Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Amarah Larasati!!!


Setelah mendapat penjelasan dari seorang Notaris, Juragan Suripto kembali ke rumah penyekapan dengan hati yang kesal, dia bertanya pada Hendra, dimana Karsiti berada, Hendra memberitahu jika perempuan itu sedang tertidur di kamar belakang.


"Setelah ini kalian harus kembali ke rumahnya, tunggu sampai Larasati datang, dan minta dia menandatangani berkas-berkas ini, jika dia menginginkan nyawa ibunya selamat, ternyata aku salah mengambil rencana, aset-aset mereka tidak dapat dijual tanpa tanda tangan keduanya, dan sia-sia saja usahaku membawa perempuan itu kesini." Ucap Juragan Suripto dengan menggebrak meja.


Tanpa diketahui ternyata Karsiti sudah bangun, setelah mendengar suara mobil suaminya dayang, dengan niat ingim bertanya tentang kabar Larasati, Karsiti tidak sengaja mendengar semua perkataan suaminya, perempuan itu menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Karsiti berjalan mundur dan menyenggol vas bunga yang ada disamping nya.


Pyaaar...


Sontak saja Juragan Suripto terkejut dan mengalihkan pandangannya, dilihatnya Karsiti sedang berdiri dibelakangnya dengan mata berkaca-kaca. Juragan Suripto bangkit dari duduknya berlari mendekati Karsiti.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, jangan salah paham dengan ucapanku Kar, tolong dengarkan aku dulu." Ucap Juragan Suripto seraya berjalan perlahan mendekati Karsiti.


"Jangan mendekat mas, aku sudah mendengar semua ucapanmu, apa yang kau lakukan pada Larasati, ternyata selama ini kau hanya menginginkan kekayaan ku saja." Pekik Karsiti berderai air mata.


"Kau salah paham padaku Kar, dengarkan dulu penjelasan ku, aku tidak melakukan apapun pada Larasati, sungguh Kar, percayalah." Sahut Juragan Suripto dengan berjalan mengendap mendekati Karsiti.


Dengan berderai air mata, Karsiti berusaha meninggalkan rumah itu, dia membalikkan tubuhnya, dan tanpa dia ketahui, Hendra sudah berada dibelakangnya, sebuah sapu tangan yang diberi obat bius menutupi hidungnya, seketika Karsiti lemas dan tidak sadarkan diri, perempuan itu pingsan dan dibawa ke sebuah gudang, kakinya terikat rantai yang menjuntai panjang, seakan dia adalah tahanan.


Setelah beberapa lama Katsiti tersadar, dia membuka kedua matanya, dan menyadari jika dia sedang terantai di dalam ruangan yang gelap.


"Larasati, dimana kau Nak?." Lirih Karsiti memanggil nama anaknya dalam kegelapan. Air matanya mengalir, tangis pedih yang bahkan suaminya sendiri tidak akan peduli.


Karsiti masih terisak menangis saat pintu gudang yang terkunci rapat itu, terjerembab terbuka diikuti suara hembusan angin. Nampak Karsiti kaget dan beringsut ketakutan, dia membulatkan kedua matanya agar lebih waspada. 


Mata Karsiti menatap sosok gadis yang masuk ke gudang dengan langkah perlahan itu. Gadis itu berhenti terdiam menatap kondisi Katsiti. Kilat kemarahan berkumpul dimatanya melihat kondisi ibu kandungnya. Karsiti membalas tatapan gadis yang sangat dia kenali sebagai anaknya itu.


"Larasati, apakah itu kau Nak." Panggilnya tidak yakin.


Karsiti masih menatap sosok gadis cantik itu dengan tidak yakin. Karena efek obat bius tadi masih dirasakannya, namun ketika dia menggapainya, sosok itu menghilang yang menyebabkan rasa sakit di hatinya bertambah.


"Ibu." Larasati mendesahkan panggilan itu lalu menghambur ke arah ibunya memeluk erat.


Karsiti langsung terisak, ketika dia merasakan pelukan dan wangi tubuh anaknya.


"Larasati, ya Allah anakku sudah kembali, kau datang Nak, Ibu sangat menghawatirkan mu." Karsiti terisak memeluk anaknya makin erat.


"Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu tidak bisa melindungimu."


"Ibu maafkan Larasati sudah datang terlambat, Larasati akan membebaskan Ibu sekarang juga."


"Tidak, Nak! Tidak!" Karsiti tiba-tiba menggeleng dengan kuat, seakan ada sesuatu yang menakutkan, dia mendorong Larasati menjauh.


"Pergi Larasati pergi, jangan biarkan mereka menemukanmu. Jangan biarkan mereka menyakitimu. Cepat, kau harus pergi Nak." Tangan lemah Karsiti mendorong bahu Larasati, namun Larasati menangkap tangan itu.


Kepanikan terlihat jelas di mata Karsiti. Mata yang dulu Larasati kenali sebagai mata yang paling indah, kini berubah suram dan penuh kesedihan.


"Ibu, dengarkan Larasati, Laras akan membebaskan Ibu dari sini. Larasati bukan gadis lemah seperti dulu lagi bu. Larasati datang kembali untuk membalaskan dendam pada iblis itu." Jelasnya dengan sorot mata penuh dendam.


"Siapa yang kau maksud Nak, yang terpenting saat ini kau harus pergi dari sini Ras, Ibu tidak ingin kau disakiti oleh mereka, Ayah tiri mu itu yang menyekap ku disini, dia menginginkan aset-aset berharga keluarga kita Ras, dia sedang meminta anak buahnya untuk mencarimu, pergilah sebelum keberadaan mu disini diketahui, kau tidak perlu menghawatirkan Ibu, mereka tidak akan berani mencelakai Ibu, saat ini Ibu sedang mengandung bayi juragan mereka, jadi Ibu qkqn tetap aman berada disini." Jelas Karsiti berurai air mata.


Nampak Larasati tersentak mendengar ucapan sang Ibu, gadis itu baru tersadar jika keturunan dari iblis yang telah menodainya, ada didalam rahim Ibunya, Larasati tertunduk dengan wajah sendu.


"Kenapa Bu, kenapa harus seperti ini, Ayah dari calon adikku adalah iblis yang telah merenggut kehormatan ku, dia juga yang telah melenyapkan Ayahku, apa yang harus ku lakukan padanya Bu." Jelas Larasati terisak pilu.


Karsiti melotot dengan apa yang baru saja didengarnya, jantung nya berdegup cepat, dengan nafas yang berderu kencang, dia menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Biadap, beengsek kau Suripto, dasar iblis, aku bersumpah akan melenyapkan mu dengan tanganku sendiri huhuhu." Pekik Karsiti berderai air mata.


"Ssst... Tenang ya Bu, jangan berteriak, kalau tidak mereka semua akan mendengar mu, biarkan Larasati yang membalasnya, tapi apakah Ibu rela, jika bayi yang Ibu kandung lahir tanpa seorang Ayah?." Larasati meyakinkan Karsiti.


Nampak Karsiti bimbang dan tidak tau harus apa, dia menyakiti dirinya sendiri dengan membentur-benturkan kepala ke tembok, sobtak saja Larasati panik dan langsung menghentikan tindakan Ibunya.


Larasati mengusap kening Ibunya dengan lembut, suar cahaya putih keluar dari tangannya, lalu perlahan suara Karsiti memelan, mata yang menyorot penuh kesedihan itu menutup dengan perlahan. Larasati terpaksa membuat Ibunya tertidur, karena jika Ibunya terus berteriak kalut, maka semua penjahat itu akan mendatangi mereka. Nampak Larasati melibaskan tangannya dan seketika saja rantai yang mengikat kaki Ibunya hancur, menabrak dinding-dinding gudang.


Kemudian dengan kesaktiannya, Larasati membawa Ibunya kembali ke rumahnya. Setelah meletakan Ibunya dengan posisi terlentang, Larasati menatap sayu wajah Ibunya. Gadis itu mengepalkan kedua tangan penuh kebencian, matanya melihat luka-luka di sekitar kaki ibunya.


Nampak amarah besar dari sorot matanya, mengubah pupil mata hitamnya menjadi semerah darah, lalu Larasati menjentikan jarinya, dia memanggil sekumpulan gagak hitam yang kelaparan.


"Aku perintahkan kalian memakan daging penjahat yang ada di rumah kuno itu. gerogoti tubuh mereka, jangan sisakan satupun manusia yang ada disana, kecuali Suripto, biarkan aku sendiri yang akan melenyapkan nya, jika kulihat masih ada anak buahnya yang hidup, akan kumusnahkan seluruh jenis kalian." Pekik Larasati dengan membulatkan kedua matanya.


...Terus dukung author ya kak, tekan tombol like dan favoritnya, jangan lupa tinggalkan hadiah dan Vote nya, Terima kasih 😘💕...


...Bersambung....