
Tema lebaran kali ini, Gana memutuskan untuk mengambil warna pink nude sebagai seragam lebaran untuk keluarga kecilnya. Seperti hari raya yang sudah bertahun-tahun mereka lewati, untuk baju lebaran utama, Gana akan mendatangkan perancang busana langganan untuk datang ke rumah, membicarakan desain baju yang akan ia pilih untuk dirinya, suami dan anak-anaknya. Karena pada saat lebaran, dengan baju yang seragaman, mereka akan melakukan foto keluarga.
Sedangkan untuk baju lebaran yang lain, yang mungkin akan di pakai di hari lebaran kedua atau ketiga, Gana akan membawa anak-anak dan suaminya ke sebuah pusat perbelanjaan atau butik.
"Masa pink, Dek. Enggak maco dong," seloroh Ammar. Ikut nimbrung saat Gana tengah berdiskusi dengan Ibu Sandora, perancang busana terkenal sekelas Adjie Notonegoro.
Ibu Sandora terkekeh, tapi Gana mendengus malas. "Kemarin Abang bilang terserah Adek, sekarang komplen. Gimana 'sih?"
"Kan masih banyak warna lain, bisa hitam, hijau lumut, silver----"
Suara Ammar terhenti ketika bola mata Gana melebar horor. "Ya udah terserah, Adek. Abang ikut aja," ucap Ammar dan Ibu Sandora kembali tertawa. Ammar kalah telak, ia takut dengan istrinya.
"Masa iya hari raya pakai warna hitam, ada-ada aja, Abang, tuh!" dengus Gana, ia kembali menatap desain model dilembar katalog yang sejak tadi ia tatap bolak-balik.
Ammar yang terduduk di single sofa ruang tamu tidak lagi bersua, ia hanya bisa mendengarkan apa yang dimaui oleh istrinya kepada perancang busana tersebut.
"Biru langit juga bagus, nih, Mbak." Ibu Sandora menawarkan, ia menunjukan sebuah warna pada model baju yang lain.
"Nah, bagus tuh. Biru langit, cerah ...." Ammar kembali nimbrung.
Gana mendongak ke arah Ammar dan tersenyum, yang dibalas senyum juga oleh Ammar. Memandang wajah cantik Gana yang sedang memakai kerudung rumahan. "Kalau kuning gimana, Bang?" senyum Ammar dan Ibu Sandora meredup. Terutama Ammar, ia pikir wanita ini tersenyum karena sependapat dengannya dan Ibu Sandora.
Tahu jika kuning warna kesukaannya, Ammar tidak bisa mengelak. Hanya cari mata saja jika menolak.
"Ya, boleh," balas Ammar.
"Tapi 'kan kita sudah ada beberapa seragam berwarna kuning, ya, Bang?" tanyanya.
Senyum Ammar merekah, ia mengiyakan. "Warna yang lain aja, Sayang. Yang masuk juga ke anak-anak," jawabnya.
"Bukannya warna kuning itu cocok untuk anak-anak, Bang? Cerah dan terang. Enggak kebayang kita berjejer di foto pakai seragam warna itu, pasti ngegemesin banget."
"Iya bener, kayak pisang berjajar ngalir di sungai."
"TAYII dong!" dengkus Gana kesal.
"Bukan lah." Ammar menyergah.
"Terus apa? Pisang ngalir di sungai itu kan pasti TAYYI!" Gana melototkan matanya, ia sampai mencubit lengan suaminya.
"Itu mah molen, warnanya kadang ada yang ijo, kuning campur cokelat. Kadang ada yang padat, cair atau ampasnya doang----" buru-buru Ammar membungkam mulutnya, saat sang istri ingin melempar bantal sofa ke arahnya.
"Heran aku sama, Abang! Kita kan lagi bahas baju kenapa jadi bahas tayii sih!" decaknya sebal.
Ammar mencebik. "Kan yang awalnya bahas tayii tuh kamu ... iya, iya, nih, pergi." Ammar dengan cepat bangkit dari sofa saat Gana melototkan mata sambil menunjuk ke arah kamar.
"Duh maaf, ya, Bu. Suami saya tuh emang iseng. Enggak ingat umur dia, padahal udah tua," ucap Gana dengan semburat malu kepada Ibu Sandora.
Ammar mengedik bahu, ia menautkan alis dengan cebikan di bibir. "Masih muda begini dibilang tua." gumamnya.
Lawan bicara Gana menyengir kuda. "Enggak apa-apa, Mbak. Ibu udah hafal, kan tiap tahun emang begini."
"Malah begini tuh so sweet, pernikahannya terasa awet muda terus ...." godanya lagi.
Gana mengulum senyum simpul. "Makasih, ya, Bu."
"Sama-sama, Mbak," balasnya.
"Oh iya, Bu. Saya hampir lupa, mau pesan juga baju untuk Orang tua saya dan orang tua suami. Modelnya samakan saja, warnanya juga, khusus untuk orang tua pria, bentuk nya gamis panjang gitu aja, ya, Bu." tahun ini, bagian Ammar dan Gana yang membelikan baju lebaran untuk orang tua mereka.
"Jangan lupa sorbannya, Dek," ujar Ammar menambahkan.
"Iya, Bu. Sorbannya juga."
"Untuk anak-anak, ada yang mau di rubah? Atau mau tambahan?"
"Peci, Dek. Buat Alda ...," kelakar Ammar.
"Oh oke, peci." Ibu Sandora seraya mengulang dan ingin menulis di agendanya.
"Abang!" sungut Gana, kembali melototkan mata ke arah suaminya. Ia menyergah Ibu Sandora. "Enggak, Bu. Alda itu anak perempuan, anak bungsu saya. Suami saya hanya bercanda tadi," jelas Gana.
"Buat Aidan maksudnya, Dek. Tadi hidung Abang keseleo,"
Gana hanya memiringkan bibirnya.
"Untuk anak-anak saya yang perempuan, buatkan juga dengan hijab nya, ya, Bu. Kalau untuk anak yang laki-laki, buatkan peci nya. Nah, kalau untuk suami saya, buatin aja syal. Buat di leher," canda Gana. Kedua wanita itu pun terkekeh. Ammar hanya bisa menggeleng samar.
"Baik, Mbak. Akan saya siapkan semua. Jadi fiks, ya. Modelnya begini dan warnanya kuning?" Ibu Sandora menunjuk dari salah satu desain yang sudah Gana tetapkan di awal dan mengingatkannya kembali soal warna.
"Apa mau warna pink nude? Seperti keinginan semula?" beliau mengingatkan ketika wajah Gana terlihat masih ragu.
Gana mengangguk, dan Ibu Sandora tersenyum, tangannya mulai menulis di buku agendanya dengan rincian pesanan Gana.
"Biru langit aja, Bu,"
Hampir saja ujung pulpen milik Ibu Sandora patah, ia pikir Gana sependapat dengannya. Dari jauh suara cekakak-cekikik Ammar terdengar, lelaki itu ternyata duduk di ruang tivi namun menatap ke arah mereka. Istrinya ini memang tidak pernah berubah, pilihan hati dan ucapan tidak pernah sinkron.
Ammar tersenyum kepada Ibu Sandora. "Puasa, Bu. Harus banyak sabar."
Ibu Sandora hanya meringis menahan tawa. "Ini juga udah di sabarin, Mas," balas Ibu Sandora dengan kekehan. Namanya juga Ibu sultan, kudu dilayani sekuat tenaga.
"Jagalah hati jangan kau kotori" Ammar yang sedang bersenandung, buru-buru loncat dari sofa manakala istrinya bergegas datang membawa bantal sofa untuk menerjang suaminya. "Jangan kau berkelahi ...." bisa-bisanya Ammar masih menyambung lagu, memparodikannnya sambil melenggang kabur menuju halaman belakang.
"Awas, ya. Buka puasa pakai batu kamu, Bang!"
"Yaudah kalau gitu, nanti bajunya enggak Abang bayarin, ya," Ammar semakin menggoda.
"Abangggggg!! Sana bayar, tiga puluh juta!"
...🌾🌾🌾...