Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Tipu muslihat.


Karena mendengar kegaduhan di luar rumahnya, Larasati melangkahkan kakinya keluar, nampak Rudi dan Sastro berteriak histeris, ketika Larasati menatap tajam ke arah mereka, keduanya berteriak meminta tolong dan memohon ampun.


"Tolong jangan sakiti aku, aku tidak bersalah." pekik Sastro dengan membulatkan kedua matanya.


Sementara Rudi hanya terduduk di tanah, tubuhnya terkulai lemas, dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya, nampak juragan Suripto sangat cemas, dia takut jika kedua anak buahnya yang tidak waras itu, mengatakan segalanya dihadapan semua warga, lalu dia memerintahkan warga untuk segera membawa keduanya ke rumah.


"Tolong bawa mereka ke rumahnya, besok aku akan membawa mereka ke kota, supaya dokter kejiwaan memeriksa keadaan mereka." perintah juragan Suripto dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian semuaa orang meninggalkan rumah itu, nampak Larasati menatap wajah ayah tirinya, terlihat dia sedang memeluk Karsiti, dan mengatakan jika dia akan menyelesaikan semua kekacauan yang terjadi.


"Laras, aku sudah mendengar apa yang terjadi padamu di hutan Larangan, aku akan mencari tau kenapa mereka berniat kurang ajar padamu, jika perlu Rudi dan Sastro akan ku jebloskan ke dalam penjara, aku tidak ingin kau berpikiran buruk padaku, ibumu sangat mengenalku, aku tidak mungkin berniat jahat padamu." ucapnya dengan wajah sendu.


Nampak Larasati mengkerutkan keningnya, dia hanya menganggukan kepalanya, dan berkata jika dia percaya dengan ibu nya.


"Jika ibu mempercayaimu, maka aku akan berusaha percaya dengan kata-katamu pak, permisi Laras mau istirahat dulu." jelasnya seraya berjalan ke dalam kamarnya.


Nampak juragan Suripto sangat cemas, karena Larasati bersikap dingin padanya, lalu Karsiti mengatakan pada suaminya itu, jika dia tidak perlu mencemaskan sikap Larasati.


"Dia hanya shock saja mas, setelah dia melihat apa yang kau lakukan untuk keluarga ini, Larasati akan mengerti dan menghormatimu seperti ayahnya sendiri." tukas Karsiti.


Kalau begitu aku harus melakukan sesuatu, supaya Larasati kembali percaya padaku, dan tidak mencurigaiku, batin juragan Suripto.


Keesokan harinya juragan Suripto berpamitan pada Karsiti, dia mengatakan akan membawa kedua anak buahnya itu ke Rumah Sakit Jiwa.


"Setelah kesadaran mereka kembali, Laras bisa menanyakan pada mereka, apakah aku terlibat dengan perbuatan buruk mereka semua, aku hanya ingin Laras percaya padaku Kar, aku sangat mencintaimu karena itulah aku ingin menjagamu dan juga anakmu." cetus juragan Suripto seraya mengecup kening Karsiti.


Setelah itu juragan Suripto pergi ke kota bersama anak buahnya, nampak dia membawa Rudy dan juga Sastro.


"Kalian harus mengurung mereka di gudang, terserah apa yang akan kalian lakukan padanya, yang terpenting jangan sampai mereka terlepas dari pantauan kalian." tegas juragan Suripto.


Nampak Rudy dan Sastro dikurung di dalam sebuah gudang tua, sedangkan juragan Suripto tengah memikirkan sebuah rencana, supaya Larasati tidak lagi curiga padanya.


Jika Larasati mencurigaiku, dan mengetahui segalanya, sebelum aku merebut semua harta peninggalan ayahnya, semua usahaku akan menjdi sia-sia saja, aku harus mencari cara, supaya Larasati tidak mencurigaiku, karena kebodohan anak buahku yang tidak tau diri itu, gumam juragan Suripto pada dirinya sendiri.


Kemudian datanglah Umar tangan kanan juragan Suripto, dia mengatakan pada juragan nya, jika dia harus mencari kambing hitam, yang siap mengakui semua kejahatan nya.


"Dengan begitu mbak Larasati tidak akan mencurigai juragan lagi, karena pelaku itu akan diproses secara hukum." tukas Umar memberi saran pada juragan nya.


"Lalu siapakah yang akan mengakui, kejahatan yang tidak dilakukan nya itu." seru juragan Suripto dengan mengusap rambutnya kasar.


"Bagaimana menurut juragan, jika juragan setuju, saat ini juga saya akan pergi menemuinya di rumah, saya akan mengancamnya, pasti dia tidak akan menolak tawaran kita." terang Umar tersenyum licik.


Terlihat juragan Suripto menganggukan kepalanya, dia setuju dengan apa yang dikatakan Umar, setelah itu Umar pergi menemui rekan bisnis juragan Suripto, pak Cecep adalah makelar tanah yang bangkrut, karena dia pernah tertipu oleh pembeli, yang membawa kabur uang modalnya, untuk menutupi kebutuhan ekonomi keluarganya, dia menggadaikan satu-satunya surat tanah, peninggalan keluarganya pada juragan Suripto, tapi nasib berkata lain selain hutang yang menumpuk dengan bunga yang tinggi, pak Cecep terancam kehilangan sertifikat tanah peninggalan keluarganya.


"Juragan Suripto memintaku untuk menemuimu, dan memberikan uang ini padamu, ini hanyalah setengah dari apa yang akan kau terima, selain setengah uang yang akan kau terima, kau juga akan mendapatkan kembali sertifikat tanahmu itu, tapi ada satu syarat yang harus kau lakukan, untuk mendapatkan semua itu, katakanlah padaku jika kau menyetujuinya." jelas Umar seraya menyerahkan satu koper uang berwarna merah.


"Apa yang harus aku lakukan, katakanlah padaku, demi masa depan anak-anakku, aku rela melakukan segalanya." sahut Umar bangkit dari duduknya dan meraih koper yang ada dihadapan nya.


Kemudian Umar mengatakan pada pak Cecep, tentang apa yang harus dilakukan nya.


"Kau harus pergi ke kantor polisi, dan mengakui sebuah kejahatan, bilang pada polisi jika kau lah dalang dibalik kematian juragan Darman, dan juga pemerkosaan terhadap anaknya, setelah kau mengakui segalanya dihadapan polisi, juragan Suripto akan menyerahkan setengah uang yang telah dijanjikan, dan juga sertifikat tanahmu." ucap Umar dengan tersenyum licik.


"Ta tapi bagaimana jika aku dihukum seumur hidup, atau bisa saja aku divonis mati, percuma saja jika aku tidak dapat bertemu dengan anak istriku lagi." ujar pak Cecep dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Kau tenang saja, diam-diam juragan Suripto akan membantumu, dia akan membayar pengacara mahal, supaya hukuman yang kau terima tidak akan lama, apakah kau setuju dengan perjanjian ini, pikirkanlah baik-baik sebelum kau menolaknya, kesempatan ini tidak akan datang dua kali." cetus Umar dengan menepuk pundak pak Cecep.


"Tapi jika aku menolaknya, apakah juragan Suripto tidak akan menekanku lagi?." tanya pak Cecep dengan wajah cemas.


"Apakah kau yakin akan menolaknya, bukankah anak gadismu akan masuk ke universitas tahun depan, apa kau tidak mencemaskan masa depan nya." jawab Umar menyeringai licik.


"Apa maksudmu, apa yang akan kalian lakukan pada anakku." seru pak Cecep dengan wajah cemas.


"Karena itulah aku mengingatkanmu, jika kau masih menyayangi anak istrimu, terima saja penawaran ini." tegas Umar.


"Baiklah aku setuju, tapi tolong jangan ganggu keluargaku lagi."


Nampak Umar tersenyum puas, dia mengatakan pada pak Cecep, jika sekarang juga dia harus pergi ke kantor polisi, dan mengakui segala kejahatan yang tidak dilakukan nya, terlihat pak Cecep menganggukan kepalanya dengan wajah sendu, dia terpaksa menuruti perintah juragan Suripto, demi keamanan anak dan istri nya, lelaki itu tidak mau nasib keluarganya semakin terpuruk, jika dia menolak permintaan juragan Suripto.


*


*


......Juragan Suripto semakin licik ya kak, semoga kalian semua sabar menunggu lelaki itu mendapatkan karma buruknya 😰......


...Jangan lupa berikan Vote dan hadiahnya kak, tekan tombol favorit untuk mendapatkan update terbaru dari novel ini 😉...


...Bersambung....