Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Patah Hati dan Terluka


"Aku ingin membunuhnya!"


Setelah kalimat itu terlontar dari mulut Ammar. Sontak membuat tubuh Maura bergetar hebat. Bulu-bulu halus dipermukaan kulit tengkuk nya seketika berdiri.


Ia kaget setengah mati, Adik tercintanya bisa begitu mudah mengucapakan kata-kata seperti itu. Maura menurunkan Ginka terlebih dulu dari gendongannya dan menarik lengan Ammar untuk menghentikan langkah lelaki itu secara paksa.


"Aku tidak akan lagi mengakui mu sebagai adik, jika kamu melakukan hal itu, Ammar! JANGAN IKUT CAMPUR MASALAH GANA!" Maura menunjuk bola mata Ammar.


Ammar tercengang, ketika melihat Kakaknya yang selalu bertutur baik, kini memakinya dengan seruan kencang. Kelima anaknya pun sampai membekap mulut saking tidak percayanya.


Ammar hanya menatap Kakaknya dengan kepala tertunduk dan diam. Gerakan dada Maura terlihat naik turun, menahan sesak karena ucapan Adiknya. Bola matanya menatap tajam. Benar-benar murka wanita itu. Bukan karena membela Adri, tapi ia tidak mau Ammar dalam bahaya.


"Sudah lupakan, Gana, Ammar! Kakak mohon ..." suara itu terdengar amat lirih dan sangat memelas. Dirinya bingung, Harus bagaimana lagi untuk menyadarkan Adiknya.


Air bening Maura menetes dari sudut matanya. Ia mulai terisak menatap Ammar yang masih saja menunduk dengan telapak tangan yang mulai mengendurkan kepalannya.


Dengar, dan merasakan apa yang dirasakan sang Kakak. Ammar mendongak dan mendapati wajah Kakaknya yang sudah banjir karena leleran air mata. Ia memeluk wanita itu untuk dibenamkan didalam dadanya.


"Maafkan aku, Kak." emosi Ammar bisa teredam sementara karena permintaan Kakaknya. Hanya untuk malam ini, Ammar melepas lelaki sialann itu.


"Tapi besok, tidak akan ada ampun lagi untukmu, ADRI!" Ammar murka didalam batinnya.


***


"Argh ... pelan-pelan, Fara!" decak Gemma. Lelaki itu sedikit memundurkan kepalanya untuk menjauh dari tangan calon istrinya yang sedang membasuh luka di wajahnya dengan olesan antiseptik di kapas.


"Maa--maaf, sayang." jawab Fara. Wanita itu langsung melesat datang ke rumah Gemma, ketika dikabarkan kalau calon suaminya itu terlibat adu gelut dengan calon Kakak Iparnya.


Rumah keluarga Hadnan saat ini sepertinya sedang di rundung luka dan lara. Sakit sekali hati Gemma, melihat sang Kakak diperlakukan seperti binatang didalam ruangan oleh lelaki keparatt yang akan mengijab qabul Kakak kesayangannya dua hari lagi, dan semua itu batal tanpa toleransi. Semua keluarga mengutuk dan mengecam perbuatan Adri dan status aslinya.


Fara mencoba mengobati luka Gemma lagi, walau sebenarnya Mama Difa sudah mengobati luka anaknya ketika baru sampai dirumah beberapa jam yang lalu.


"Kenapa?" tanya Fara kepada Gemma, ketika tangannya diturunkan paksa dari wajahnya. Gemma memandang sendu. Bola matanya berkaca-kaca menahan getir. Faradisa tahu, lelaki ini pasti ingin mengucapkan sesuatu namun sulit.


"Kakakku membatalkan pernikahannya, Fara. Dan kamu tahu kan artinya.Pernikahan kita akan di undur lagi. Karena Papa tidak menyetujui Kak Gana untuk dilangkah."


Fara hening sesaat dan hanya bisa mengangguk. "Aku malu kepada Ayah dan Bundamu. Jika kamu ingin membatalkan pernikahan kita, aku---"


"Ngomong apa sih!" selak Fara tidak suka. "Kamu ingin membatalkan pernikahan kita?" bola mata Fara membeliak sempurna.


"Bundamu, meminta untuk menikahimu secepatnya. Dan aku meminta waktu sampai kak Gana menikah, tapi lihat kan sekarang, aku tidak tahu kapan hal itu terjadi lagi."


Ya benar. Gemma dan Fara sudah menjalin hubungan cukup lama. Ayah dan Bundanya khawatir, jika mereka akan salah arah dan jalan kalau sering bersama tanpa ikatan pernikahan. Lagi-lagi, Gemma yang menjadi getah dalam masalah yang sedang di hadapi oleh Ganaya.


"Aku akan menunggu, Gemma."


"Tapi orang tuamu tidak, Fara." Gemma menghembuskan napas kasar dengan mengusap wajah gusar.


Pelik sekali hidupnya. Bukan hanya Papa Galih yang tidak akan memberikan restu karena melangkahi anak perempuannya, tapi Gemma juga harus menjaga perasaan Ganaya dengan pernikahannya.


"Aku antar kamu pulang, aku akan bicarakan hal ini dengan Ayah dan Bundamu."


Fara menggeleng kasar. "Jangan, Gemma. Sudah biarkan saja. Aku akan bicarakan hal ini pelan-pelan kepada Bunda dan Ayah."


"Ayo kita pulang!" Gemma bangkit dan menggenggam tangan Fara untuk dibawa paksa pulang saat ini juga.


"Aku enggak mau pulang! Aku masih mau di sini, aku ingin bertemu dengan Kak, Gana." Fara melirik ke lantai atas, tepat di depan pintu kamar calon Kakak iparnya. Ada Gelfani dan Papa Galih yang sedang merayu.


"Ada apa ini, Nak?" suara Mama Difa tiba-tiba mengagetkan mereka. Fara langsung berlari memeluk calon ibu mertuanya. "Gemma, mau membatalkan pernikahan kami, Mah."


Mama Difa melirik tidak suka kepada anak bungsunya. "Apa-apaan kamu itu!"


"Tapi, Mah ... Mama tau kan, sekarang gimana dengan Kak Gana."


Mama Difa menghela napas panjang. Otaknya masih terasa sesak karena masalah Ganaya sekarang.


"Sabar Gemma, biar Mama yang akan bicara dengan dengan Bundanya, Fara."


Gemma kembali menggelosorkan tubuhnya lemas di sofa. Hanya bisa diam dan menurut, untuk melepas asanya.


"Semoga saja Mbak Fatih dan Mas Ibra, mau mengerti keadaan keluarga kami." Mama Difa membatin.


Faradisa hanya bisa mengangguk senang. Lega hatinya, akhirnya emosi Gemma bisa teredam.


"Assalammualaikum ..."


Semua mendongak ke arah pintu. Dan mendapati wajah panik Gifali di sana. Gifa melangkah cepat menghampiri mereka bertiga di ruang tamu.


"Kamu enggak apa-apa, Dek?" tanya Gifali.


Lelaki itu sungguh terkejut karena mendapati wajah Gemma dengan berbagai bulatan biru. Adri dan Gemma memang saling hajar, dan tetap saja Adri yang kalah.


Belum saja Gemma menjawab, semua kembali mendongak ke atas. Mendengar suara nyaring Ganaya yang tengah berteriak-teriak didalam kamar dengan memecahkan semua benda yang terbuat dari kaca atau yang bisa menimbulkan suara nyaring.


Gifali berlari untuk mencapai tangga, dan naik secara blingsatan.


"Arghh ... Brengsekkk! Kurang ajar kamu, Mas!"


"Bodoh! Aku bodoh!"


"Tidak akan ada pernikahan! Semua batal! Batal! Batalllllll!"


Ganaya menangis dengan teriakan histeris didalam kamar. Papa Galih dan Gelfani sudah mencoba membujuknya keluar. Takut-takut wanita itu melukai dirinya.


Prang.


Prang.


Kembali terdengar barang yang ia pecahkan. Menumpahkan segala kekesalan yang sedang membuncah di hatinya. Perih, sakit, linu, lebih dari itu yang sedang ia rasakan.


"ADRI KAMU BRENGSEKKK!"


Ganaya kembali berseru, menumpahkan amarah dan kecewanya. Ia menangis menggerung-gerung. Wanita mana yang tidak akan histeris, jika dibohongi oleh calon suaminya selama ini. Ia selalu menganggap, hanyalah dirinya satu-satunya ratu dalam istana Adri.


Sudah punya istri? Anak?


"Arghhh ...!!" Ganaya kembali mengerang. Ia kembali melempar barang-barangnya di dalam kamar. Entah bagaimana keadaan yang saat ini terjadi didalam.


Mungkin lebih parah dari rumah yang disapu angin tornado.


"Gana, ini Papa, Nak. Ayo buka dulu pintunya." Papa Galih sudah beratus kali mengucapkan kata-kata itu. Gelfani pun sama.


"Kakak ... buka dulu pintunya. Kamu enggak kasihan sama, Papa?"


Hening. Ganaya tidak perduli. Hatinya yang sakit seolah tertutup. Wanita itu terus saja berteriak dan melemparkan barang-barang ke sudut kamar.


"Nak, tolong adikmu." lelaki paru bayah yang sekarang sering sakit-sakitan itu, memelas kepada Gifali, ketika melihat langkah kaki putra sulungnya tiba.


"Iya, Pah. Papa tenang dulu. Wajah Papa pucat banget. Gelfa, bawa Papa kebawah."


"Tapi, Nak ... Papa mau lihat Gana." sergah Papa Galih.


"Gelfa ..."


"Ii--ya, Kak. Ayo Pah, biar Kak Gifa aja. Kak Gana pasti akan luluh kalau sama, Kak Gifa."


Papa Galih mengangguk getir. "Tolong, Nak." ucapnya kepada Gifali.


"Iya, Pah."


Gelfani menggandeng tangan Papanya untuk menuruni anak tangga.


"Ganaya ... Ini, Kakak, Dek. Bolehkah Kakak masuk?"


Wanita yang sedang patah hati dan terluka itu seketika hening dari rancauan nya. Gifali bernapas lega, ketika mendengar ada putaran kunci dari balik pintu. Pintu terbuka sedikit tanpa ada sosok yang menyambutnya. Tanpa aba-aba, Gifali langsung masuk ke dalam kamar dan kembali menutup pintu.


***


Sabar ya, Gana😢. Ada dedek Ammar❤️