
"APA? TERBUNUH?" Farhan sampai mengedikkan pangkal bahunya karena tersentak dengan suara nyaring yang Ammar lontarkan. Begitupun dengan para asisten mereka masing-masing yang masih dengan setia menemani para bos nya.
Terlihat Ammar masih berdiri di tepi meja. Membungkuk dengan kedua tangan terjulur di atas meja. Menundukkan kepala sambil menghembuskan napas kasar. Beberapa kali ia menggelengkan kepala samar, karena merasa masih tidak percaya.
"Bukan orang-orang kita yang membunuhnya." beberapa hari lalu Ammar pernah mengancam akan membunuh Alex, kalau sampai lelaki itu menghianati nya. Walau itu hanya gertakan saja darinya. Ia tidak akan sampai hati untuk membunuh Alex.
Ammar mendongak cepat. "Kamu tidak membohongiku, kan?"
Farhan mengangguk. "Aku datang, di saat Alex sudah meregang nyawa. Ada beberapa luka tusuk di perutnya. Matanya saja masih terbuka ketika sudah benar-benar mati. Kata anak buahku, mereka tidak sengaja melihat ada anak-anak buah Mahendra."
Farhan memang sengaja datang ke markas Alex untuk kembali merayunya sesuai perintah dari Ammar. Farhan ingin Alex bekerjasama lagi dengan dirinya dan Ammar. Alex tidak mau menggantikan uang modal pesanan yang sudah Ammar dan Farhan keluarkan. Maka Ammar marah kala itu dan berniat ingin membunuh Alex.
"MAHENDRA?" Ammar melotok tajam. Jantungnya kembali berpacu. "Serius kamu, Han?"
Farhan mengangguk dan melirik ke arah asistennya. Asistennya pun mengerti, kemudian bergegas keluar ruangan, lalu kembali dengan salah satu anak buah Farhan.
"Jelaskan apa yang kamu lihat!" ucap Ammar.
"Ketika kami baru saja datang di markas Vandersing, saya tidak sengaja melihat sekumpulan anak-anak buah Mahendra tengah melangkah memasuki mobil. Dan sepertinya bos mereka juga sudah menunggu di dalam, Pak."
Ammar mengangguk. "Terimakasih atas penjelasannya, kamu boleh keluar."
Lelaki itu mengangguk dan kembali berlalu.
"Apakah selama ini Alex berhubungan dengan Mahendra, Han? Apa dia membohongi kita?"
"Sepertinya, Mar. Tapi kamu tenang saja, aku dan orang-orang ku akan menyelidikinya."
Ammar mengangguk. Ia kembali menunduk kemudian memejamkan mata.
"Hei! Lepaskan dia!" seru Alex.
Lelaki itu berlari dari kejauhan ketika Mahendra tengah mencekik Ammar di taman belakang kampus.
"Mau apa lo? Berani sama gue?"
Mahendra melepas cekalan tangannya di leher Ammar. Lelaki yang lugu dan polos itu, hanya menatap takut ketika Alex dan Mahendra akan berkelahi. Dan parahnya lagi Alex yang sama sekali tidak mengenal Ammar, mau menolong lelaki itu.
"Lo enggak bisa asal mukul orang!" Alex menantang Mahendra.
"Gue mau kasih pelajaran sama dia, karena cewek gue ternyata suka sama dia!" Mahendra menunjuk Ammar.
Ammar membeliakan matanya karena kaget dengan ucapan Mahendra. Lelaki itu kembali bernapsu ingin menghajar Ammar, namun sebelum kepalan tangan Mahendra mendarat di pipi Ammar, Mahendra lebih dulu limbung dengan sepak terjang Alex.
"Cepat pergi dan cari pertolongan!" seru Alex kepada Ammar. Ammar dengan raut wajah yang masih takut, lantas mengangguk dan berlari menjauh.
Dan.
"AMMAR!" seruan Farhan yang kelima kalinya, baru bisa membuat Ammar terlonjak dari lamunannya. Bayangan sepuluh tahun lalu, kembali terbuka seperti perputaran film di bioskop.
Sejak saat ia ditolong oleh Alex dari pukulan Mahendra, dan sejak saat itulah mereka bersahabat. Namun setelah lulus kuliah, Alex menghilang lama. Dan kembali bertemu Ammar dengan jiwa yang berbeda.
Alex diketahui bergabung dengan para sekumpulan peneror bom di negara-negara luar dan ikut masuk kedalam sebuah gangster perdagangan manusia.
Beberapa mafia bergabung dalam organisasi itu. Sudah lama mereka tidak berkomunikasi. Dan tidak sengaja dipertemukan kembali, Ammar diajak untuk bergabung. Dan lelaki yang masih polos itu tertarik untuk mencoba.
Karena Alex tahu, Ammar adalah anak konglomerat dan baru saja diangkat menjadi Presdir. Kekuatan dan uangnya pun banyak. Bisa membantu mendanai kebutuhan mereka.
Alex menceritakan bahwa dana yang didapat oleh Mahendra sehingga bisa menyokong perkembangan perusahaan dengan cepat, yaitu dengan cara mempunyai usaha sampingan lain dengan keuntungan yang sangat besar. Salah satunya dengan perdagangan organ manusia.
Ammar hanya ingin mengalahkan Mahendra. Dan di waktu bersamaan pula, perusahaan Farhan hampir saja kolaps, karena permainan tangan dari Mahendra.
Sejak saat itu lah, Mahendra adalah musuh terbesar Ammar, Farhan dan Alex. Lalu apa motif pembunuhan Alex? Oleh siapa? Benar, Mahendra 'kah?
"Tolong selidiki, Han. Aku menunggu."
Baru saja Farhan ingin membuka mulut untuk menjawab, suara derap sepatu para anak buah mereka yang berjaga diluar begitu saja terdengar gaduh. Mereka melangkah panjang untuk masuk kedalam ruangan.
"Maaf, Bos. Dari arah selatan terdengar sirine polisi! Anak buah yang menyelidiki dari balik hutan, melihat beberapa mobil polisi mengambil arah jalan ke tempat persembunyian kita.
Ammar menggeprak meja. "Jika memang benar ini adalah ulah Mahendra, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" wajah Ammar begitu murka.
"Ayo semua kabur! Jangan sampai tinggalkan jejak di tempat ini!" seru Ammar.
Mereka semua bergegas cepat untuk bisa melarikan diri dari kedatangan Polisi yang sebentar lagi tiba.
Ammar dan Farhan berlari masuk kedalam mobil masing-masing. Bima dan Denis pun tidak ketinggalan untuk tetap menemani Presdirnya. Mereka beriringan keluar dari lingkungan markas Gagak hitam secepat mungkin.
Jantung Ammar berdetak cepat. Bisa mati jika ia tertangkap dan diketahui oleh Polisi. Padahal beberapa jam lalu, ia baru dikirimkan foto oleh Gana. Ketika wanita itu baru saja menyelesaikan proses siraman di rumah dan akan mengadakan pengajian sore nanti.
Ammar tidak sanggup membayangkan jika dirinya ditangkap saat ini oleh Polisi. Ia akan gagal menikah.
Dan benar saja. Mobil mereka saat ini sudah di buntuti oleh beberapa mobil polisi. Tanpa fikir panjang. Ammar membuka jendela mobil dan menjulurkan pistol ke arah ban mobil polisi. Lelaki itu harus terbebas dari incaran polisi.
Dorr.
Suara tembakan begitu saja terdengar nyaring di udara. Satu peluru tepat mengenai sasaran. Dan salah satu mobil polisi itu langsung berhenti.
Sedangkan mobil yang lain masih mengejar. Pak Dahlan terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Ammar kembali menjulurkan pistol ke arah kaca mobil polisi yang masih ingin berdempet dengan mobilnya.
Dorr.
Kaca mobil Polisi remuk dan hancur. Mobil mereka terlihat oleng ingin menabrak pohon.
"Percepat, Pak!" seru Ammar.
"Bba--baik, Pak!" jawab Pak Dahlan dengan bibir bergetar.
Biasanya yang dilakukan oleh Ammar tadi akan dilakukan oleh Bima dan Denis. Namun kedua lelaki itu terselak dengan tindakan Ammar yang begitu saja tanpa aba-aba.
"Setelah sampai di kota, ganti plat mobil ini!"
"Baik, Pak." Denis dan Bima menjawab bersamaan.
Ammar merogoh saku celana dan meraih hapenya yang sedang berbunyi. Walau dalam keadaan panik setengah mati karena dirinya hampir tertangkap. Lelaki itu masih saja tersenyum.
"Hallo, Gana. Ada apa sayang?" lembut sekali untuk didengar. Padahal tubuhnya saja masih bergetar.
***
Like dan Komennya yaa, maacih🌺❤️.