Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Tipu daya makhluk gaib.


"Hihihihi aku Nyai Loreng penunggu Hutan wingit ini. Apa yang sedang kau cari disini anak muda?" tanya Nyai Loreng yang masih cekikikan.


"Saya sedang mencari seseorang Nyai, tapi saya tersesat dan tak dapat menemukannya. Bisakah Nyai membantu saya menemukan Goa yang biasa menjadi tempat orang-orang bertapa?"


"Hmm... Untuk apa kau mau kesana anak muda? apa kau mau mencari ilmu atau pesugihan? katakan saja padaku, aku pasti akan membantu mu."


"Tidak Nyai. Saya sedang mencari kekasih saya, ia biasa bertapa di Goa itu. Tapi saya tak tahu pasti dimana letaknya. Bisakah Nyai membantu saya kesana?"


Kini Nyai Loreng menatap Awan dengan sorot mata tajam, ia berjalan tertatih dengan tubuh bungkuknya. Nampak kedua mata Nyai Loreng nyalang, kedua bola matanya berwarna merah. Ia mengatakan sesuatu yang membuat Awan terkejut. Karena Nyai Loreng tak akan membiarkan siapapun selamat jika mempunyai niat pergi ke Goa itu. Kecuali orang itu mau menjadi pengikutnya dan melawan musuh besarnya.


"Tapi saya buru-buru Nyai, jika saya tak segera menemukan kekasih saya, nyawa ibunya bisa dalam bahaya." ucap Awan dengan raut wajah cemas.


"Hihihihi tak perlu kau cemaskan nyawa orang lain, cemaskan saja nyawamu sendiri. Karena aku bisa saja mengambil nyawamu, dan menjadikan organ tubuhmu sebagai ramuan awet mudaku. Sekarang katakanlah apa kau mai menjadi pengikut ku?"


Nyai Loreng merubah bentuknya menjadi manusia setengah macan. Tubuhnya menjadi lebih besar dengan otot-otot kekar di lengannya. Nampak Awan menelan ludahnya kasar, ia berjalan mundur dengan peluh yang membasahi keningnya.


"Ampun Nyai saya tak ingin bersekutu dengan makhluk sejenis mu. Justru saya ingin membebaskan kekasih saya dari perjanjian nya dengan sosok makhluk gaib sepertimu!" seru Awan dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.


"Sosok gaib? siapa yang kau maksud anak muda? pada siapa kekasihmu itu bersekutu selain denganku?"


"Sosok itu sangat kuat Nyai, dia adalah Ratu di Kerajaan gaibnya. Ia adalah Kanjeng Ratu Ageng Sedo."


Terlihat Nyai Loreng murka mendengar nama itu disebut. Ia menjerit dengan lantang, nampak dari dalam mulutnya keluar semburan api yang berkobar. Amarah Nyai Loreng membakar sebagian sisi hutan.


"Astaghfirullah. Apa aku salah berbicara? kenapa ia sangat marah setelah mendengar ucapanku?" batin Awan di dalam hatinya.


Terlihat amarah Nyai Loreng semakin menjadi, ia meminta Awan untuk tidak menyebut nama Kanjeng Ratu Ageng Sedo lagi. Menurut Nyai Loreng, Ageng Sedo adalah musuh besarnya. Karena dulu ia telah mengubah wujudnya menjadi macan loreng.


"Tak hanya sampai disitu, ia merebut lelaki yang ku cintai. Dengan pesonanya Ageng Sedo berhasil memperdaya pujaan hatiku, aku tak terima dengan apa wia lakukan padaku. Dan kau anak muda, tak perlu mencemaskan kekasihmu. Aku akan membantumu menyadarkan kekasihmu supaya tak bersekutu lagi dengan Ageng Sedo. Aku sudah menerawang melalui batinku, jika jiwa kekasihmu disalah gunakan oleh perempuan lak*nat itu demi mendapatkan apa ia inginkan. Kau tak perlu menjadi pengikut ku, asal kau bersedia membantuku menjauhkan kekasihmu itu dari Ageng Sedo. Karena dengan cara itu, aku bisa menjauhkan nya dari titisan nya. Dan kekuatan nya tak akan bisa bertambah lagi, karena sebagian jiwanya akan menghilang. Dengan bertaubat nya kekasihmu, kekuatan yang dimiliki Ageng Sedo akan berkurang. Dan itu akan menguntungkan ku hihihihi." jelas Nyai Loreng dengan tertawa puas.


Kini Awan sedang berdiri mematung, ia sedang melawan dirinya sendiri. Setengah hatinya dilema mendengar tawaran Nyai Loreng, karena bagaimanapun ia ingin menjauhkan Larasati dari Kanjeng Ratu Ageng Sedo. Tapi disisi lain, ia juga tak mau terjebak perjanjian dengan makhluk gaib yang ada di depannya. Seakan tahu kegundahan hati Awan, Nyai Loreng meyakinkan Awan kembali. Jika tawarannya bukanlah bentuk perjanjian dengannya.


"Aku menawarkan itu semata-mata hanya untuk menjatuhkan tahta Ageng Sedo. Bukankah kita sama-sama di untungkan anak muda?"


"Hihihihi baiklah anak muda, yang terpenting untukku adalah mengalahkan perempuan lak*nat itu,"


Setelah perbincangan itu, Nyai Loreng memberi petunjuk letaknya Goa yang dicari Awan. Ia memberikan sesuatu yang terbungkus kain hitam, dan meminta Awan untuk mencampur nya ke dalam minuman Larasati. Dendam Nyai Loreng tak pernah padam, meski ribuan tahun telah berlalu. Ia masih memendam hasrat untuk mengalahkan Kanjeng Ratu Ageng Sedo. Ia masih terbayang sosok lelaki yang berpaling darinya, semua itu karena daya pikat Ageng Sedo yang terlalu besar. Dan tak kan ada satupun lelaki yang tak takluk dihadapannya.


Nampak Goa wingit sudah di depan mata Awan, ia berteriak memanggil nama pujaan hatinya. Hening tak ada jawaban dari dalam Goa itu.


"Larasati! ini aku Awan, kau dimana?" pekiknya seraya memandang ke segala arah.


Whuus whuuuus whuuus.


Angin kencang berhembus, menggoyangkan pepohonan yang ada disana. Samar-samar terdengar suara ringkikan kuda. Dari atas langit nampak kereta kencana sedang melesat turun ke permukaan tanah. Di atasnya berdiri seorang perempuan cantik dan anggun, ia mengenakan jubah merah dengan gemerlap berlian yang menghiasi rambutnya. Perempuan gaib itu berdiri mengambang di atas kereta kencana nya.


"Apa yang kau lakukan disini? bukankah raga yang kau tempati adalah seorang santri? tak mungkin juga kau datang untuk bersekutu denganku." ucap Kanjeng Ratu Ageng Sedo dengan wibawanya.


"Maaf Kanjeng, saya datang untuk menjemput Larasati. Ibunya sedang sakit dan membutuhkannya." kata Awan dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.


"Percuma kau datang memberitahukan berita itu. Larasati hanya akan mendapatkan duka setelah ini. Kasih sayang Ibunya membuatnya mengorbankan diri demi kehidupan bayinya, ia tak akan bisa bertahan lama."


Tanpa sadar, Larasati sudah berdiri di belakang kereta kencana itu. Ia mendengar semua perkataan perempuan gaib itu. Kemudian Larasati menangis pilu, ia meminta bantuan Kanjeng Ratu Ageng Sedo untuk menyelamatkan nyawa sang Ibu.


"Aku tak bisa merubah takdirnya, bagaimanapun aku bukanlah makhluk yang sempurna. Aku tak bisa menyalahi takdir sang Pencipta. Jika Yang Maha Kuasa berkehendak seperti itu, apa wewenang ku untuk mengubah garis takdirnya. Lagipula itu sudah menjadi pilihan Ibumu, seandainya Ayah tirimu tak memberi luka batin yang sedemikian besarnya. Pasti kesehatan Ibumu akan baik-baik saja. Sekarang pergilah temui Ibumu, waktumu tak banyak lagi Laras."


Nampak seluruh tubuh Larasati bergetar hebat, ia sedang terguncang, dan tak dapat mengatakan apapun. Larasati menjerit meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan, dan keinginan nya untuk balas dendam semakin menggebu-gebu.


"Aku akan melenyapkan lelaki iblis itu beserta keturunannya!" pekik Larasati dengan membulatkan kedua matanya, nampak tangannya mengepal dipenuhi rasa benci.


...Akankah Larasati benar-benar menghabisi adik tirinya? tunggu episode selanjutnya ya, dan mohon dukungan kalian semua. Terima kasih 😘💕...


...Bersambung....