Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Kecurigaan Awan.


Tanpa terasa Awan menghabiskan waktunya disana cukup lama, sehingga lelaki itu semakin akrab dengan Larasati dan juga ibunya, sementara juragan Suripto hanya berdiri mematung di depan pintu ruangan saja, nampaknya dia sangat kesal melihat Awan yang mudah akrab dengan istri dan anak tirinya.


Apa yang harus aku lakukan untuk menjauhkan lelaki itu, batin juragan Suripto dengan tatapan sinis.


"Baiklah sampai kapan ibu berada disini, dan apa yang dikatakan dokter tentang kandungan ibu?", tanya Larasati penasaran.


"Alhamdulillah nduk, kehamilan ibu baik-baik saja, hari ini juga ibu sudah diperbolehkan pulang, tapi dalam satu bulan sekali ibu harus mengecek kandungan ke dokter spesialis, untuk berjaga-jaga saja semoga tidak ada gangguan pada kandungan ibu nduk", jawab Karsiti menyunggungkan senyumnya.


Dan terdengar oleh mereka jika juragan Suripto tengah menerima panggilan telepon yang agak penting, karena dilihat dari raut wajahnya, dia nampak cemas dan kebingungan dengan berjalan mondar-mandir di depan pintu, lalu Karsiti menrgur suaminya dan bertanya apa yang telah terjadi, dan setelah menutup panggilan telepon itu, juragan Suripto menjelaskan jika ada kendala pada pengiriman barang yang ada di luar kota, sehingga dia harus mengatasinya secara langsung, tapi dia enggan meninggalkan istrinya tanpa dirinya.


"Sudahlah pak, jika itu sangat mendedak dan penting, kau pergi saja, lagipula sudah ada Laras disini, nanti aku bisa pulang bersamanya", ucap Karsiti.


Sebenarnya tidak ada masalah dengan pengiriman barang, hanya saja aku harus pergi ke lereng gunung itu, karena adik ipar Umar sudah menemukan calon istri yang akan ku berikan pada mbah Warno, dan aku tidak mungkin berada disana dalam waktu yang sebentar, karena akan ada banyak hal yang aku kerjakan disana, tapi kehamilan Karsiti membuatku gelisah, apakah aku bisa meninggalkan nya atau tidak, batin juragan Suripto dengan memijat pangkal hidungnya.


Kemudian Awan menawarkan diri untukn mengantarkan mereka kembali ke rumah, mengingat kondisi kaki Larasati yang baru saja cidera.


"Jika ibu berkenan, saya bisa mengantar ibu sampai di rumah dengan selamat, apalagi kaki Larasati masih sakit, untuk berjalan sendiri saja dia kesusahan, dan suami ibu harus pergi keluar kota, saya tidak keberatan untuk membantu ibu pulang", ucap Awan menawarkan bantuan.


"Aku bisa meminta sopir untuk mengantar mer ka pulang, kau tidak perlu repot-repot membantu keluargaku", seru juragan Suripto.


"Sudahlah pak, tidak apa-apa biarkan nak Awan yang akan mengantarkan kami pulang, kau bersiaplah untuk perjalanan keluar kota, lagipula sopir di rumah tidak ada, dan Umar pasti akan pergi bersamamu kan pak", sahut Karsiti seraya bangkit dari tidurnya.


Sialan aku tidak punya pilihan lain jika Karsiti sudah berkata seperti itu, semoga lelaki itu tidak lebih akrab lagi dengan Laras, jika tidak usahaku akan sia-sia, dan pekerjaan ku akan semakin bertambah, karena dengan kehamilan Karsiti, aku harus mengatur ulang semua rencanaku, batin juragan itu dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Setelah itu juragan Suripto berpamitan pada istri dan anak tirinya, karena dia harus pergi secepatnya, nampak juragan Suripto menatap tajam melihat lekuk tubuh Larasati yang membuatnya tiba-tiba panas dingin, terlihat olehnya gundukan kembar Laras menyembul keluar karena posisi duduknya yang agak merunduk, tapi Awan dengan cepat memberikan jaket yang dipakai nya untuk menutupi tubuh Laras.


"Ini pakai saja jaketku Ras, sepertinya kau masih kedinginan karena hujan semalam, bukankah dokter mengingatkanmy untuk banyak istirahat, lebih baik kau berbaring di sofa saja, biarkan aku yang akan menunggu kedatangan dokter", celetuk Awan membuyarkan pandangan mata juragan Suripto.


Terlihat juragan Suripto salah tingkah dan mengakihkan pandangan matanya ke arah Karsiti, lalu lelaki itu mengecup kening istrinya dan berpamitan pada pergi.


Setelah kepergian juragan Suripto, dan Larasati memejamkan matanya, terdengar pembicaraan antara Karsiti dan juga Awan, keduanya sedang mengobrol dan membahas tentang Larasati, lalu Awan pun berbasa-basi dan menanyakan tentang wajah Laras yang tidak mirip dengan ayahnya, tapi juga tidak begitu mirip dengan ibunya, dan Karsiti pun menjelaskan jika anak gadisnya itu memang paras nya lebih mirip dengan almarhum suaminya yang pertama.


"Kau memang benar nak, raut wajah Larasati tidak mirip denganku, karena dia adalah anak kesayangan almarhum suamiku yang telah tiada, dengan melihat wajah Laras, aku bisa mengingat kembali wajah ayahnya, dan suami ku yang sekarang adalah ayah sambungnya, tapi beliau juga sangat menyayangi Laras, dan selalu menghawatirkan nya, kalau tidak ada dia, entah apa yang akan terjadi pada kami", jelas Karsiti dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf Bu, saya tidak bermaksud membuatmu bersedih seperti ini, semoga almarhum ayah Laras husnul khatimah".


"Iya nak Awan tidak apa-apa, ibu sangat senang bisa mengenalmu, sebelumnya Larasati tidak pernah tersenyum lepas seperti tadi, tapi setelah mengenalmu dia bisa menjadi dirinya yang dulu lagi, gadis yang sangat ceria dan murah senyum".


"Memang apa yang telah merubah Laras menjadi pendiam dan pemurung bu?", tanya Awan dengan mengkerut kan keningnya.


"Ceritanya panjang nak, mungkin lebih baik jika kau tau dari Larasati saja, ibu tidak bisa menjelaskan semuanya, biarlah kepahitan itu terkubur dalam-dalam", jawab Karsiti dengan meneteskan air mata.


Kenapa ibunya Laras terlihat terpukul sekali ketika menceritakan keadaan Larasati, sebenarnya apa yang telah terjadi pada keluarga mereka, batin Awan dengan mengkerut kan keningnya.


Tidak lama setelah itu dokter pun datang memeriksa keadaan Karsiti dan memberikan nya resep obat beserta vitamin yang harus di minumnya, terdengar dokter mengatakan jika Kareiti sudah boleh pulang saat itu juga, karena kondisinya sudah lebih stabil, setelah itu Karsiti bersiap untuk kembali ke rumahnya, lalu dia membangunkan anak gadisnya yang terlelap di sofa, nampak Larasati menyunggingkan senyumnya ketika ibunya mengatakan jika dia boleh pulang saat itu juga, kemudian Larasati memeluk ibunya seraya berkata, jika dia akan selalu menjaga ibu dan calon adiknya.


"Ibu harus selalu sehat ya, jangan terlalu lelah supaya adik Laras yang ada didalam perut ibu baik-baik saja, Laras berjanji akan selalu menjaga ibu dan juga adik Laras ini", ucapnya dengan mengusap lembut perut ibunya.


Nampak Awan tersenyum melihat kecantikan Larasati yang semakin tersirat ketika dia menyunggingkan senyumnya, sementara Karsiti yang melihat pandangan Awan terhadap anak gadisnya, dapat mengetahui jika lelaki itu memiliki perasaan untuk Larasati.


Semoga lelaki ini bisa menyembuhkan luka batin anakku, aku tau dia adalah lelaki yang baik meski aku baru saja mengenalnya, terlihat dari cara berbicaranya yang santun sepertinya dia dari keluarga terhormat, batin Karsiti didalam hatinya.


...Terus dukung Author ya, semangatku hanyalah dari dukungan kalian saja para pembaca tercinta, salam sayang untuk kalian semua 🤗...


...Bersambung....