Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Jangan Menangis!


"Habiskan sayurnya ya." ucap Gana. Ia meletakan tumisan jamur kancing di piring suaminya.


"Iya sayang." jawab Ammar senang. Raut gembira sangat tercetak jelas di wajahnya. Pasalnya sikap sang istri kembali hangat, setelah di kantor tadi siang merajuk dan terus menangis sampai ke perjalanan pulang.


Lelaki itu melahap habis lauk-pauk yang di suguhkan oleh Gana tanpa terkecuali. Walau sebenarnya ia sudah kenyang, tetapi demi mood istrinya terjaga, ia hanya bisa pasrah. Pipi Ammar saja sudah terlihat gembil karena selalu banyak makan.


Gana menuangkan beberapa kali air putih dari botol besar ke gelas suaminya yang kembali kosong.


"Kalau mau lanjutin kerjaan, jangan sampai malam ya. Jam sembilan kamu harus sudah tidur." titah Gana. Kini tangannya sedang mengupas kulit apel. Ia sengaja berkata seperti itu, karena ingin tahu apakah Ammar akan jujur dengan rencana kepergiannya malam ini?


"Hemm ..." terdengar suara yang tiba-tiba mengatung. Gana semakin antusias mendengarkan jawaban Ammar.


Lelaki ini memilih untuk berbohong atau jujur?


"Sayang, maaf ya. Kayaknya habis makan, aku harus ke rumah Papa dulu. Papa minta di pijat kakinya."


"Dan kamu memilih berbohong, Ammar." batin Gana.


Tiba-tiba rasa sesak di dada kembali datang dan menusuk. Lelaki itu menipunya bulat-bulat. Ingin sekali Gana melempar sendok dan memaki Ammar. Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang dan santai.


"Papa minta pijit?" Gana mengulangi sambil menyodorkan potongan buah apel ke dalam mulut Ammar.


"Iya sayang." jawab Ammar dengan kunyahan. Lelaki itu menjawab tanpa rasa takut karena sudah berbohong.


Demi misi agar bisa tercapai. Dan kali ini adalah kesempatan bagus untuknya. Gana membiarkan Ammar untuk larut dengan kebohongannya. Dan Gana membiarkan dirinya untuk terjerat di dalamnya.


"Oh baiklah. Salam buat Papa dan Mama ya." ucap Gana. Dadanya semakin kembang kempis tidak beraturan. Sesak dan pedih.


"Pasti." Ammar tersenyum. Ia kembali menenggak air putih dari dalam gelasnya sebelum beranjak bangkit dari kursi. Ammar kembali masuk kedalam kamar, bermaksud untuk mengambil jaket. Agar Gana tidak curiga, ia tetap memakai piyama tidur yang di tutup dengan jaket kulit tebal.


Melihat Ammar masuk ke dalam kamar. Buru-buru Gana melesat ke kamar Yuni.


Tok tok tok.


"Yun ..." Gana memanggil dengan bisikan.


"Iya, Bu." Yuni menjawab sambil memutar kunci dan membuka pintu.


"Kamu udah siap?" tanya Gana.


"Iya, Bu. Motornya juga udah siap. Teman saya udah nunggu di depan gang, Bu."


"Oke kalau gitu. Kita mulai beraksi setelah mobil Bapak keluar dari gerbang ya. Sebisanya kamu alihin pandangan para bodyguard."


"Sip, Bu."


Setelah berkoordinasi dengan Yuni. Gana kembali melangkah menuju kamar. Dan saat hendak masuk, Ammar sudah lebih dulu keluar.


"Aku pergi ke rumah Papa dulu ya. Kalau ada apa-apa, kabari aku. Terus, kalau kamu udah ngantuk, tidur duluan aja. Jangan tungguin aku." titahnya.


Gana tersenyum di balik rasa sakitnya. "Iya."


Ammar mengecup kening Gana dan kemudian berlalu.


Gana menemani suaminya sampai masuk kedalam mobil. Malam ini Ammar memilih membawa mobil sendiri tanpa dijemput oleh Bima, Denis dan para bodyguard seperti hendak bekerja. Ia tidak mau dicurigai oleh Gana.


"Sepintar-pintarnya suami menipu istri. Istri akan selalu lebih pintar untuk mengetahuinya!" decak Gana dengan bola mata berapi-api. Ia menatap lurus mobil Ammar yang akan keluar dari gerbang.


***


Dengan kelihaian Yuni mengalihkan perhatian para penjaga yang sedang bertugas. Kini, Gana dan Yuni berhasil keluar dari rumah dengan motor yang Yuni pinjam dari temannya.


Gana tidak punya pilihan untuk membawa Yuni masuk kedalam perkara ini agar bisa membantunya, ia tahu dirinya tidak akan sanggup sendiri. Dan Yuni adalah orang yang tepat baginya, dirasa sudah seperti adik sendiri.


Yuni mengatur jarak motornya dari mobil Ammar beberapa meter. Ia tetap mengendarai motor dengan hati-hati. Pintar menyelap-nyelip seperti Valentino Rossi.


"Usahakan Bapak jangan sampai lihat kita, Yun." titah Gana. Bola matanya masih mengawasi jejak laju mobil suaminya.


"Baik, Bu." Yuni dengan setianya, menuruti semua perintah majikannya. Gana membiarkan dirinya kedinginan karena hembusan angin malam. Wanita itu sampai lupa memakai jaket ketika akan berangkat.


Demi cintanya kepada Ammar, ia rela menembus malam. Dengan mata yang sesekali kelilipan debu dan memerah, rambut yang berantakan karena terkibas-kibas angin, karena Gana tidak memakai helm. Serta godaan lelaki-lelaki alay kepadanya ketika motor mereka bersebelahan.


Setelah bermain kucing-kucingan dengan mobil Ammar. Akhirnya motor mereka terhenti didepan gerbang masuk sebuah Apartemen bintang tiga yang hanya berlantai tujuh.


Entah mengapa selera Ammar sangat biasa sekali. Mungkinkah untuk menutupi dari serangan musuh? Apa karena tidak ingin semua rahasia mereka yang ada di sana terlacak?


"Apartemen." Gana menepuk bahu Yuni dengan desissan geli.


"Habis ini kita gimana, Bu?"


"Ayo masuk, Yun. Kita ke basemen khusus motor."


Yuni menyalakan mesin motornya kembali. Ban motor terlihat melesat ke turunan aspal basemen yang berkelok-kelok.


Baru saja motor menepi, dan kunci belum dicabut dari stang motor. Gana langsung beranjak.


"Yun cepat!" titahnya. Gana berlari lebih dulu untuk naik ke lantai satu. Di mana lantai tersebut adalah akses pintu masuk menuju ke semua lantai. Ia tidak mau kehilangan sosok Ammar di sana.


"Tega-teganya kamu membohongi aku, Ammar!" Gana murka.


Hatinya berkecamuk. Wanita itu terus melangkah cepat dan akhirnya menemukan punggung suaminya yang akan masuk kedalam lift. Gana menghentikan langkah, ia buntu akal. Tidak mungkin masuk kedalam lift bersamaan.


"Malam, Bu. Ada yang bisa di bantu?" Gana menoleh dan mendapati satpam yang sudah berdiri disebelahnya. Satpam tersebut menghampiri Gana, karena sekilas wanita itu tampak bingung. Sedangkan Yuni baru sampai dengan napas terengah-engah. Gadis itu berlari mengejar Gana sedari tadi.


"Saya mau tanya, Pak. Kalau nomor kamar atas nama Bapak Ammar berapa ya?"


"Bapak Ammar?" satpam mengulangi.


Gana mengangguk dengan wajah antusias. Berharap satpam bisa menjawab atau mencarikan data kamar suaminya.


"Setau saya tidak ada pemilik kamar dengan nama tersebut, Bu." rupanya satpam ini sangat detail dan hafal.


"Masa Pak?" Gana kaget. Lalu yang tadi masuk ke dalam lift itu, siapa? Suaminya 'kan?


"Kalau atas nama Farhan ada, Pak?" mungkin ini apartemen lelaki itu.


Satpam kembali mengerutkan kening. "Farhan? Enggak ada juga, Bu."


"Mungkin ada, Pak. Tapi Bapak lupa." selak Yuni. Mereka jelas sekali tahu, kalau Ammar benar-benar masuk ke dalam apartemen ini.


"Coba saya cari dulu." ucap satpam. Ia melangkah menuju meja jaganya. Gana dan Yuni ikut mengekor dibelakangnya.


Mereka berdua berdiri didepan meja, memunggungi pintu masuk. Setia dan fokus menatap satpam yang sedang duduk membuka buku panjang, daftar pemilik kamar apartemen. Meneliti satu-persatu.


Di sela-sela menunggu satpam mengatakan iya, kalau ada salah satu nama dari mereka. Tiba-tiba Yuni menggoyangkan bahu Gana.


"Bu ... Bu, lihat itu. Mas Denis dan Mas Bima." bisik Yuni tepat di telinga Gana. Refleks wanita itu menoleh dan melihat punggung mereka berdua yang sudah melangkah melewati mereka untuk masuk ke dalam lift.


"Pak, kalau lelaki itu, Bapak kenal?" tanya Gana.


"Oh, Mas Bima?" satpam menyebut nama salah satu dari mereka. Kilat binar dari wajah Gana dan Yuni mulai tampak.


"Di kamar berapa, Pak?" tanya Yuni.


"Mas Bima ada di kamar 200 lantai tiga."


Oh, ternyata. Ammar dan Farhan sengaja untuk menyewa apartemen ini dengan mengatasnamakan Bima.


Sungguh intrik yang cukup cerdas.


Selama satu bulan ini aku cukup menyimpan luka di hatiku, Kak. Aku terpukul dengan kenyataan yang baru aku terima. Berbagai foto mu ada di handphone Ammar, bahkan di apartemennya pun. Tersimpan fotomu di ruang kerja yang tidak boleh siapapun untuk memasukinya. Bahkan ketika kami sedang berciuman, ia pernah mengeluh namamu!"


Seketika Gana teringat dengan ucapan Asyifa sembilan bulan yang lalu. Jika dulu mendengar kalimat itu ia hanya terkejut dan biasa saja. Sekarang berbeda, hatinya mulai kesal, karena menahan cemburu. Tidak mau membayangkan bagaimana Asyifa pernah mencium Ammar. Mengingat itu, deruan napas Gana kembali carut-marut.


"Mengapa Asyifa diperbolehkan untuk melihat Apartemen kamu? Sedangkan kepadaku, kamu selalu berbohong dan menutupinya." air mata Gana menggenang lagi.


Maksud kedatangan Asyifa dulu ke apartemen pun sama seperti yang tengah Gana lakukan sekarang. Wanita itu mencurigai sesuatu, dan akhirnya memutuskan untuk mencari tahu di dalam apartemen, tanpa Ammar tahu sama sekali.


Dan pintarnya Asyifa bisa masuk ke dalam, entah bagaimana caranya. Namun, wanita itu langsung pergi keluar setelah kecewa karena di ruang kerja Ammar terdapat banyak foto tentang Gana.


"Ibu jangan nangis. Sabar dulu ya, Bu." Yuni menenangkan Gana dengan mengelus bahunya. Yang ia sendiri belum mengerti apa tujuan Gana malam ini untuk membuntuti majikan lelaki nya.


****


Like dan Komenn yaww.


Enggak peka nih dedek, kalau istrinya udah pergi aja baru nangiss dallah.