
Beberapa bulan lalu Dokter pernah mengatakan, kalau Gana akan bisa berjalan kembali dalam kurun waktu tiga bulan. Semua itu bisa berlaku, jika Gana terus mengikuti macam-macam tindakan pengobatan tanpa absen.
Padahal semua rangkaian pengobatan pada kakinya sudah serajin mungkin ia ikuti, tapi kenyataannya, empat bulan Gana baru bisa melangkah lagi tanpa papahan atau pegangan. Walau selama itu, Ammar tidak pernah mengeluh ketika mengurus istrinya. Ia tetap memandikan Gana dua kali sehari.
Walau sudah bisa melangkah. Ammar tetap tidak mengizinkan istrinya untuk bekerja dulu. Minimal sebulan lagi supaya langkah kakinya kokoh, walau saat ini Gana sudah bisa berjalan dengan baik. Karena sebulan lalu sebelum ia benar-benar memaksakan dirinya untuk bangkit sendiri dari kursi roda. Gana mengalami hal yang janggal dan menyeramkan. Hal itu kembali membuat tubuhnya luka.
Dengan terpaksa ia beringsut dari kursi roda ke dalam kolam renang hanya untuk menyelematkan kedua kucing persia nya yang tiba-tiba meraung-raung di dalam kolam. Mereka tercebur. Dan ketika menolong, tubuhnya seperti ditenggelamkan oleh sosok yang entah siapa ada dibelakangnya. Gana yang sebenarnya hanya berada di tepi kolam langsung bergulir ke tengah kolam, karena tarikan tersebut.
Untung saja Yuni dapat menolongnya. Gadis itu syok mendapati Gana sudah mengapung di tengah kolam. Seusai ia tiba di rumah, habis berbelanja cemilan suruhan Gana.
Ammar mengutuk perbuatan orang yang kembali ingin mengusik rumah tangganya, terlebih lagi ingin membunuh istrinya. Ia memaki semua penjaga dan para art karena dianggap lalai, tidak bisa menjaga Gana selama dirinya bekerja.
Sudah mengecek cctv nyatanya tidak ada rekaman yang bisa dijadikan jejak kasus. Ammar sendiri bingung, benarkah terkaan Gana, ada orang yang mencoba menyakitinya, atau hanya halusinasinya saja. Karena Ammar tahu, Gana tidak bisa berenang.
Pasalnya selama empat bulan ini, Ammar selalu menghindar untuk bertemu Farhan. Walau dalam dunia komunikasi, mereka masih terlibat. Farhan kecewa dengan perubahan sikap Ammar. Tapi sebisanya Ammar tetap meladeni Farhan walau tidak seperti dulu. Ruang lingkup Ammar dirumah dibuat sesempit mungkin oleh Gana. Ia tidak mau Ammar memainkan gawai jika sudah dirumah. Dan lelaki itu hanya bisa menurut.
Sudah lima hari ini, Ammar selalu membawa Gana ke EG. Membiarkan wanita itu tiduran di sofa nya sambil menunggu dirinya selesai bekerja. Karena Mama dan Papa sudah harus kembali ke rumah. Dan mereka faham kalau kondisi Gana sudah membaik.
Gana masih terduduk di sofa. Ia menatap Ammar yang sedang memunggunginya menatap ke arah langit dari jendela tembus pandang yang berada di belakang meja kerjanya. Lelaki itu sedang berbincang hangat dengan klien di sambungan telepon. Gawai masih mengatung di daun telinga kanannya.
"Aku mau ijin keluar sebentar, dibolehin enggak ya?" gumam Gana.
Selama sembilan bulan pernikahan ini, Ganaya sudah faham dan mengenali karakter asli suaminya. Kalau lelaki itu memiliki sedikit sifat tempramental, walau jarang sekali sikap itu ia perlihatkan kepada Gana.
Namun sifat yang paling dominan adalah kelembutan, kehangatan, kesabaran, penuh cinta, sayang serta kasih kepada orang-orang terdekat yang mempunyai arti dalam hidupnya. Tapi jangan lupa selain sedikit sifat tempramen, Ammar juga tipikal lelaki pencemburu dan posesif.
Ammar juga paling tidak suka jika ucapan nya dibantah. Walau Ammar tahu Gana belum mencintainya, tetapi Ammar selalu bilang kalau seorang istri harus selalu menurut dan patuh kepada suaminya.
Setelah sambungan telepon terputus. Ammar memasukan lagi gawainya ke dalam saku celana. Lalu memutar langkah menuju sofa. Lelaki itu berdiri dihadapan Gana, sedikit membungkukkan badan. Ia memegang kedua lengan istrinya.
"Aku rapat ya, kamu di sini dulu. Makanannya jangan lupa di makan ... I love you." ucap Ammar, lantas mendaratkan bibirnya di kening Gana. Makanan kesukaan Gana memang sudah tersaji seperti biasa di meja. Wanita itu bisa sesuka hati untuk rebahan sambil menyantap makanan, menonton drama korea kesukaannya.
"Aku boleh enggak ke salon?" sergah Gana.
"Di antar sopir sama bodyguard-bodyguard kamu juga enggak apa-apa." ucap Gana kembali, saat melihat suaminya tengah berfikir.
"Nanti aja ya sama aku."
Dan betul saja, Ammar melarang kalau istrinya berpergian sendiri.
Gana menggeleng. Ia mengusak-usak jas kantor Ammar dengan buku-buku jarinya. "Kamu tega biarin aku bosan di sini. Kan bisa efisien waktu. Kamu selesai rapat, aku juga selesai nyalon." dalih Gana.
"Nanti aja ya, biar aman sama aku." Ammar tetap dengan pendiriannya.
"Kalau nungguin kamu. Salonnya keburu tutup."
Uh, ya ampun. Ammar sulit untuk berkutik. "Aku udah empat bulan loh enggak ke salon. Lihat nih ujung rambut aku udah pecah-pecah kaya sapu ijuk. Wajah aku udah banyak jerawatnya." Gana terus saja merengek.
Ammar mendengus. "Jerawat dari mana, mulus begini kok. Makin cantik malah." Ammar menggoda Gana dengan mengusap wajah wanita itu.
"Ya udah nanti aja sama aku."
"Ayo dong, bolehin ya?" rayu Gana dengan wajah sendu yang dibuat-buat, tak lupa mencebikkan bibir agar akting semakin mantap. Kini tangannya sudah memainkan ujung dasi Ammar. Bahkan Gana semakin memperdalam aktingnya. Gana memeluk tubuh lelaki yang mulai ia cintai.
"Kalau merayu jangan setengah-setengah." Tawanya dalam hati.
Ammar menghela napas panjang, mengelus lembut rambut panjang sang istri dengan kepala yang masih berfikir. Kalau sudah begini Ammar tidak akan bisa keras kepala untuk tetap melarang. Ia senang kalau Gana merayunya seperti ini.
Ah, senang sekali Ganaya. Akhirnya ia bisa kembali menjadi manusia normal, bisa menikmati indahnya dunia luar. Ia merasa selama empat bulan ini dirinya seperti zombie yang dikerangkeng dalam peti mati.
Gana mengangguk setuju. Wajahnya senang. Untung saja Yuni, bukan Bima atau Denis yang ia pinta. "Iya, Ammar."
Pasalnya Ammar akan banyak menghadiri rapat pagi ini. Akhir bulan memang waktunya pembahasan laporan dari setiap anak cabang. Belum lagi, para klien sudah menunggu untuk bertemu Ammar. Dirinya akan lelah, maka dari itu ia mengiyakan permintaan Gana, agar bisa mengefisiensi waktu.
"Kalau ada apa-apa tolong kabarin aku ya." titah Ammar. Sekali lagi ia mencium kening lalu turun ke bibir Gana, melumatt sekilas dan Gana seperti bisa akan selalu membalasnya.
"Iya, Ammar. Kamu semangat rapatnya ya." jawab Gana dengan garis senyum masih mengembang. Ia meraih sehelai tissu di meja lalu ia usapkan di sekitar bibir Ammar, karena ada bekas lipstiknya di sana.
"Iya sayang pasti ..."
Ammar pun berlalu. Gana menatap penuh cinta punggung suaminya yang sedang melangkah menuju pintu. Dan sebelum langkahnya benar-benar menghilang dari balik pintu, Lelaki itu kembali menoleh.
"Ingat ya, perginya tunggu Yuni datang."
Gana mengangguk faham dan melambaikan tangan perpisahan.
"Iya."
***
Sudah dua jam Gana menikmati perawatan dirinya di salon. Yuni pun ikut menikmati, walaupun awalnya ia menolak. Yuni segan, ia merasa kurang pantas untuk masuk ke dalam salon yang biasanya dikhususkan untuk wanita-wanita menengah ke atas.
"Tolong di facial wajah adik saya ya, Mba." ucapan Gana membuat Yuni tersentak.
Adik?
Sedekil ini kah dianggap adik? Fikir Yuni. Ia terharu, ingin sekali menangis dan memeluk Gana karena sudah berbaik hati untuk menjaga martabatnya. Tidak mau merendahkan Yuni sebagai art didepan orang. Tentu saja ucapan Gana disambut ketidakpercayaan oleh pegawai salon.
Sebenarnya pergi perawatan ke salon hanyalah kilahan Gana kepada Ammar. Ada misi khusus yang harus ia laksanakan hari ini. Rasanya waktunya sudah tepat, Ia ingin mendatangi seseorang. Maka untuk itu, agar ia tidak dicurigai. Gana beralasan ingin ke salon.
Setelah dua jam lebih. Akhirnya perawatan dirinya dan Yuni selesai. Yuni terlihat segar dan bersih karena habis di facial. Mengucap kata terimakasih ribuan kali membuat telinga Gana seketika pengang. Dan Yuni terus saja mengatakan hal itu.
Berangkatlah lagi Gana dan Yuni dengan dua mobil menuju arah balik pulang ke EG. Satu mobil terdapat dirinya, Yuni, sopir dan satu bodyguard. Lalu di mobil kedua yang ada di belakang mobil mereka, terdapat empat bodyguard yang mengikuti.
Gana tetap dalam kawalan penjagaan yang ketat. Karena nyawa Gana adalah segala-galanya bagi Ammar.
Sebelum lajuan mobil benar-benar berbelok ke arah EG. Buru-buru Gana mengeluarkan suaranya.
"Pak tolong antar saya ke jalan Darma kusuma ya." titah Gana kepada sopir.
"Ibu mau kemana lagi?" selak Bodyguard.
Yuni pun mengucap pertanyaan yang sama. "Iya, Bu. Mau kemana? Pak Ammar bilang, Ibu harus segera kembali kalau sudah selesai dari salon." Yuni mengingat ucapan Ammar di telepon. Ketika lelaki itu menghubungi dirinya sebelum datang menemani Gana.
Gana tersenyum menahan takut. Ia takut misinya kali ini gagal. Takut ketahuan kalau ingin berbohong. Tapi sudut hatinya bilang, rencana yang sudah di fikirkan sejak kemarin-kemarin harus di maksimalkan sekarang. Mumpung ada waktu, dan Ammar sedang tidak berada didekatnya.
"Saya mau ke kantor Adik saya, saya kangen, Yun." lagi-lagi Gana berbohong.
***
Masih ada lanjutannya ya. Tungguin. Like dan Komennya jangan lupa.