
Kemudian Larasati kembali ke rumahnya, dan diam-diam melangkahkan kakinya ke hutan Larangan, nampak pembantu yang ada di rumahnya melihat dirinya yang berjalan mengendap keluar dari pekarangan rumahnya.
Mau kemana mbak Larasati malam-malam begini, dan juragan juga belum pulang sampai sekarang, batin Trinem dengan mengkerut kan keningnya.
Tanpa membawa lentera yang selalu menerangi jalan nya menuju kedalaman hutan Larangan, Latasati dengan cepat melangkahkan kakinya tanpa hambatan apapun, karena yang ada didalam benaknya saat itu hanyalah untuk segera membalaskan dendamnya, tapi di tengah perjalanan kedua matanya terbelalak melihat beberapa mayat warga yang tergeletak di tanah, nampak Larasati menghembuskan nafasnya panjang, setengah hatinya tidak tega karena warga desa yang tidak berdosa menjadi korban dari sesembahan nya yang murka, tapi Larasati tidak dapat berbuat apa-apa karena itu sudah menjadi keputusan sang penguasa gaib, dan tidak membutuhkan waktu lama Larasati sampai di depan goa malih sukmo, terlihat si maung peliharaan Kanjeng Ratu tengah terjaga menatap tajam dua orang lelaki yang berdiri ketakutan dengan tubuh yang bergetar.
Terdengar keduanya saling berbisik dan mengatakan, jika gadis yang ada dihapan mereka adalah gadis yang pernah mereka tiduri secara bergantian, keduanya berlutut dan memohon ampunan pada Laras seraya menyatukan kedua tangan didepan dadanya.
"Ampuni kami mbak, tolong lepaskan kami, kami tidak mau mati begitu saja di hutan ini, karena keluarga kami pasti akan sangat hawatir", seru keduanya mengiba.
"Cuih, kalian lupa jika aku juga mempunyai keluarga yang menghawatirkanku ketikan kalian semua secara bergiliran menodai ku hah", bentak Larasati dengan membulatkan kedua matanya.
"Tapi tapi kami hanya terbawa suasana saja, karena tubuhmu sangat menggoda jadi kami tidak tahan untuk memadu kasih denganmu".
"Semua sudah terjadi, bahkan beberapa teman kalian sudah lebih dulu mati setelah dengan sengaja membunuh ayahku yang tidak berdosa itu, sekarang giliran kalian yang akan menyusul mereka ke alam baka, tapi lebih baik kalian katakan padaku siapa yang telah membayar kalian semua, aku tau kalian memiliki pemimpin yang membayar kalian untuk mencelakaiku dan juga ayahku, cepat katakanlah, jika tidak macan ini akan melahap semua daging kalian tanpa tersisa", ancam Larasati murka.
Nampak kedua nya tetap bungkam dan kebingungan akan menjelaskan apa, karena sebenarnya mereka tidak tau siapa nama bos besar yang telah membayar mereka malam itu, dan dengan suara bergetar mereka bergantian menjelaskan jika mereka tidak mengetahui nama lelaki yang membayar mereka semua.
"Kami bertemu dengan rekan lelaki itu di barat mbak, dan dia menawarkan satu koper berisi uang yang sangat banyak, dia memerintahkan kami untuk merampok mobil yang kalian tumpangi, bahkan kami bertemu bos besar itu di tempat kejadian, dan karena bos itu lebih dulu menodai mu dan mengijinkan kami untuk menikmati tubuhmu dengan senang hati kami bergiliran bercinta denganmu malam itu, tapi karena ayahmu tidak terima dengan apa yang telah kami lakukan, dia berusaha menyerang bos besar, dan secara tidak sengaja ayahmu tertusuk dan tewas di tempat, setelah kejadian itu kami benar-benar tidak pernah bertemu dengan bos besar itu, hanya rekan nya saja yang datang menemui kami, dan meminta kami untuk berhati-hati dan tetap tutup mulut atas apa yang telah kami lakukan, jika tidak dia mengancam akan mencelakai keluarga kami, sungguh mbak kami tidak tau siapa bos besar itu", jelas keduanya dengan suara bergetar.
Terlihat Larasati sangat murka, mendengar penjelasan keduanya, dia tidak ingin mencelakai mereka dengan tangan nya sendiri, lalu Laras meminta si maung untuk mencelakai keduanya, lalu si maung dengan gigi tajamnya mengoyak setiap bagian tubuh kedua lelaki itu, nampak kedua kaki macan loreng itu mencengkeram tubuh mereka, sehingga bau anyir darah tercium sangat pekat disana.
Tiba-tiba turunlah hujan yang mengguyur seisi hutan Larangan, nampak Larasati berjalan gontai pergi dari sana, tanpa terasa air mata nya menetes dengan derasnya, untuk sekilas dia teringat setiap kejadian di malam petaka itu terjadi, lalu gadis itu berteriak kencang memanggil ayahnya berulang kali, terlihat kerinduan yang mendalam untuk sang ayah yang sangat dikasihinya, sampai akhirnya Larasati terus menangis dan berjalan keluar hutan itu, dan dia tidak sadarkan diri di tepi jalan, dari kejauhan terlihat sorot lampu mobil yang mendekati tubuh gadis itu, lalu mobil itu berhenti dan seorang lelaki keluar dari mobil itu, lelaki itu memeriksa keadaan Laras yang tidak sadarkan diri, karena tidak tau mau dibawa kemana gadis itu, dia memutuskan membawanya masuk ke dalam mobilnya, kemudian lelaki itu pergi ke klinik untuk memeriksakan keadaan gadis itu, sesampainya di klinik, dokter yang memeriksa keadaan Laras mengenali nya, lalu dokter itu bertanya pada lelaki yang membawa nya kesana, apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis yang dibawanya ke klinik.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis ini mas, kenapa seluruh tubuhnya basah kuyup seperti itu?", tanya dokter itu dengan mengkerut kan keningnya.
"Sebenarnya saya tidak sengaja menemukan nya tergeletak di pinggir jalan yang berbatasan dengan hutan yang tidak jauh dari sini dok, karena saya tidak mengenalnya dan tidak tau mau dibawa kemana, saya memutuskan untuk memeriksakan keadaan nya ke klinik ini", jawab lelaki itu dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah jika memang seperti itu, mas bisa menuliskan data pengunjung di receptionist, kebetulan tadi pagi mbak itu beserta kedua orang tuanya datang ke klinik ini, sehingga data nya masih tertulis di klinik ini, setelah dia tersadar mas bisa berbicara dengan nya langsung, saya permisi dulu", jelas dokter itu seraya kembali ke ruang kerjanya.
Setelah membuat laporan daftar data pengunjung, lelaki itu memutuskan untuk masuk ke dalam ruang perawatan gadis yang baru saja ditolongnya, lelaki itu duduk di samping Larasati yang masih memejamkan kedua matanya.
Tanpa terasa subuh pun tiba, suara adzan dari masjid sekitar membangunkan Laras, yang agak kepanasan ketika mendengar suara lantunan ayat suci itu, terdengar oleh pemuda itu jika gadis yang ditolongnya sudah terbangun dan sedang berteriak histeris, kemudian lelaki itu menenangkan Laras dan memberinya minum, dan setelah suara adzan tidak terdengar lagi, Larasati mulai tenang dan tersadar dimana dia saat itu, nampak Larasati sangat panik dan memandang kesegala arah, dan hanya ada dirinya dan lelaki yang tidak dikenalnya, tapi setelah Laras memperhatikan dengan seksama dia merasa pernah melihat lelaki yang ada dihadapan nya.
"Apakah kau sudah baik-baik saja, kenapa kau berteriak seperti itu, perkenalkan namaku Awan, tadi malam aku menemukanmu tergeletak di pinggir jalan, dan aku membawamu ke klinik ini", ucap lelaki yang bernama awan itu.
Terlihat Larasati hanya terdiam dengan memegangi kening nya, tengkuknya terasa berat ketika dia berusaha mengingat siapa lelaki yang telah menolongnya itu.
...Siapakah lelaki yang menolong Laras ya? tunggu kelanjutan ceritanya ya, jangan lupa terus dukung Author ya, Terima kasih semuanya 🤗🥰...
...Bersambung....