Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Satu raga dua ingatan?


Mungkinkah ada dua kepribadian didalam diriku? hanya pertanyaan itu yang selalu menghantuiku, entah aku ini siapa, batinku resah.


Larasati tersenyum manis di hadapan Awan, nampak lelaki itu malah memekik memegangi Kepala nya.


"Awan apakah kepalamu sakit, sebentar ya aku akan memanggilkan Dokter." Ucap Larasati seraya berjalan keluar.


Risma cemas dengan keadaan anaknya, perempuan itu berurai air mata dengan membaca lantunan doa-doa. Lalu seorang Dokter muda masuk ke dalam ruang inap, dia memeriksa keadaan Awan.


"Kalian tidak perlu hawatir, keadaan seperti ini sering terjadi dengan pasien yang mengalami luka di bagian kepala nya, ada beberapa memory yang mungkin terlupakan, tapi tiba-tiba dia mengingat nya kembali, dan itu sedikit menimbulkan rasa sakit." Jelas Dokter itu dengan senyum ramahnya.


Dokter menjelaskan jika dalam dua hari ini, Awan sudah diperbolehkan untuk pulang, karena kondisinya sudah mulai membaik, nampak sang ibu menghembuskan nafasnya panjang. Ada perasaan lega tak terkira, lalu Larasati merangkul Risma seraya tersenyum manis.


Dokter kembali ke arah Awan dan memberi pesan untuk nya banyak olahraga ringan, untuk memperlancar otot dan peredaran darahnya. Awan hanya menganggukan kepalanya, dia tidak tau harus berkata apa lagi, karena masih ada pertanyaan didalam dirinya yang belum terjawab.


Larasati duduk disamping Awan, keduanya saling menatap, untuk sesaat Larasati merasakan jantung nya berdebar, ketika Awan menatapnya dengan penuh kelembutan.


Perasaan apa ini, sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal semacam ini ketika berada di dekat Awan, batin Larasati dengan mengerutkan keningnya.


"Hmm... Bagaimana kondisi mu hari ini, pasti kau merasa jauh lebih baik ya, aku senang mendengar mu akan segera pulang, tapi Wan, apakah aku boleh meminta saranmu?." Tanya Larasati dengan wajah sendu.


"Apakah kau yakin aku adalah Awan? kenapa aku merasa ada jiwa lain didalam tubuhku." Sahutnya dengan mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu Wan, jika kau bukan Awan lalu siapa!." Seru Larasati terheran-heran.


Sontak saja Larasati tercekat mendengar ucapan nya, gadis itu menyipitkan kedua matanya, menatap lebih dekat lagi pada nya.


"Sudahlah Wan, kau tidak perlu menghiburku. Aku sudah berusaha melupakan masa laluku, dan kau tidak perlu mengingatkan nya lagi."


Awan meraih kedua tangan Larasati dan menggenggam nya, lelaki itu mengutarakan kerinduan padanya.


"Entah kenapa aku merasa sangat merindukan mu, hatiku sangat bahagia ketika kau datang menemuiku, aku harap kita akan selalu bersama." Ucapan dan perilaku Awan terlihat sangat aneh bagi Larasati, gadis itu terbelalak dengan ucapan nya.


Kenapa Awan berubah, sebelumnya dia tidak pernah menyentuh tanganku, dia terlalu religius untuk melakukannya, tapi sekarang dia menggenggam tanganku seakan ada kerinduan yang besar, batin Larasati penuh tanya.


Keduanya terdiam dengan posisi yang masih sama, Risma masuk ke dalam ruangan dan melihat keduanya melamun.


"Wah ibu ketinggalan cerita apa nih, kenapa kalian saling melamun begitu."


Seketika keduanya melepaskan tangan nya, nampak Larasati salah tingkah dan wajahnya memerah. Dia berjalan keluar ruangan dengan pertanyaan yang masih mengganjal.


Padahal kedatangan ku kesini untuk meminta saran darinya, tapi kondisinya belum terlalu baik, Tapi bagaimana dengan ibu, aku tidak ingin berlama-lama mendiamkan dukun itu, jika tidak ibu benar-benar akan membantu lelaki biadap itu keluar dari penjara, tapi ada satu masalah lain, Kanjeng Ratu sedang murka padaku, dia mengira aku terlibat dalam menghilang nya mas Adinata, padahal aku sama sekali tidak tau apapun, batin Larasati resah.


Ditengah kekalutan hatinya, Larasati teringat ucapan Awan. Dia berkata jika mungkinkah Awan adalah mas Adinata, apa mungkin begitu, tapi setauku Awan adalah orang sholeh, tidak mungkin dia berhubungan dengan hal gaib, pasti dia hanya menggodaku saja, batinnya penuh pertanyaan.


...Bersambung. ...