Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Sepuluh Bulan Pernikahan.


Terlihat Ganaya tengah berbaring di kursi santai panjang, yang terbuat dari bahan kayu, di pelataran kolam renang. Menyandar lemah di sana menikmati udara sore yang hampir menggelap. Karena awan mulai berbaris dan bersatu.


Wanita itu memandang bunga-bunga mawar serta tanaman lain kesukaannya dengan tatapan kosong.


Sudah dua minggu ini jari-jemarinya mogok menyiram mereka dengan air dan memberikan pupuk. Gana seperti tidak selera hidup, ia malas mandi, malas makan, malas dandan dan malas untuk bicara. Ada yang sedikit hilang dari pusara sukmanya, yaitu cinta yang baru merekah untuk sang suami.


Berkali-kali ingin memasukan baju ke dalam koper disaat Ammar pergi bekerja. Tapi Yuni menahan dan kembali memberikan wejangan. Yuni bilang, tunggu sampai Mahendra pulang dari Jepang, karena lelaki itu sudah berjanji akan menjelaskan semua yang ia ketahui bersamaan bukti yang Gana sudah dapati.


Mahendra dan Mulan pergi ke Jepang selama dua minggu untuk mengobati Dava. Dan akan tiba di Indonesia lusa. Bertepatan dengan itu, Ammar dan Farhan akan bertemu di dermaga bersama Mr. Jang untuk mengakhiri kerja sama dalam usaha senjata tajam dan transfer organ. Ya, begitulah kilah Farhan kepadanya, kalau mereka akan mengakhiri usaha haram ini, padahal Farhan hanya mencari-cari alasan.


Walau tepi hatinya sakit karena telah tertancap duri. Tapi diameter hatinya yang luas sudah terlanjur terisi dengan cinta Ammar.


"Bertahun-tahun aku menolakmu. Tapi akhirnya aku mencintaimu juga. Dan disaat aku sudah jatuh cinta, kamu dengan sengaja melempar arang panas untuk menghancurkan cinta yang sedang aku bangun." gumam Gana. Wanita itu tertawa sarkastik.


"Laki-laki bajingann, pendusta, pendosa, pembohong! IBLIS!! Haha."


Gana tertawa puas, mendongak dan menatap langit, angin berhembus kencang. Hawa dingin mulai memercik permukaan kulitnya. Gana tidak perduli, ia asyik tertawa sampai semua art takut mendekat, kecuali Yuni.


"Yun ..."


Yuni yang baru saja ingin melangkah menghampiri Gana dari ambang pintu menoleh ke belakang. Ada Ammar yang baru tiba dari kantor.


"Apakah Ibu sudah mandi?"


Yuni menggeleng. "Dari pagi sampai sekarang enggak mau mandi, Pak." Gana akan mandi jika sudah malam sekali.


Ammar menghela napas pelan. "Apakah sudah makan?" dan Gana akan makan, jika ia sudah sangat lapar. Kadang jam satu malam, ia baru datang menghampiri meja makan untuk menyendok nasi.


Yuni menggeleng lagi. "Masih enggak mau makan, Pak."


Ammar mendesahkan napas, melepas sesak dalam dada. "Mau sampai kapan kamu akan seperti ini, Gana?" batin Ammar memekik. Lelaki itu menatap punggung istrinya sendu dari kejauhan. Kemudian ia beralih lagi menatap Yuni.


"Menu malam ini apa?"


"Soto ayam, Pak."


"Tolong kamu beli bebek bakar di tempat biasa." Ammar merogoh kantung celana dan membuka dompet. Mengeluarkan uang dua lembar berwarna merah. Ia rasa Gana akan makan, jika yang tersaji adalah makanan kesukaannya.


"Kamu juga beli ya, tanyain juga Mbak Ningsih dan Mbak Ratih, mau nya apa, biar sekalian."


Uang itu mengatung begitu saja, Yuni melamun. Jangankan Gana yang syok, ia pun sama. "Benarkah Bapak penjahat? Rasanya tidak mungkin, Bapak orangnya baik banget dan perhatian ... tapi bukti itu?"


"YUN!" suara bariton Ammar membuat Yuni terlonjak.


"Eeh--iya, Pak." jawab Yuni tergagap.


"Dengar 'kan tadi apa kata saya?"


Yuni mengangguk mantap, lantas mengambil uang yang Ammar sodorkan.


"Sini, Yun. Biar sama saya." Ammar meraih secangkir teh manis di tangan Yuni, yang akan di peruntukan untuk Gana.


"Saya permisi, Pak." Yuni pamit.


Ammar melanjutkan kembali langkahnya untuk menghampiri Gana yang sedang asik tertawa tidak jelas, tapi wajahnya basah akan air mata.


Satu hal yang harus Ammar ketahui, Gana adalah tipe wanita yang sangat sulit untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan dalam waktu singkat. Dua minggu terpuruk, malah membuatnya semakin menjadi-jadi.


"Sayang ..." sapa Ammar yang menghempaskan bokong di kursi yang sengaja ia tarik untuk berdekatan dengan kursi santai sang istri.


Gana tidak menjawab. Kembali melipat bibir untuk menelan tawa. Karena sesosok lelaki yang ia cinta namun ia benci sudah tiba.


"Kamu minum dulu, nih." Ammar menyodorkan cangkir teh tersebut. Harusnya dia, yang disodorkan air minum karena telah lelah bekerja.


Gana hanya melirik cangkir itu, tetapi tidak dengan wajah Ammar. Dua minggu lelaki itu di diamkan parah oleh Gana. Tidak ada lagi sapaan hangat, salam cinta atau dekapan rindu.


Hari-hari terlewati dengan hawa dingin tanpa belaian dan sentuhan. Gana selalu menghindar jika Ammar ingin memeluknya, dan terlebih lagi Gana lebih suka tidur di sofa. Berkali-kali Ammar akan menggendong sang istri untuk dibaringkan di ranjang, kembali tidur bersamanya di satu tempat tidur.


Ammar sungguh rindu. Rindu sentuhan istrinya.


Ammar mengalah lagi. Melihat istrinya hanya merespon dengan gelengan kepala, Ammar memilih untuk meletakan cangkir teh itu di atas meja. Tidak seperti malam itu, ia ikut emosi, memaki dan mengerang. Ia merasa Gana masih meradang karena sikapnya malam itu sampai detik ini.


"Aku sudah memesan tiket untuk kita berdua ke Eropa. Di sana sedang musim salju, aku ingin membawamu kesana, kita liburan ya, sayang. Karena selama menikah kita belum bulan madu 'kan?" ucap Ammar dengan senyuman hangat menatap Gana. Dirinya yakin rencana jalan-jalan kali ini bisa membuat mood Gana kembali membaik.


"Aku tidak sudi pergi bersamamu, apalagi memakai uangmu, Ammar!" nada suara Gana tajam sekali. Wanita itu mengucap dengan rahang mengetat. Sekali lagi, ia tidak mau menatap suaminya.


DEG.


Ammar kembali tersentak. Ucapan Gana sungguh menyakitkan. Dadanya berdenyut nyeri.


"Tolong kasih tau dimana salahnya aku, sampai membuat kamu berubah seperti ini?" tanya Ammar dalam permohonan. Ia sampai menundukkan kepala melepas napas yang terasa berat. Harus bagaimana lagi meminta belas kasih dari Gana.


Dada Gana kembali sesak. Sejatinya ia tidak sanggup melihat Ammar memohon seperti ini sampai merendahkan dirinya.


"Sebentar lagi kamu juga akan tau, Ammar, apa saja kesalahanmu!"


Kedua mata Ammar membeliak sempurna.


"Memang apa? Apa kesalahanku?" kini Ammar sudah berpindah duduk di bibir kursi santai yang sedang Gana tiduri. Ingin menggenggam tangan istrinya, namun buru-buru Gana menjauh. Ia beranjak duduk dan memundurkan tubuhnya di sandaran kursi. Wajah Ammar menegang. Rasa ingin tahunya sudah berada di ubun-ubun.


"Aku benci kamu, Ammar! AKU BENCI!" akhirnya dalam dua minggu ini, Gana bisa meluapkan unek-unek dan amarahnya yang hanya bisa bergelayut di ujung sanubari jiwanya.


"AKU BENCI KAMU!" Gana mengulangi sambil mendorong dada Ammar. Lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang dan Gana beranjak bangkit dari kursi untuk berdiri dan melenggang pergi. Ammar melompat dari kursi untuk menarik tangan Gana.


"Tolong jelaskan dulu apa yang membuat kamu benci seperti ini sama aku, sayang. Kesalahan apa yang telah aku buat?" wajah Ammar masih saja memelas. Walau Ammar sudah memohon seperti ini, tetap saja bola mata Gana menyeringai bagai naga yang ingin memuntahkan apinya. Perih karena batinnya mulai hancur.


Gana berdecih dalam hati. "Sekeras apapun aku membongkar bukti-bukti, tetap saja kamu akan mengelak!"


"Tolong hargai aku sebagai suamimu. Tidak 'kah kamu tega menyakitiku dengan suasana pernikahan kita yang dingin seperti ini?" tanpa sadar Ammar mengeluh.


Gana tertawa. "Oh, baiklah kalau begitu. Ayo kita bercerai, Ammar!" Gana mengucap nya dengan nada tegas.


DEG.


Jantung yang sejak tadi masih berdegup-degup dalam sukma Ammar, seakan berhenti karena dicabut paksa. Kedua telapak kakinya terasa lemas.


"Apa?" desahnya tidak percaya.


"AYO KITA BERCERAI, AMMAR!" teriak Gana. Dibawah langit yang mulai memunculkan senja.


Bola mata Ammar bergoyang, wajahnya menegang. Tanpa sadar mulutnya menganga sedikit karena masih tidak percaya bahwa kata-kata laknat itu yang akan ia dengar. Lelaki itu mematung dan terpelongo. Benar 'kah ucapan yang ia dengar barusan?


"Kita memang tidak di peruntukan untuk menjadi pasangan suami istri." Gana terus saja mengeluarkan amarahnya, ia menyulut hati Ammar yang mulai di rundung emosi. Lidahnya terasa puas karena sudah menyakiti Ammar, walau dirinya pun ikut terbakar.


"PULANGKAN AKU SEKARANG JUGA KE RUMAH PAPA DAN MAMAKU!"


Tangan Ammar mulai mengepal. Ucapan Gana sungguh menghujam hatinya tanpa perasaan. Linu sekali seperti tengah dicabik-cabik. Usahanya yang selama ini sudah menerima segala sikap dan kemauan Gana terhadapnya dari awal menikah sampai sekarang, serasa tidak pernah ada harganya.


Bola mata Ammar menata tajam netra pekat Ganaya. Rahangnya mengeras, matanya memicing kesal.


Dan.


Pakk.


Hentakan telapak tangan Ammar mendarat keras di permukaan pipi mulus Ganaya. Gana sampai memalingkan wajah dan memegang tulang pipi yang ia rasa akan langsung berubah warna menjadi merah kebiruan.


"Kurang ajar kamu! Dasar Istri durhaka! Makin diamkan, makin menjadi! Keterlaluan kamu!! Jika aku memang mempunyai kesalahan fatal, ayo jelaskan, APA SALAHKU?"


Ammar menunjuk wajah Gana dengan jari-jemarinya. Lelaki itu kembali mengulangi kesalahan sama seperti beberapa malam lalu. Ia tidak bisa mengontrol dirinya dalam api amarah.


Wajar saja ia kesal, ia fikir dengan mendiamkan Gana, mengikuti kemauan wanita itu sesuka hati akan membuat Gana berubah. Ternyata tidak, Gana semakin menjadi-jadi menyiksa batinnya tanpa alasan yang jelas.


Air bening di sudut mata Gana terjerembab turun. Sudah sakit hatinya, sakit juga fisiknya. Biarlah ia di tampar dengan begitu Ammar akan semakin menyesali perbuatannya di ujung nanti.


"Aku akan membuka semua kesalahanmu lusa, Ammar! Dan jika semua terkaanku benar, di saat itu pula, aku dan kamu akan berpisah!" Gana berikrar dalam hatinya.


"Jangan coba-coba mencari kesalahanku, untuk bisa menceraikanku, Gana!" tantang Ammar dengan hati yang masih berbalut emosi.


Sungguh ia bodoh, tidak bisa menerka apa yang membuat istrinya bisa berubah seperti ini. Yang Ammar tahu, Gana hanya ingin berpisah dengan mencari-cari masalah yang di ada-ada 'kan.


"Apakah ada lelaki lain di hatimu, sehingga kamu mencari-cari alasan klise seperti ini?"


Gana terdiam dengan dahi berkerut. Lalu melepas tawa yang dibuat-buat.


"Jika iya, lalu kamu mau apa?" Gana mengimbangi ucapan Ammar. Wanita itu kesal dan kecewa karena sudah ditampar oleh suaminya, yang mana karena sumbangsih dari ucapannya sendiri.


Ammar melototkan matanya. "Benar kamu mencintai laki-laki lain? Siapa dia? Akan aku membunuhnya sekarang juga!"


Gana gelagapan. "Jadi benar kamu memang seorang pembunuh, Ammar?" tanya Gana dengan nada melemah. Wanita itu membekap mulut karena tidak percaya akan terkaannya yang masih mengatung selama ini, dan mulai terjawab.


Sadar karena dirinya sudah keceplosan perihal jati diri. Ammar buru-buru bungkam. Ia memilih meninggalkan Gana dengan dada yang berdebar-debar. Ia berfikir keras dengan ucapan Gana barusan.


Apakah aku sudah di ketahui?


****


Siap-siap ya guys, puncak konfliknya besokk. Akan terbongkar semuanya.


Oh iya aku ada cerpen guys, ada di profil aku. Siapa tau aja kalian mau baca sambil nunggu aku up Gana. Judulnya Slave of Love. (ada di profil karya Noveltoon aku, letaknya paling bawah)


Like dan Komennya ya🌺🌺