
Karsiti mendengar kabar tentang Juragan Suripto yang masuk ke dalam penjara, dia belum bisa terima begitu saja, jika Juragan Suripto hanya akan dihukum atas pembunuhan yang dilakukannya pada Umar, Karsiti juga menginginkan keadilan untuk Larasati dan juga almarhum Juragan Darman, tapi dia tidak memiliki cukup bukti, karena dia hanya tau hal itu dari Larasati, sementara Larasati tidak memberikan penjelasan yang lebih padanya.
Semenjak Larasati menemuinya di gudang rumah kuno itu, gadis itu belum kembali ke rumah, untuk menemui ibunya, sehingga Karsiti cemas memikirkan keadaan nya. Pagi itu Karsiti pergi ke kantor polisi untuk menemui Juragan Suripto, Karsiti sengaja menemuinya, supaya dia mengakui kejahatannya pada anak dan almarhum suaminya.
Di sebuah ruangan berjeruji besi, di dalamnya ada Juragan Suripto yang sedang duduk dengan tangan yang terborgol, Karsiti melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang terhalang jeruji besi itu, ditatap nya Juragan Suripto dengan penuh amarah dan rasa benci. Karsiti memasukkan tangannya melalui sela-sela jeruji dan memberikan sebuah tamparan keras di wajah Juragan Suripto.
Plaakk...
"Biadap kau mas, teganya kau menghancurkan hidup keluargaku, bahkan kau juga kan yang merenggut kehormatan Larasati, bicaralah mas, akui semua kejahatanmu, jangan-jangan kau juga sengaja membunuh Umar demi menghilangkan saksi atas kejahatanmu, bicara mas, jangan bungkam!." Seru Karsiti berurai air mata.
"Aku tidak melakukan semua itu Kar, darimana Larasati mengetahui semua itu, apakah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau aku yang telah menodainya, aku juga tidak sengaja membunuh Umar, karena saat itu dia kerasukan dan berusaha mencelakai ku, demi membela diriku sendiri, aku terpaksa mencelakai Umar, tapi pembelaan diriku di anggap sebagai bentuk kejahatan, mereka semua tidak ada yang percaya padaku, karena melihat kondisi Umar yang sebelumnya hanya terbaring di tempat tidur, padahal setelah itu dia mengamuk seperti orang yang kerasukan hantu." Juragan Suripto bercerita dengan wajah sendu.
"Meski Larasati belum menjelaskan padaku, apakah benar kau atau bukan pelakunya, dia sempat mengatakan padaku jika kau lah dalang dari semua kejahatan yang terjadi padanya, tapi aku percaya padanya mas, tidak mungkin Larasati asal bicara tanpa ada bukti." Sahut Karsiti terisak.
"Baiklah jika kau percaya dengan apa yang dikatakan Larasati, berikanlah bukti ataupun saksi, kalau memang akulah dalang dari semua kejahatan itu, pasti kalian tidak akan pernah menemukannya, karena memang bukan aku pelakunya."
"Nyatanya kau berniat merampas aset-aset berharga milik keluargaku, apa itu belum cukup membuktikan nya mas." Karsiti menatap tajam dengan menggebrak meja yang ada di depannya.
"Kalau tentang aset itu, aku mengaku bersalah Kar, aku khilaf, aku terpaksa melakukan itu supaya penjahat yang mengancamku untuk menyakiti kau dan Larasati tidak berbuat nekat, kau salah paham dengan tujuanku, karena tidak ingin kau pergi dari rumah itu dengan amarah dan salah paham, anak buahku terpaksa mengurung mu di gudang itu, percayalah padaku Kar, yakinkan Larasati, jika bukan aku yang telah menodainya." Juragan Suripto berurai air mata dengan sesekali merintih menahan rasa sakit di perutnya.
Untuk sesaat Karsiti terdiam, dia berusaha mencerna ucapan Juragan Suripto, tapi tiba-tiba Juragan Suripto memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, rasa sakit yang diberikan Larasati saat itu akan sering dirasakannya. Karsiti membulatkan kedua matanya, dia berteriak meminta pertolongan, karena tidak tega melihat kondisi Juragan Suripto.
Beberapa petugas Polisi datang kesana, mereka membawa Juragan Suripto ke Ruang Kesehatan, Karsiti yang termakan ucapan Juragan Suripto merasa cemas, dia meminta ijin pada Polisi untuk melihat keadaan lelaki yang masih berstatus menjadi suaminya, tapi Polisi tidak memberikan ijin pada Karsiti.
"Maaf Ibu, selain petugas tidak ada yang boleh masuk ke dalam area Lapas." Jelas seorang Polisi.
Akhirnya Larasati pergi dari sana dengan langkah gontai, hatinya kembali bimbang setelah mendengar penjelasan Juragan Suripto, apalagi dia melihat kondisi nya yang sedang sakit, hatinya sebagai seorang manusia menjadi iba.
Aku harus segera berbicara dengan Larasati, apakah dia benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau mas Suripto adalah dalang dari kejahatan itu, atau dia hanya mendengar ucapan dari orang lain, tanpa melihat bukti, batinnya didalam hati dengan wajah sensu.
Disepanjang perjalanan Karsiti melamun, hati dan pikirannya sangat kalut, tiba-tiba ada suara cahaya hitam memasuki tubuhnya, sontak saja seluruh tubuhnya bergetar, seakan ada penolakan didalam diri Karsiti, tapi kekuatan hitam itu terlalu kuat dan menguasai dirinya.
"Juragan Nyonya, apakah anda baik-baik saja." Seru nya dengan wajah panik.
Karsiti hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya, karena hawatir dengan kehamilan Juragannya, Parjo mengemudikan mobil menuju Rumah Sakit terdekat, tapi tiba-tiba Karsiti mendongakkan kepalanya ke atas, tatapan matanya seakan kosong.
"Jo antarkan aku Tempat Pemakaman Jiwo Ireng, setelah itu kau bisa kembali ke rumah." Ucap Karsiti dengan suara datar.
Parjo mengernyit berusaha memikirkan sesuatu, karena setaunya tidak ada sanak keluarga Juragan nya yang di makamkan disana, tapi dia tetap mengemudikan mobil kesana.
"Maaf Juragan, bukan bermaksud lancang, apakah Juragan Nyonya baik-baik saja, tadi saya melihat Juragan seperti kesakitan, karena itulah saya memberikan diri bertanya." Parjo menundukan wajahnya takut dengan respon Juragan nya.
"Aku tidak apa-apa Jo, cepatlah sedikit, aku sudah ditunggu."
Maksud Juragan apa ya, sudah ditunggu siapa, aku jadi cemas akan meninggalkan nya pulang, apa lebih baik diam-diam ku ikuti Juragan saja ya, batin Parjo penuh rencana.
Tibalah di Pemakaman Jiwo Ireng, Karsiti turun dari mobilnya, dia melangkahkan kakinya gontai, menyusuri jalan setapak memasuki area pemakan itu, Parjo masih bertahan di tempatnya, tapi tiba-tiba Karsiti membalikkan tubuhnya dan mengibaskan tangannya, memberi isyarat supaya Parjo meninggalkan nya.
Parjo menghembuskan nafasnya panjang, dia memundurkan laju mobil dan berputar arah, tapi perasaannya tidak tenang meninggalkan Karsiti disana, lalu Parjo menepikan mobil itu di rerimbunan pohon, supaya Karsiti tidak menyadari jika Parjo masih berada disana. Parjo berusaha mencari tau keberadaan Karsiti, tapi dia kehilangan jejak Juragan nya itu, nampak Parjo memandang ke segala arah dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kenapa cepat sekali Juragan menghilang, pemakaman ini sangat luas, tidak mungkin aku bisa menemukan nya dalam waktu cepat, batinnya dengan peluh yang membasahi tubuhnya.
Parjo tak mau menyerah begitu saja, dia sangat mencemaskan kondisi Juragan nya, dan bertekad menemukan nya, untuk mencari tau apa yang dilakukan Juragan nya di Pemakaman itu.
Di ujung tempat pemakaman itu, nampak seorang perempuan yang sangat familiar baginya sedang menghadap ke sebuah pohon besar, perempuan itu memberikan salam dengan menyatukan kedua tangan di depan dada, dengan langkah seribu Parjo berusaha mendekat kesana, tapi Parjo tetap harus waspada supaya Karsiti tidak mengetahui keberadaan nya disana.
...Terus dukung Author ya kak, hadiah dan Votenya jangan lupa, terimakasih 🤗❤...
...Bersambung....