Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Sudah Mantan, Bekas!


Ganaya terus saja merengek seperti bayi. Wanita itu ingin sekali ikut suaminya pergi. Ia berjanji, tidak akan berisik atau mencampuri pekerjaan mereka.


Tapi, nyatanya Ammar tetap menahan Istrinya untuk dirumah saja. Jika saja Ammar bukan pergi untuk bertemu Farhan, ia pasti sudah memboyong Gana untuk pergi bersamanya.


Ammar pamit sambil mencium bibir Ganaya yang terus mengerucut seperti bebek. Wanita itu merajuk. Ia bosan hanya diam membisu dirumah.


Maka dari itu, akhirnya ia pergi keluar dan Yuni menemaninya sebagai bodyguard. Tadinya Gana ingin main kerumah. Tapi ternyata Mama dan Papanya sedang ada acara keluar.


Gana memilih untuk pergi ke Mall, mendatangi toko buku seperti biasa. Gana memang penggila buku. Entah 'kah, novel, ensiklopedi, antologi dan majalah kesehatan.


Tapi, saat ini tujuan Gana ingin membeli sebuah buku yang berkaitan dengan hidupnya. Lebih tepatnya tentang asmara percintaannya.


"Nah, ini nih, kayaknya cocok." gumamnya ketika melihat sebuah buku berjudul 'Kiat-kiat menjadi istri solehah', ia raih buku itu, ditatapnya lalu dibaca sinopsis yang ada dibelakang buku.


Gana terus membacanya, di rasa sesuai dengan yang ia cari, lantas memasukannya kedalam keranjang yang sedang Yuni jinjing sejak tadi. Gadis muda berhijab itu mengikuti kemanapun majikannya melangkah.


Gana melangkah lagi, sambil berpendar ke setiap judul buku yang pas di hatinya.


'Hari gini masih ingat mantan? Move on, dong!'


Gana berdecih. Menatap buku dengan judul seperti itu, dan tanpa sadar Yuni tertawa.


"Lucu ya?" Gana menoleh.


Yuni mengangguk. "Lagian ada-ada aja. Namanya mantan mah dibuang aja ke tempat sampah. Namanya kan udah mantan, bekas." kelakar Yuni. "Maaf, Bu. Yuni jadi ngegas."


Gana tertawa, sepertinya ia tertarik membahas tentang kata mantan kepada Yuni. "Tapi ada loh istilah mantan terindah, kenangan terindah dan---"


"Mana ada, Bu. Kalau emang dia itu lelaki baik. Mereka enggak akan nyakitin kita, terus statusnya berubah jadi mantan." selak Yuni. Ia tertawa lagi dan kembali melanjutkan ucapannya.


"Perpisahan memang banyak macamnya. Ada yang karena salah faham, adanya orang ketiga atau didasari kebohongan fatal! Dan kalau emang jodoh, mau segimana kita move on, bakal balik. Tapi kalau emang gak jodoh, ya ngapain kita fikirin. Bodoh aja, Bu. Ngabisin badan." ujar Yuni. Ia terlihat bernapsu. Seperti tengah menceritakan pengalaman pribadinya.


DEG.


Jantung Gana menderu-deru. "Aku memang bodoh! Sudah di tipu, tapi masih saja memikirkan Adri ... tapi cinta ini? Kenapa tidak bisa lepas." lirihnya.


"Ibu enggak apa-apa? Kok bengong?" Yuni memegang bahu Gana.


Gana tersenyum dan menggeleng. Ia tetap memasukan buku yang tadi diperbincangkan dengan Yuni kedalam keranjang.


"Yun ... Kayaknya saya haus, deh. Tolong belikan minum ya, sebelum masuk ke sini, disamping kanan kan ada cat'me ya. Kamu pesan ya, saya rasa hazelnut, sekalian kamu mau apa, tinggal pilih." Gana merogoh tas dan meraih dompet. Mengeluarkan uang satu lembar merah kepada Yuni.


"Keranjangnya biar saya yang bawa." Gana mengambil keranjang yang baru berisi dua buku.


"Ya udah, Bu. Yuni ke sana dulu ya." Yuni berlalu ketika sudah mendapatkan anggukan kepala dari majikannya.


Gana kembali mencari-cari buku yang lain. Memilih, membaca dan menaruh nya lagi ditempatnya. Sampai dimana telinganya terusik karena tangisan seorang anak. Dahinya menyerengit. Biasanya ketika ada tangisan anak, pasti ada suara orang tua yang mengiringi. Entah memarahi atau menyuruh diam.


Tapi, anak itu terus saja menangis. Dan suaranya seperti tidak jauh. Harusnya Gana membiarkannya saja, tapi sepertinya ia tidak tega. Ia melangkah sampai ke ujung lemari lalu belok ke arah kanan. Dan benar saja ada anak lelaki yang tengah berjongkok sambil menangis. Di kepalan tangannya ada sebuah robot gundam.


"Kamu kenapa, Nak? Kok nangis?" Gana ikut berjongkok dihadapannya.


Anak itu masih menangis. Dan memanggil nama Ibunya. "Ibu ..."


"Dimana Ibu kamu? Biar Tante antar ya." Gana mengangkat anak itu untuk berdiri dan menggandeng tangannya untuk dituntun. "Genong aja ... aku egel." pinta anak berumur tiga tahun itu.


"Ibu ... Ibu ..." anak laki-laki terus saja merancau ibunya.


"Kamu namanya siapa, Nak?"


"Dav----"


"Ya Allah, Dava!!" ada seruan dari belakang tubuh mereka. Padahal anak itu saja belum selesai memberitahu siapa namanya.


Gana menoleh sambil menggendong Dava.


"Ibu!" seru anak itu lantas menjulurkan tangannya. Wanita berambut cokelat terurai, lalu meraih Dava dan menggendongnya. Wajah wanita itu terlihat basah. Ia juga panik mencari buah hatinya.


"Kok kamu bisa sampai kesini, sih!" ucap Ibunya.


Dava hanya diam saja.


"Maaf, Mba. Saya enggak maksud jahat. Tadi saya nemuin anak Mba di pojok sana. Kebetulan mau saya bawa ke satpam toko buku ini, biar mereka infoin ke semua pengunjung. Siapa tau ada yang kehilangan anak." ucap Gana.


Wanita itu tersenyum. Ia tahu, Gana hanya takut disangka ingin membawa anaknya kabur. Dari penampilan Gana, mencerminkan dirinya adalah wanita berkelas.


"Saya percaya kok, Mba. Mba kelihatannya orang baik."


Gana tersenyum. "Terima kasih, Mba."


"Saya Mulan dan ini anak saya ... Dava. Ayo, Nak. Salim dulu sama Tante, dan bilang makasih."


Dava mengikuti ucapan Ibunya. "Maacih, ante."


Gana tersenyum lagi. Ia senang melihat wajah manis Dava. "Kamu tampan banget, Dava. Nama kamu juga bagus, kaya nama suami Tante."


"Ciapa nama nya? Ava juga?" oh, lucu sekali anak ini, walau ejaannya belum jelas. Tapi ia terlihat cerewet dan banyak ingin tahu.


"Namanya Maldava."


DEG.


Wajah Mulan yang sejak tadi berbinar senang, kini tiba-tiba berubah redup. Ia menatap Ganaya dengan tatapan berbeda, setelah wanita itu menyebutkan suatu nama yang tidak asing. Sangat dekat, seperti terpampang dari masa lalu.


Namun Gana tidak memperhatikan perubahan wajah Mulan. Ia fokus menjawil dan menggusar kan rambut Dava yang sangat hitam dan lebat.


"Ya Allah, Bu. Yuni panik nyariin, Ibu." langkah Yuni sampai dengan napas terengah-engah. Gadis itu khawatir, karena Gana tiba-tiba menghilang dari posisinya yang terakhir ia tinggal. Di tangannya sudah ada bungkusan plastik, pesanan Gana.


"Kena cipratan minyak panas aja, suaminya udah marah. Apalagi kalau ibu hilang? Aku bisa habis nih sama Bapak." batin Yuni. Gadis itu mengusap dadanya pelan.


"Maaf, Yun. Anak Mbak ini hampir hilang, dan saya menemukannya."


Mulan tersenyum kepada Yuni.


"Oh syukurlah." jawab Yuni.


"Ya sudah, Mba Mulan. Saya pamit dulu, ya. Dada, Dava ..."


"Makasih banyak ya, Mba."


"Sama-sama, Mba." jawab Gana sambil melangkah berlalu yang di ikuti oleh Yuni.


Mulan tersenyum kembali dan Dava pun memberikan kissbye dari mulutnya kepada Gana yang sudah melangkah pergi bersama Yuni.


"Duh, kenapa enggak nanya namanya tadi?" Mulan ingin kembali menghampiri Gana, namun langkah kaki ia urungkan.


Tidak ada yang perlu dibahas. Mereka memang tidak saling kenal. Tapi bagi Mulan, nama Maldava seperti mengingatkannya pada seseorang.


"Benarkah?" gumamnya terhenti ketika ada lagi yang mengagetkannya.


"Sayang ..." Mulan menoleh ketika bahunya ditepuk oleh lelaki yang baru sampai dengan langkah blingsatan. Dava segera menjulurkan tangan untuk berpindah gendongan ke pada Ayahnya.


"Nih, ketemu anaknya. Kamu tadi nemuin dimana? Aku cari sampai ke lantai bawah enggak ada. Anak-anak disuruh cari juga enggak becus!" lelaki itu mengusap-usap punggung anak lelakinya yang hampir saja hilang dari pandangan mereka.


Tak lama kemudian, datanglah beberapa bodyguard menghampiri mereka dengan wajah langsung menunduk.


"Bodoh kalian tuh, nyari anak kecil kayak gini aja enggak bisa!" decak nya sebal.


"Maaf, Bos." mereka hanya menjawab seperti itu.


Mulan menghela napas. "Sudahlah, Mas. Yang penting anak kita sudah ketemu. Tadi di tolongin sama Mba-mba yang itu---"


Mulan menunjuk ke arah Gana, namun di saat bersamaan, Gana malah berbalik arah.


"Ohh ... Apa kamu sudah beri dia uang?"


"Sepertinya wanita itu orang berada, Mas. Aku enggak enak. Seperti akan merendahkan kalau aku bersikap seperti itu."


"Ya, Baiklah. Ayo pulang." ajak suaminya kepada Mulan.


"Dan untuk kalian, pulang saja jalan kaki!"


"Siap, Bos!" jawab mereka lantang. Para lelaki berambut gondrong dan bertubuh kekar itu hanya bisa menurut.


Mulan tertawa, karena para anak buah suaminya begitu sangat penurut. "Jangan dimasukan ke hati ya. Kalian tau kan, kalau Mas Mahendra orangnya baik?"


***


Nah, problem perlahan-lahan sudah aku buka ya.


Seperti kata antonim.


Jika ada yang jahat, maka ada yang baik kan? Hehe. Like dan Komennya jangan lupa ya.