Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
DASAR IBLIS!


"Dan satu lagi yang harus kamu tau. Ammar juga pengedar, Gana. Tolong suamimu, sebelum terlambat. Sebelum Farhan mencekoki nya dengan obat-obat terlarang seperti itu."


Gana kembali histeris. "Rasanya aku tidak sanggup menerima semua ini. Tidak ...." Gana menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus bercucur.


"Dulu aku pun seperti itu, Mbak. Tidak terima dengan apa yang dikerjakan oleh suamiku, tapi bagaimanapun, Mas Mahendra tetap suamiku. Sesalah apapun dia, aku harus tetap menerimanya. Dan bertugas untuk membawanya ke jalan yang benar. Aku yakin kamu mampu, Mbak."


Air mata Mulan ikut menetes. Bayangan dirinya bisa membuat Mahendra keluar dari kemasiatan yang amat susah, begitu saja muncul. Di kursi kemudi, Mahendra juga ikut menyeka air mata yang akan turun ketika mendengar lirihan istrinya.


"Apa aku bisa?" Gana mengulanginya. Ia merasa hilang semangat.


"Kamu bisa, aku yakin, Gana. Aku saja yang saat ini sudah cacat, berlumur dosa, masih ingin kembali ke jalan yang benar. Ingin mengikuti jejak Mahendra untuk bertaubat, aku mundur dari kemaksiatan ini."


"Aku ingin hidup tenang dengan istriku dan calon bayi kami yang sebentar lagi akan lahir. Maka aku memutuskan untuk menutup keberadaan, dan membuat suamimu serta Farhan menganggap ku sudah mati."


"Sebenarnya, aku tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Tapi karena hati kecilku masih menyayangi Ammar. Maka di sinilah aku sekarang, menceritakan semuanya padamu untuk membantu menjauhkan Ammar dari Farhan."


"Bongkar kejahatan Ammar, sehingga lelaki itu ketakutan. Dan beralih meninggalkan Farhan! Itu tugasmu, Gana. Tugasmu!" Alex sebisa mungkin membakar semangat Gana yang hampir saja punah dengan serentetan ucapannya.


Dan benar saja, semangat Gana yang sejak tadi mengendur, karena teramat sesak akan kejahatan Ammar yang awalnya tidak bisa ia maafkan, kini kembali berkobar.


"Aku akan melakukannya!" tukas Gana mantap. Dan semua mengangguk senang, ikut terharu.


***


Mahendra dan Mulan membawa Gana untuk menginap malam ini dirumah mereka. Agar bisa menata hati, berfikir jernih dan mengajak bicara Ammar dari hati ke hati, jika sudah pulang kerumah besok.


Awalnya Gana mengatakan kalau ia akan mendatangi dermaga untuk membongkar kejahatan Ammar dan Farhan. Tapi Mahendra dan Mulan menolak. Terlalu bahaya kata mereka. Nyawa Gana bisa terancam.


Tapi begitulah Gana. Semakin di tentang, maka semakin menjadi. Ia rasa ini adalah momen yang tepat untuk menunjukan taringnya kepada Ammar, terutama kepada Farhan. Ia ingin Farhan tahu, Gana bukanlah wanita bodoh yang bisa diperdaya.


"Mbak, ayo kita----" suara Mulan menggantung begitu saja, ketika membuka pintu kamar tamu, ingin mengajak Gana makan malam namun hanya melihat kekosongan didalam kamar ini. Ia menatap ke arah kamar mandi yang pintunya terbuka dengan lampu yang masih gelap.


"Ayah!" seru Mulan nyaring, wanita itu berlari menghampiri suaminya yang sudah menunggu di meja makan.


"Kenapa, Bu?"


"Mbak Gana enggak ada di kamarnya. Dia pergi, Yah!"


"Hah?"


Mahendra dan Mulan dibuat panik dengan sikap Gana yang tetap saja memaksa untuk berangkat.


Gana tahu langkah yang ia ambil adalah langkah paling berani dan bisa mengguncang nyawanya. Namun ia sudah berdoa, meminta tulus kepada Allah agar selalu di lindungi dalam perjalanan kesana.


Ia harus merengkuh Ammar dan kembali membawanya pulang, walau hatinya masih sakit dan kecewa.


Dan di sini lah ia berada sekarang. Gana sudah berada di dalam taxi dan sebentar lagi akan sampai di dermaga. Tepat pukul tujuh malam, di saat Ammar dan Farhan akan berinteraksi dengan Mr. Jang, Gana akan muncul.


"Tunggu aku, Ammar!"


****


Terlihat dari tepi dermaga. Sudah banyak lelaki bergerombol dengan beberapa box-box yang berisikan zat-zat terlarangg tersusun rapih didalamnya.


Ammar dan Farhan tengah berdiri menatap laut sambil merokok. Sedangkan Bima dan Denis masih menekuk wajah lesu. Sejak siang sampai saat ini, mereka sedang berfikir untuk mencari Gana kemana setelah misi mereka selesai.


Sesekali Bima dan Denis menatap Farhan dengan kebencian, mereka ingin memaksa Farhan untuk mengaku di mana lelaki itu menyembunyikan Ganaya tadi siang. Lagi-lagi mereka yang salah faham, mengira Farhan yang telah menculik Gana.


Sejak tadi Ammar juga sudah menangkap sesuatu yang aneh dari sikap Bima dan Denis. Ada apa dengan kedua anak itu, mengapa sikapnya tidak sesantai seperti biasa?


Tak lama kemudian. Pandangan mata mereka teralihkan. Ketika ada sebuah taxi datang dan menyorotkan lampu terang ke arah mereka. Ammar dan Farhan sampai menyerengitkan dahi untuk menilik siapa yang datang. Tidak mungkin Mr. Jang datang dengan menggunakan taxi.


"Kamu mengundang siapa, Han?" tanya Ammar.


Farhan menggeleng. "Aku tidak mengundang siapa-siapa, Mar."


Bola mata mereka menyorot taxi yang kini sudah menggelap. Menunggu siapa yang akan keluar dari dalam kereta besi tersebut. Ammar menjatuhkan puntung rokok lalu menginjaknya. Bersiap menanti siapakah yang datang.


Lalu.


Krek.


Pintu penumpang perlahan terbuka, ada kaki mulus yang mulai turun menapak aspal, lantas menyembulkan tubuh seseorang untuk keluar dari badan taxi.


Gana melepas kaca mata nya ketika sudah berdiri tegak disamping body taxi.


DEG.


Keberadaan Gana sekarang, mengguncang napas mereka. Membuat angin yang tadinya tenang berhembus kini berubah berisik.


Bertepatan dengan itu, ada adzan berkumandang untuk segera melakukan shalat Isya dari dalam masjid di kawasan dermaga ini, yang tidak tahu di mana letak masjid tersebut.


Dan hati mereka tidak bergetar akan seruan dari dalam masjid sama sekali. Merasa lebih kuat dari pada Tuhan dan tidak takut dosa untuk tetap menjalankan aksi kemaksiatan sebentar lagi.


"Hhh ..." napas Ammar menderu-deru.


Mendadak, ritme jantungnya bergejolak tidak karuan. Bola matanya mendadak ingin rontok, ketika menatap istri tercinta yang ia yakini sedang berada dirumah, kini ada di hadapannya. Rasanya lidah yang ia miliki begitu saja ingin terputus dan terserak, ia tidak sanggup memanggil nama Gana.


Farhan pun sama. Bola matanya membeliak kaget. Walau begitu, ia senang. Karena Gana sebentar lagi akan menceraikan Ammar, setelah tahu borok Ammar selama ini. Farhan tidak akan lagi bersusah payah untuk mengeluarkan kekuatan agar Gana dan Ammar berpisah.


"Ibu ..." gumam Bima dan Denis dengan tatapan mata tidak percaya. Benarkah ini Gana? Istri Presdirnya? Wanita yang sejak siang, menjadi buah fikir mereka. Dimana mencari-cari keberadaannya, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.


Oh, Tuhan. Rasanya Bima dan Denis ingin bersorak girang. Ia tahu riwayat Farhan pasti akan habis setelah ini.


Gana melangkah perlahan menuju posisi suaminya yang masih mematung menatapnya dengan wajah yang sudah pucat. Lelaki itu takut sekali jatidirinya terbongkar dan takut Gana akan benar-benar menceraikannya. Telapak kaki Ammar terasa lemas, ingin sekali ia enyah seperti angin sekarang.


Tap.


Langkah kaki Gana sudah sampai dihadapan Ammar. Bola matanya menatap tajam wajah lelaki yang sudah berhasil merebut cinta dari jiwanya. Rahang Gana mengetat dengan kelopak mata yang masih menggendut karena seharian tidak berhenti menangis. Serta otot-otor hijau mulai nampak di pelipis Gana, karena wanita itu sedang menahan emosi. Ingin segera meluapkan api kemarahan.


Farhan tersenyum puas dalam hati. Ia sudah menerka Gana akan menampar Ammar dengan hentakan keras sebentar lagi, karena ia menangkap tangan Gana sudah mengepal kuat.


"Sayang aku bisa jelasin----"


PAK.


Tamparan keras mendarat dari telapak tangan Gana sebelum Ammar menyelesaikan ucapannya. Ammar yang sudah tau dirinya akan ditampar, lalu menautkan alis. Lelaki itu bingung dan merasa aneh. Langsung mengerjapkan mata dan mengusap pipi yang tidak panas dan ngilu sama sekali.


Lalu siapa yang Gana tampar?


Ammar menoleh ke samping dan mendapati Farhan tengah memegangi permukaan pipi kanannya yang baru saja ditampar keras oleh Ganaya.


"DASAR IBLIS!" maki Gana kepada Farhan.


Semua mata tertohok memandang kejadian ini.


****


Udah tiga episodenya ya gengssss. Moga kebayar rasa ambyar kalian. Hihihi.