
Dari kejauhan deru ombak di pertengahan air laut yang sangat gelap terlihat bergoyang-goyang diantara kapal yang sedang berlabuh. Angin berhembus kencang membuat permukaan kulit meringis.
Delapan mobil dengan pengawalan ketat, sudah masuk ke dalam gerbang dermaga. Dan terparkir dengan baik. Di dalam perjalanan pun, Ammar sekilas bisa tidur walau tidak lama seperti Gana. Karena dalam hatinya masih tersimpan perasaan tidak tenang, gelisah dan cemas.
Ganaya sudah dibangunkan Ammar, walau kedua mata istrinya masih terlihat berat. Sebelum turun dari dalam mobil. Ammar melepaskan jaketnya untuk dipakaikan di tubuh Gana. Agar tubuh istrinya tidak tersapu oleh hawa dingin.
Srett.
Resleting jaket di tarik ke atas. Tubuh mungil itu sekarang terlindungi dari hawa dingin. Di telapak tangan Gana, Ammar mengoleskan minyak kayu putih agar wanita itu hangat.
"Kalau jaketnya Adek Pakai, nanti Abang kedinginan." ucap Gana.
"Aku kuat dingin. Kamu 'kan enggak." sekarang ia sedang mengoleskan minyak kayu putih di tengkuk istrinya. Gana melihat wajah Ammar yang lagi-lagi meninggalkan jejak-jejak kebasahan. Ia menerka, pasti saat perjalanan kesini, suaminya ini menangis lagi dan sekarang nada suaranya terasa datar.
"Abang kenapa---?"
"Kain kerudungya nya ada di koper ya?" Ammar menyelak. Ia sudah tahu Gana akan membahas sesuatu.
"Ada di tas kok, Bang." Gana buru-buru merogoh tas dan mengeluarkan kain pasmina panjang berwarna putih. Ammar memakaikan pasmina itu di kepala Gana. Agar ubun-ubun kepalanya pun terhindar dari udara dingin.
Ammar mengangkat kaki istrinya untuk diletakan di pangkuan. Mengoleskan lagi minyak kayu putih di telapak kaki Gana.
"Adek dibawain kaos kaki enggak tadi?" tanya Ammar.
"Enggak, Bang."
Ammar melepaskan kaos kaki yang sedang ia pakai. "Ini baru kok, Adek aja yang pakai ya."
"Enggak usah, Bang. Nanti Abang dingin. Udah enggak pakai jaket, kaos kaki juga enggak. Hanya pakai kaos panjang tipis begini, Abang bisa masuk angin."
"Abang kuat, kamu 'kan enggak." Ammar tidak mau berdebat. Ia kembali bertutur datar. Hanya tidak ingin dinding pertahannya jebol dan ia bisa menangis di pelukan Gana.
Secepatnya Ammar ingin berada di pertengahan laut untuk pergi berlayar. Bayangan Mama, Papa dan Kakaknya sungguh membuatnya tidak kuat. Belum lagi bayangan Papa dan Mama mertuanya. Ammar tidak sanggup.
"Abang kenapa sih, Bang? Adek ada salah?" tanya Gana memelas. Ia menggoyangkan bahu suaminya.
Ammar langsung menoleh, menatap bola mata istrinya yang sepertinya ingin menggenang kan air bening. Selama amnesia dan hanya tahu Ammar yang ia miliki di dunia ini, wanita itu lebih sensitif. Ia takut ditinggalkan.
Lelaki itu melongo lalu pura-pura tertawa. "Kok nangis, sayang? Adek enggak punya salah apa-apa." Ammar mengusak pucuk pasmina dan mengecup bibir Gana. Tidak perduli di kursi kemudi masih terduduk seorang sopir yang sejak tadi mengemudikan mobil untuk mereka.
Dengan bibir maju seperti itik Gana menjawab. "Tapi wajah Abang beda. Kayak lagi bawa beban besar. Ada apa sih, Bang?" Gana tetap memaksa dengan nada yang polos. "Kalau mau pulang besok enggak apa-apa. Abang masih mau ketemu teman-teman, Abang?"
Ammar tersenyum. Ia menjawil pipi istrinya yang sangat berubah dari Gana yang dulu. Polos sekali wanita ini. "Enggak sayang."
"Terus kenapa Abang nang----" suara Gana terhenti, sampai dimana jendela mobil diketuk Mahendra. Mengisyaratkan Ammar harus segera turun.
Ammar menurunkan jendela mobil.
"Ada apa?" tanya Alex. Karena dua lelaki itu merasa Ammar dan Gana lama sekali turun. Sedangkan Bima, Denis dan Yuni sudah menunggu di pinggir dinding pembatas dermaga.
Ammar menggeleng.
"Duluan saja, tunggu aku di badan kapal."
"Oke." mereka berdua menjawab bersamaan.
Mahendra dan Alex berlalu sambil memberi isyarat kepada Bima, Denis dan Yuni untuk menuju badan kapal yang sudah terparkir di tepi laut, menunggu si empu untuk menaikinya.
"Abang enggak apa-apa. Kamu enggak usah fikir macam-macam! Sekarang kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh dan berhari-hari. Tugas Adek pokoknya berdoa saja." Ammar mengecup dahi istrinya lama dengan pejaman mata. Menghilangkan beban yang menang benar-benar terasa berat yang sedang dipikul sekarang.
Gana yang masih belum puas dengan jawaban, tatapan dan sikap Ammar yang terlihat aneh, dingin dan berbeda. Hanya bisa mengangguk dengan hati setengah percaya.
"Iya, Bang."
"Pak, makasih banyak ya. Sudah mau mengantar kami. Semoga Bapak sehat selalu, aamiin." ucap Ammar kepada sopir.
Sopir menoleh dan tersenyum. "Sama-sama, Pak. Semoga Bapak dan Ibu terlindungi di sana. Aamiin. Hati-hati di jalan ya, Pak."
Ammar dan Gana menggerakan kepala turun naik sambil mengulas senyum. Lantas mereka turun dari dalam mobil.
Wusss.
Mereka langsung di terpa angin laut yang begitu kasar berhembus. Walau Ammar merasa dingin, yang penting istrinya hangat. Tangan kanan Ammar menggandeng Gana sendang kan tangan kirinya menjinjing tas milik wanita itu.
Gana tersenyum bahagia menatap air laut lalu beralih menatap pipi Ammar dari samping. Ia melangkah sambil meletakan kepala di pangkal bahu lelaki itu. Melingkarkan tangan di pinggang Ammar. Sang suami tidak berhenti melepas kecupan di pusara kepalanya yang tertutup kain pasmina. Mereka berjalan menuju kapal dengan saling merangkul.
Romantis sekali mereka. Diperlakukan istimewa oleh suami seperti ini, sungguh membuat hati Gana gembira bukan main. Wanita itu semakin terpesona dengan sikap suaminya.
"I love you, Abang." bisik nya. Ammar mengulas senyum. Ia mengangguk dan menjawab. "Abang tau."
Lelaki ini sok jual mahal. Dan Gana malas. Gana bergeliat pura-pura kesal seperti ulat bulu si lengan Ammar. "Bales dong."
🌺🌺🌺🌺
"Saya pamit pergi, Pak." ucap Ammar kepada Bima dan Denis, seraya mengajak berjabat tangan. Sekali lagi Ammar menahan sakit. Meninggalkan orang-orang terkasihi sungguh amatlah sulit.
Dua asisten yang sudah mengabdi bertahun-tahun lamanya itu, hanya memandang Ammar dengan kesedihan yang mendalam. Berbeda hal dengan Ammar yang menatap mereka dengan mata membulat seakan mengultimatum agar tidak boleh mengeluarkan air mata.
Ada Gana yang berdiri dibelakangnya sedang mengamati mereka. Tapi Bima dan Denis tetap mendayu-dayu. Mau tidak mau Ammar melototkan matanya agar mereka tetap berakting sempurna.
Bima dan Denis mau tak mau harus merubah aura wajah menjadi hangat walau sekali lagi mereka hanya sedang berpura-pura kuat.
"Selamat jalan Bapak Ammar dan istri. Semoga di perjalanan nanti lancar tanpa ada hambatan. Selamat sampai Makassar." ucap Bima. Ia lebih dulu menjabat tangan Ammar.
"Doa saya pun sama, Pak." Denis sudah tidak mampu menahan rasa sedih. Ia tertunduk.
"Saya pun sedih meninggalkan kalian. Kalian boleh peluk saya. Tapi tidak dengan iringan air mata. Ayo!" ujar Ammar pelan sekali.
Buru-buru keduanya bergantian merangkul Ammar layaknya laki-laki normal yang akan melepas satu sama lain.
"Tolong jaga Mama, Papa dan Keluarga saya. Pantau terus keselamatannya dan kabari apapun tentang mereka kepada saya. Dan jangan lupakan apa yang saya sudah jelaskan tadi di rumah Pak Mahendra, kalian mengerti 'kan?" perintah Ammar saat dirinya memeluk Bima dan Denis secara bergantian.
Mereka hanya mengangguk lemah. Susah sekali untuk berakting kuat.
Ammar melepas pelukan itu setelah mengelus punggung mereka naik turun sebagai modal kekuatan.
Yuni menatap Gana. Perasaannya pun sama seperti Bima dan Denis yang gegana karena akan berpisah. Wanita itu memilih menunduk sambil menyeka air matanya. Ingin sekali memeluk Gana, tapi ia ingat. Hal itu tidak boleh dilakukan. Ammar membuat mereka seakan tidak saling mengenal. Namun Yuni menyerengit dahi, saat di hadapannya sudah ada sosok Gana.
Yuni mendongak. Bulir-bulir air matanya pun langsung jatuh. Gana beringsut untuk memeluk.
"Apakah kita pernah dekat, Bu? Jika iya, maaf saya masih belum bisa mengingatnya."
Walau Gana amnesia. Tapi rasa di hati tidak bisa ditutupi. Saat melihat Mulan atau Yuni pertama kali, hati dan batinnya bergetar. Rasa nyaman kepada dua wanita itu membuat Gana merasa mereka bukanlah orang jauh yang baru dikenal. Melainkan mempunyai kenangan yang Gana sendiri belum sanggup mengingatnya.
Ammar menatap Yuni yang sedang dipeluk Gana. Yuni menatap wajah lelaki itu yang sedang berbalik menatapnya dengan gerakan mata agar hanya diam tanpa harus menjawab.
"Hati-hati ya, Bu. Semoga Bapak dan Ibu selamat sampai rumah." Yuni memaksa kuat. Ia mengalihkan pertanyaan yang Gana sodorkan.
Gana sepertinya faham. Kalau Yuni tidak mau membahas. Entah kenapa, dan wanita itu tidak mempermasalahkan. Ia mengusap air mata Yuni yang sudah luruh dengan ujung pasmina nya.
"Aamiin. Terima kasih banyak Ibu sudah mau mengantarkan kami. Semoga kami bisa kembali ke sini dan kita bisa bercengkrama lebih lama." ucap Gana.
Yuni mengulas senyum. Mengikis kesedihan, ia tahu ini adalah awal kebahagiaan untuk para majikannya. Mereka pasti akan bertemu lagi dan hidup berdampingan dalam lintang kebahagiaan.
Setelah Ammar dan Gana berpamitan kepada Bima, Denis dan Yuni. Mereka bergegas naik ke atas kapal. Ammar lebih dulu berjalan didepan Agar bisa membantu Gana untuk menaiki anak tangga berbahan kayu menuju dek kapal.
Kini di pinggir lambung kapal. Ammar, Gana, Mahendra dan Alex sudah berdiri di sana menghadap Bima, Denis dan Yuni yang masih berdiri di pinggir dinding batas dermaga.
Gana dengan semburat wajah bahagia terus melambai-lambaikan tangan ke arah mereka bertiga, tepatnya kepada Yuni seiring kapal yang mulai bergerak.
"Dada ... sampai ketemu lagi ya ... Dada!!"" serunya senang sekali tanpa beban. Gana tetap melambaikan tangan ke arah mereka bertiga. Ammar pun ikut melambaikan tangan walau tidak seheboh Gana.
Mereka yang dilambaikan, hanya bisa memberikan feed back dengan tatapan sendu, sayu dan merana. Karena perpisahan ini memang membawa luka hati bagi Bima, Denis dan Yuni.
Entah kapan mereka akan bertemu lagi?
Entah apakah Bos nya akan selamat di sana? Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kehidupan Ammar dan Gana setelah ini.
Ammar mendekap Gana dari samping yang masih saja melambaikan tangan ke arah Yuni. Ia memandang Mahendra dan Alex dengan wajah sedih dari belakang tengkuk Gana.
"Sabar ..." ucap Mahendra hanya dengan gerakan mulut tanpa suara.
Alex mengiringi ucapan Mahendra dengan tangan mengepal di udara agar Ammar tetap kuat.
Ammar mengangguk, menerima suport batin yang mereka berikan. Lantas Ammar mendongakkan wajah ke atas, memandang langit megah yang berwarna gelap dan lebih terasa dekat.
Seraya mencari-cari keberadaan Rabb-nya yang berada si Arsy ke tujuh. "Aku serahkan hidup dan matiku hanya pada engkau, Ya Allah. Jaga aku dan istriku. Berikan kami kebahagiaan setelah ini."
Kapal milik Mahendra terus bergerak ke pertengahan laut. Badan mereka sedikit bergoyang-goyang karena guncangan ombak yang sedang ditembus oleh badan kapal. Para pengawal bersenjata, masing-masing sudah mengambil posisi di sudut-sudut untuk menjaga kapal ini.
Udara semakin dingin, menggergaji kulit mereka berempat. Mahendra menitah semua untuk masuk ke dalam bangunan kapal agar beristirahat.
Dan berangkatlah malam ini Ammar dan Gana menuju selat Makassar.
🌺🌺🌺
Semangat Presdirku❤️