Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Mama Hamil Lagi?


Ujian sekolah sudah selesai. Kebetulan besok adalah hari sabtu, jadi triple A meminta menginap malam ini di Rumah Sakit untuk menemani Mamanya. Ammar pun berucap, agar kelima anaknya lebih baik di Rumah Sakit saja dulu.


Lelaki itu tidak enak jika harus merepotkan lagi Gelfani, Mama Difa dan Papa Galih untuk menitipkan anak-anak. Padahal mereka bilang tidak masalah, dari pada harus tidur di Rumah Sakit. Pun sama dengan Papa Bilmar, Mama Alika dan Maura, mereka bilang di titipkan saja anak-anak di rumah. Tapi, Ammar dan Gana menolak. Intinya mereka kasihan kalau terus merepotkan keluarga.


Alhasil, kelima anak itu menginap di sini. Di kamar perawatan Mama mereka. Dalaman, baju salin dan piyama tidur five A sudah Ammar siapkan. Tadi, ia pulang dulu ke rumah untuk menyiapkan keperluan anak-anak, Gana dan dirinya sendiri. Ammar juga menghubungi salah satu yayasan penyedia baby sitter untuk ia sewa jasanya agar bisa membantu Gana mengurus Adela dan Alda yang masih batita.


"Utah andi nih!" seru Adel berdiri di ambang pintu kamar mandi. Rambut keritingnya jadi lurus karena habis di keramas. Pun dengan Alda, batita botak itu juga sudah mandi. Mereka berdua habis di mandikan Ammar.


"Ssstt! Diam, Dek. Jangan berisik. Mama lagi tidur." Taya meletakan satu jarinya di bibir. Si solehah sedang menonton televisi di ranjang penunggu pasien.


Sehabis lelah muntah beberapa kali, wanita hamil itu akhirnya tertidur. Gana tidur bersama Rora dan Aidan dalam satu ranjang.


Melihat Mamanya muntah-muntah hebat, membuat five A melongo khawatir. Rora sampai menangis, karena tidak sampai hati mendapati Mamanya seperti ini.


Adela mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia mendekat ke sofa dan duduk di sana dengan tubuh yang masih polos dan basah.


"Kak, tolong baju Adek-adekmu." titah Ammar kepada Attaya.


"Iya, Pah." gadis itu turun dari ranjang dan membuka lemari pakaian. Ia meraih baju Adela dan Alda.


"Nih, Pah." Taya memberikannya kepada Ammar.


"Makasih, Nak." Taya membantu menggosok rambut Adela yang basah. Sedangkan Ammar sedang mengoleskan minyak telon di perut Alda.


"Atak, nanih kuncilin lambut akuh, yah." pinta Adela.


Taya mengangguk. "Nanti, ya. Kalau rambutmu sudah kering."


Adela tersenyum. Ia memeluk Kakaknya, yang sekarang sedang mengeringkan punggungnya.


"Pah ...."


"Iya, Nak?" kini tangan Ammar sedang memakaikan Alda pampers. Batita botak itu sedari tadi menguap, Alda mulai mengantuk. Ia mengemut jari-jemarinya.


"Mama sakit apa sih, Pah? Kok muntah-muntah terus? Sakit muntah, ya, Pah." Taya yang bertanya, dia juga yang menjawab.


Ammar hening sebentar. Ia memasukan botol susu ke mulut Alda, isinya asi Gana yang di perah. Adela juga sudah di pakaian baju oleh Taya.


"Nanti malam, ya, Papa sama Mama akan jelasin." sejatinya, anak-anak belum tahu kalau Gana sedang hamil. Ammar dan Gana ingin mengikuti saran kedua orang tua mereka agar membahas masalah ini dengan komunikasi yang baik.


Taya menautkan alis bingung, karena Maizana Attaya anak baik, ia tidak membantah. Anak itu menurut. "Iya deh, Pah."


"Kakak gantian mandi dulu sana." titah Ammar.


Taya menganggukkan kepala dan melenggang langkah menuju kamar mandi sambil membawa handuk Adela.


"Kakak mau susu juga?" tanya Ammar kepada Adel. Si keriting yang sudah belepotan bedak di wajah tengah menciumi Alda, mengangguk mau.


"Cucu cokat, ya, Pah." pintanya.


"Ya, Papa bikinin. Tapi tiduran di sini ya, jagain Adek." Ammar menggendong Alda yang masih memegangi botol susu dan menggandeng Adela untuk di bawa ke ranjang sebelah brangkar Gana.


"Temenin dulu Adek di sini!" Amar meletakan Alda. Adela mengangguk-angguk ikut berbaring. Ammar mendekat ke pembaringan istri nya. Ia menggoyangkan tubuh Aidan dan Rora.


"Bangun, Nak. Sudah sore, ayo mandi!" titahnya.


Kedua anaknya bergeliat dan Ammar memintanya untuk pelan-pelan, agar Gana tidak bangun.


Ammar menggendong Rora karena gadis itu mengalungkan tangan ke leher Ammar sambil menguap. "Pah, Kakak lapar." keluhnya.


Susu pintaan Adela saja belum ia buat, sekarang Rora meminta makan. Pun sama dengan Aidan. Ia beranjak duduk dan diam sebentar untuk menguatkan daksanya yang baru saja dibangunkan paksa, anak lelaki ini juga meminta susu.


"Pah, aku mau susu." pinta Aidan.


"Ya Allah, kasian sekali istriku, begini setiap hari mengurus anak-anak kami." sambil menggendong Rora yang masih mengantuk. Ia dekati Gana. Lalu mengecup pipinya. "Makasih, Sayang."


...🌾🌾🌾...


Sehabis menunaikan shalat Isya berjamaah. Keluarga besar ini menikmati makan malam yang di kirim langsung oleh Gemma via go food. Sebagai tanda maaf karena dirinya dan Faradisa belum bisa menjenguk Gana.


Gemma memesankan nasi kebuli kambing sesuai permintaan Kakaknya yang tengah mengidam. Saat ini, Gema sedang berada di Gorontalo, karena adik iparnya tengah melangsungkan pernikahannya di sana.


"Di habiskan, ya, makanannya. Kalau nanti mau lagi atau mau yang lain, telepon Adek, ya," ucap Gemma di sambungan video call. Gana mengangguk dengan wajah senang. Pun dengan Ammar dan Five A di sisi sebelah Gana.


"Makasih, ya, Dek. Salam untuk Fara dan Anak-anak." balas Gana. Ammar pun mengucap kata terima kasih.


"Dadahhhhhh, Ommmmmm!" Adela berseru senang, ia tengah memakan puding keju yang juga dikirimkan Gema.


Sambungan video call pun terputus. Makanan sudah tersaji di meja. Ada nasi kebuli khusus Gana, nasi goreng seafood untuk Ammar. Ayam kaepcih, burger dan spaghetti untuk Rora dan Tayya, serta bihun goreng udang untuk Aidan dan Adela. Satu lagi tidak ketinggalan, bubur salmon untuk Alda. Gemma membelikan semua makanan sesuai permintaan keluarga besar Ammar.


Di sela-sela sedang melahap makanan. Gana kembali mual dan muntah. Ammar setia menemani istrinya ke kamar mandi untuk menumpahkan cairan bening dari perutnya.


"Masih mual aja, ya, Bang. Aku aneh banget sama hamil yang sekarang. Kebangetan mual nya." Gana mulai mengeluh lagi. Napas nya terengah-engah, karena berusaha menuangkan muntah ke dalam wastafel yang belum kunjung lega. Ammar membersihkan mulut Gana dengan air yang ia tangkup di telapak tangan.


"Sabar, Sayang." Ammar memijat-mijat tengkuk istrinya. "Ayo keluarin lagi!"


Gana pun muntah kembali. Peluh banjir membasahi rambut dan wajahnya.


Ammar yang sebenarnya lelah sekali dari kemarin malam. Hanya bisa menguatkan Gana untuk bersabar. Melihat Gana seperti ini, rasanya rasa letih yang sekarang ia rasakan, seperti tidak ada apa-apanya.


"Ayo, sayang. Keluarin."


Howe ... Howe.


Gana kembali muntah.


Five A yang sedang makan, menoleh ke arah kamar mandi. Mereka menilik Mama nya yang kembali muntah, sedang di tenangkan Papanya.


"Mama tuh sakit apa, ya?" tanya Aidan.


"Kakak juga bingung. Enggak pernah lihat Mama kayak gitu." jawab Rora sambil memasukan bubur ke dalam mulut Alda yang sedang ia pangku, sembari juga Rora menghabiskan makan malamnya.


Pasalnya selama ini Gana jarang sakit. Sekalipun sakit hanya demam atau batuk tidak sampai muntah-muntah hebat seperti itu. Walau tubuh Gana mengurus, tapi wanita itu rajin sekali mengkonsumsi vitamin, buah-buahan dan olahrga. Makanya ia selalu sehat, jarang sekali sakit. Tubuhnya tetap legit walau sudah berkali-kali melahirkan. Terbukti Ammar masih tergila-gila pada tubuhnya.


"Tadi sore, aku udah nanya ke Papa. Kata Papa, malam ini mau di jelasin, Mama sakit apa," ujar Taya sambil memasukan potongan ayam yang dicocol saus tomat ke dalam mulut.


Aidan dan Rora menautkan alis bingung. Seakan mengerti apa yang tengah di perbincangkan ketiga Kakaknya. Adela yang sedang menikmati bihun goreng miliknya ikut berujar.


"Tata Nenek, di pelut Mama atah dedeknya agih." ucap Adela santai. Ia teringat dengan ucapan Mama Alika saat berbincang dengan Gana di pembaringan saat triple A belum datang.


"HAHHHHHH? MAMA HAMIL LAGI?" Rora, Aidan dan Taya berseru nyaring, bersamaan dengan langkah Ammar dan Gana yang keluar dari kamar mandi. Mereka bersitatap dalam raut ngeri.


"Gimana 'nih, Bang?" raut gelisah pun terpancar di keduanya. Pasalnya Mama Difa bercerita, kalau malam kemarin triple A bilang kalau mereka tidak mau memiliki adik lagi.


Ammar hanya bisa menghela napas panjang, pusing di kepala kembali melanda. Walau hal ini sangat memusingkan, tetap saja akhir yang amat membahagiakan. Jika saja dulu, Ammar tidak memperjuangkan cintanya kepada Gana. Maka, enam anak seperti saat ini tidak akan bisa ia raih. Jadi, perjuangkan lah cintamu sampai titik darah penghabisan, sampai di mana hatimu lelah dan berhenti sendiri.


...🌾🌾🌾...


Like dan Komennya jangan lupa ya kesayangankuuuuuuu, sehat terus guys❤️❤️❤️


Si Presdir yang banyak Anak🤗🤗