
Sinar matahari pagi kembali menyapa. Hati yang sejak semalam mengharu biru kini berangsur cerah. Ammar sudah kembali ceria. Walau di sudut hatinya masih tersimpan rasa gegana.
Siapapun di dunia ini, tidak akan ada mau terpisah atau meninggalkan orang tua begitu saja tanpa sebab. Kepergiannya memang akan membuat semua orang di rundung luka, tapi kepergiannya juga bisa menyelamatkan banyak nyawa.
Dengan kepergiannya, musuh akan menganggapnya mati. Mereka tidak akan lagi menganggu keluarga Artanegara dan Hadnan. Teror-teror dari Frady yang sebentar lagi akan memuncar pasti akan menghilang. Dan jika semua keadaan sudah kembali tenang, perlahan mereka akan kembali. Menyatukan lagi hidup mereka kepada kedua keluarga besar.
Setelah sarapan dan mengobrol di ruang tamu bersama Mulan dan Mahendra, Ammar ijin pamit membawa istrinya ke halaman belakang.
"Mau ngapain, Bang?" tanya Gana. Ia menurut saja ketika tangannya di gandeng.
Ammar tersenyum dan menitah Gana untuk duduk di atas kursi bulat, sesaat langkah mereka sudah tiba di atas rerumputan. Dibawah kursi sudah di alaskan plastik lebar.
"Duduk di sini, Bang? Mau ngapain?" tanya Gana lagi. Namun ia tetap duduk sesuai perintah suaminya.
"Rambutnya di potong ya, Dek." Ammar meraih beberapa helai rambut Gana untuk ia tilik.
"Potong, Bang? Sama Abang?" Gana terkejut.
"Iya."
Gana tertawa. "Enggak ke salon aja, Bang?"
Ammar menggeleng. "Biasanya juga kan Abang yang potongin rambut kamu."
Gana membolakan matanya seraya tidak percaya. "Rumah kita kan jauh dari kota. Terpencil sekali karena di desa. Enggak ada salon di sana. Jadinya Abang yang selalu potongin rambut, Adek." Ammar meraih sisir dan gunting yang sudah di siapkan Mulan di dalam kotak dibawah dekat kursi.
Gana tersenyum dan mengangguk. "Maaf ya, Bang. Adek enggak ingat."
"Abang faham."
Ammar mulai menyisir rambut Gana yang memang sudah panjang sebatas lengan. Rambut hitam yang dulunya sangat terawat. Kini, malah terlihat sangat kusut dan kering. Dua minggu menghilang, rambut Gana pasti di rawat secara asal. Hanya pakai sampo biasa.
Ammar ingin membuat Gana segar dengan tampilan baru, dan tentunya untuk mengecoh lawan yang takut-takutnya akan menemui mereka di tempat baru.
Gana yang dulunya paling pantang untuk memotong rambutnya menjadi pendek lalu mengangguk setuju. "Ya udah, Bang. Potong aja." jawabnya. Ia menatap Ammar dengan senyuman. Lalu beralih memandang kedepan hamparan halaman yang begitu luas.
Gana dipakaikan celemek didepan dada, agar nanti saat dipotong butiran-butiran rambut tidak menempel di dadanya. Ammar memang sudah memutar-mutar cara memotong rambut yang gampang untuk seorang wanita di youtube.
Model potongan yang akan Ammar pilih yaitu dengan model lurus saja. Yang gampang. Ia akan memangkas rambut Gana sampai sebahu.
Ammar mulai bergerak memotong rambut Gana tentu sesuai insting dari gerakan jari-jemarinya, sambil bersenandung lagu. Gana hanya diam dan menurut, tidak takut jika rambut yang sedang di gunting Ammar akan berbentuk seperti apa.
Enggak takut pitak? Haha.
"Lagi pangkas rumput ternyata?" Mahendra menoleh ketika Alex menyambar lamunannya. Mahendra tengah berdiri di ambang pintu ke arah taman, dan asik menatap mereka yang sedang romantis berduaan di bawah sinar matahari.
"Pangkas rambut dong, masa pangkas rumput. Kamu kali pangkas rumput lembah tornado kamu." kekeh Mahendra menimpali ucapan Alex barusan.
Gelak tawa Alex muncul. Ia menghentak bahu Mahendra. "Kebetulan nih udah lebat, si Ammar mau enggak ya bantuin cukurin."
Tawa Mahendra mengaung-ngaung. Perutnya terasa sakit.
"Dasar Omen."
"Ya, Bambang."
"Bapak gue, sial!" dengkus Mahendra.
Mereka kembali menatap Ammar yang sekarang mirip mamang-mamang Asgar.
"Cinta banget dia sama Gana. Sampai rela melakukan semua ini." tutur Alex.
"Ammar bilang, dia akan jalan terus. Mau itu pahit, susah dan menyakitkan. Yang penting dia bisa selalu bersama istrinya."
Alex mengangguk. Tentu mereka tahu Gana adalah wanita yang sejak dulu di impikan Ammar.
"Bagaimana keberangkatan nanti malam?" tanya Alex.
"Kapal sudah siap. Anak-anak buahku juga sudah siaga. Kita akan berangkat pukul sepuluh."
"Oke, baiklah."
Mahendra juga sudah menghubungi Bima, Denis dan Yuni agar nanti malam datang ke rumahnya. Bima dan Denis di titah untuk mencairkan dana tabungan milik Ammar untuk di pecah ke beberapa atm.
Dan uang cash sebesar tiga ratus juta yang akan di masukan ke dalam koper. Yuni hanya di minta untuk menyiapkan perhiasan Gana yang Ammar simpan di dalam lemari.
Tanpa wanita itu tahu, untuk apa ia mempersiapkannya. Mahendra akan memberi surprise kepada Bima Denis dan Yuni tentang kembalinya Ganaya.
🌺🌺🌺
Sesuai perintah Mahendra tadi pagi. Denis dan Bima berhasil memecah tabungan Ammar untuk dibagi ke beberapa Atm. Dan membawakan uang cash untuk Ammar menyambung hidup. Setelah itu Bima dan Denis menjemput Yuni untuk dibawa ke rumah Mahendra.
Kini, mereka semua sudah duduk berada di ruang tamu. Disambut Mahendra dan Alex.
"Bapak beneran ada di sini 'kan, Pak?" tanya Bima. Yang sedari tadi menyisir keadaan rumah untuk mencari sosok Ammar. Pasalnya Bima dan Denis sejak dua hari ini ketar-ketir. Ia takut Ammar ditangkap dan dihabisi oleh anak-anak buah Farina atau Farhan. Nomor ponsel Ammar tidak bisa mereka hubungi. Mahendra menitah Ammar untuk mengganti simcard ponsel agar tidak bisa di lacak keberadaanya oleh siapapun.
Mahendra mengangguk. "Bukan hanya Bapak tapi istrinya juga ada di sini."
"HAH?" ketiganya berseru. Yuni memegang tangan Bima dan berbisik. "Maksudnya Ibu Gana kan, Mas?"
Bima masih tidak faham. Ia lebih memilih untuk bertanya kepada Mahendra tapi Denis menyelak.
"Mak---maksudnya Ibu Gana kami, Pak? Dan Pak Ammar baik-baik aja 'kan? tanya Denis dengan suara terbata-bata. Rasa kaget, tidak percaya dan bahagia menjadi satu dalam wajah mereka.
"Betul." dan Mahendra kembali terselak. Ammar yang menjawab karena langkah kakinya sudah sampai di ruang tamu.
"Bapak!" seru Bima dan Denis bersamaan. Dua hari tidak melihat Ammar rasanya rindu luar biasa. Mereka beranjak bangkit dan menerjang Ammar. Seperti layaknya adik yang baru bertemu dengan Kakaknya.
"Kita cariin Bapak. Tapi ponsel Bapak enggak aktif-aktif. Kami takut, Pak." seru mereka berdua sambil memeluk Ammar.
Yuni mengelus dada karena bisa bernapas lega bahwa majikannya tidak apa-apa.
"Sudah-sudah jangan lembek. Kalian harus kuat kayak saya!" Ammar menenangkan dua anak bayinya.
Lantas membawa dua lelaki itu untuk kembali ke sofa.
Yuni beranjak berdiri untuk mencium tangan Ammar. "Kamu sehat, Yun?"
Yuni menyeka air mata yang ingin turun. "Alhamdulillah sehat, Pak. Bapak kemana aja? Kenapa enggak pulang ke rumah?"
Ammar yang sudah menghempaskan dirinya duduk di antara Mahendra dan Alex hanya memberikan senyuman. "Sehabis saya membunuh Farhan tapi tidak berhasil, saya menemukan Ibu. Dan langsung saya sembunyikan di sini, maka dari itu saya---"
Bola mata mereka kembali membulat. "Jadi benar kalau Ibu sudah ketemu, Pak?" Yuni menyerobot penjelasan Ammar yang belum selesai.
Bima menyentuh tangan Yuni sebagai syarat untuk diam dulu. Ammar tertawa. "Belum halal tuh jangan sentuh-sentuh."
Yuni dan Bima refleks menjauhkan diri. Mereka malu di goda. Dan Ammar mulai menceritakan bagaimana skemanya ia menemukan Gana dan langsung menyembunyikannya di sini.
"Jadi untuk itu, di depan istri saya. Kalian harus biasa saja. Yuni dan Bima seolah suami istri. Bima dan kamu, Den." Ammar menunjuk Denis. "Seolah kalian berdua adalah atasan saya di perusahan Bapak Mahendra."
What?
Ingin sekali Bima dan Denis menyergah, tapi dari sorot mata Ammar tertlihat tidak bisa untuk dibantah.
"Dan kamu Yun. Jika nanti bertemu Ibu. Usahakan bersikap biasa, anggap kalian tidak pernah bertemu. Ini juga berlaku untuk kalian berdua, jangan sampai adegan seperti memeluk saya kalian lakukan kepada Gana, akan saya rajang tubuh kalian."
Mahendra dan Alex tertawa. "Otot kalian saja besar. Nyatanya melow." goda Alex kepada Bima dan Denis. Yuni yang ikut tertawa langsung diam, mana kala Bima menatapnya dengan tatapan menuntut. Lelaki itu berbisik. "Awas kalau ikut ngetawain. Mas enggak jadi nih, nikahin kamu."
"Pak, nih Mas Bima malah---"
Buru-buru Bima membekap mulut Yuni.
"Segera nikahi Yuni, Bim. Kalian boleh tinggal di rumah saya, sekalian menjaga sampai kami kembali. Saya sudah mengatur semua ini dengan Mama saya.
Jadi tidak ada larangan untuk kalian tinggal. Dan jangan lupa untuk bayar Gaji Bik Ratih, Bim. Jangan sampai di pecat. Bik Ratih juga banyak jasanya ketika membantu saya mengurus Gana saat lumpuh.
Ambil saja dari sisa uang tabungan saya yang masih kamu simpan untuk membayarnya. Dan untuk Apartemen pribadi saya, silahkan tempati Den. Kamu enggak perlu ngekos lagi ditempat lain. Serta menikahlah.
Kalian bertiga harus menutup rapat-rapat masalah saya dan Ibu. Tentang kepergian dan persembunyian kami. Kepada siapapun, kecuali Mama saya. Hanya beliau yang tau.
Dan kalian harus siap, jika beberapa hari kedepan pasti akan ada yang menyatroni rumah. Anak buah Frady pasti bergegas mencari saya. Bima dan Denis harus sering mengontrol rumah, agar Yuni dan Bik Ratih terjaga keamanannya.
Setelah saya sudah berangkat ke Makassar, tolong mobil yang saya gunakan sekarang kamu letakan saja di tepi jurang saat Gana kecelakaan. Biar mereka mengira saya bunuh diri di sana.
Kalian semua faham maksud dan keinginan saya?"
Dan mereka bertiga mengangguk. Yuni merogoh tas dan mengeluarkan kotak berlian kepemilikan Gana.
"Ini, Pak." Yuni menyodorkan kotak perhiasan itu dan Ammar menerimanya.
"Makasih, Yun."
"Sama-sama, Pak."
Kemudian datang lah Gana bersama Mulan dari dalam kamar. Mulan membantu Gana berkemas, berdandan dan menitah untuk memakai baju miliknya. Karena sebentar lagi mereka akan berangkat ke dermaga yang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam.
Gana yang wajahnya sudah terlihat segar, anggun, dan begitu cantik karena tambahan olesan bedak, blush on tipis dan lipstik berwarna pink. Begitu membuat dirinya semakin mempesona.
Rambutnya sudah dipotong sampai sebahu. Ternyata hasil potongan Ammar tampak memuaskan hati Gana. Wanita itu tidak henti-henti menatap dirinya di cermin sejak siang. Dengan dress panjang menutup kaki, wanita itu sampai di hadapan mereka semua di ruang tamu.
Alex bangkit pindah ke sofa lain. Agar Gana bisa duduk di sebelah Ammar yang satu sofa dengan Mahendra.
Ammar bangkit berdiri yang diikuti dengan Bima, Denis dan Yuni. "Kenalin, Dek. Ini Bapak Bima. Atasan Abang."
"Gana, Pak." ujar Gana lembut dan sopan. Ia sampai menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Begitu polos seperti terlahir kembali tanpa dosa.
"Dan ini, Bapak Denis."
"Gana, Pak."
Dan ini . "Ibu Yuni, istrinya Pak Bima."
"Gana, Bu."
Yuni menerima jabatan tangan itu dan dirinya melamun. Menatap Gana tanpa ekspresi. Ingin sekali ia peluk wanita ini, untuk menumpahkan rindu. Padahal dulu, mereka sangat akrab. Sampai Yuni yang membantu Gana untuk mengungkap kejahatan Ammar.
"Yun." Bima mengelus punggung Yuni. Wanita itu pun terlonjak dari lamunannya. Ia menyeka air mata yang baru menggenang di pelupuk.
"Yuni, Bu." jawab Yuni kepada Gana. Walau pun majikannya tidak ingat kepadanya. Tapi Yuni senang, karena Ammar tidak akan menderita lagi. Dan Gana memang tetap hidup.
Karena persiapan keberangkatan sudah selesai semua. Barang-barang yang Ammar akan bawa menuju Makassar sudah ready. Lantas mereka semua bergegas berangkat menuju dermaga. Gana, Ammar, Mahendra dan Alex akan menaiki kapal laut pribadi milik Mahendra.
Mulan hanya diizinkan untuk mengantar Gana sampai ke ambang pintu. Tadinya Mulan ingin ikut ke dermaga. Tapi Mahendra melarang, karena Mulan harus menjaga Dava di rumah.
Sedangkan Bima, Denis dan Yuni hanya diizinkan untuk menemani sampai ke dermaga. Awalnya mereka merengek meminta ikut sampai Makassar. Tetapi Ammar menolak, perjalanan ke Makassar menggunakan kapal laut akan memakan waktu dua hari. Gifali pasti akan bingung mencari kedua asisten itu di EG.
"Makasih banyak ya, Bu. Atas kebaikan Ibu selama kami menginap. Saya dan Abang sudah banyak merepotkan. Sampai Bapak harus mengantarkan kami pulang ke Makassar." ucap Gana.
Mulan tidak menjawab. Ia malah memilih memeluk Gana kuat-kuat. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Sampai dimana Mahendra menggelengkan kepala samar sebagai kode agar Mulan menghentikan tangisan dan pelukan itu. Ia tidak mau Gana curiga.
"Baik-baik ya, di sana." ucap Mulan. Gana mengusap kebasahan di wajah Mulan.
"Tunggu kami ya, Bu. Insya Allah kami akan kembali lagi untuk bertamu ke sini."
"Aamiin."
Delapan mobil yang sudah berisikan pasukan Mahendra, beriringan membawa Gana dan Ammar menuju dermaga. Satu helikopter milik Mahendra mengawasi keberangkatan mereka semua dari udara. Tidak mau membiarkan satu penyusup pun untuk bisa melukai atau menggagalkan kepergian mereka kali ini.
Ammar dan Gana berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh leader bodyguard milik Mahendra. Sedangkan Alex dan Mahendra berada dalam satu mobil, di belakang mobil mereka. Begitupun Yuni, Bima dan Denis berada di mobil yang lain. Semuanya di jaga dalam kekuasaan Mahendra dan tentunya Allah SWT.
Gana sampai terpana dan bertanya-tanya salam hati. Apa keistimewaan suaminya sampai mendapatkan perlakuan seperti ini dari para Bosnya.
Tanpa Gana ketahui, Ammar lah yang menjadi Bos utama dalam permainan ini.
"Sini tidur." Ammar menepuk kedua pahanya. Gana yang sejak tadi memeluknya dari samping, lantas mengangguk. Entah kenapa matanya memang sudah ingin terpejam.
Gana beringsut untuk meletakan kepalanya dipangkuan Ammar. Memeluk perut suaminya dan mulai tertidur. Ammar membelai-belai rambut Gana agar wanita itu semakin nyenyak.
Ammar terus menyorot jalan kosong dan khusus yang sedang mereka lintasi. Awan gelap menjadi saksi kepergian Ammar dan Gana untuk bersemyembunyi, menyelamatkan diri, memulai rumah tangga baru dan berhijrah agar semakin dekat kepada Semesta Alam.
"Mah, Pak, Kak. Adek berangkat ya. Doakan kami berdua. Agar bisa kembali lagi ke dalam pelukan kalian tanpa kurang satu apapun." air mata Ammar tumpah lagi. Ia sampai mengusap pipi Gana karena tertimpa rintikan air matanya.
Ammar kecup pipi istrinya berulang kali, sebagai penguat untuk jiwa dan raga yang sebetulnya belum kuat sama sekali.
"Aku harus kuat! Harus. Demi istriku." Ammar mencium lagi Gana sampai wanita itu bergeliat. "Kita jalan terus ya, sayang. Kita hadapi semua ini." Ammar mencium lagi istrinya. Hanya Ganalah penguat dan penenang nya.
"Maafkan Adek. Pah, Mah, Kak. Adek sayang kalian."
Wussshhh.
Angin terus berhembus kencang seiring ban-ban mobil yang bergesek dengan aspal jalan. Membawa mobil dalam kecepatan penuh. Tangan kekar para sopir yang begitu ahli dalam mengemudi, harus membawa mereka sampai tepat waktu di kapal.
🌺🌺🌺🌺
Maapin aku baru up sekarang. Soalnya, kemarin aku lagi capek banget. Kepoin Story IG aku bagi yang belum temenan. Aku biasanya kasih tau, kapan waktunya aku update.
IG ku : @megadischa
Like dan Komennya ya guys.
New hair and new life🌺🌺