
Aidan tengah memeluk perut Ammar dan menangis. Ia bersumpah tidak memakai kerudung tersebut dan dirinya juga meyakinkan kalau ia adalah lelaki sejati.
"Ya terus mana kerudungnya?" tanya Ammar dengan nada kembali naik. Sudah dua jam merayu anak itu untuk bicara. Namun, Aidan tetap urung berkata jujur. Ia hanya menangis dan meminta maaf saja.
Ammar sudah merayu dari nada lembut, sedang sampai kasar. Terakhir ia memukul kaki Aidan dengan sapu lidi.
Kini, di kamar Aidan. Hanya ada Gana yang tengah menggendong Alda, Ammar dan anak tersebut. Sedangkan anaknya yang lain di titah untuk tidur di kamar masing-masing. Kecuali, Adela yang takut karena perawakan Papanya sekarang. Ia memilih tidur dengan Aurora.
Gana pun sama seperti Ammar, sudah menunggu berjam-jam agar anak lelakinya jujur. Bukan karena kerudungnya yang di curi, tapi ia takut Aidan memiliki kelainan.
"Ya Allah, apa dosaku dulu dibayar sekarang? Kenapa harus kepada Anakku ...," lirih Ammar. Ia terus berprasangka buruk. Ia yakin anaknya ini tidak beres, karena ganjaran masa lalunya.
Ammar melepas tangan Aidan kasar, tetapi anak itu tidak mau. Ia tetap memeluk perut Ammar. "Kalau kamu enggak pakai kerudung itu, coba tunjukan di mana kerudungnya, Nak. Jangan buat Papamu semakin marah," ucap Gana. Wanita itu duduk di tepi ranjang, menatap Aidan yang masih berdiri memeluk suaminya.
"Aku beneran enggak pakai, Mah. Aku kan cowok," balas Aidan.
Ammar menghembuskan napas kasar. Ia gregetan dengan Aidan yang terus saja mangkir.
"Mau mengaku?" tanya Ammar lagi. Nada baritonnya kembali hadir. Alda sampai tidak bersua, ia hanya diam terpaku melihat Papa dan Kakaknya tengah bergelut kata.
"Aku enggak pakai kerudung itu, Pah," jawabnya.
Ammar mencoba menurunkan suaranya satu oktaf. Ia mengikuti kode mata Gana untuk mau bersabar dulu. "Ya udah kalau gitu, Papa percaya. Tapi, mana kerudungnya? Untuk apa kamu curi dari Adikmu?"
Mendengar suara Papanya yang kembali tenang. Aidan menghentikan tangis. Ia mendongak ke atas, dengan tangan masih melingkar di perut Papanya. Ammar tatap balik anak itu yang delapan tahun lalu di lahirkan di selat Makassar, saat ia tengah bersembunyi dari para kejaran mafia.
"Ayo jawab Papa, Nak. Jangan sampai buat Papa habis kesabaran," ucap Ammar.
Susah sekali untuk jujur. Aidan tetap tidak menjawab, ia takut. Jika dirinya mengaku. Kerudung yang sudah ada di tangan Nurul, akan direbut kembali oleh Taya. Dan, ia akan malu kepada Nurul, kalau pemberian darinya adalah hasil dari curian.
Aidan menggeleng. "Aku enggak tau, Pah. Di mana kerudung itu," balas Aidan. Tentu saja, hati Ammar kembali memanas. Sudah diberi kesempatan baik-baik untuk menjelaskan, malah anak ini tetap kukuh untuk tidak mau berdamai.
"Dua jam disuruh mengaku, tapi enggak mau ngaku juga!" ubun-ubun Ammar memanas lagi. Akhirnya ia seret anak itu meninggalkan Kamar.
"Tidur di halaman kamu!" sentak Ammar.
Sambil menggendong Alda, Gana mengekor langkah mereka. Aidan tidak menangis lagi, tak apa katanya tidur di halaman. Yang penting Nurul tetap pakai kerudung baru.
"Jangan, Bang. Kasian, Eyden ...," seru Gana dari belakang.
"Untuk apa membela yang salah!" balas Ammar, ia tetap menyeret anaknya menuruni anak tangga. Namanya seorang Ibu, mau sesalah apapun Anak, pasti akan ia bela.
Gana berusaha memutus cekalan tangan suami di tangan Aidan. "Bang, udah!" sentak Gana.
"Sampai hati Abang mau suruh anak kita tidur di luar?" Gana menangis, sambil menunjuk ke pintu yang menghubungkan halaman dan rumah.
Aidan ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Ammar mendekati Gana. Menatap tajam istrinya. "Begini lah kalau anak kepalang dimanja! Lihat Edyden sekarang, berani mencuri. Dan mulai menyukai pernak-pernik wanita!"
Aidan menyembulkan kepala dari balik punggung Mamanya. "Beneran, Pah. Eyden----" belum selesai menjawab, Ammar menarik anak itu lagi, dan membawanya menuju halaman. Tenaga Gana kalah besar, ia tersentak saat suaminya mau tidak mau menghardik. "Masuk ke kamar! MASUK!"
Jiwa mafia Ammar kembali terlihat dari alunan emosinya yang tengah membara. Lelaki itu shock, karena prasangka nya mendekati kebenaran kalau kelakuan anak nya ini sudah menyimpang.
Wuss.
Angin malam menyambut kedatangan Aidan dan Ammar. Begitu dingin dan penuh akan nyamuk yang bertebaran. Anak itu memeluk lagi perut Papanya. Ia takut, padahal beberapa menit lalu ia mengucap dalam hati kalau dirinya berani. Nyatanya tidak.
"Mau tidur di sini bersama setan, atau mengaku!" Ammar kembali mencecar.
"Aku beneran enggak pakai kerudung itu, Pah," balasnya. Aidan kembali menangis takut.
"Makanya jawab! Buat apa kerudung itu kamu curi? BUAT APA!" Ammar kembali menghentak anak nya. Aidan diam. Ia tetap bersikukuh.
"Astaghfirullah, Ya Allah, MAGALA! Kamu mau lihat Papa cepat mati? Kena stroke? Udah dua jam, Papa sabar nunggu penjelasan kamu, dari Papa enggak marah sampai marah begini, masih kamu enggak mau ngaku?"
Sambil menggendong Alda, Gana mendekati mereka berdua. Ammar menoleh dan melototkan mata. "Aku bilang masuk! MASUK!" Ammar jadi melampiaskan kekecewaannya kepada Gana.
"Ganaya!" kembali Ammar menyentak istrinya yang tetap ingin mematung di sini. Melihat sang suami seperti harimau yang ingin memangsa. Wanita itu akhirnya menurut, ia mendekat ke arah pintu penghubung, tetapi tidak masuk. Tetap menatap suami dan anaknya.
"Cepat ngaku! Papa hitung sampai tiga. Satu ... dua ... ti ... ti ... tiga," ujar Ammar. Dan ia kembali gemas, karena Aidan tetap keras kepala.
"Masya Allah, Ya Allah, Mama ...." Ammar lirih, ia sampai memanggil Mamanya. Ia takut, anak lelaki satu-satunya ini benar-benar memiliki kelainan. Ia tidak bisa membayangkan kalau Aidan memiliki rasa kewanitaan di dalam dirinya. Anak yang ia bangga-banggakan untuk menjadi penerusnya kelak.
Karena Aidan tetap tidak menjawab. Ammar melepas paksa anak itu sampai terjatuh di tanah. "Tidur di sini!"
"Papa!" Aidan kembali memeluk perut Papanya dari belakang dan menangis. "Jangan, Pah. Eyden takut," mohon nya. Halaman belakang begitu gelap, suara hembusan angin yang menakutkan. Membuat bulu kuduk nya meremang.
Ammar pun tidak tega. Selama Aidan hidup saja, ia tidak pernah memukul seperti tadi. Memukul kaki Aidan dengan sapu lidi saja baru pertama kali ia lakukan dan rasanya amat menyakitkan, ia sampai setega itu kepada anak sendiri.
Gana kembali mendekat. Walau dari jauh Ammar kembali melototkan mata. "Enggak ngerti dibilangin suami? Ayo, masuk! Kamu punya asma, Dek. Angin di sini kencang!" Ammar kembali menghardik.
"Tenang, Bang. Sabar dulu," ucap Gana. Ia meraih Aidan, di tatap anak itu lekat-lekat.
"Jawab pertanyaan Papa, jika Eyden sayang sama Mama. Kalau kamu enggak jawab-jawab, biar aja Mama tidur di sini. Biar Mama sakit terus mati karena----"
"Ah, Mama," Eyden menyela. Ia hentikan ucapan Gana dengan meletakan satu jari di bibir Mamanya. "Kalau gitu ayo jujur! Jujur, Nak," balas Gana.
Aidan hening lagi. Ia tertunduk lemah. Harus bagaimana sekarang? Rasanya ia tidak punya pilihan untuk tidak mengaku.
"Jawab, Magala!" Ammar yang sudah letih bekerja seharian, dan seharusnya saat ini sudah tidur, malah di rungsingkan dengan masalah anak yang sangat memilukan hati.
"Kalau kamu lelaki sungguhan. Kasih tau Papa. Buat apa kerudung itu kamu curi, lalu di mana kerudungnya?" tanya Ammar lagi.
"Kerudung itu, Eyden berikan kepada Nurul, Pah. Teman sekelasku,"
...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...
Like dan Komen, ya. Gini-gini aja ceritanya, moga enggak bosen, ya. Sebelum cerita ini tamat, dan kalian bakalan kangen. Ayo dong Like dan Komennya, guys.