempunyai jadwal sendiri untuk menginap di rumah orang tua mereka masing-masing. Dua hari di rumah Papa Bilmar, dua hari lagi di rumah Papa Galih, sisanya di rumah mereka. Tapi, selama Ammar tiada. Maura lebih Banyak menghabiskan waktu di rumah Papa dan Mamanya. Luka yang Ammar semat, pasti membuat kondisi Mama dan Papanya semakin buruk.
Wanita berambut panjang terurai itu sedang menatap langit-langit kamar dengan dada yang masih bergemuruh kencang. Sesekali ia menoleh ke arah suaminya yang sudah terlelap namun masih bergeliat kesana kemari dan saat ini sedang memeluk dadanya.
"Gimana ya sikap Ayah kalau tau Gana masih hidup? Dan Ammar menyembunyikannya selama ini?" gumam wanita itu. Ia takut Gifali marah dan murka kepada Ammar. Mengingat bagaimana keluarga Hadnan sangat kehilangan Gana beberapa tahun lalu.
"Ammar juga akan marah enggak ya, kalau tau aku sudah bohong? Papa kan udah sembuh. Terus gimana besok reaksi Papa dan Mama?"
Kepala Maura rasanya pening memikirkan masalah Adiknya yang seakan tidak ada habis-habisnya. Tapi dibalik itu, ia bisa menghela napas panjang dan lega. Tersenyum tak habis-habis. Membayangkan sebentar lagi mereka akan berkumpul bersama. Bisa memeluk keponakannya yang lucu-lucu.
"Bunda kenapa senyum-senyum?" suara serak Gifali membuyarkan lamunan Maura yang membahagiakan.
Baru saja ingin menjawab, tapi dahi nya menyerengit sesaat telapak tangan Gifali sudah masuk ke dalam piyama istrinya.
"Bun. Ayah enggak bisa tidur. Olahraga dulu yuk." jari-jemari Gifa semakin menuntut memainkan puncak dada. Bibirnya mulai menyusuri leher istrinya.
Seperti biasa, si wanita baik ini akan menuruti permintaan suaminya. "Ayo sayang." jawab Maura. Olahraga cinta yang dilakukan malam hari berguna untuk menekan rasa lara dihatinya untuk menghadapai esok.
๐บ๐บ๐บ๐บ
"Kenapa sih sawi nya enggak dimakan? Kamu tuh udah tua, Pah. Harus sering-sering konsumsi sayur."
"Mau tua dan keriput, Mama tetap cinta 'kan?" kekeh Papa Galih.
Mama Difa memiringkan sudut bibirnya. Kembali menunduk, melahap nasi goreng yang barusan mereka buat berdua di dapur. Dan lebih romantisnya lagi, makan sepiring berdua di pusaran kasur. Saling menyuap, bercanda dan memecah keheningan malam.
"Aduuh-duuh, Mah. Mata Papa kelilipan cabai, Nih." goda Papa Galih. Mama yang sedang mengunyah suwiran ayam dibutiran nasi, langsung mendelik. "Sini, Mama ambil pakai linggis jigong nya."
Papa Galih terkekeh. "Serem banget, masa pakai linggis. Yang enak tuh pakai bibir, Mah. Kayak gini nih ..."
CUP.
Rasanya ... minyak banget. Haha.
Papa mengelap bibirnya yang basah karena minyak nasi goreng yang menempel di bibir Mama.
Mama menghentak bahu Papa pelan. "Dasar ya udah ubanan. Masih aja ganjen." decak Mama.
"Ganjen sama istri sendiri, apa masalahnya? Tuh kan baru aja nyentuh bibir atas, bibir bawah udah geter-geter nih." goda Papa dengan satu kedipan mata.
Papa kembali mengaduh, sesaat jeweran ditelinga, ia rasakan.
"Makan sawi nya!" seru Mama.
Dengan perjalanan waktu. Sakit yang diderita Mama Difa berangsur pulih. Pada saat wanita itu sulit berbicara dan berjalan, Papa dan anak-anak mereka membawanya untuk berobat ke luar negeri. Serta mengajak wanita itu untuk liburan, agar bayangan sedih akan Gana bisa menghilang perlahan.
Siapa di dunia ini yang bisa menerima kehilangan anak begitu saja dengan mudah? Apalagi kejadian seperti Gana yang begitu tragis. Pergi dalam keadaan yang jasadnya tidak bisa ditemukan, dimandikan, di adzan kan dan di kubur kan. Hati orang tua pasti akan menjerit, mendapati keadaan anak yang seperti ini.
Mereka butuh waktu untuk menyembuhkan luka. Dan saat ini, sudah lebih baik.
"Oh, iya, Pah. Kata Gifa, Mas Bilmar katanya sakit sudah seminggu. Kita jenguk yuk, Pah. Enggak enak sama Maura. Masa kita enggak ada nengok kesana." ucap Mama.
Papa termenung sesaat, ia menatap wajah Mama lamat-lamat. "Kalau ingat Mas Bilmar, Papa jadi ingat si Ammar, Mah. Papa masih belum rela aja anak kita nasibnya jadi begitu karena menikah sama dia." jawab Papa dengan nada biasa saja. Memang sudah tidak terlihat rasa kesal yang melimpah ruah, hanya ada sisa-sisa kecewa yang masih tertinggal.
"Kasian juga Ammar nya, Pah. Ammar sama Gana Insya Allah sudah tenang di sana. Kasian kalau kitanya kecewa terus. Berat buat mereka di sana. Ini memang sulit, tapi ini lah yang terbaik dari Allah buat anak kita, Pah." mendung kembali menghias wajah Mama. Wajahnya yang mirip dengan Gana dari posisi manapun. Terkadang Papa suka menangis kalau melihat Mama sedang tidur, mirip sekali dengan Ganaya.
Papa mengangguk, ia mengiyakan ucapan Mama. "Ya udah besok kita ke rumah Mas Bilmar. Bawain aja pecahan beling biar kembali lincah."
Baru saja Mama ingin tersenyum haru karena suaminya sudah berlapang dada. Senyuman itu kembali runtuh dengan decakan, delikan dan pelukan.
"Dikira debus kali! Ini mulut kudu di keramasin pakai air mendidih." Mama menjawil bibir suaminya yang langsung terbuka dan melahap jari jemari Mama.
"Lepas, Pah!"
Trang.
Mereka kembali saling tatap dalam diam. Pasutri itu kaget, ketika foto keluarga besar saat pernikahan Gemma dan Faradisa yang tertempel di dinding kamar begitu saja terjerembab jatuh.
Semuanya menoleh ke lantai. "Papa aja yang turun!" Papa menyergah Mama yang ingin beranjak dari ranjang.
Papa yang sudah berjongkok di lantai, terus menilik foto keluarga yang masih menempel baik didalam figura, tapi dengan sorotan aneh. Ia menoleh ke arah istrinya yang juga sedang menatapnya dari ranjang.
"Aneh ya, Mah. Kaca figura yang retak hanya di wajah Ammar dan Gana?"
DEG.
Seketika Mama mengelus dada. Dadanya tiba-tiba seperti sedang terhimpit sesuatu. Begitu sesak. Mama sering seperti ini di kejauhan, kalau Gana sedang melahirkan dan sakit di Makassar. Kontak batin antara Ibu dan Anak tidak akan bisa terputus begitu saja, ketika mereka masih hidup di dunia.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Debur air laut menggema ditelinga Rora dan Ammar. Saat ini mereka berdua sedang berdiri di haluan kapal laut menuju perjalanan ke Bandara. Sudah satu jam, mereka berhasil meninggalkan pulau, rumah mereka. Rora yang berkali-kali di pinta Mamanya untuk masuk kedalam badan kapal untuk melanjutkan tidur, hanya menggeleng tidak mau. Ia masih setia memeluk Papanya dalam gendongan.
"Papa, ail nya kok item yah?" tunjuk Rora.
Yang ia tahu. Laut itu selalu berwarna biru. Karena setiap Ammar libur bekerja, anak perempuan cerewet itu akan dibawa jalan-jalan ke tepi laut untuk bermain pasir.
"Kalau malam kayak gini airnya gelap, Nak."
Rora menggerakan kepalanya naik turun seakan mengerti penjelasan sang Papa.
Ammar memandang laut dipertengahan malam yang anginnya begitu kencang. Tatapan matanya datar dan penuh kebingungan.
Apa yang harus ia ucap pertama kali kepada orang tuanya?
Dan bagaimana cara memperkenalkan Rora kepada mereka?
Lalu Gana?
Apakah ia masih setega itu untuk menjauhkan Gana dari keluarganya?
Gana pasti seperti dirinya. Rindu akan keluarga. Walau kata Dokter ingatan Gana sulit untuk pulih seperti dulu, tetap saja ia butuh kehangatan dari orang tuanya. Ada telepati batin yang pasti tercipta walau tanpa ingatan dan kenangan.
"Ya Allah ... saya harus memulai semua ini dari mana?" tanyanya. Ia memeluk Aurora erat. Menyatukan kepala mereka berdua. Anak perempuan itu seraya mengerti kalau Papanya sedang frutrasi. Mengusap-usap wajah Ammar agar hilang dari kegundahan.
"Yoya cayang Papa." ucap si cantik. Anak itu memberikan kecupan di pipi Papanya.
Ammar tersenyum dan mengecup balik. Rasa gelisah nya kembali tenggelam. Melihat senyum Aurora, tampak memberi semangat.
"Papa yang lebih sayang kamu dari apapun, Nak. Makasih udah mau jadi anak Papa dan Mama. Semoga Kakak bisa menjadi anak solehah."
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ bersambung๐บ๐บ๐บ๐บ
Ada yang lepas rindu sama empat keluarga ini?
Like dan komennya jangan lupa ya. Dan yang udah nge-vote aku, makasih banyak ya๐บ๐บ enggak nyangka nih bisa di 20 an hihihi. Maacih yaa, lapyuu sayang-sayangku๐๐
Jangan ngambek mulu Gana, tuh ada yang beli minyak di warung๐๐๐