Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
GMA 2 : Cinta Dari SMP.


"Diam, Adel!" seru Gana, sesaat sudah menghempaskan Adela di bibir ranjang. Anak itu masih saja menangis, pertama karena diledek, kedua karena Mamanya yang tiba-tiba ikut memarahinya.


"Tidur di kamar mandi, ya!" Gana melototkan matanya. Ia menggenggam tangan Adela untuk dibawa ke kamar mandi, rasanya Gana sudah kehilangan kesadaran. Dari sesegukan nya Adela mencoba menghentikan tangis. Ia bertahan tidak mau ditarik oleh Gana.


"Ampun, Mah," ujarnya dengan bibir bergetar.


"Gana ...," panggil Mama yang langkahnya sudah tiba di kamar dan Maura di belakangnya. Adela memutus pegangan tangan Gana, ia berlari menerjang neneknya. "Nek, endong!" pintanya. Mama pun menggendong si keriting.


Gana menghela napas kasar. Ia duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk. "Kamu kenapa, Nak?" tanya Mama yang ikut duduk bersisihan dengan Gana.


Gana menggeleng dan menjawab, "Lagi capek aja, Mah."


"Kayak ada yang beda sama kamu, cerita aja Gana. Kalau ada masalah jangan disimpan sendirian," timpal Maura.


Gana hening. Mengingat kejadian semalam memang benar-benar menghujam sukmanya. Terkaan buruk berputar-putar di kepala. Kesetiaan yang Ammar berikan selama sebelas tahun pernikahan, seakan tidak ada artinya lagi untuk dipercaya. Kecemburuan sudah merusak segalanya.


Dan ia memutuskan untuk tetap menggeleng. "Enggak ada apa-apa, Kak," jawabnya. Namun, ulasan senyum belum tampak. Raut Gana masih saja terasa kaku. Ia masih sesak. Tapi, ia juga tidak mau mempermalukan sang suami. Aib suami juga Aibnya. Di kepalanya tengah bercabang, ingin mempercayai ucapan Ammar tapi di sudut hati, ia masih saja kecewa, marah dan tidak terima.


Mama mengelus bahu Gana. "Kalau capek ya udah istirahat. Kalau bosan, refreshing, Nak. Apalagi kamu lagi hamil. Semua yang terlihat akan lebih terasa sensitif satu tingkat. Olah hati sama pikiran kamu biar lebih enak. Kalau mau liburan enggak apa-apa. Pergi aja berdua sama Ammar, biar anak-anak di sini sama Mama dan Papa," tukas Mama.


Yang Mama tahu, Gana sedang dalam fase letih, capek, bosan dengan rumah tangganya. Mengurus suami, anak-anak yang banyak dan karena Gana tengah hamil muda. Bukan karena ada faktor pencetus lainnya.


Gana akhirnya mengulas senyum. Ia mengangguk, menatap Mama. "Makasih banyak, Mah." mendapatkan mertua yang pengertian dan mau mengerti kondisinya sungguh rezeki yang tidak ternilai.


Pada dasarnya, Gana adalah wanita yang kuat. Terbukti ia mampu menguasai medan rumah tangga selama bertahun-tahun, hanya mengurus lima anak dan sedang hamil, tiga di antara nya sudah besar tidak perlu lagi di mandikan, Adela pun ada yang mengurus kemarin-marin. Ia hanya sibuk dengan Alda dan bayi yang di kandung, bukan masalah yang cukup pelik baginya.


Tapi, karena yang mengguncang adalah wanita lain. Membuat Gana berang, rasa percaya diri nya kurang. Apalagi dengan Yanti, masih muda, legit dan sexy. Wajah nomor dua yang penting tubuhnya menggiurkan. Ia takut Ammar berpaling. Gana amat mencintai lelaki itu, lelaki yang sudah berkali-kali menebar benih di rahimnya.


"Mah, mimi ...," Alda mengulurkan tangan ke leher Gana dari gendongan Maura. Gana meraih Alda dan langsung ia susui.


"Benar kamu enggak ada masalah, Gana? Sama Ammar barangkali?" tanya Maura lagi.


Gana menghela napas, untuk menghilangkan sesak di dada. Ia tatap bola mata Maura lamat-lamat seakan ingin jujur tapi di sini ada Mama. Ia tidak mau membuat Mama khawatir dan cemas. Kalau sampai Mama sakit, ia pasti yang akan disalahkan.


"Enggak ada, Kak. Aku dan Ammar baik-baik saja," balas Gana. Dan Maura tidak percaya. Seakan ia paham, kalau Gana pasti tengah menyembunyikan sesuatu. Ia belum mau membahas. Karena bukan hanya Gana yang kehilangan mood saat tiba di rumah ini, Ammar pun sama, seakan tidak ada gairah.


"Besok enggak usah puasa, ya. Kandungan kan mu masih muda. Mual sama muntah nya masih, enggak?" tanya Mama.


"Sekarang hanya tiap pagi, Mah. Sama sesekali, siang-siang kalau habis bangun tidur, masih muntah ...."


"Iya udah jangan puasa dulu," balas Mama.


"Kalau akuh, Nek? Puaca ndak?" tanya Adela yang sedang dipangku Mama, Ia mendongak menatap leher Neneknya.


"Kamu masih kecil, Nak. Enggak kuat puasa," jawab Mama.


"Tatih akuh mauh ikut caull!" ia menyeka ingus yang ingin turun dari lubang hidungnya.


Maura tersenyum. Ia menarik tepi kaus Adela untuk mengelap ingus tersebut agar benar-benar kering dari hidung keponakannya. "Iya nanti di bangunin."


Adela tersenyum senang, ia tidak merajuk lagi.


"Tapi harus puasa, ya. Enggak boleh makan sama minum sampai Maghrib," ucap Maura lagi.


Senyum Adela redup, ia meringis. "Yah kok gitu, Ante? Nanih kalau ndak mamam, akuh mati dong ...." bibir Adela monyong-monyong ke depan.


Semua tertawa mendengar celotehannya.


Gana mengusap pipi Adela yang sempat ia bentak karena menahan kesal. Ia kecup anak itu. "Maafkan Mama, ya, Nak,"


Dari wajahnya yang masih basah karena jejak-jejak air mata, Adela mengangguk. "Iya, Mah."


...🌾🌾🌾...


Adela dan triple A tidur bersama Kakak-kakak sepupunya di kamar atas. Jadi di sini hanya mereka berdua.


Ammar meraih remote dan mematikan televisi, dalam keheningan kamar ia ingin merayu istrinya lagi. Dadanya terasa lega, karena Gana tidak sampai hati menceritakan masalah Yanti kepada keluarganya.


"Kenapa dimatiin 'sih, Bang! Aku masih mau nonton!" dengus Gana. Ia masih saja ketus.


Ammar menggeleng. Lelaki itu mengecup perpotongan dagu Gana, Gana sampai memejam mata karena kecupan yang Ammar berikan begitu hangat dan lembut. "Sudah malam, kamu harus tidur," ucapnya.


Ammar mengurai kecupan itu dan menatap bola mata Gana yang mulai terbuka kembali. "Masih marah sama, Abang?"


Gana menatap Ammar tanpa jawaban. Iris matanya memerah lagi menahan genangan air bening yang ingin luruh. Ammar mengulas senyum. Ia kecup kelopak mata itu dan luruh lah air mata Gana.


"Masih enggak percaya sama, Abang?" ulangnya lagi. Gana langsung berhambur memeluk leher suaminya. Ibu hamil itu menangis sejadi-jadinya.


"Abang bener enggak bohongin aku?" tanyanya dalam erangan tangis. Rasanya berdamai, bisa melegakan diri.


Selama menikah, walau Gana sedang merajuk, ia tidak akan mendiamkan Ammar lebih dari tiga jam. Apalagi saat ini dirinya tengah hamil, lebih sering ingin memeluk Ammar mengecup tengkuk lelaki itu, walau Ammar selalu meronta geli.


Ammar mengangguk, mengelus halus punggung Ganaya. "Aku tuh cinta sama kamu dari aku duduk di bangku SMP. Nunggu kamu lama sampai dua belas tahun. Sempat ngerelain kamu sama beberapa lelaki yang kamu pacarin. Kamu enggak pernah menganggap aku ada.


Sampai akhirnya aku bisa gagalin pernikahan kamu sama calon suami kamu. Dan dalam pernikahan kita, aku harus nunggu lagi setahun, biar cinta kamu hadir buat aku. Serta bawa kamu jauh, menyembunyikan kamu agar kita bisa hidup bahagia walau aku harus tahan beban untuk jauh dari keluarga besar kita.


Totalnya, sudah dua puluh tiga tahun, Dek. Abang sayang sama kamu. Kamu udah jadi bagian di diri, Abang. Doa yang enggak pernah surut selalu Abang ucapkan, adalah menua bersama kamu, membesarkan anak-anak. Ngurusin kamu aja, kadang Abang masih ngerasa enggak becus, apalagi harus ngurusin wanita lain. Apa enggak bisa kamu lihat perjuangan cinta Abang sama kamu?"


Gana hening dalam tangis. Akhirnya ia mengangguk. Walaupun sampai detik ini ia masih tidak mengingat masa lalunya, dan hanya tahu masa-masa dulu dari berbagai cerita, tapi mendengar sentuhan kalbu yang Ammar berikan barusan, membuat daksanya terenyuh. Begitu besar pengorbanan suami padanya.


Masih pantas kah ia meragukan Ammar? Apalagi setelah huru-hara semalam, paginya Ammar sudah memulangkan Yanti ke yayasan. Lelaki itu meminta maaf karena kesalahpahaman yang terjadi membuat Yanti tidak punya pekerjaan lagi. Ammar tetap melakukannya, agar sang istri tahu bahwa Ammar lebih memilihnya.


Ammar memberikan lima kali lipat gaji untuk Yanti, dan wanita itu senang. Katanya untuk modal usaha di kampung tidak perlu lagi jadi Baby sitter.


"Boleh tanya kepada semua orang, bagaimana rasa cinta Abang ke kamu, Dek."


Gana mengangguk-angguk. Hatinya sendu, menyesal karena sudah tidak percaya dan meragu.


"Iya, Bang. Maaf ...."


Ammar mengurai dekapan. Ia tangkup wajah istrinya yang basah dengan kelopak mata yang bengkak. "Jadi percaya 'kan?"


Gana yang dadanya masih naik turun menahan segukan agar padam, mengangguk. "Percaya, Bang." untung saja tadi ia mengikuti kata hati untuk tetap bungkam tidak mau menceritakan masalah ini kepada Maura dan Mama.


Ammar tersenyum ia mencium pipi istrinya lagi. "Makan, ya. Abang suapin. Kamu kan belum makan malam. Kasian anak kita," ujar Ammar. Ia mengelus perut Gana.


"Beli ke luar, yuk, Bang. Kita makan nasi goreng," pinta Gana.


Demi istri dan anak yang ada di dalam kandungan, serta kepercayaan Gana sudah kembali, tidak merajuk lagi. Maka, Ammar iyakan.


"Ayo, Sayang."


...🌾🌾🌾...


Banyak banget yang nanya, Gana kapan balik ingatan, thor?


Ingatan Gana enggak akan kembali ya, guys. Dan jangan tanya kenapa, karena aku penginnya begini.


Gana yang dulu adalah Gana yang susah di atur, emosian, berani sama suami. Aku pengin istri yang kalem, sabar dan menurut. Posisinya di sini Ammar itu usianya lebih muda dari Gana. Maka, aku pengin Ammar menjadi sesosok yang didewasakan oleh istrinya. Untuk apa mengenang masa lalu yang pahit, jika masa depan lebih membahagiakan. Hidup bersama lelaki yang di cintai, sudah memiliki anak-anak dan tetap berkumpul dengan dua keluarga besar.


Lupa ingatan bukan segampang kena getaran di kepala langsung ingat, guys. Prosesnya memang lama, apalagi kecelakaan fatal yang di alami Gana tentu tidak semudah itu untuk kembali seperti dulu.


Jadi, hormati outline ku, ya❤️


Selamat menjalankan Ibadah Puasa.