
"Kok bisa sih, haid sekarang!" kerutuk Gana didalam kamar mandi saat dirinya sedang menyematkan pembalut di pusat intinya.
"Enggak tau apa kalau lagi nanggung! Jadi cuman dia deh yang enak!" Gana terus ngerocos tidak karuan.
Setelah tahu pintu Honey tidak bisa di bobol, terpaksa Gana harus melayani Ammar dengan cara biasa. Lelaki itu memaksa, karena sudah di ujung. Dan malam ini hanya Ammar yang bisa menerjang puncak nirwana.
Dulu ketika belum mencintai, ketika belum ingin. Gana akan biasa saja, saat dirinya tidak mendapatkan pelepasan, karena pada saat itu cintanya belum tumbuh, napsu nya pun tidak mau merekah.
Sekarang, disaat dirinya sudah terlanjur mencinta, dan berdekatan lekat dengan suaminya di pusaran ranjang pasti membuat gairahnya berkobar.
Dan disaat ia ingin mencoba pelepasan, Semesta tidak mengizinkannya. Haha.
Krek.
Pintu kamar mandi ia buka. Keluarlah dirinya dari sana dan melangkah menuju pembaringan. Dilihat nya Ammar tidur masih dalam keadaan polos, dengan posisi tengkurap. Selimutnya saja sebagian sudah jatuh terjuntai ke bawah. Lelaki itu tidurnya memang selalu lasak.
"Aduh ya ampun." Gana menggeleng samar.
"Ammar bangun dulu. Pakai baju." Gana menggoyangkan tubuh suaminya, sampai mau mengerjapkan mata.
"Ngantuk sayang ...." cicitnya manja.
"Ayo bangun. Pakai dulu bajunya, nanti kamu masuk angin." titah Gana. Ia meraih piyama suaminya yang masih berserak di atas lantai.
Ammar bangkit dan duduk di bibir ranjang. "Pakein." ucapnya dengan malas-malasan. Matanya menutup rapat lagi.
Gana mendengus. "Manja banget kamu tuh. Apa-apa semua harus di ambilin, di siapin, di pakein, di suapin. Kalau misalnya nanti aku enggak ada, meninggal. Kamu gimana?"
Refleks Ammar membuka mata. Ia menatap istrinya lamat-lamat. Seraya rasa kantuknya langsung ditarik secepat kilat.
"Kok kamu ngomongnya gitu?" nada itu terdengar menyedihkan.
Gana tertawa sambil mengancingkan piyama Ammar. "Ya misalnya. Kalau aku enggak---"
Ammar memeluk tubuh Gana. Meletakkan kepalanya di pertemuan antara dada dan perut. Sontak membuat Gana menggantungkan suaranya begitu saja.
"Walau dengan kata misalnya pun, aku enggak mau .... enggak!" lelaki itu ketakutan. "Aku bisa gila, mungkin bunuh diri, kalau kamu enggak ada."
Gana tertawa lucu. "Ajal seseorang 'kan enggak ada yang tau, Ammar. Bisa aja aku duluan yang pergi dibanding kamu." Gana semakin menjadi-jadi. Bukan maksud untuk menakuti, tapi memang, ia sedang mengatakan hal yang sebenarnya.
"Di dunia ini, kita hanya sedang menunggu. Menunggu untuk kembali pulang. Sejatinya di dunia hanya sementara, tempat kekal kita di Akhirat."
Bulu kuduk lelaki itu merinding. Ia merasa belum siap mati atau pun ditinggal mati.
"Kalau pun kita mati. Apa kita akan bertemu? Sepertinya aku akan langsung masuk neraka, dan kamu pasti masuk surga."
Gana mengurai pelukan Ammar dan menangkup wajah suaminya yang belum memakai celana. Membiarkan Harley yang sudah menciut tanpa daya.
"Jangan pernah menjudge diri kita dengan perkataan yang tidak baik. Jangan karena kamu pernah melakukan dosa, kamu sudah mengecap dirimu akan masuk neraka. Walau kita tahu, semua manusia pasti akan di hisab, masuk neraka lalu terakhir masuk surga. Tapi yang memang sudah ditetapkan akan menjadi kerak neraka, mereka akan kekal di dalamnya."
"Duh aku serem." Ammar semakin meremat kain piyama istrinya dibagian punggung. Tak mau melepas wanita itu walau hanya seinci.
"Kamu jangan takut dulu. Allah itu maha pengampun. Nih ya dengerin aku. Contohnya gini, seorang pelacurr aja bisa meringankan hisab dan masuk surga hanya karena memberi air pada anjingg yang sedang haus. Mungkin aja, diluar dia memang pelacurr. Tapi di tengah malamnya, ia mempunyai dua rakaat shalat tahajud kepada Allah. Dia shalat taubat, dan Allah mencintainya. Seperti kamu, Ammar. Kamu pasti bisa."
Ammar masih memeluk perut istrinya. "Terus bimbing aku ya, sayang. Sampai aku banyak ilmu untuk balik bimbing kamu menuju surganya Allah. Aku mau bangun rumah sama kamu di sana."
"Aamiin." Gana tersenyum. "Ayo nih pakai celananya dulu. Nanti kalau si Harley masuk angin, emang bisa dikerok?"
Ammar bergelak tawa. Ia mencium lagi pipi istrinya sampai bergeliat manja.
"Cinta ..."
"Eumm?" Gana masih sibuk mengoleskan minyak telon di telapak kaki Ammar, saat ini lelaki itu sudah berbaring terlentang.
"Apapun yang terjadi kamu akan tetap sama aku 'kan?"
Gana menghentikan jari-jemarinya. Ia menoleh ke belakang menatap Ammar yang tengah menatapnya balik.
"Maksudnya, gimana?"
"Kalau seandainya aku jatuh miskin, kamu masih mau nggak hidup sama aku?"
Gana menyudahi aktivitasnya. Menutup botol minyak telon yang masih terbuka dan meletakan nya di atas nakas. Ia menghampiri suaminya. Ikut berbaring dan mendekap dada Ammar. Meletakan kepala di perpotongan dagu suaminya.
"Kok ngomongnya gitu, kenapa?"
Ammar tertawa pelan. "Enggak apa-apa, aku hanya nanya."
"Karena kamu suamiku. Ya aku tetap mau. Ya emang sih, aku enggak bisa mangkir. Karena aku belum pernah hidup kekurangan. Mama dan Papa selalu kasih apapun yang aku mau. Tapi Mama pernah bilang, kalau sebaiknya kita itu jadi hamba yang miskin aja jangan kaya."
"Kata Mamaku juga, jadi orang kaya itu enggak enak, hisabnya lebih besar." sambung Ammar.
"Nabi Muhammad aja selalu berdoa agar mati dalam keadaan miskin. Sampai istrinya, Aisyah protes, kenapa malah berdoa seperti itu."
"Kenapa memang?" mungkin hal ini yang Ammar belum faham. Ia hanya luarnya saja tanpa mengetahui makna yang lebih dalam.
"Tebak dong." ledek Gana.
Ammar menggeleng sambil mengusap lembut lengan istrinya.
"Mungkin pas lagi pelajaran agama yang lagi ngebahas ini, kamu nongkrong ya di kantin?"
Ammar tertawa. "Terus?"
Gana mulai melanjutkan. "Karena orang-orang miskin akan masuk surga 40 tahun lebih cepat dari orang kaya. Nabi selalu bilang ke istrinya, cintailah orang miskin dan dekatkanlah mereka kepadamu agar Allah mendekatkan mu kepadaNya pada hari kiamat nanti. Sedangkan orang kaya akan di hisab lebih lama, karena diperhitungkan setiap kekayaannya. Buat apa aja di dunia."
Ammar mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mulai faham dan mencerna di kepalanya. Sungguh ilmu yang bermanfaat tengah di berikan oleh istrinya sendiri. Lalu mengusap rambut Gana dan menciumnya. "Enggak salah aku cinta kamu sampai lumutan, enggak ke balas, tapi akhirnya jadi nikah."
Gana tersenyum. Mengusap-usap dada Ammar.
"Ayo kita tidur yuk." ajak Ammar, mengecup pusaran rambut istrinya sebelum ia memejam mata. Gana makin merekatkan pelukannya.
Dan berangkatlah mereka me alam mimpi.
****
Karena sedang haid, alam bawa sadarnya menyugesti kalau dirinya tidak usah bangun subuh-subuh.
Tapi Ammar? Suaminya itu harus tetap bangun dan melaksanakan shalat. Karena selama ini, Gana yang terus membangunkannya.
Bola matanya terkesiap ketika menilik jam dinding sudah pukul delapan pagi. Sudah bukan waktu subuh lagi melainkan sudah masuk waktunya Duha.
Gana beranjak duduk. Lalu menoleh ke arah suaminya yang tengah meringkuk memunggunginya dari dalam selimut.
"Aku nya kesiangan. Kamu juga pasti kesiangan, enggak shalat subuh deh!" decak Gana.
Wanita itu mendekat. Mengguncang lengan Ammar. Mendadak dahinya mengerut.
"Kok panas banget?" seru Gana. Kini tangannya sedang memeriksa kulit leher lelaki tampan itu.
"Kamu sakit, Ammar?" tanya Gana. Lelaki itu hanya diam dibalik pejaman matanya. Sayup-sayup terdengar suara menggigil dari mulut Ammar. Gana langsung membalikan tubuh suaminya untuk tidur terlentang.
Lelaki itu mengerang dalam panas tinggi. Bibirnya kering.
"Kok bisa begini? Perasaan malam enggak apa-apa." Gana memegang kedua tangan Ammar yang sudah menyatu di atas dada.
"Ammar ..." panggil Gana lagi.
Lelaki itu hanya bergumam tak jelas. Membuka mata saja rasanya tidak sanggup. Padahal ia sudah bangun dari tadi. Entah kenapa ketika ia mau mandi besar dan melaksanakan shalat subuh, tubuhnya menggigil. Malah sekarang berangsur panas tinggi. Mau membangunkan Gana, tapi dilihatnya sang istri sedang tertidur pulas. Ia tidak tega, dan akhirnya hanya bisa menahan sendiri.
Buru-buru Gana beranjak turun dari ranjang untuk mengambil alat pengecek suhu digital. Mengarahkan pucuk termometer yang hanya asal tekan di dahi langsung memberikan jawaban suhunya.
"38 derajat? Ya Allah, panas banget."
Gana terlihat gugup. Wanita itu panik tidak karuan. Ia bergegas keluar kamar untuk mengambil air hangat untuk mengompres suaminya, serta menghubungi Dokter langganan keluarga untuk datang kerumah.
****
Ammar bersandar di punggung ranjang sambil memainkan tabletnya. Walau tubuhnya masih panas tetap saja ia asik bermain game.
"Ayo dong makan dulu, main gamenya nanti di sambung lagi." bujuk Gana. Ia duduk dibibir ranjang dengan mangkuk bubur di pangkuannya.
Ammar hanya mengangguk karena ia masih mengemutt bubur di dalam mulut. Tubuhnya kini sudah berbalut jaket tebal dan telapak kaki sudah dilindungi dengan kaus kaki.
"Ayo kunyah dulu." titah Gana. Ia tetap sabar meladeni suaminya dengan sikap manjanya. Mengurus suami yang sedang sakit memang lebih parah dari seorang anak bayi. Manjanya, bawelnya, enggak ketulungan.
"Aaa ..." Ammar membuka mulutnya tapi tatapannya masih ke arah layar tablet.
"Dengerin aku enggak, sih?"
Ammar langsung beralih menatap istrinya yang mulai sebal.
Ammar menyunggingkan senyum. Lantas meletakan tabletnya di atas nakas. Ia memilih menurut jika sudah mendengar suara Gana yang mulai dingin dan datar.
Suami takut istri. Seperti Umar Bin Khatab, yang selalu menurut apapun kata istrinya.
"Habis makan, minum obat. Terus tidur lagi ya. Kamu tuh masih panas." titah Gana.
Satu jam lalu Dokter sudah memeriksa Ammar. Dokter hanya mendiagnosa Ammar sedang terkena Febris, dalam bahasa indonesia nya yaitu demam. Tidak ada faktor lain sebagai pendukung, pemeriksaan dalam tubuhnya pun baik. Hanya saja tiba-tiba demam.
Gana mencerna, mungkin saja Allah sedang mengurangi dosa suaminya dengan penyakit tersebut. Karena penyakit adalah penggugur dosa, salah satunya dengan sakit panas.
"Iya sayang." Ammar menurut. Ia menghabiskan bubur buatan istrinya sendiri.
Setelah kenyang, lelaki itu tertidur mendekap bantal guling dalam selimut yang membentang lebar. Gana mengecup dahi lelaki itu berkali-kali dan masih terasa panas.
"Cepet sembuh ya, sayangku ..." sapaan cinta yang selalu berani ia katakan, ketika Ammar sedang terlelap. Ia takut di ledek suaminya jika tahu sudah berubah menjadi bucin.
Baru ingin menegapkan tubuh karena sedang membungkuk, mengelus tubuh Ammar dari bibir ranjang. Gana menoleh ke arah nakas menatap gawai Ammar yang sedang menyala.
"Farhan?" Gana menyebut si penelepon.
Raut Gana mulai tidak suka. "Mau apa sih dia?"
Tak memberi kesempatan, Gana langsung me-riject panggilan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, dengan cepat ia memblokir kontak lelaki itu agar tidak bisa menghubungi suaminya lagi.
Jujur Gana masih takut. Takut, kalau Ammar akan kembali terpengaruh. Ia selalu teringat ucapan Mahendra dan Alex, agar Ammar lebih baik menjauh selamanya dari Farhan. Karena pengaruh lelaki itu sangat besar.
****
"KURANG AJAR! Keparatt kamu, Ammar! Tega sekali memblokir nomor Farhan!" decak Farina sambil menggenggam gawai.
Wanita hamil itu menoleh ke ranjang pasien dimana Farhan sedang berbaring di atasnya dengan selang infus terpasang di punggung tangannya. Farina yang sedang berdiri di bingkai jendela langsung melangkah dan duduk di kursi sebelah ranjang Farhan.
Dua sahabat itu sepertinya sedang kontak batin dengan tubuh yang tiba-tiba terserang penyakit panas. Mungkin dosa mereka sedang di cuci perlahan oleh Semesta.
Semalam Ammar sempat memimpikan Farhan dan memikirkan lelaki itu sampai akhirnya sakit. Karena sejak kemarin Farhan memang sedang di rawat. Farhan merengek untuk meminta Farina menghubungi Ammar, lelaki itu ingin bertemu. Tapi, Farina menolaknya.
Dan ketika melihat Farhan terus murung dengan suhu yang tidak juga turun. Farina terpaksa menghubungi Ammar, bermaksud meminta lelaki itu untuk menjenguk, dan hasilnya seperti ini.
"Ammar bukanlab sahabat terbaikmu, sayang." ucap Farina dengan nada getir. Ia membelai lembut rambut Farhan yang sedang pulas tertidur.
Farina mengencangkan rahang. Tatapannya berubah tidak suka, sorot matanya tajam menatap dinding. Melihat Farhan terpuruk dan merasa dibuang begitu saja seperti sampah dan akhirnya sakit seperti ini, membuat Farina berang.
Ia menekan satu kontak dari gawainya, lantas meletakan badan hape tersebut di daun telinganya.
"Saat ini juga, tolong sebarkan foto-foto yang sudah saya siapkan di atas meja kerja, kepada kedua keluarga besar mereka. Keluarga Artanegara dan keluarga Hadnan!"
DEG.
Seratus mercusuar seperti sedang melepas granat nya untuk on the way membobardir dua keluarga besar mereka sebentar lagi.
Mampu 'kah Ammar dan Gana lolos?
****
Sabar ya, kalian itu kuat🤗🤗