
Berbekal ilmu malih rupa pemberian Nyai Loreng, Suripto memberanikan diri keluar dari hutan belantara itu. Ia diperintahkan untuk membawa dua orang bayi untuk Nyai Loreng. Meskipun ia takut bertemu dengan Larasati, Suripto sudah membulatkan tekad untuk membalaskan dendam pada Larasati. Dengan hati-hati ia berjalan menyusuri lebatnya pepohonan.
Tapi Larasati terlalu sakti untuk di tipu oleh tipu muslihat Suripto. Semua penghuni hutan itu telah memberitahu Larasati, jika Suripto ditolong oleh Nyai Loreng dan dibawa ke wilayahnya. Semua makhluk di hutan wingit itu lebih tunduk pada Kanjeng Ratu Ageng Sedo, jadi semua mendukung Larasati sebagai titisan perempuan gaib itu.
Baru beberapa langkah saja Suripto meninggalkan wilayah kekuasaan Nyai Loreng. Dua ular besar menghadang perjalanan Suripto, kedua besar ular itu melilit tubuh Suripto. Saking kerasnya lilitan itu, tulang-tulangnya seakan remuk.
Bruugh.
Tubuh Suripto terjatuh dari atas pohon besar, seluruh tubuhnya serasa tanpa tulang. Ia memekik kesakitan, menggelepar di tanah dengan berteriak minta tolong.
Larasati berdiri mengambang di atas tanah, ia menyeringai di hadapan Suripto. Lelaki itu terkejut melihat kedatangan Larasati, ia berpura-pura tak mengenalnya.
"Bodoh! aku tak akan membiarkan mu membunuh bayi-bayi tak berdosa itu. Sekalipun kau ingin menyerahkan darah dagingmu sendiri untuk perempuan yang membodohimu itu. Sudah cukup kejahatanmu di muka bumi ini. Ternyata kesempatan yang Tuhan berikan untukmu tak akan pernah mengubahmu menjadi manusia berhati, lebih baik kau lenyap saja dari muka bumi ini!"
"Da darimana kau tahu itu? dan kenapa kau bisa mengenaliku?" kata Suripto dengan membulatkan kedua matanya.
"Apa kau lupa perkataan perempuan licik itu?"
Suripto mengingat kembali ucapan Nyai Loreng. Ia memang mengatakan jika manusia sakti seperti Larasati akan dengan mudah mengenalinya. Tapi darimana Larasati tahu rencananya untuk mencari bayi yang akan ditumbalkan untuk Nyai Loreng. Hanya itu yang masih menjadi pertanyaan di dalam hatinya.
"Tak perlu bertanya dalam hati, akan ku jelaskan padamu lelaki be*jat. Seluruh makhluk yang tinggal di hutan ini, baik yang bernyawa ataupun tidak. Mereka akan tunduk padaku, karena aku adalah titisan Ratu yang sangat mereka takuti dan segani. Tanpa mencari keberadaan mu dimana, mereka tahu jika aku sedang memburumu. Mereka berlomba-lomba memberikan informasi padaku, dan disinilah aku sekarang. Aku akan melenyapkan mu, dan memberikan jiwamu pada makhluk-makhluk tak kasat mata di hutan ini. Sementara ragamu akan di gerogoti oleh binatang-binatang buas yang sudah menantikanmu sejak semalam. Percuma kau bersekutu dengan Nyai Loreng, karena ia tak sesakti yang kau bayangkan. Hanya untuk kecantikan saja, ia membutuhkan tumbal bayi-bayi tak berdosa. Jika ia sehebat dan sesakti yang kau bayangkan, ia pasti dapat dengan mudah merubah wujudnya menjadi cantik selamanya. Dengan iming-iming membantumu untuk menghabisi ku, kau pun terpedaya oleh ucapannya. Hahaha lebih baik kau lenyap saja Suripto." pekik Larasati lantang seraya mengepakan tangannya, lalu muncul suar cahaya kemerahan yang ia tujukan ke arah Suripto.
Buumh.
"Jika dalam lima menit kau tak berhasil keluar dari lingkaran api itu, kau akan tewas terpanggang disana hahaha." tawa Larasati menggema.
"Aku akan menyiksamu sampai kau tewas dengan sendirinya. Seperti caramu menyiksa batin ibuku, sampai ia jatuh sakit dan meninggal karena melahirkan keturunan mu. Aku benar-benar muak melihatmu Suripto." tangan Larasati memanjang, menembus kobaran api dan mencekik leher Suripto. Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke tanah.
Bruugh.
Suripto sudah tak dapat bergerak apalagi berlari pergi. Tubuhnya yang remuk karena lilitan ular, ditambah seluruh uratnya yang terkoyak karena dibanting oleh Larasati.
"Wahai makhluk-makhluk dunia kegelapan, datanglah kepadaku, aku punya sajian untuk kalian semua. Santapan yang dipenuhi oleh dosa dan angkara, kalian akan puas memangsa jiwa yang berlumur dosa ini!" pekik Larasati terbang tinggi dengan menaikan kedua tangan ke atas.
Nampak sekelebatan bayangan hitam beterbangan. Mereka berkerumun melingkari Suripto, yang sedang tergeletak di tanah. Jiwa-jiwa dari dunia kegelapan dengan beringas menyantap jiwa lelaki jahat itu. Nampak Larasati tertawa puas mendengar jerit penderitaan Suripto. Akhirnya ia dapat membalaskan semua perbuatan keji Suripto. Meski demikian Larasati masih dilema dengan satu-satunya darah daging Suripto.
Larasati melesat pergi meninggalkan Suripto yang sedang menjadi santapan para makhluk-makhluk dunia kegelapan. Tapi di tengah-tengah perjalanan nya sosok nenek-nenek bungkuk menghentikan langkahnya.
"Mau kemana Nduk cah ayu hihihi. Kenapa kau ikut campur dengan urusan ku?"
"Kaulah yang telah mencampuri urusanku! pergilah dari hadapanku, aku tak punya urusan denganmu Nyai!" seru Larasati melesat pergi dari sana.
...Bersambung. ...
Apa Larasati juga akan berurusan dengan Nyai Loreng? entahlah hanya waktu yang akan menjawab semuanya. See you all 👋