
Bisa bersama dengan Gana, atau sampai menikah dengan wanita itu merupakan suatu keistimewaan tersendiri bagi Ammar. Ingatannya masih kental, ketika dulu ia datang kerumah Gana, dan mendapati wanita itu tengah turun dari dalam mobil bersama kekasihnya.
Atau tidak sengaja pernah bertemu, ketika mereka makan berdua di restauran, dan lebih parahnya lagi Ammar juga pernah melihat Gana tengah berciuman dengan Adri di ruang tamu yang sepi, ketika ia sedang mengantarkan keponakan kembar nya bertemu Kakek dan Neneknya.
Sakit? Sudah pasti. Tapi mau bagaimana? Ia harus bisa menerimanya. Lagi-lagi cinta yang besar menjadi titik dalang dari rasa sabarnya. Cinta bisa membuat orang menjadi buta dan tuli. Seperti dirinya kepada Gana, dan Gana kepada Adri.
Maka Ammar bisa memahami sedikit perasaan Gana saat ini. Yang mirip seperti dirinya dulu. Patah hati berulang kali karena orang yang kita cintai, tidak akan begitu saja mudah untuk sembuh seperti orang yang hanya sakit kepala biasa.
Maka kala itu Ammar mencoba melepaskan Gana, asal wanita itu bahagia walau bukan dengannya. Tapi saat ini? Ammar tidak mau Gana berlarut-larut seperti dirinya. Boleh jadi masih ingat, tapi harus tetap memaksa agar wanita itu mau melupakan bayangan masa lalunya.
Karena sekarang keadaanya berbeda, mereka sudah menikah. Sudah mengucap janji sehidup semati dihadapan Allah.
Gana harus bisa melupakan Adri.
Berkat nasihat semalam yang Ammar berikan, membuat Gana mempunyai semangat lagi. Ia mau mandi, mau makan dan tentunya mereka kembali tidur bersama dalam tanda kutip hanya tidur bersama, tidak melakukan apa-apa layaknya pengantin baru, yang bisa tiga kali keramas dalam sehari.
Ammar mengerjapkan kedua mata yang terasa masih berkabut. Ada rasa yang aneh di atas dada, dibawah leher dan telinganya. Seperti ada yang menekan dan memelintir.
Dan benar saja, sang istri tengah tidur sambil memeluk dadanya. Tangan kanan ada di atas dada, sedangkan tangan kirinya ada dibawah lehernya, dan menembus ke bagian telinga. Memelintir daging telinga Ammar yang menggantung.
"Hemm ... si Patcrik ternyata." gumam Ammar dengan senyuman jenaka. "Plintir aja enggak apa-apa, asal jangan sampai putus ya." ucapnya dengan kekehan.
Gana masih memejam mata, tapi tangannya masih sibuk memelintir telinga Ammar. Hal ini adalah kebiasaan Gana jika sedang pulas.
Dulu waktu masih kecil, telinga Papa, Mama, Kakak dan para Adiknya yang jika tidur bersama dengannya, pasti akan menjadi incaran tangan jahilnya.
Dan Ammar bahagia. Gana mulai membuka ruang dirinya untuk mendekat. Memeluk saat tidur, tidak pernah terpikir oleh Ammar, bahwa Gana mampu melakukannya. Walau Ammar tahu, mungkin saja Gana memeluk karena sedang tidak sadar.
Ah, biarlah. Yang penting dia bisa merasakan hangatnya dekapan Gana.
Ammar menurunkan tatapannya sejurus menatap bibir Gana, ketika ingin mengecup. Ammar langsung diam, karena Gana lebih dulu bergeliat dan sepertinya akan bangun. Ammar buru-buru memejam kedua matanya lagi. Ia ingin tahu, apa reaksi Gana ketika sedang tidur memeluk dirinya.
Dan benar saja, Gana tertohok. Ia menarik tangannya yang sejak tadi memelintir telinga suaminya. Menarik tubuhnya agar melepas dekapan. Berbaring terlentang di sebelah Ammar dengan degupan jantung yang bergemuruh.
"Duh kok bisa." ucap Gana. "Aku kalau tidur emang suka begini, enggak aturan!" Gana mengutuk dirinya sendiri.
"Ini juga jari ... Kenapa sih, enggak pernah berhenti nyari telinga orang?" Gana menghardik jari tangannya.
Ammar yang diam-diam sedikit membuka matanya, hanya bisa menahan geli. Ia memejam lagi, ketika Gana mendongak dan menatap wajah Ammar. Wanita itu memiringkan tubuh untuk memperhatikan lekuk wajah suaminya.
"Kedua alis yang cukup tebal, hidungnya mancung. Dan bibir ini ..." Gana mengusap-usap pelan bibir Ammar. "Bibir nakal, karena suka nyerang mendadak." Gana terkekeh.
"Aku terkadang suka gemas sama kamu. Rasanya tuh aku kayak lagi nikah sama Gemma. Bertahun-tahun aku menganggap kamu sebagai Adikku, lalu sekarang berubah menjadi suami. Belum lagi karena masalah Adri. Tentu semua itu butuh proses. Dan kamu mau bersabar untuk menunggu aku ..."
"Walau sekarang aku belum bisa menjadi istri yang baik. Tapi aku yakin sebentar lagi, aku pasti akan menjadi Ganaya Hadnan, yang sangat mencintai suaminya ... Tunggu aku ya, aku juga akan selalu setia dengan pernikahan ini."
Serentetan pengakuan Gana, dapat didengar jelas oleh Ammar yang pura-pura masih tertidur.
Bisakah Ammar pergi terbang ke awan? Ingin berteriak kencang kalau dirinya tersipu bahagia? Ucapan Gana sungguh melegakan hatinya.
Wanita itu mengusap-usap lagi pipi suaminya. Gana setengah bangkit dan menunduk, menatap wajah Ammar dari atas. Ia ingin belajar mengecup bibir suaminya.
Tapi ternyata itu tidak mudah, ia urung melakukannya. Dan Ammar sedih akan hal itu. Gana memang masih butuh waktu.
"Ammar ..." Gana memilih membangunkan suaminya, karena jam di dinding akan menunjukan waktu subuh sebentar lagi.
Ammar masih pura-pura dibalik pejaman matanya. Tapi tiba-tiba bibirnya mengerucut, seraya ingin di cium.
Gana terbelalak, menatap horor karena saking tidak percaya. Kalau suaminya sejak tadi pasti sudah bangun.
"Kamu tuh pura-pura tidur ya!!" Gana berdecak kesal. Ammar tertawa lalu mencekal kedua tangannya.
"Aku akan tunggu kamu, menjadi Ganaya Hadnan yang akan mencintai suaminya." goda Ammar.
Gana mengeram, ia bersiap mencubit Ammar namun tangannya sudah kepalang tercekal.
"Apa tadi? Harley? Siapa itu?" Gana mengerutkan keningnya.
Ammar kembali tergelak dalam kekehan. Lelaki itu sudah diatas tubuh Gana dan mengungkungnya.
"Aku hanya ingin cium bibir kamu, boleh 'kan?"
Gana menatap Ammar tanpa kedipan mata. Ingin menolak tapi sepertinya mustahil. Ammar sudah sedekat ini.
"Hanya cium aja, Gana." Ammar lebih dulu mencium pipi, lalu ke perpotongan dagu dengan sangat bergairah.
"Tapi itu ada yang gerak." Gana meringis. Sepertinya ia tau kalau palung tornado Ammar tengah kontraksi, apalagi pagi-pagi seperti ini.
"Nah, itu yang namanya Harley. Nanti kalau kamu udah siap, bisa kenalan." Ammar kembali tertawa.
Gana melotot. "Kamu namain??"
Ammar tertawa puas.
Gana menggeleng dengan bibir mencebik Tanpa membuang waktu, Ammar langsung menyatukan mulut mereka berdua. Dan Gana melepasnya secara paksa. "Kalau kamu jadi ingin bagaimana?" tanya Gana dengan napas yang mulai berantakan.
Ammar tersenyum. "Enggak usah di pikirin, itu urusan belakangan, biar jadi urusan aku."
Lelaki itu kembali melumatt bibir istrinya. Gana yang awal-awalnya diam, mulai membalas, walau kembali diam, dan akhirnya hanya menikmatinya saja.
Sabar lah, Ammar. Semua butuh proses.
***
Terlihat Gana masih berdiri dibalik meja kerja. Ia sedang mencoba mencari beberapa berkas yang sepertinya terselip. Sesekali memegang bibirnya yang terasa pedih, tebal dan panas.
Ammar meraup bibirnya selama satu jam, sampai bibir bawah Gana basah. Ammar ingin menjangkau pusat intinya, tapi Gana menghalau.
Sedangkan Ammar yang sudah kepalang tersihir birahi, lantas memaksa tangan Gana untuk menyentuh palung tornado nya, sampai Ammar bisa ekskresi. Gana awalnya menolak, namun melihat wajah Ammar yang sudah tidak tahan untuk menahan, akhirnya ia ikuti. Ammar berhasil, baginya masih ada cara lain untuk melegakan Harley. Ammar memang jago merayu dan menang pagi ini.
Di sepanjang perjalanan pun, Ammar senyum-senyum sendiri dengan rambut yang basah. Sampai Bima dan Denis saling bertukar pandangan.
Sudah tembus kah?
Haha. Nyatanya belum. Mereka berdua masih perawan dan perjaka. Walau sudah banyak tanda merah yang Ammar tinggalkan di sekitar bawah dagu istrinya. Maka dari itu sekarang Gana memakai dalaman jas yang panjang menutup leher.
"Assalammualaikum, Bu ..." suara Hani yang diiringi dengan ketukan pintu di luar. Wanita itu pun masuk setelah Gana menjawabnya.
"Bapak Mahendra sudah datang, Bu. Saya meminta beliau untuk menunggu Ibu diruang rapat."
Gana tersenyum. "Baik, tunggu saya lima menit lagi. Tolong kamu sajikan makanan dan minuman yang beliau suka. Kita harus memanjakan para calon investor kita, Han."
***
Ambyar nih palung tornado nya, udah lega dedek Ammar๐คญ๐ฅ. Dan sudah ada Mahendra guyss, hehe. Gimana nih?
Nih buat kalian yang selalu nanya ada ga sih thor cowok yang punya kepribadian kek Ammar. Baiknya lembutnya, aku jawab nih : ADA GUYS. sosok kek gini tuh ada banget dan banyak tapi tetap aja ada kekurangannya. dan terkadang kita yang udh berpasangan, akan lebih fokus kepada kekurangan pasangan kita, padahal kelebihannya tuh banyak dan suka kita lupain. Namanya juga cewek, kan kalau kata Papa Bila, cewek mah kalo lagi kesel yang diinget kesalahan sampai ke tayi-tayinya, kebaikan dilupain langsung dibuang kek upil๐๐.
Enggak usah jauh2 kek Ammar deh, liat suami bisa naro piring bekas makannya ke wastafel aja, udah romantis kata aku๐๐
Bagi yang masih single, semoga jodohnya di cepatkan ya. banyak berdoa, biar dapetnya sesuai sama yang kita mau, perbaiki diri agar pantas untuk orang yang kita anggap pantas.
๐ง๐ง๐ง๐ง๐ง๐ง
Like dan Komennya ya, maacih๐บ๐พ