Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Kibooo.


"Belicik banet cih, manah akuh agih cakit bedinih," gumam Adela dengan nada sendu bercampur bete kepada Qila yang terus menangis dalam gendongan Ammar.


Anak berambut cokelat keriting lebat yang baru tumbuh sampai di bawah telinga ini mengalami demam sudah tiga hari, sudah juga di periksa oleh Dokter dan saat akan di cek lab yaitu untuk pengambilan darah, anak ini menangis histeris karena melihat jarum yang akan dimasukan ke dalam kulit tangannya, sontak suaranya melengking keras, memekak telinga petugas sampai ia harus direbahkan dan di kunci erat dalam pelukan oleh Ammar agar tidak terus meronta. Dan hasil dari pemeriksaan lab nya, ia terkena penyakit Typus.


"Sabar, ya, Nak. Adeknya juga lagi rewel," ucap Ammar yang mendengar gumaman itu walau Adela tengah memunggunginya di dalam selimut tebal di pertengahan kasur. Bayi dua bulan itu juga mendadak demam sejak tiga puluh menit lalu.


"Bawah canah dedeknya, Pah. Akuh mau tidul!" memeluk dada, meriang begitu membuatnya ambruk.


"Di luar Kakak-kakakmu lagi belajar, Nak. Nanti terganggu. Kan besok mau ujian sekolah," balas Ammar.


Lekas Adela menoleh, menatap lurus Ammar dengan raut marah, bola matanya mirip sekali dengan Gana jika tengah tak suka. "Tatih akuh agih cakit! Pucing akuh dengal sualanyah!"


Ammar yang masih menimang-nimang si kepala botak, Qila, di luar ranjang, mulai merangkak naik mendekati Adela, mencium dahinya yang masih hangat. "Kalau Papa keluar kamu sama siapa? Nanti kalau mau apa-apa, gimana? Mama kan sama Adek belum pulang." Gana terpaksa pergi kondangan hanya berduaan dengan Alda malam ini. Sebenarnya ia juga tidak mau datang, tapi ia paksakan, karena kata Ammar, yang menikah adalah temannya Gana saat masa perkuliahan, temannya itu juga datang ketika mereka menikah.


"Ndak mauh apah-apah, mau nya tidul." tetap meminta Ammar membawa Qila. "Cana, Pah." Ammar menghela napas frustrasi karena anak ini seakan sulit di negosiasi.


"Beneran, Nak?" tanya Ammar kembali membelai rambut Adela yang rasanya kusut sekali karena tak lagi mau di sisir.


"Hem." Adela mengangguk sembari memejam mata, masih dengan kedua tangan memeluk dada. Mukanya yang putih seperti nona kecil belanda, berganti merah sejak tiga hari ini.


"Kalau mau ke kamar mandi, teriak, ya. Panggil Papa. Jangan ke sana sendiri." selain panas, tubuh anak ini lemas sekali karena tak nafsu makan.


"Iyah, celewet." mimik nya yang sendu karena melihat anaknya sakit, lekas berganti dengan cebikan masam saat Adela seakan tak mau Ammar berlama-lama di sini bersama Aqila yang masih saja merengek.


Sekali lagi Ammar kecup pipi anak itu untuk segera berlalu. Namun, Ammar kembali mengelus dada karena bekas kecupan dari bibirnya di usap Adela seraya jijik. Padahal karena terlalu basah.


"Kalau ada apa-apa panggil Papa, ya, kibo," tukas Ammar dengan guyonan sebelum menutup pintu. Sontak Adela menyeka selimut dan mengangkat kepala.


"Apah tatih? Papa panil akuh apah?" tidak Ammar jawab karena akan menjadi polemik baru. Ia memilih menutup pintu kamar dan membawa Aqila pergi.


"Kibo?" Adela tak tuli, ia bisa cukup mendengar dengan jelas. "Apaan tuh? Matanan?" maksudnya tuh kribo, sayang. Haha.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Aduuhh, Pah. Kenapa ke sini? Aku kan lagi belajar." Ataya cemberut ketika Ammar datang membawa Aqila yang masih belum bisa di tenangkan, duduk di sofa ruang tengah.


"Papa pengin lihat kamu belajar."


"Tapi aku lagi menghafal. Nggak akan masuk kalau dedek berisik. Kenapa nggak di kamar aja?"


Di kamar di usir, di sini di usir, harus kemana lagi dia berkelana di rumah ini? Ammar mendesah napas berat dan mencoba untuk mengalah. "Ya udah Papa pergi." Ia bangkit dari sofa dan mengecup ubun-ubun Taya sebelum melangkah meninggalkan.


"Pergi nya yang jauh, Pah. Jangan di situ. Sama aja boong dong." Taya kembali sewot saat Ammar tetap berdiri, menimang-nimang Qila hanya berjarak dua meter dari dirinya. "Papa nggak bisa jauh-jauh perginya. Ngawasin Adekmu lagi tidur. Kasian, masih panas badannya, Nak."


Taya mencebik masam, keegoisannya juga muncul seperti Adela kepada Qila. Ia memang sedang menghafal untuk ujian besok. Jadi wajar jika ia butuh ketenangan.


"Taya pindah aja ke kamar, Pah."


"Kok pindah, di situ aja nggak apa-apa."


"Tapi, Qila berisik, Pah. Taya nggak bisa konsentrasi." Taya buru-buru membereskan buku-buku pelajaran untuk ia bawa lagi ke dalam kamar. Karena jika di dalam kamar apalagi belajar di atas kasur, ia pasti akan tertidur. Dan Ammar sudah tahu alasan itu.


"Ya udah Taya di sini aja. Biar Papa naik ke atas."


Taya tersenyum. "Makasih, ya, Pah."


"Iya, Nak." mengangguk untuk mengalah dari pada anak ketiganya itu merajuk, ia memilih memanggil Art untuk berdiam dulu di kamar utama agar menunggui Adela. Setelah meminta Art dengan keinginannya, ia membawa Qila masih dalam gendongan dan masih dengan rengekan karena sepertinya ingin di dekap Gana, ke lantai dua di mana ada Aidan yang juga tengah belajar seperti Taya di ruang televisi.


Baru saja kedua kaki menapak di atas puncak tangga dan melemparkan senyum ke arah anak lelaki satu-satunya yang juga tengah komat-kamit menghafal, lekas disambut dengan serngitan dahi.


"Papa ngapain ke sini? Duh mana sama Adek lagi. Adeknya lagi nangis gitu malah di bawa ke sini."


"Jangan dilihatin aku malu."


"Ngapain malu emang kamu nggak pake celana?"


"Pah!" mendesah malas karena lagi tak mau bercanda. Anak-anak Ammar yang sudah sekolah jika sedang menghadapi ujian memang bawaannya akan resah dan gelisah.


"Iyaudah, Papa mau ke kamar Kakakmu aja." Ammar yang tak marah karena kembali terusir, mendekati kamar Aurora dan ia ketuk dulu sebelum menekan knob pintu.


"Siapa?" tanya anak tertuanya dengan nada lembut. Ammar tersenyum senang karena Aurora pasti tak akan mungkin mengusirnya.


"Papa, Nak. Sama Qila." dari meja belajar, Aurora melangkah mendekati pintu kamar yang sudah dulu di buka sebelum ia membukanya.


"Adek kenapa kok nangis?" dengan piyama karikatur sailormoon berwarna kuning dan rambut hitam yang terurai sampai sebahu, ia rengkuh Qila dari gendongan Ammar.


"Tiba-tiba aja badannya hangat. Lagi nyariin Mama kayaknya."


"Mama belum pulang, Pah?"


"Belum, Nak. Papa telepon nggak diangkat."


"Adel lagi apa, Pah?"


"Lagi tidur, Nak."


"Masih panas?"


"Masih."


"Duh Adek kasian banget kamu." Aurora kembali masuk ke dalam dengan wajah getir memikirkan Adela, menuju meja belajarnya dengan Qila masih dalam dekapan.


"Jangan nangis, ya, sayang. Bentar lagi Mama pulang. Sekarang sama Kakak dulu." mungkin Aurora memang penolong Ammar, Qila mendadak berhenti merengek, ia malah anteng. Mungkin dekapan Aurora sehangat dekapan Gana.


"Duh hebat Anak Papa, bisa diemin, Adek." Ammar elus rambut Aurora dan mencium puncak kepalanya sayang sembari menguap. Aurora hanya tersenyum dan kembali menatap buku untuk menghafal.


Sembari berbaring dengan nyaman di ranjang Rora, menggeliatkan tubuh karena otot-otot seakan kaku, Ammar memeluk guling dengan tatapan senang. Karena ia bisa istirahat sebentar. "Pinjem gulingnya, ya, Nak. Tiga puluh menit lagi bangunin, Papa."


"Iya, Pah." mengangguk setuju, sembari menghafal tak lupa mengelus-elus tubuh Qila agar tetap anteng. Aurora sudah tak kaku lagi atau takut menggendong bayi, karena ia sudah terbiasa semenjak Adela dan Alda lahir.


Sampai di mana sudah berlalu dua jam dari janjinya, Ammar terus tidur sampai mendengkur keras seperti toa dan sulit dibangunkan.


"Ya Allah, ABANG! Kok malah tidur sih!!!" buku-buku jari Gana yang panas lekas menarik jambang suaminya yang langsung terbangun dengan mata memerah mengerjap kaget, seakan roh belum menempati kembali raga, ia tercenung lama. Wanita itu syok saat mendapati Adela di temani dengan Art dan suaminya malah tidur sampai ileran. Serta Aurora yang masih belajar dan tetap menggendong Qila sampai pegal.


"Ampun, Dek. Abang kebablasan. Ngantuk banget soalnya. Kan tadi siang nggak tidur." memang di hari minggu ini, lelaki itu habiskan untuk membantu Gana mengurus anak-anak.


"Alesan aja! Sengaja emang pengin leha-leha kan di rumah? Biar bebas tidur!"


"Enggak, sayang. Ampun," memekik sakit karena jambang nya terus di tarik.


"Biarin Papa tidur, Mah. Kasian," bela Rora.


Gana mendesis kesal kepada Ammar dan beralih meraih Qila dari dekapan Rora. Jika di dalam kamar ini, Gana dan Ammar seakan ingin berdebat. Di luar, Alda pun membuat kekacauan. Ia naik ke punggung Aidan hanya sekedar bermanja dan Kakak lelakinya itu sedang malas.


"Kakak cubit, ya! Turun, nggak!" Alda tetap merayap di punggung Aidan yang tengah duduk, suara cadel nan cempreng nya yang terus tertawa-tawa membuat Taya berteriak dari lantai satu.


"BERISIK!"


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพbersambung๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Sayangi aku dengan like dan komen mu dong :)