Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Jangan Tinggalkan Dia.


"Bagian mana yang ingin kamu ketahui, Gana?"


"Jelaskan kepadaku tentang Farhan!"


Mahendra tidak terkejut dengan permintaan Gana. Ia sudah menerka, bahwa hal ini lah yang membuat Ganaya untuk datang mencarinya.


Mantan mafia itu hening lama. Menarik napasnya berkali-kali karena dirinya cukup tegang. Ia bingung harus menjawab apa. Raut yang tadinya semangat kini mulai meredup.


Haruskah ia bongkar semuanya?


"Bagiku Farhan adalah orang yang jahat. Dan yang paling tau tentang bagaimana kejahatan Farhan adalah Alex. Tapi sayang, Alex sudah---"


"Meninggal?" selak Gana.


Belum. Tapi Mahendra mengangguk. Lelaki itu sudah berjanji untuk tidak mengatakan kepada siapapun jika Alex masih hidup. Bisa saja Gana akan berucap polos kepada Ammar tentang kondisi Alex. Dan setelah itu Farhan akan mencari Alex dan menghabisinya lagi.


"Lalu apa yang kamu tau, Ndra? Dan kenapa juga waktu itu kamu mengajak suamiku untuk bertobat? Apa yang kalian kerjakan? Benarkah hanya karena bermain curang di dunia bisnis?"


Deru jantung Mahendra kian bertalu-talu. Inginnya menolong tapi ia bingung. Hanya tidak sengaja bertemu di rumah saja, Ammar masih menyerangnya dengan kebencian. Apalagi jika ia membeberkan aib-aib Ammar dan Farhan secara gamblang. Tentu, dirinya, Mulan dan Dava, akan berada dalam bahaya.


Mahendra menggeleng dalam keheningan. Apakah ia harus membuka masa lalunya sendiri yang begitu kelam, jahat dan memalukan?


Rasanya berat sekali.


Mahendra kembali mengatur napas. Ingin sekali menenggak air untuk mendorong sesuatu yang tersumpal di kerongkongan, berkata jujur tentang kejahatan masa lalu amatlah susah.


"Aku adalah seorang mantan kriminalitas."


"Apa?" Gana tersentak.


Mahendra tertawa. "Ya begitulah aku dulu."


Gana menggeleng tidak percaya. "Kriminalitas dari segi apa?"


Tiba-tiba saja kewibawaan Mahendra di mata Gana langsung mencair.


"Salah satunya dari sekian banyak usaha yang aku bangun, yaitu tentang Narkoba."


"Hah?" Gana sampai membekap mulutnya. "Kok bisa?"


"Bisa! Karena saat itu aku sedang tamak, dan hidup seolah seperti Tuhan yang tidak takut dengan apapun."


"Lalu Mbak Mulan? Bagaimana dengan dia? Apa dia menerimamu?"


"Dia sudah tau dari awal. Aku selalu mengancamnya. Dan Mulan hanya bisa menangis. Aku benar-benar berhenti, ketika Tuhan menegurku lewat Dava."


"Dava?" Gana mengulangi.


"Ya. Saat Dava di vonis Dokter mempunyai penyakit jantung."


Gana tidak kaget. Sejatinya ia sudah tahu penyakit yang diderita Dava. Tapi ia tidak tahu jika dengan penyakit itu bisa membuat Mahendra kembali ke jalan yang benar, lelaki itu merasa ditampar oleh Tuhan.


"Lantas, apakah Farhan dan suamiku juga sepertimu?" tanya Gana dengan raut wajah tegang. Hancur jiwanya kalau Mahendra sampai mengatakan iya.


Mahendra hening. Lelaki itu kembali membisu.


"Jawab Ndra. Apakah suamiku juga sepertimu? Kalian seorang penjahat? Seseorang yang melakukan tindakan kriminal? Maka dari itu kamu ingin membawanya untuk bertobat?"


Lagi-lagi Mahendra hening.


Nyawanya akan habis saat ini juga. Jika ia membeberkan semua rahasia kejahatan Ammar kepada Gana.


"Ammar adalah orang yang baik. Tapi tidak dengan Farhan. Sebisamu untuk menjauhkan mereka berdua. Maaf, Gana. Hanya itu yang bisa ku jelaskan tentang Farhan. Jauhkan mereka! Jauhkan!!" titah Mahendra dengan nada menggebu-gebu.


"Dengan menjauhkan Ammar dari Farhan. Kamu sudah menolong suamimu untuk kembali ke jalan yang benar ..."


"Jalan apa, Ndra? Apa yang suamiku lakukan?" tanya Gana dengan bibir bergetar. Wanita itu semakin bernafsu untuk tahu.


"Apapun yang suamimu lakukan. Tetaplah bersamanya. Jangan meninggalkannya, Gana."


"Tolong ceritakan padaku, Ndra. Aku berjanji akan menerima dirinya sepahit apapun."


Benar 'kah? Sanubari hatinya seraya berkata demikian.


Mahendra menghela napasnya lagi.


"Carilah buktinya sendiri, Gana. Aku tidak berhak membeberkan rahasianya. Aku akan membantu nanti jika kamu sudah cukup mempunyai bukti. Setidaknya, bukan aku yang menceritakan semua ini dari awal."


"Aku hanya bisa mengatakan kalau Farhan adalah lelaki brengsek dan penghianat. Lelaki ambisius yang tidak mempunyai toleransi dalam hidup! Seorang pengkhianat ulung. Dia hanya memanfaatkan suamimu. Mengeruk keuntungan dari kecerdasan dan kekuatan Ammar. Jauhkan lelaki itu, Gana! Jauhkan dari Ammar!"


"Ya Allah, benarkan instingku, kalau lelaki itu memang tidak baik." Gana menunduk sambil meremat kain berlapis di dadanya. Ngilu sekali. Ditambah lagi, Ammar memang benar-benar mempunyai rahasia, yang Mahendra saja takut untuk menceritakannya.


"Tapi dengan cara apa? Apa yang harus aku lakukan untuk mencari bukti tersebut?" Gana terus memaksa. "Tolonglah aku, Ndra. Ammar selalu berkelit jika aku mengatakan hal yang buruk terhadap Farhan."


"Maaf, Gana. Aku tidak bisa. Kamu bisa memulainya dengan sesuatu barang atau benda yang ia anggap penting, yang selalu ingin ia jauhkan dari mu. Atau sesuatu yang selalu ia tutupi. Pasti ada 'kan?"


Gana hening. Seraya menerawang jauh, memikirkan sesuatu, mencari-cari kesamaan dari ucapan Mahendra.


"Ya, ada. Ndra. Ada yang ia sembunyikan dariku." ucap Gana dengan wajah antusias.


Mahendra mengangguk senang. "Bergeraklah cepat. Sadarkan suamimu untuk kembali ke jalanya."


"Apakah kamu benar-benar tidak bisa membantuku untuk menceritakan semuanya saja? Tentang apa yang dilakukan Ammar selama ini? Dan tentang kejahatan Farhan selama ini kepada suamiku, agar Ammar percaya."


Mahendra menggeleng. Ia sudah mantap dengan pendiriannya.


"Carilah buktinya, Gana. Kamu pasti bisa. Jika kamu sudah mendapatkan beberapa bukti untuk membongkar apa yang sudah mereka lakukan, datanglah padaku. Aku akan membantu." janji Mahendra.


"Tolong lah aku, Ndra. Aku meminta belas kasihmu." Gana kembali merengek.


"Dengan menolong. Bukan berarti aku harus bersikap bodoh, Gana. Aku tidak mau keluargaku terancam. Saat ini, posisi Ammar dan Farhan lebih kuat dariku. Aku tidak ingin, keluargaku menjadi sandera-an mereka. Kamu pintar, pasti sangat mengerti ucapanku."


Gana mengangguk pelan. Dirinya memang kecewa, tapi ia tidak marah. Sebisa mungkin Gana memaklumi Mahendra. Bahwa lelaki itu hanya ingin melindungi keluarga dari penjahat.


Mahendra mengusap wajah gusar, karena menahan rasa tidak enak hati kepada Gana. Dalam hatinya ingin sekali membantu, tetapi ia juga tidak boleh egois.


Karena jika saja ia memilih untuk membeberkan semua ini kepada Gana sekarang, tentunya wanita itu akan meradang. Ia akan memaki dan mungkin saja langsung menceraikan Ammar. Dan di saat itulah, nyawa Mahendra akan dipertaruhkan.


"Aku minta maaf, Gana. Karena ulahku di masa lalu, membuat Ammar bisa berubah seperti ini. Dan aku pantas, jika tidak mendapat maaf darinya. Aku terima."


"Tapi percayalah kalau sejatinya suamimu adalah orang yang baik. Maka untuk itu aku tidak ingin membuat lukanya kepadaku semakin melebar. Aku tidak pantas untuk menceritakan semuanya padamu."


"Biarlah kamu yang mencari bukti, lalu memutuskan harus bersikap seperti apa setelahnya. Satu pesanku, jika kamu sudah mengetahuinya, jangan tinggalkan dia."


DEG.


Bahu Gana merosot. Menyandar lemah di kursi. Jantungnya kian berdentam ribuan kali, pedih hatinya. Karena Ammar sudah membohonginya selama ini. Bukan hanya dirinya yang dibohongi, tapi juga keluarga besarnya.


***


Masih ada satu episode lagi. Nunggu komennya dulu yang banyak, baru aku up lagi hehe. Selagi bisa dobel aku usahain. Ya kalau hanya bisa up satu, ya terima aja yah. Aku juga kan ada kesibukan, dan berbarengan nulis MSW juga. Jadi ketika lagi nunggu cerita aku UP. Kalian bisa isi waktu dengan membaca karya aku yang lain, atau karya auhtor yang lain.


Yang nunggu kapan setahun sabar yaa, bentar lagi, kok. Dalam terkaanku sih, akhir bulan Gana dan MSW akan tamat.


Like dan Komennya yaw🌺🌺