
Ada sesuatu yang aneh dalam potongan ingatan nya, dimana Larasati sedang menatap lekat ke arahku, dan dia berjalan menghampiri ku lalu memelukku dengan mengutarakan kata-kata cintanya.
Tidak itu bukanlah aku, Larasati bukanlah muhrim ku mana mungkin aku berpelukan dengannya, apalagi dia mengatakan kata-kata cintanya padaku, pasti itu bukanlah aku, batin ku dengan menggelengkan kepala berulang kali.
"Wan kau kenapa, apakah kau yakin ingin memberikan batu ini padaku, aku merasa ada yang aneh denganmu, apakah luka di kepalamu sangat serius, sehingga kau bertingkah seakan kau bukanlah dirimu yang dulu."
"Kau benar Ras, aku ini entah Awan atau Adinata. Aku merasa di antara dua memori kenangan mereka berdua, ada pergolakan di dalam diriku ini. Kalian semua memanggilku dengan nama Awan, tapi ada sebagian dalam diriku yang mengatakan jika aku adalah Adinata. Apa yang sebenarnya terjadi padaku Ras, kepalaku sakit memikirkan nya." Ucap Awan dengan memegangi kepala yang masih dibungkus perban.
Ada apa ini, kenapa aku jadi resah setelah mendengar penjelasan nya, terlebih lagi jiwa mas Adinata memang sedang tidak diketahui keberadaan nya, batin Larasati dengan menghembuskan nafas panjang.
Risma datang mengajak Awan untuk beristirahat di kamarnya, lalu Larasati berpamitan pada keduanya. Terlihat wajahnya kebingungan dengan detak jantung yang kencang.
"Wan aku pulang dulu ya, nanti kita bicarakan semuanya lagi. Bu Larasati pamit dulu ya." Larasati mengecup punggung tangan perempuan tua itu, dan dia mengemudikan mobil kembali ke rumah.
Disepanjang perjalanan, Larasati terus memperhatikan batu berwarna merah, yang ada di sebelah genggaman tangannya.
Kemana aku harus pergi meminta pertolongan, jika mas Adinata tidak segera ditemukan, pasti aku lah yang akan menjadi sasaran kemarahan Kanjeng Ratu, tapi jika bukan pada Kanjeng Ratu, bagaimana caraku untuk menyelamatkan nyawa ibu.
"Untuk apa semua itu bu? kemana ibu akan membawanya." Tanya Larasati yang di acuhkan ibu nya.
Dengan kesaktian yang bersemayam didalam tubuhnya, Larasati berusaha menghentikan tindakan ibu nya. Tapi tak hal terduga terjadi, kesaktiannya tidak dapat digunakan, sekali lagi Larasati membaca rapalan mantra. tapi kekuatan itu seakan lenyap begitu saja darinya. Lalu terdengar suara yang berbisik lirih.
"Karena aku kecewa padamu, ku ambil lagi sebagian kekuatan ku yang ada pada dirimu. Jika kau menginginkan kesaktian itu kembali, bantu aku menemukan suamiku. Ingatlah peringatanku baik-baik." Ucap pemilik suara itu dengan suara datar.
Terduduk lesu dengan berurai air mata, Larasati bersimpuh dibawah kaki ibunya, gadis itu memohon pada sang ibu untuk tidak membawa perhiasannya, karena Larasati tau, jika ibu nya ingin menjual semua perhiasan itu untuk membayar pengacara dan hakim, yang akan disuap untuk meringankan hukuman Juragan Suripto.
"Kenapa kau bersikap kurang ajar seperti itu, aku adalah ibumu, sudah sepantasnya kau menuruti ucapanku, masih untung aku tidak memintamu untuk menandatangani jual beli aset peninggalan ayahmu." Pekik Karsiti dengan membulatkan kedua matanya.
Di tengah kekalutan hatinya, Larasati melangkahkan kakinya tak tentu arah. Hingga dia bertemu dengan seorang lelaki tua memakai jubah berwarna putih, dengan jenggot panjangnya.
"Kau mau kemana nduk, tenangkanlah hati dan pikiranmu, jangan kau turuti amarah dan dendam yang ada di dalam hatimu, ingatlah masih ada yang Maha Kuasa, Dia akan selalu memberikan jalan pada semua makhluk Nya, asal kau kembali ke jalan Nya, dan berserah diri padaNya." Ucap lelaki itu dengan penuh kasih sayang, hingga Larasati semakin terisak dengan luka hati yang semakin menganga, mengingat semua tindakannya.
...Bersambung....