
Setelah Papa Bilmar mengambil hati besannya untuk sedikit melunak, baru lah Ammar dengan intens bisa mendekap Gana di pembaringan. Memberikan motivasi agar sabar dalam menahan perihnya bekas luka operasi, serta tetap optimis bahwa anak ke enam mereka akan baik-baik saja.
Dengan doa yang banyak di panjatkan untuk Aqila, bayi cantik itu mulai berangsur pulih. Gerak napas sudah normal dan bisa di pindahkan ke ruang Perina, turunan dari ruang Nicu. Yang menandakan bahwa bayi itu sudah tidak lagi mengalami perburukan walau masih harus tetap di monitor.
Air susu Gana yang melimpah, sebelum diberikan kepada Aqila lewat bibir langsung, terlebih dulu di tampung ke dalam botol susu khusus agar payudara Gana tidak mengalami peradangan. Saat memerah susu dari dua pangkal mahoni miliknya secara bergantian, wanita ini terus meneteskan air mata.
"Kenapa harus begini, ya, Bang? Biasanya langsung aku susui ke bayi kita," ujar Gana getir.
Ammar yang ikut menyendu tapi harus tetap memperlihatkan sikap kuat, menyeka kebasahan akibat linangan air mata di pipi sang istri. "Sabar, sayang. Mungkin Allah lagi pengin kasih kita pelajaran mahal, kalau memiliki anak itu tidak selalu mudah prosesnya. Kita harus lihat ke bawah, banyak pula yang mengalami ujian seperti kita atau lebih."
Sembari terisak, Gana mengangguk pelan. "Tapi kata Dokter, Qila beneran udah nggak apa-apa, Bang?"
"Udah, kok. Makanya udah di pindah ke ruangan lain karena jantungnya mulai stabil. Katanya suruh tunggu empat jam lagi, baru Qila bisa di bawa ke sini."
Gana yang sudah bisa duduk walau hanya merebah pada punggung ranjang, akhirnya menurut saja walau ia sudah ingin sekali menyambangi Aqila, karena saat anak itu lahir, ia belum sama sekali melihatnya.
"Anak kita sempurna kan ya, Bang?" memastikan kembali padahal pertanyaan itu sudah Gana lontarkan seribu kali.
"Alhamdulillah sempurna, sayang. Maa Syaa Allah ... cantiknya kayak kamu." terhitung sudah tiga kali Ammar mendatangi Aqila walau belum bisa menggendong. Saat pertama kali mengadzani pun, Qila dalam keadaan berbaring di box.
Nada hangat penuh kasih dari Ammar yang terus memberikan kata-kata baik mengenai anak mereka, semakin membuat degup jantung Gana yang masih was-was akan Qila mulai kembali berdenyut normal. Di saat seperti ini, yang istri akan dengar memang ucapan dari suami yang terus mendukung tanpa memilih santai maupun abai.
"Enakan mana pakai alat atau cara manual?"
"M-maksudnya manual?" Gana menautkan kedua alis bingung. Ammar terbahak menatap alat pompa asi yang masih bergerak secara elektrik pada pusat dada Gana.
"Pakai bibir, Abang. Biar cepat."
Seketika Gana melototkan mata dan ingin meraup jambang Ammar untuk ia tarik. "Aku bilangin Papa, ya!"
Ammar lekas menggeleng tegas, ia tidak mau Gana membangunkan si harimau masuk angin yang pasti akan menilik nya tajam.
"Biasanya juga kan bagi dua sama anak. Susumu kan pabrik gizi kami," seloroh Ammar membuat Gana mencebik bibir masam. "Duh bakalan kangen nih nunggu dulu empat puluh hari," timpalnya lagi.
"Bisa-bisanya, ya, bahas jatah! Padahal perutku aja masih perih banget!"
"Canda, sayang. Gitu aja ngambek," balas Ammar masih dengan nada dan raut tengilnya.
"Sakit banget, ya?" Gana lekas menjauh ketika Ammar akan mengelus perut bawahnya. "Cuman mau pegang aja sama lihat, Dek."
"Nggak, ah, Bang! Ngilu." setengah jam lalu Gana masih menangis histeris berkat rasa nyeri di perut karena pengaruh obat anestesi yang sudah hilang. Dan lekas membaik walau tak berangsur lama karena obat pereda nyeri sementara.
"Mau lihat aja, Dek. Abang penasaran dari tadi." Ammar berdiri dari duduk, mencoba memegang Gana yang terus bergeliat tidak mau sembari meringis-ringis.
Di kamar perawatan yang tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua, Ammar singkap baju pasien Gana untuk ia tilik keadaan sekitar perut wanita itu.
"Maa Syaa Allah ...." Ammar sampai melongo panjang, menggeleng pelan, saat menilik perban panjang menutup luka jahitan. Saat Gana tengah merebah di meja operasi, Ammar tidak mau menatap ke arah medan operasi karena tubuhnya bergetar takut.
Gana dapati ada telaga air di pelupuk mata suaminya karena haru. "Makasih, Dek. Karena sudah mau mengorbankan perutmu yang indah ini demi anak kita." melahirkan lewat operasi caesar juga mempunyai resiko yang besar. Belum lagi dari beberapa Ibu yang melahirkan dengan proses caesar bisa timbul keloid di sekitar luka jahitan, yang akan menciptakan pandangan kurang epik di sekitar perut sang Ibu.
Gana tersenyum haru saat Ammar mencium perban tersebut lama. Ia elus punggung suaminya yang masih membungkuk karena mengecup. "Aku tak perduli berapa banyak sayatan yang akan aku hadapi dan berapa besar rasa nyerinya yang penting anak-anak kita bisa lahir dengan selamat, Bang." Ammar mendongak, lekas mencium pipi Ganaya.
"Tega sekali kalau ada para suami yang masih tidak menghargai istrinya ketika sudah berjuang sampai seperti ini. Semoga saja Abang tidak pernah masuk ke dalam kandidat suami yang tidak pernah bersyukur akan istri-istri mereka." karena kunci keberkahan suami dari Allah, terletak pada ridho dan keikhlasan istri. Siapa saja suami yang mampu menebar senyum dan keteduhan di hati istri, Allah akan menjamin rezekinya mengalir deras. Ketika suami sulit mencari rezeki, bisa lebih mushabah diri karena siapa tahu ada ucapan yang menyakiti istri dan istri belum mampu mengikhlaskan.
"Aamiin, sayang. In Syaa Allah niat baik kamu untuk terus sayang dan setia sama aku, Malaikat Aamiin kan dan selalu di Ijabah oleh Allah SWT."
"Katanya mau sampai sepuluh, Bang. Nggak usah pikirin omelan, Papa. Jangan di masukin ke hati. Papa begitu hanya karena sayang sama aku. Mumpung aku belum masuk ke usia beresiko untuk hamil, Bang."
Ammar anggukan kepala dengan ******* napas panjang. "Nanti aja kita pikirkan. Sekarang kita konsentrasi kepada penyembuhan mu dulu." dan ketika ingin mengecup bibir Ammar, Papa Galih masuk ke dalam kamar bersama Papa Bilmar dan kembali berdecak kesal.
"NYOSOR TERUS!"
"S-sabar, Mas. Terapi itu memang bagus untuk istri yang baru melahirkan. Bisa membuat rileks," bela Papa Bilmar untuk Ammar.
Papa Galih menatap Papa Bilmar jenga dengan dengusan malas. "Mas udah punya empat anak. Masa gitu aja masih kolot," timpal Papa lagi dengan senyum jenaka.
Papa Galih terus melangkah mendekati Gana dan Ammar di pembaringan, terutama menatap lekat kepada Ammar. "Awas kalau habis ini Anak saya hamil lagi. Papa tebas burung kamu, Ammar!"
Papa Bilmar hanya bisa mengode Ammar dan Gana dengan mulut komat-kamit tanpa mengeluarkan nada suara untuk menurut saja.
"Iya, Pah."
๐พ๐พ๐พ๐พ
"Akuh adayah anah gembaya celalu liang selta gembila. Kalena akuh cenang bekelja. Tak pelnah malas atau pun lengah." Adela terus menyanyi dengan tubuh yang dilenggok-lenggokan di hadapan Bayi Aqila yang tengah anteng di bouncher setelah acara Aqiqah selesai.
"Ayo don banun, tidul mulu cih!" sewot Adela karena Qila seolah tak perduli dengan suara berisiknya.
"Kuh tuga anah embayahhh!" dan saat Alda ikut-ikutan menari di sebelahnya, Adela menurunkan tatapan, lekas menjauh sembari menutup lubang hidung. "Dedek abis napain? Kok bauh?"
Alda yang tengah memakai dress brukat putih serta kerudung mini berwarna peach, yang kembaran dengan saudara perempuan lainnya serta Gana, mengangguk sembari menepuk bokongnya.
"Pup." tanpa rasa bersalah, dan kembali menyanyi mengikuti gaya Adela, menepuk-nepuk tangan di depan wajah Aqila.
Adela meringis jijik sampai berlagak ingin muntah, ia menarik Alda untuk menjauh dari Qila. Dan Alda mencebik sedih, ingin menangis.
"Kamuh bau! Nanih Dedek kacian ikutan bauh! Canah cebok dulu!" usir nya, tetap menggandeng Alda ke pertengahan ruang tamu tepatnya akan di antar kepada Mama atau Papa serta Kakak mereka. Namun, langkah keduanya terjeda saat Anggi, anaknya Alex, yang sedang menggendong sang Adik yaitu Alkala berusia enam bulan, memanggil Alda dan Adela. Mereka pun ikut hadir dalam acara Aqiqah Aqila.
"Kenapa, Dek? Kok nangis?" tanya Anggi ketika Alda akhirnya menangis karena tatapan Adela padanya seakan jijik sekali.
"Adek pup, Kak. Bau banet." Anggi dan Alkala bisa merasakan aroma bau yang memang tidak mengenakan.
Karena kasian dengan Alda yang terus menangis, sembari menggendong Alkala, Anggi gandeng Alda. "Sini sama Kakak aja."
"Ya, bayik lah." Adela yang sepertinya tidak mau di susahkan perihal Alda yang tengah puppy di celana, meleos pergi dengan wajah santai dan gembira untuk kembali menggapai Aqila.
"Kakak!" seru Alda kesal sembari menunjuk ke arah Adela kepada Anggi.
"Jangan nangis, ya." Anggi elus puncak kepala Alda yang tertutup dengan kain hijab.
"Iyah." Alda mengangguk, ia menurut saja saat di gandeng.
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ
Sampai ketemu lagi di lain waktu, ya, guys. Udah tiga bab nih yang aku kasih beruntun buat kalian dari kemarin. Moga nanti ada waktu kosong, aku bisa up lagi. Tunggu aku dan sabar, ya, sampai anak bungsu Abang dan Adek benar-benar lahir. Cerita anak-anak Ammar setelah mereka dewasa sudah tamat dan tidak akan di up di sini, ya, guys. Soalnya cerita mereka berbeda dan amat berkesan di hatiku, jadi tempat penyimpanannya agak khusus. Yang nggak bisa ngikutin kemana aku pergi, tetap aja stay di sini ya guys, banyak jutaan cerita yang lebih bagus dari aku. Intinya, kita boleh suka sesuatu, tetapi tidak boleh memberatkan
semoga sehat selalu, aamiin๐๐