
"Kapan sih nyiumnya? Lama banget perasaan," decak Gana gemas. Ia mulai tidak sabaran. Wanita hamil itu tengah menonton drama Korea kesukaan dari dvd. Sejak tadi ia memang berisik sendiri mengomentari jalan cerita drama yang tengah dimainkan Ji Chang Wook dan Yoona Lim.
Saat ini sudah pukul sepuluh malam dan Gana masih asik menonton. Padahal para art, triple A sudah tidur di kamar masing-masing begitupun dengan Adela dan Alda yang juga sudah pulas di ranjang.Demam Adela akhirnya turun, anak itu juga sudah mau makan.
Karena dirinya tidak bisa tidur dan perutnya terasa lapar lagi. Ia memilih memasak nasi goreng untuk ia santap sambil menikmati drama tersebut.
Sebagai Ibu atau istri, kita harus bisa membagi waktu untuk kesenangan diri sendiri. Karena kalau kita ingin membahagiakan suami dan anak-anak, kitanya dulu yang harus bahagia, senang dan gembira. Dengan begitu, stress yang terkadang mengancam jiwa, karena lelah dalam mengurus rumah tangga bisa di antisipasi. Kita tahu, bahwa kita punya waktu luang untuk bisa membahagiakan diri sendiri. Seakan yang kita kerjakan di rumah bukan lah suatu beban yang bisa membunuh kebahagiaan kita.
Merasa tenggorokannya mulai seret, dan air di gelas sudah habis. Ia letakan piring berisi nasi goreng di meja dan bangkit dari sofa untuk mengisi ulang air minumnya.
Walau masih amnesia, keberanian yang masih bertengger di tubuhnya harus tetap diacungi jempol. Masih terjaga di dalam rumah yang begitu luas dan gelap, karena beberapa lampu sudah dimatikan. Ia melangkah biasa dan berani menuju dapur tanpa rasa takut.
Dan.
Tap.
Langkah Gana yang akan sampai di dapur delapan meter lagi, terhenti begitu saja di posisinya sekarang, sesaat ia dengar pintu belakang seperti ada yang membuka. Barulah jantungnya berdetak kencang, wanita itu merasa takut.
"Siapa, ya? Maling?" tanyanya. Wajah Gana mulai cemas. Pasalnya ia lihat sendiri, sebelum menonton dvd, Bik Ratih sudah mengunci pintu belakang dan bergegas masuk ke kamar untuk istirahat. Dan di depan gerbang sudah ada beberapa satpam yang menjaga. Keamanan di rumah ini amatlah ketat. "Masa iya sih ada orang lain bisa masuk ke sini?" tanyanya tidak percaya.
Manik mata Gana semakin membola manakala ia yakin bahwa ada langkah kaki yang memang benar-benar masuk dari pintu itu menuju ke arahnya. Wanita itu meringis takut, ia mencoba untuk bersembunyi di belakang bupet. Tapi, melihat ada sapu berdiri di sudut dinding. Dengan cepat Gana mengambilnya. Ia genggam kuat-kuat dalam persembunyiannya.
"Satu ... dua ... ti---"Seraya menghitung dengan angka berapa lama langkah kaki si maling tiba di hadapannya.
Dan.
Sosok siluet yang ditunggu, baru saja melewati bupet. Gana bangkit dari jongkoknya dan keluar dari bupet, awalnya ia takut untuk menghampiri maling tersebut. Tapi, saat tahu sosok itu akan masuk ke dalam kamar tidurnya. Gana tidak tinggal diam. Ada anaknya di sana yang harus ia selamatkan.
Lupa kalau sedang hamil, ia berlari menerjang si maling dengan memukulnya pakai gagang sapu. Hempas sudah rasa takut jika sudah menyinggung tentang anak.
"Ah, sakit!" lelaki itu mengerang. Ia memegang kepala bagian belakang.
Gana membolakan mata horor. Ia hapal sekali suara siapa yang sekarang tengah berteriak setelah ia pukul beberapa kali.
"Abang?" desahnya tidak percaya. "Enggak mungkin 'kan?" gumamnya pelan. Ia masih termangu.
Ammar yang kesakitan sampai berjongkok di lantai memegangi kepalanya yang amat sakit. "Kenapa pukul Abang 'sih, Dek?" Ammar melepas masker.
"Ini beneran, Abang? Kok bisa?" Gana malah bertanya balik. Wanita hamil itu ikut berjongkok, ia coba pegang kepala Ammar yang sedang dikeluhkan sakit. Ammar memang berbeda malam ini, Ia menggunakan jaket kulit dan masker. "Sakit banget nih kepala, Abang!" Ammar setengah menghardik.
"Lagian Abang ngapain lewat pintu belakang? Bukannya Abang bilang mau pulang lusa?" Gana merasa dirinya tidak salah. Walau ia kasian melihat suaminya kesakitan.
"Abang pencet bel, tapi enggak ada yang bukain pintu!" sungut Ammar.
"Ah, masa? Dari tadi Adek di ruang tivi kok nonton dvd," balas Gana.
"Tapi beneran Abang udah pencet berkali-kali tadi."
"Oh, mungkin bel nya rusak kali. Coba besok dibenerin. Ya tapi kenapa Abang enggak ngetuk aja?"
"Kalau Abang ketuk, mana kedengaran sih, Dek? Kan posisinya kamu nya jauh dari pintu utama. Udah gitu tadi Abang mikirnya kamu tuh udah tidur. Ya udah, Abang lewat pintu belakang aja. Handel nya di congkel pakai linggis," balas Ammar.
Gana mendelikkan mata. "Ngerusak barang aja kamu tuh, Bang! Kan bisa telepon aku minta dibukain!" Gana mencubit lengan suaminya.
Di balik rasa sakit karena kepalanya di hujam beberapa kali dengan gagang sapu yang terbuat dari stainless steel, ia senang karena dengan begini istrinya sudah mau bicara lagi padanya. Ammar mendekatkan wajah, ia mengecup pipi Gana. "Abang lupa, Sayang ...."
"Lagian kenapa dipaksain pulang malam-malam kayak begini? Kayak enggak bakalan ketemu sama pagi aja kamu, Bang! Eh----" buru-buru Gana melipat bibir. "Amit-amit, Ya Allah. Jauh ... jauh!" wanita itu menggeleng tidak mau. Sama saja perkataan tadi mengisyaratkan kalau suaminya akan menutup mata.
Ammar terkekeh ia menjawil hidung Ganaya. "Takutkan ditinggal, Abang? Makanya jangan ngambek mulu kerjaannya. Kalau Abang enggak ada, Adek pasti---"
Gana menempelkan satu jarinya di mulut Ammar dan melototkan mata. "Udah enggak usah diperlebar!"
Ammar bergelak tawa, ia gemas sekali melihat Gana yang seperti itu.
"Abang mendadak pulang karena rindu sama, Adek. Pengin peluk,"
Gana memiringkan bibir, memutar bola matanya jengah. Ia malas mendengar rayuan si burung.
"Ayo, bangun! Biar Adek periksa kepala, Abang." Gana membantu Ammar berdiri.
"Di sofa aja, yuk, Dek." pinta lelaki itu.
Gana akhirnya mengangguk dan memapah suaminya yang sakitnya semakin dibesar-besarkan. Seakan rasa kesal kepada Ammar yang masih bercokol di hati, lenyap begitu saja. Ia menyesal karena sudah memukul Ammar walau dalam konteks ketidaksengajaan.
Dalam hati walau ia sedang menahan api cemburu, Ammar tetap berusaha untuk tenang. Masalah Adri lah yang membuat lelaki itu nekat untuk segera pulang dari Semarang menuju Jakarta. Untuk seorang Presdir sepertinya, tidak terlalu sulit untuk melakukan perjalanan dalam sekejap. Ia memiliki jet pribadi yang bisa ia pakai walau dalam malam sekalipun.
Ammar sudah didudukan di sofa. Lelaki itu menyandar lemah, semakin berakting sakit agar Gana terus memberikan perhatian dan tidak lagi marah padanya.
Lampu di ruang tivi sudah Gana nyalakan. Ia dapat menilik jelas kondisi kepala suaminya sekarang.
"Duh benjol," ucap Gana dengan tatapan menyesal. "Bentar, ya, Bang. Adek ke dapur dulu, mau ambil air kompresan sama minum buat, Abang."
"Iya, Sayangku," jawab Ammar. Lelaki itu menatap senang dengan garis senyum terangkat naik menatap kepergian Gana.
Mungkin ini yang dinamakan keberkahan di balik rasa cemburu yang tengah bergelayut di hatinya sejak diperjalanan. Dan rasa sakit di kepala karena bogeman mentah yang dilayangkan Gana barusan. Secara tidak langsung, dengan semua itu ia bisa berbaikan dan berdekatan lagi dengan istrinya.
...🌾🌾🌾...
"Duh ... duh, sakit!" Ammar mengerang pura-pura. Ia menundukkan kepala didepan dada Gana, kedua tangannya memeluk perut istrinya. Gana sedang mengompres bagian kepala Ammar yang benjol.
"Tangannya bisa diam enggak, Bang!" hardik Gana, saat tangan Ammar sudah memeras-meras bongkahan salju yang menempel lekat di dada Gana.
Ammar terkekeh, "Abang kangen, Dek. Udah dua hari enggak nyusu."
Gana mendengus. "Nyusu sana sama ikan-ikan peliharaan, Abang. Ini punya Alda!" mau tidak mau, Gana menepis tangan jahil Ammar yang kini sudah memainkan pangkal dadanya.
"Minta sedikit, Alda juga enggak akan marah kalo bagi dua sama Papanya." Ammar tertawa.
Gana hanya mencebik bibir.
"Enggak kangen, Dek?"
Gana menggeleng. "Enggak!"
"Tapi, Abang kangen."
Gana tidak menggubris. Ia hanya fokus dengan benjolan yang ia rasa sudah cukup untuk dikompres dan kini ia balurkan benjolan itu dengan salep.
"Dek ...,"
"Hem?"
"Tadi waktu ke Apotik beli vitamin buat Adel. Adek ketemu sama siapa?" tanya Ammar to the point.
Ia tidak ingin gegabah untuk memulai pembicaraan dengan kepala yang panas, walau di hatinya sedang cenat-cenut gelisah. Ia takut, Adri mendekati Gana lagi. Selama ini, Ammar selalu memantau Gana untuk tidak berdekatan dengan orang-orang di masa lalunya kecuali keluarga.
Gana menautkan alis. Ia menurunkan wajahnya dari kepala Ammar untuk menatap lelaki itu. "Kok Abang tau?"
"Tadi waktu Abang lagi teleponan sama Anak-anak. Mereka cerita, katanya ada om baik yang ngasih makanan banyak, teman kerja kamu katanya," Ammar memancing agar Gana bersua. Ia ingin tahu, apakah Adri sudah menceritakan siapa dirinya kepada Gana.
Saat pertama kali Gana tiba di Jakarta setelah bersembunyi di Makassar, dan kembali muncul di media bersama Ammar. Mutiara sempat mendatangi Ammar untuk meminta izin menjenguk Gana. Namun, lelaki itu menolak dan mengatakan kalau Gana amnesia. Ia tidak ingat apa-apa. Ammar pun mengultimatum Mutiara untuk bisa menjaga Adri agar tidak lagi mendekati istrinya..
"Aku tidak akan segan-segan membelah kepala Adri menjadi dua dengan senapan tajam milikku!"
Tentu ucapan Ammar tersebut membuat Mutiara sesak. Ia takut hal itu terjadi. Maka ia menceritakan semuanya kepada Adri, agar suaminya juga bisa menjaga batas. Dan yang tidak Ammar tahu, saat ini Adri sudah bisa mencintai Mutiara, paska kelahiran anak ketiga sembilan tahun yang lalu.
Maka dari itu, selama ini Adri tidak pernah mencari-cari Gana. Apalagi ia tahu, Gana dan Ammar sudah memiliki anak banyak. Foto keluarga mereka suka terpampang di sebuah majalah yang sedang mengangkat tema tokoh pengusaha sukses.
Adri tahu Gana sudah bahagia dan Ammar bisa menjaganya dengan baik.
"Oh, yang itu ...." Gana kembali menatap kepala Ammar, olesan salep yang dirasa masih kurang, ia lanjutkan kembali.
"Pas lagi masuk ke apotik, kebetulan berpapasan sama laki-laki berkacamata hitam. Dia manggil Adek, Bang. Sambil melepas kaca matanya, 'Gana 'kan?' dia tanya kayak gitu." saat melihat Gana pun Adri merasa pangling. Karena sudah lama tidak bertemu Gana yang bertambah cantik dengan hijabnya.
"Hem ... terus?"
"Terus Adek jawab. 'Ya bener, Mas siapa, ya?' Adek tanya balik. Terus, dia bilang namanya Adri. Pernah jadi kolega di perusahaan Papa katanya,"
Ammar mulai bernapas lega. Ternyata Adri tidak seperti yang ia pikir. Lelaki itu sudah move on. Bisa menutupi apa yang terjadi dengan mereka di masa lalu.
"Terus gimana lagi?"
"Ya terus Adek jawab. 'Maaf, ya, Mas. Saya lupa. Saya pernah kecelakaan beberapa tahun lalu dan saya enggak ingat apapun'. Dia balas 'Ya enggak apa-apa, saya mengerti.' Gitu katanya. Terus kenalan sama anak-anak dan beliau bilang akan kirim beberapa makanan ke rumah. Awalnya Adek udah larang, Bang. Tapi, dia tetap maksa. Abang jangan curiga, ya. Jangan pikir yang macam-macam. Demi Allah, tadi kita hanya enggak sengaja ketemu di Apotik, tanya aja anak-anak kalau enggak percaya. Dia juga bawa anak 'kok, Bang. Katanya anak bungsunya lagi sakit di rumah," ucap Gana meyakinkan. Malah sekarang terbalik, ia yang seakan memelas takut dimarahi oleh suaminya.
Ammar terkekeh. Ia kecup bibir istrinya. "Iya, Abang percaya, Dek." lega hatinya karena ia tidak perlu lagi menjelaskan siapakah Adri.
Lelaki itu menghormati keputusan Adri untuk tidak menceritakan siapa dirinya di masa lalu. Selama ini Ammar hanya membahas kalau Gana pernah hampir menikah dengan lelaki jahat, dan sebelum menyelesaikan cerita untuk mengetahui siapa lelaki itu lebih lanjut. Gana menggeleng tidak mau mendengar ceritanya sampai akhir. Entah mengapa, seperti ada sinyal kuat yang membuat dadanya sesak. Kebohongan Adri dulu memang sangat mengiris kalbunya.
Gana tersenyum senang karena suaminya tidak marah padanya. Gana takut Ammar akan salah paham. Padahal awalnya, ia masih merajuk. "Nih, minum dulu, Bang." Gana menyodorkan air minum dan obat pereda nyeri yang selalu ia stok di kotak P3K.
Ammar menurut. Ia telan obat tersebut dan mendorongnya dengan segelas air putih.
"Ke kamar, yuk, Bang. Kita tidur. Abang pasti capek 'kan?"
Ammar menggeleng. "Tidur di sini dulu, yuk." pinta Ammar, ia menepuk badan sofa. Gana tahu ajakan itu bukan hanya sekedar tidur biasa, tapi ada makna yang terkandung di balik ucapan suami nya tersebut. Ammar meminta jatahnya.
"Di sini, Bang?" tanya Gana memastikan.
Tanpa menjawab. Ammar langsung meraup bibir istrinya dengan esapan lidah yang begitu menuntut. Sambil merebahkan Gana untuk berbaring terlentang di sofa empuk dan mahal, tanpa menghentikan ciuman mereka. Di detik selanjutnya, Ammar berhasil meloloskan kain segitiga dari dalam daster piyama Gana.
Dan.
"Euh ... Abang!" Gana mulai melenguh saat mereka tengah bersatu. Di keheningan malam dengan tivi yang menyala tengah menonton mereka, seolah menjadi saksi bagaimana Harley dan Honey tengah berusaha terbang ke puncak kebahagiaan.
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
Aku cut ahðŸ¤ðŸ¤ adegannya. Ini aku Up jam 00: 02 yaw. Bagi yang baca pas siang, maapin.
Maap ya kalau ada typo, enggak aku edit. Langsung up.