
Sekuat apapun Ammar meminta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya. Gana tetap saja diam tidak menjawab apapun yang Ammar ucapkan.
Wanita itu masih kaget. Masih butuh waktu. Kenyataan yang mendadak muncul, dan akhirnya terkuak karena memang sudah suratan Allah, membuat dirinya masih belum menerima.
Hanya tahu sebagai anak yatim-piatu. Tidak mempunyai sanak saudara. Yang ia tahu, hanya Ammar lah yang ia punya di dunia ini, sebelum para buat hatinya lahir. Dan sekarang, dunianya seraya berputar. Ia baru tahu, ada orang tua yang lengkap dan masih hidup, serta saudara yang banyak. Ammar benar-bena tega membohonginya.
Walau Ammar beralasan untuk melindungi mereka berdua. Kebohongan tetap lah kebohongan. Lelaki itu sudah menipunya. Menyembunyikannya dengan sengaja. Tentu perasaan Gana tidak seperti dulu di saat ia belum hilang ingatan. Gana yang sekarang tidak akan sefaham dengan Gana yang dulu. Dan Ammar sedih akan hal itu.
Kemarin-kemarin ia tidak menginginkan Gana yang dulu kembali hadir. Ia tidak mau ingatan penuh masalah muncul lagi. Tapi sekarang, Ammar seakan berdoa, agar Gana kembali dengan ingatan yang dulu. Agar mau menerimanya dengan lapang dada.
Beberapa kali Ammar mendekat, Gana akan menghindarinya. Menatapnya saja enggan. Disentuh saja tidak mau. Ia biarkan Ammar di obati luka oleh Mama Alika tanpa campur tangan darinya. Gana memang sudah berbaur dengan Mama dan Papa. Gana hanya bisa menerima pelukan dan dekapan orang tuanya yang terus berucap syukur. Dan ia juga senang, walau hatinya saat ini masih campur aduk tidak karuan. Ada rasa senang, sedih dan juga kesal.
"Adek mau Abang suapin?" Gana masih diam menatap menu makanan siang yang Mama mertuanya siapkan di meja untuk menyambut kedatangan anak, menantu, cucu dan besannya.
Saat ini hanya tinggal mereka berdua di meja makan. Yang lainnya kembali berkumpul di ruang tamu. Ingin bermain dengan Aurora dan Aidan sambil menunggu Five G pulang sekolah.
Gana menghela napas berat dengan wajah kesal.
"Enggak!" sergahnya saat Ammar mau menyodorkan sendok berisi nasi kedalam mulutnya.
Ammar menurut, ia leletakan kembali sendok itu ke dalam piring.
"Adek masih marah?" tanya Ammar lembut. Ia sudah tahu Gana pasti masih merajuk.
Gana menoleh lalu berdecih. "Menurut Abang? Apa Adek harus tertawa? Haha-hihi? Guling-guling di lantai, hah?"
Ammar mengangguk setuju. Mencoba sekuat hati untuk menerima rajukan istrinya yang ia wajar kan. "Abang harus gimana lagi, Dek? Abang begini 'kan punya alasan." melihat Ammar memelas, membuat hati Gana berdesir.
"Kata Abang, Abang akan mengembalikan aku kepada keluarga. Tapi tadi pagi? Kenapa Abang berbohong? Hanya Rora yang Abang bawa! Abang ingin menyembunyikan aku berapa lama lagi? Sampai orang tuaku tiada? Jadi ini kan alasan Abang untuk selalu menolak jika aku mengajak ke Jakarta? IYA KAN?" sentak Gana. Ia menyandarkan tubuhnya lemah di sandaran kursi dengan tangan bersedekap. Mencebik kesal menatap lukisan bergambar buah-buahan di dinding ruang makan.
DEG.
Rasa sakit menerpa sukmanya. Di sentak dengan ucapan Gana yang memang benar semua, tetap saja terasa sakit. "Demi Allah. Bukan begitu maksud Abang, Dek." Ammar memiringkan posisi duduknya, ia ingin menatap istrinya lebih jelas. Namun Gana tetap menatap ke arah yang lain, ia tidak mau bersitatap dengan Ammar. Berkali-kali dagunya ingin diraih, Gana terus memalingkan wajah. "Jangan sentuh!" sungutnya.
"Abang memang salah, Dek. Abang sudah banyak bohong sama kamu. Abang hanya belum siap untuk jujur---"
Gana yang sedang bernafsu dalam emosi, kembali menyelak.
"Abang tuh egois! Abang hanya memikirkan perasaan Abang, keluarga Abang, Mama dan Papa Abang saja!
Sementara aku? Apa Abang juga memikirkan tentang keluargaku? Membiarkan Mama dan Papaku tenggelam dalam terkaan nya kalau anaknya sudah mati?
Lalu, apa yang akan Abang lakukan? Apa yang akan Abang jelaskan padaku, jika aku tidak sempat bertemu dengan Mama dan Papa seperti sekarang? Kalau amit-amitnya, mereka dipanggil dulu oleh Yang Maha Kuasa.
Aku yakin, Abang pasti akan diam saja! Akan Abang kubur kejujuran itu, seperti tiga tahun belakangan ini. Abang tega membodohi dan menipuku yang tidak ingat sama sekali!"
Air mata Gana bergerumun di pelupuk. Dadanya sesak. "Satu kali keguguran, dua kali melahirkan tanpa dampingan orang tua! Abang faham enggak perasaan aku?
Setiap malam aku selalu berdoa kepada Allah. Agar orang tuaku yang aku anggap sudah tenang di alam sana, agar dapat pengampunan. Tapi ternyata mereka masih hidup, Bang! MASIH HIDUP!" sentak Gana dengan nada tinggi. Pangkal bahu Ammar sampai terangkat naik, karena ia kaget. Selama menikah, Gana tidak pernah seperti ini kepadanya. Seakan sifat Gana yang dulu kembali.
"Tega sekali kamu! Bahkan Abang bisa berkomunikasi dengan Mama secara sembunyi-sembunyi, SEDANGKAN AKU??"
Kini, air bening itu akhirnya terjerembab turun dari sudut matanya. Gana menundukkan kepala, menahan isak tangis yang membuat dadanya membuncang. Ia ingin teriak, melepas kesal. Namun tidak mungkin ia lakukan di sini.
Ia hentak sedikit dadanya. Buru-buru Abang menghentikan hentakan itu. Ia mencekal pergelangan tangan Gana.
"Adek maafkan, Abang." Gana menepis tangan Ammar yang masih menggenggam tangannya. Lelaki itu berucap dengan nada amat memelas.
"Abang salah, Dek---"
Belum selesai menuntaskan perkataannya. Gana memilih bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan Ammar seorang diri di meja makan.
"Adek!" seru Ammar. Ia mengikuti langkah istrinya yang berjalan menuju kamarnya di rumah ini.
"Dek ..." Ammar berusaha mencekal lengannya. Dan lagi-lagi tangan Ammar di tepis. Gana melewati ruang tamu, membuat semua mata memandang dua pasutri ini dengan raut aneh.
"Mama!"
"Ma ... Ma!"
Bahkan seruan dari Rora dan Aidan, tidak Gana gubris. Wanita hamil itu terus berlalu dan Ammar sekuat tenaga mengejarnya sampai ke anak tangga untuk naik ke lantai dua.
Para Mama dan Papa, serta Gifa dan Maura hanya bisa diam terpaku melihat mereka yang mirip anak abg.
"Anakmu ngambek, Mah." kekeh Papa Galih kepada istrinya.
"Biarkan saja. Gana pantas marah, Mas. Mungkin hal ini yang harus Ammar bayar." selak Mama Alika.
Ia tidak membela Ammar dalam hal ini. Ia tahu anaknya sudah salah. Sejatinya ia tahu sekali, bagaimana rasanya dibohongi oleh suami sendiri. Walau dengan alasan yang masuk akal. Kebohongan tetap saja kebohongan, jika tidak dicegah dan di akhiri dari sekarang, pasti akan menciptakan kebohongan demi kebohongan lainnya.
"Adek!" Ammar menahan ketika daun pintu ingin ditutup paksa oleh Gana.
"Jangan dipaksa, nanti kamu terdorong dan jatuh!"
Tentu saja kekuatan Ammar lebih kuat darinya. Akhirnya Gana melepas dorongannya, ia melangkah menuju pembaringan. Dan Ammar bergegas masuk ke dalam, terus berusaha untuk mendekat.
Gana merangkak naik ke pusara ranjang. Berbaring miring, memunggungi Ammar. Ammar ikut merangkak naik lalu memeluknya dari belakang.
"Lepas!"
"Enggak."
"Lepas!" Gana menjauhkan tangan Ammar yang kini sedang mengusap-usap bayinya yang masih didalam perut.
"Jangan marah, Dek. Abang terpaksa begini. Karena sayang sama kamu. Kalau enggak cinta, enggak sayang. Ngapain sih Abang mau hidup susah di sana? Ninggalin semua ini demi kamu?
Jika saja kamu enggak lupa ingatan. Kamu pasti enggak akan marah kayak begini, Dek. Kamu tuh ngertiin Abang banget. Malah kamu yang dulu itu selalu meminta agar kita pergi jauh. Memulai hidup dari awal. Hanya ada kamu dan aku. Dedek kesayanganmu ... Eh, Abang kesayanganmu." hampir saja bibir Ammar keseleo.
Gana yang sejak tadi mendengus kesal. Kini mulai tenang sejenak. Ia mulai mencerna ucapan suaminya.
"Masa, Bang?" tanya Gana polos. Dibalik rasa ngambeknya yang tinggi, tentu kepolosan masih saja kentara. "Kenapa Abang jadi penjahat? Abang tau kan, itu tuh dosa, Bang! Abang bisa masuk neraka."
Ammar mengangguk. "Tapi kan Abang sudah bertaubat, Dek. Menjalani kehidupan kita yang berliku, apa belum cukup? Abang bisa kayak begini. Karena trauma di masa lalu."
Ammar mulai menceritakan awal muasal mengapa dirinya bisa masuk ke lembah kenistaan. Gana mulai mendengarkan dan menyaringnya.
"Iya sayang. Dulu tuh Adek yang berjuang untuk membawa Abang keluar dari berbagai kejahatan yang Abang buat.
Adek yang lawan Farhan dan Farina. Adek juga yang bela Abang di depan Mama dan Papa. Adek nangis-nangis kaya bocah ingusan waktu kita dipaksa bercerai." lagi terhanyut akan cerita, tiba-tiba suaminya yang gesrek kembali ambyar. Gana menoleh sedikit kebelakang dan menjewer telinga suaminya.
"Enak aja bocah ingusan! Abang kali bocah korengan! Euh!!" decak Gana. Jeweran yang ia layangkan di telinga Ammar semakin kuat. "Rasain nih, sakit kan?" Gana terus menjewer.
"Enggak apa-apa jewer aja. Gigit juga boleh, kalau semisal sampai putus. Abang enggak akan marah. Yang penting Adek senang. Palingan Adek yang bakalan nangis, soalnya kalau malam enggak ada lagi yang di pelintir-pelintir."
Gana memiringkan sudut bibirnya dan akhirnya menarik tangannya lagi dari telinga Ammar.
"Duh Ibu buncit." kelakarnya pelan.
"Apa tadi?"
"Perut Papaku yang buncit." di ruang tamu. Buru-buru Papa ke kamar mandi untuk buang hajat, karena perutnya mulai tidak enak. Ia di fitnah anak sendiri. Haha.
"Ha?"
CUP.
Ammar mengecup pangkal hidung Gana.
"Bau upil, Dek."
"Tuh 'kan, mulai!!" Gana kembali merajuk.
Ammar tersenyum, mengunci tubuh si gendut.
"Abang ..." desah Gana manja namun kesal. Ia meremat kain baju Ammar dibagian pinggang.
"Iya sayang." pelukan itu semakin kuat, mana kala Gana kembali menangis.
"Kok nangis lagi?"
Namanya juga Ibu hamil. Bawaannya melow. Kehamilan ketiga ini memang membuat Ammar rungsing. Belum mood Gana yang berubah-ubah, dan selalu ingin ini dan itu.
"Adek kesal sama Abang! Adek benci, kecewa .... Abang tukang bohong! Penipu! Abang kenapa enggak cerita aja yang sebenarnya? Kalau selama ini Abang kaya. Banyak uang. Kan Adek bisa beli sarung yang lebih mahal. Enggak murahan kayak yang di rumah, enggak usah di tambal-tambal."
"Ha?" mulut Ammar menganga. Ia turunkan tatapan matanya untuk menilik wajah istrinya. Dan Gana masih menangis. "Kan Adek yang maunya beli sarung diskonan. Beli dua gratis yang jualnya."
Gana kembali mencubit perut Ammar. Lelaki itu pura-pura mengaduh.
"Itu karena Adek kasian sama Abang. Enggak mau boro-boros. Kalau ada yang mahal kenapa harus beli yang murah. Eh, salah. Kebalik!"
Ammar mencium pipi Gana karena gemas.
"Harusnya Abang bilang yang sering muncul di televisi itu keluarga kita. Biar bisa pamer dikit sama tetangg. Si ganjen, yang suka godain Abang!"
"Buat apa?" Ammar menaikan alisnya.
"Iya sih ya, buat apa juga. Kali mereka percaya." desah Gana pelan. Sesungguhnya pamer bukanlah sifat dirinya.
Ammar menggeleng kepalanya samar dengan gelak tawa saat mendengar unek-unek istrinya yang diluar nalar.
"Adek udah enggak marah 'kan sama Abang?"
"Adek enggak tau, Bang. Yang di dalam sini tuh." Gana menunjuk dadanya. "Enggak ngerti kayak gimana. Antara kesal, kecewa dan takut jadi satu.
Nasi sudah jadi bubur. Abang sudah kepalang melakukan kebohongan ini untuk menipu aku dan keluarga besar. Hanya aja, yang sekarang lebih kerasa itu. Rasa takut, Bang. Takut!"
"Takut? Takut apa, Dek?" tanya Ammar menuntut.
"Kalau Abang di penjara, bagaimana? Kalau sampai si Farina dan Farhan itu tahu Abang masih hidup, apa yang akan mereka lakukan, Bang? Aku enggak mau kehilangan, Abang!"
Gana menangis lagi. Ia menumpahkan rasa takut dan sedihnya di dada Ammar. Jantung Ammar kembali bertalu-talu. Dadanya bergerak naik turun, seakan sedang mengatur ritme napas.
Kegugupannya kembali muncul, mengapa bisa ia melupakan perihal perkara antara dirinya dengan Farhan, Farina dan Frady. Namun seperti nasihat Papa mertuanya. Ammar tidak boleh lari. Ia harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan.
Dengan jiwa besar, ia menjawab. "Abang akan hadapi mereka. Abang tidak akan lari lagi. Sudah saatnya kamu dan anak-anak hidup bebas dengan napas lega tanpa harus bersembunyi lagi."
"Tapi, Bang----"
"Kamu tenang aja. Mereka tidak akan semudah itu untuk memenjarakan Abang!"
Semoga saja ucapan Ammar memang benar terjadi. Walau ia sudah tidak mempunyai bukti, untuk mengancam mereka bertiga agar tidak mengusut rencana pembunuhan yang sudah Ammar lakukan kepada Farhan beberapa tahun yang lalu.
"Adek enggak usah mikirin. Kasian anak kita." Ammar mengusap perut Gana.
Gana tidak menjawab. Sulit baginya untuk tidak memikirkan. Walau ia senang bertemu dengan orang tuanya, tetap saja tidak mau jika kebahagiaan itu harus ditukar dengan Ammar yang akan masuk kedalam bui.
"Adek enggak bisa bayangin, Bang. Abang akan di tangkap. Di kurung dalam penjara, kedinginan, enggak bisa makan enak. Enggak bisa bercanda sama Adek dan Anak-anak. Kalau Abang di penjara. Gimana nasib Adek, Bang? Anak-anak pasti sedih kalau punya Papa seorang narapidana."
Gana terisak lagi. Ketakutannya kembali datang dan membuih. Hiks ... Hiks. Wanita itu sesegukan. Lebih kencang.
"Tenang sayang, tenang. Jangan takut." memaksa Gana untuk menghentikan tangis.
"Enggak baik, Dek. Anak kita kasian. Kamu enggak mau 'kan, hal yang dulu terjadi dengan Kakaknya Rora, terjadi lagi sama si dedek." Ammar mengusap lagi perut Gana. Berusaha menenangkan istrinya yang menegang. Jantung Gana yang berdebar-debar begitu terasa. Gana hanya bisa mengangguk lemah dengan air mata yang terus menganak sungai , walau hati dan gerakan kepalanya tidak sesuai.
"Adek udah enggak marah lagi 'kan sama Abang?" Ammar mengulang pertanyaannya. Lelaki itu berusaha kuat. Berusaha untuk tidak sedih. Padahal di dadanya sedang cenat-cenut, menahan kegelisahan.
Bagaimana jika ucapan Gana benar terjadi? Bisa kah ia berpisah dengan anak dan istrinya?
Gana mengangguk. "Sebenarnya Adek susah buat marah sama Abang. Padahal di hati tuh masih nyesek! Adek sayang banget sama Abang soalnya ..." Gana merengek manja. Ia tenggelamkan kepala di dada suaminya.
Ammar tersenyum. "Abang tau banget. Makanya dari pada Adek ngambek terus, mending doain Abang aja. Doa istri 'kan manjur."
"Ii--ya, Bang." jawabnya sendu.
Mereka kembali berpeluk. Lalu hening sesaat, kembali berendam dalam fikiran masing-masing. Ammar senang Gana yang sekarang, bisa memahaminya seperti Gana yang dulu.
Baru saja mengangkat dagu Gana untuk mendongak menatapnya, ingin menyatukan bibir. Seketika itu pula Ammar menoleh kaget, mana kala pintu kamarnya terbentang lebar tanpa ketukan.
"Ommmmmm ... Tanteeeeee!!" menyembu lah Five G dari ambang pintu. Mereka berlari menyergap Ammar dan Gana yang masih berpeluk diatas ranjang.
"Om sama tante hidup lagi ya?"
Hiks ... Hiks.
Geisha, Bisma dan Dipta yang baru saja pulang sekolah dengan seragam putih biru menangis sesegukan memeluk om nya lebih dulu. Menumpahkan rasa rindu kepada sosok lelaki ini yang masih sulit untuk terlupa dalam benak mereka.
Begitupun Ginka dan Ghea dengan seragam putih merah, ikut menangis. Memeluk tantenya yang hanya melongo. Tidak kenal dengan para anak-anak sekolah ini.
"Adek-adek ini siapa, Bang?" tanya Gana polos.
Five G melongo tidak percaya menatap Gana "TANTE!" seru mereka bersamaan.
🌺🌺🌺🌺🌺bersambung🌺🌺🌺🌺
Like dan Komennya ya guys.
Five G vs Two A.