
"Apa, Dek? Dilurusin rambutnya?" Ammar mengulang, pura-pura tidak tahu. Sebenarnya lelaki itu sudah tidak kaget dengan penuturan anaknya, ia tahu memang itulah keinginan Adela beberapa hari ini. Tapi, ia anggap permintaan sang anak adalah keinginan sesaat.
Adela mengangguk dengan tatapan memelas seakan tengah merayu. "Iya, Pah. Lulucin, ya. Lambut akuh tuh kayak mie,"
Bukannya iba, semua yang mendengar malah tertawa karena lucu. Mereka pikir si keriting hanya sedang bercanda atau kepengin sesaat. Berbeda dengan Gana yang diam. Ia menatap anaknya kasihan. Karena setiap malam sebelum tidur, Adel akan selalu berbisik kepada Gana.
"Mah, timana? Papa boyehin ndak?"
"Mama belum ngomong, Nak. Nanti, ya. Hari minggu, pas Papa libur kerja. Kalau sekarang-sekarang takutnya Papa capek, terus jadi marah."
Begitulah percakapan anak dan ibu tersebut, jika Adela sedang ingat. Padahal, saat pertama kali Adela meminta rambutnya untuk diluruskan. Gana sudah langsung meminta izin kepada Ammar. Dan keputusannya amat mengecewakan.
"Gimana, Bang? Anak nya minta terus. Kasihan kalau enggak dituruti." tanya Gana untuk ketiga kalinya.
"Pokoknya enggak! Adek masih kecil. Masa baru tiga tahun setengah udah mau dimacem-macemin rambutnya, apalagi pakai bahan kimia. Pakat obat-obat begitu, enggak akan tahan lama, Dek. Kecuali Adek mau dibotakin! Biar benih awalnya lurus. Kalau mau ngelurusin rambut kayak gitu, aku enggak kasih! Awas kamu, asal bawa Adek ke salon tanpa izin Abang!"
Semenjak perdebatan kecil antara dirinya dan suami. Gana tidak lagi membahas keinginan Adela. Ia hanya akan memberikan alasan demi alasan kepada anak ke empatnya itu untuk terus bersabar.
"Boyeh kan, Pah?"
Ammar hening. Tawa anak-anak pun mereda. Melihat Adela yang begitu memelas, membuat Gana memainkan mata kepada Ammar kalau mau mengizinkan saja.
Dan nyatanya.
"Kalau sekarang enggak. Nanti aja kalau Adek sudah besar," dalih Ammar. Ia tetap tidak mau.
"Yahhhhh ...," seru anak itu sedih. Ia menatap Gana di depan dengan iris mata yang sudah berkaca-kaca. Gana tahu anak itu sebentar lagi pasti akan menangis.
"Bolehin aja, Bang. Kasian Adek," ucap Gana.
Ammar menghela napas, ia menatap Gana dengan tatapan tegas. "Enggak!" lelaki itu tetap bersikukuh. Seorang Bapak memang akan memakai logika. Tapi, seorang Ibu? Hanya akan memakai perasaan. Ketidaktegaan menjadi sumbu pencetusnya.
Dan.
"Huwaaaaaaaa ... mauh dilulucin lambutnya!" akhirnya anak itu menangis. Mulutnya menganga lebar bersamaan dengan air mata yang terus berguguran.
"Kakahhhhhhh, ninih!" seru Alda melambaikan tangan untuk mendekatinya. Ia sedih menatap Kakaknya yang tengah menangis kencang.
"Enggak usah dilurusin rambut kamu itu udah bagus, Dek," ucap Aidan. Ia ingin mengusap tubuh Adiknya, tapi Adela tidak mau. Ia bergeliat tidak suka dipangkuan Ammar. Ammar mencoba menenangkan, mengunci gerakan tubuh Adela yang terus meronta, ia sampai ingin menendang meja makan karena kesal.
Gana hanya diam. Tidak mau membantu Ammar mendiamkan Adela. Biar saja pikirnya, lelaki itu juga sih yang cari penyakit. "Apa susahnya 'sih, Bang turutin kemauan anak?" dengus Gana.
Ammar hanya diam. Ia malas berdebat. Beranjak bangkit dari kursi untuk menggendong Adela, menenangkan anak itu.
"Akuh mauhnya dilulucin lambutnya cekalang, Pah!" teriaknya. "Ndak mauh nanih-nanih!" ia terus meronta. "Maaamaaaa ...." ia mengulurkan tangan ke arah Gana, agar wanita itu mendatanginya.
Rora, Taya dan Aidan bangkit, ia menghampiri Adiknya yang masih merajuk. Mereka berusaha seperti Ammar untuk menenangkan Adela.
Sudah hilang napsu makan semuanya hanya karena Adela yang merajuk.
"Eyden, Taya, Rora duduk lagi. Ayo selesaikan makan kalian!" titah Gana dengan nada dingin. Ketiga anaknya pun menurut. Mereka duduk lagi di kursinya masing-masing.
Ia bangkit dari duduknya, memutar langkah untuk mendekati Adela yang masih memaksa turun dari gendongan Ammar. Ia meraih paksa anaknya. "Kalau Abang enggak izinin, nggak apa-apa. Tapi, Adek akan tetap bawa Adela ke salon!" tuturnya tegas.
Ammar menautkan alis tidak suka. Rahangnya mulai mengetat. Bisa saja ia luapkan emosi, tapi sebisanya ia tahan.
"Mama ... mau dilulucin lambutnya," Adela masih saja meminta. Ia mengalungkan kedua tangan di leher Mamanya. Terseguk-seguk meratapi kesedihan di hati. Ia tidak menyangka Papanya yang selalu baik, malah tidak menyetujui. Ammar mengusap wajah gusar, pening kepalanya karena sang istri tidak sepemikiran dengannya.
Gana dekap Adela dalam gendongannya. Menggoyangkan tubuh anak itu kesana kemari. Mengelus rambut dan punggungnya. Wanita yang melahirkan Adela tiga tahun setengah lalu dengan riwayat bayi kelilit tali pusar, menggenangkan air mata. Ia tahu kesedihan sang anak. Ia tidak percaya diri dengan kekurangan yang ia punya.
Tapi, menurut Ammar dan keluarga besar. Adela itu unik. Kekurangan yang ia miliki merupakan suatu kelebihan. Rambut keriting yang ia miliki, merupakan turunan dari buyutnya. Mama Mira, Mamanya Papa Bilmar. Kecantikan Adela pun mirip dengan buyutnya. Maka, Papa Bilmar jika sedang rindu dengan Mamanya, ia akan mendekap Adela.
Adela pernah meminta kepada Mama Alika untuk meluruskan rambutnya. Dan Papa menitah Ammar untuk tidak mengabulkannya. Ia ingin Mama Mira serasa masih hidup dan ada di tengah-tengah keluarga besar mereka. Namun, lelaki itu belum mengatakan hal yang sebenarnya kepada sang istri. Ia tidak mau, Gana kecewa kepada Papanya.
"Iya besok Mama lurusin rambutnya," balas Gana.
"Dek!" sentak Ammar. Ia menerobos percakapan antara Ibu dan Anak tersebut. Dan Gana tidak perduli. Ia membawa Adela untuk duduk dipangkuan nya, mulai menyuapi anak itu dan Alda makan.
"Pokoknya, Abang enggak setuju!" seru Ammar, ia kembali menghempaskan bokong di kursinya lagi. Ingin menyantap kembali menu bukaan puasanya yang belum habis.
"Adela juga anakku, Bang! Aku yang mengandung, melahirkan dan menyusuinya. Aku juga punya hak untuk mengizinkan, apa yang menjadi keinginan anak-anakku!"
Ammar mendongak lagi, menatap Gana dengan makanan yang masih ia kunyah. Buru-buru ia telan paksa untuk bergegas menjawab. Hatinya terasa panas, karena Gana yang biasanya menurut, jadi membangkang.
Walau maksud Gana, bukan seperti itu. Ia juga sudah memberikan nasihat kepada Adela, perihal rambutnya yang akan rusak nanti. Namanya juga anak kecil, Adela sulit paham. Gana hanya tidak mau, anak itu jatuh sakit. Karena setiap keinginannya yang tidak dipenuhi, si keriting pasti akan jatuh sakit berhari-hari. Anak itu amat sensitif seperti dirinya.
"Iya, Abang, tau. Tapi yang selama ini mencari nafkah, berkerja dari pagi sampai larut agar kalian bisa makan itu, Ab----"
"Kalau begitu, mulai besok aku akan meminta pekerjaan kepada Gemma di perusahaan Papaku," Gana menyela ucapan suaminya tanpa menatap lelaki itu. Ia sibuk menyuapi Adela dan Alda.
Ammar menggeleng samar, seraya tidak percaya. Gana kembali susah untuk diajak bicara baik-baik.
"Terserah kamu!" balas Ammar dingin.
Ia kembali menikmati makan malamnya. Dalam hatinya ia mengutuk hari ini. Padahal mereka baru saja berbaikan soal masalah Yanti. Tapi, sekarang badai kembali menerpa. Ya begitu lah masalah dalam rumah tangga, akan selalu naik turun tidak akan selalu mulus dah halus seperti bokongnya Alda.
"Oke, baik," balas Gana. Wanita itu menantang. Sakit hatinya karena Ammar malah menjadi-jadi. Dan Ammar menyesal telah berkata seperti itu. Ia malah menyulutkan emosi banteng kala terbakar.
Suasana di meja makan semakin memanas. Di bulan puasa, mereka berdua malah tersulut emosi hanya karena perihal anak. Membanding-bandingkan siapa yang lebih pantas, yang lebih kuat untuk mengizinkan apapun yang diinginkan oleh anak-anak mereka.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...