
"Apa aku sudah boleh melakukannya?" bisik Ammar dengan nada sensualis. Jantung Gana memburu hebat, terkoyak-koyak. Rasa inginnya bersambut. Senang sekali wanita itu.
"Kamu maunya sekarang?" jawab Gana.
"Iya, aku udah enggak tahan." jawab Ammar seperti sedang menahan pipis. Kebelet.
"Apa enggak nunggu di Swiss aja?" Gana memberikan penawaran.
"Kelamaan, kan berangkatnya masih seminggu lagi. Di mulai sekarang aja, nyicil." Ammar terkekeh. Gana menghempas cubitan kecil ditangan Ammar yang kembali melingkar di perutnya.
"Aku takut." desah Gana pelan. Tapi Ammar bisa mendengar jelas.
"Kita coba dulu, kalau kamu nya gak nyaman. Aku gak akan paksain."
"Kamu udah pernah?"
Ammar mengerutkan dahi ketika diberikan pertanyaan polos seperti itu.
"Sama perempuan lain misalnya?" Gana memancing.
Ammar mendengus. "Aku masih jadi dedek brondong gemes kamu yang dulu. Masih suci, masih perjaka ... masih----"
CUP.
Entah mulai kapan Gana sudah berbalik dan mengecup bibir Ammar. Lelaki itu terbelalak lagi.
"Tuh 'kan, kamu tuh suka nyerang mendadak kayak granat! Mendadak duarr, gak bilang-bilang." decak Ammar di saat posisi mereka kembali berjarak.
Gana menatap dalam manik mata suaminya yang teduh dan selalu murni memberikan kasih sayangnya.
"Sentuh aku." ucap Gana.
"Kamu yakin?"
Dasar lelaki bodohh, tidak peka memang. Tadi dirinya yang memancing, sekarang ketika Gana sudah mulai terpancing dan ingin, malah diganggu seleranya.
Tidak 'kah ia bisa melihat Gana mulai memberikan perasaanya? Karena saat ini yang Ammar tatap, Gana hanya sedang ingin menuntaskan napsunya belaka. Tidak perduli cinta. Padahal Ammar butuh hal itu.
Dan benar saja mood Gana seketika Ambyar. Wanita itu langsung memunggungi suaminya. Merajuk seperti bernuk. Haha.
Ammar memeluk lagi istrinya.
"Aku takut kamu nyesel terus ngambek." sok-sok an takut. Tapi lihat lah tangan Ammar, sudah mulai melesat masuk kedalam piyama Gana.
Gana memiringkan sudut bibir. "Ih apaan sih ini! Mau cari apa kamu?"
"Cari jangkrik. Aku aus, mau minum." Ammar beringsut ingin mencari susu yang dicampur coca cola dari balik piyama Gana yang berkarikatur patrcik dan spongesbobs.
Gana menarik tangan Ammar untuk ia hempas kan keluar dari dalam bajunya.
"Udah ah tidur aja, aku ngantuk." Gana sudah malas.
Jika Ammar belum peka dengan kode-kode perasaan yang Gana ucapkan, mungkin ia sudah faham bagaimana cara mengartikan rajukan sang istri.
"Jangan ngambek dong. Sini bibirnya, aku cium dulu."
Gana menggeliat. Membenamkan wajahnya di bantal untuk menjauh dari bibir suaminya yang mulai bergerak maju.
"Enggak mau ah!" Gana malu. Karena tidak tahan dengan hasrat yang sudah bergelora, sampai tak sadar tadi ia memaksa Ammar untuk menyentuhnya. Mengingat ia meminta untuk di sentuh. Murahan sekali, batinnya.
"Eleh-Eleh ... tadi 'kan kamu yang minta di sentuh. Udah pengin ya? Nah 'kan udah kencang." Ammar memeras satu gunung fuji yang masih tertutup kain piyama yang rapat.
Tuh 'kan bener di godain. Memang suami enggak ada Akhlak. Ck!
Gana memekik dengan pelototan mata. "Asal remass aja! Kamu fikir ini bola kasti? Aku gigit nih si Harley!"
Ammar terkekeh. "Jangan dong sayang, Harley nih masa depan kamu. Mau kamu lihat aku enggak berburungg?" Ammar tertawa nyaring. Suaranya menggema diruangan yang beriringan dengan rintik hujan di luar.
Gana mencubit tangan Ammar. "Jangan asal ngmong! Ucapan itu doa!! Kalau kamu ngomong kayak gitu lagi, aku belah nih tenggorokan kamu!"
"Iya galak." jawab Ammar dengan tawa.
Dan didetik selanjutnya. Ammar sudah berada diatas Gana. Meletakan kedua sikut di kanan kiri sebelah bahu istrinya. Ammar menurunkan kepalanya, untuk menuntun bibir mereka kembali memagut.
Saling menutup mata. Dan mengikuti insting masing-masing, harus seperti apa agar dapat meraih pelepasan dengan cara yang semestinya. Malam ini adalah pertama bagi mereka melepas semuanya.
"Apa aku udah boleh tengok Honey?"
Gana menatap bola mata Ammar secara bergantian. Tatapan penuh damba yang sedang menatapnya seperti air dingin yang siap ditelan. Gana meneguk saliva, membasahi kerongkongannya. Takut-takut mulutnya kering dan bau cimol. Eh?
Gana mengangguk dalam keheningan.
"Apakah kamu sudah mencintaiku, Gana? Apa kamu tidak akan menyesal?" Ammar kembali meyakinkan. Tepuk tangan meriah untuk Ammar. Malam ini ia mirip seperti pujangga cinta. Nada bicaranya lembut sekali.
Napsu nya sudah membuih hebat. Tidak perduli jika Gana belum mencintainya, tapi rasanya inginnya sudah memuncak. Ia sudah tidak tahan untuk menggagahi Gana.
Fikir nya, Gana akan mencintainya jika sudah tersentuh.
Tak butuh waktu lama, tubuh mereka sudah tanggal dari helaian kain. Ammar menjalar dengan grasak-grusuk seperti ular yang tengah menelusup di atas tubuh polos Ganaya. Wanita itu menggelinjangg, di saat suami terkasihnya menyentuh di area-area sensitif.
"Ammar ... eugh!" rintihan itu lolos dari bibirnya yang ranum. Dan terus berulang-ulang.
Ammar tersenyum bahagia. Dimana dulu ia pernah kecewa karena Gana pernah menyebut nama Adri tanpa sadar di atas ranjang mereka.
Beberapa menit setelah pemanasan dilakukan. Ammar meminta izin.
"Aku masuk ya."
Gana yang tubuhnya sudah banyak jejak-jejak merah karena lukisan dari bibir lelaki itu. Mengangguk dengan tatapan meringis.
"Pelan-pelan." pintanya.
Ammar mengangguk. Dan mulai mengarahkan kepala tombak Harley. Meregangkan paha Gana agar melebar. Dan menilik sekilas ke dalam goa. Tidak terlihat soalnya, karena Gana menolak bermain bola dengan lampu di nyalakan.
"Malu." seru Gana, ia mengatupkan kedua pahanya lagi.
"Udah kepalang lihat."
"Ya udah cepetan, jangan dilihatin terus!" desak Gana.
"Bentar mau cari pintu kamarnya Honey dulu."
"Apa yang ini ya?" tanyanya sendiri. Masih fokus menilik tanpa memegang. Wajarlah baru kali ini ia menggagahi wanita.
"Ihhh!" Gana menghempaskan cubitan kecil di dada lelaki itu.
"Siap ya sayang, aku masuk."
Suasana kembali tegang. Gana memilih menutup mata, dan menikmatinya saja. Sedari tadi ia sudah mencoba meraup oksigen banyak-banyak di udara agar tidak merasakan sakit seperti apa yang Mulan katakan.
Dan.
Bless.
Gana mulai memekik. Merematt kain seprai. Padahal kepala Harley baru saja mengetuk pintu goa. Ekspektasinya sudah terlalu tinggi.
Tetapi Gana kembali membuka mata. Ada yang aneh batinnya. Ketika pergerakan itu tidak terjadi. Ammar mematung menatap Gana seperti sedang berfikir.
"Kenapa?"
"Kok kaya banjir? Kan aku baru di tepi. Belum masuk."
"Banjir gimana maksudnya?" tanya Gana dengan wajah khawatir. Apakah dia pipis? Sial! Gana mengutuk, kaya bocah aja pipis enggak sadar. Haha.
"Rasanya hangat."
"Hangat? Hangatnya gimana?"
Oh, ya ampun. Obrolan apa ini? Mereka kan sedang ingin melepas malam pertama yang udah terlewat berbulan-bulan. Masa melakukan perbincangan seolah seperti ingin ngopi bareng?
Ammar mengangguk. Karena penasaran, Ammar mencabut palung pagodanya.
Lelaki itu terbelalak bukan main. "Ini apa?" serunya. Ammar mengusap kebasahan yang menempel di ujung kepala Harley.
"Kok berdarah duluan? Perasaan aku belum tembusin pintunya Honey."
Seketika mereka saling melototkan padangan.
"Kamu haid, sayang?"
****
Aduhhh malah haid🙈🙈
Maaf banget aku baru muncul hehe. Tangan aku sakit guys, kebanyakan ngetik. Terus juga aku lagi jernihin fikiran karena mau menuju sebelas bulan pernikahan mereka. Konflik panjang berderet berdarah-darah buat Ammar dan Gana, mulai aku mainkan besok.
Cerita mereka ini, konfliknya emang berat dibandingkan novel keluarga mereka yang lain. Seapapun yang aku tulis setelah ini, memang udah sesuai outline mereka. Mau kalian berteriak, marah, enggak apa-apa. Aku faham😂
Jadi siapin dada kalian yang mulai dag-dig-dug dari sekarang. Karena jujur aku aja yang nulisnya, ngerasa lemes wkwkw.
Gitu aja deh clue dari aku. Semoga gak makin dag dig dug ya. Eh, atau malah semakin deg deg kan? wkwkw. Maapin aku, kan emang mau kalian biar neneng cepet amnesia. Hihihi.
Like dan komennya jangan lupa yaw. Cantik ya Gana, sebelum di potong rambutnya sama Ammar nanti.