
Kepanikan mulai terjadi disaat Juragan Suripto mendatangi gudang, dan dia tidak dapat menemukan Karsiti disana, lelaki itu berteriak memanggil ketiga anak buahnya, dan Hendra yang baru saja kembali ke rumah itu terkejut, karena mendengar teriakan juragannya, dia setengah berlari mendatangi gudang belakang, nampak amarah terlihat dari wajah Juragan Suripto.
"Kalian tidak becus mengurus satu perempuan, kemana Karsiti pergi, gawat jika sampai dia melaporkan kita ke kantor polisi." Pekik Juragan Suripto dengan berkacak pinggang.
Ketiga anak buahnya nampak bingung dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tiba-tiba saja tersengar suara burung gagak di rumah itu.
Kraak kraak kraakk...
Terlihat segerombolan burung gagal hitam memasuki gudang itu, mereka seperti hewan kelaparan yang siap memangsa lawannya, burung-burung itu menghambur mendekati ketiga anak buah juragan Suripto, burung-burung gagak itu mematuki seluruh tubuh mereka, hingga dagingnya mengelupas dari tulangnya, beberapa mematuki daging hingga bola matanya, terdengar jeritan minta tolong, tapi Juragan Suripto dan Hendra mengacuhkan mereka, keduanya berlarian berusaha menyelamatkan diri masing-masing,hanya dalam waktu yang singkat tubuh ketiganya hanya tersisa tulang belulang saja, dan genangan darah dimana-mana.
"Bagaimana ini Juragan, tolong aku Juragan, aku tidak ingin mati seperti mereka." Ucap Hendra dengan tubuh bergetar hebat.
"Pergi kau. Pergi, dasar para manusia tidak tahu diri, aku sudah membayarmu, seharusnya kau yang menyelamatkan nyawaku, kenapa sekarang malah terbalik." Ucapanya dengan hati yang tercekam rasa panik dan marah.
"Juragan jangan lepas tangan seperti ini. Anda harus tanggung jawab atas masalah ini, aku yakin sekaliĀ semua ini terjadi karena ulah anak tiri mu yang sakti itu."
"Kurang ajar! Omong kosong macam apa itu?." Lantang Juragan Suripto berkacak pinggang menuding Hendra.
Tiba-tiba burung-burung gagak hitam itu membuat lingkaran di atas kepala keduanya, mereka mendongakkan kepalanya dengan wajah yang ketakutan.
Kraak kraak kraak...
Burung-burung itu melesat ke arah Hendra hanya dengan sekali lesatan saja, Juragan Suripto berlari tunggang langgang meninggalkan rumah kuno itu, terdengar pekikan Hendra ditelinga nya, tapi juragan Suripto tidak menghiraukan nya dan mengemudikan mobil pergi dari sana, Hendra berusaha kabur dengan teriakan yang menggambarkan sejuta kesakitan, puluhan burung gagak terlihat mematuki seluruh tubuhnya, tubuh Hendra seluruhnya tertutupi oleh burung gagak berwarna hitam itu.
Larasati yang masih berada di rumahnya menengadahkan tangan kanan, sejurus kemudian cahaya kemerahan berkumpul di telapak tangannya, dengan tiupan kecil dia mengirim cahaya itu melesat pergi. Sebaris cahaya kemerahan itu bergerak cepat ke arah rumah kuni. Tidak ada yang menyadari ketika cahaya kemerahan itu menuju kesana, tempat dimana tubuh Hendra tengah diserang para burung gagak.
"Ampun! Ampun! Tolong!," rintih Hendra yang merasa tidak kuat lagi.
Namun, anehnya dia tidak segera mati seperti teman-temannya yang telah menjadi mayat itu, akhirnya karena tidak kuat menahan kesakitan gigitan para burung itu, Hendra mengambil korek api yang ada di saku celananya, dia menyalakan korek itu dan membakar tubuhnya sendiri.
Melihat api yang membakar tubuh mangsanya, para burung gagak itu beterbangan menjauh. Gagak itu seakan tau jika tugasnya sudah selesai, mereka kemudian melesat pergi ke arah hutan yang terlihat lebih gelap dan menakutkan.
Juragan Suripto melarikan diri ke rumah Mbah Warno, tapi dukun itu sedang tidak berada di rumahnya, dengan kalut Juragan Suripto mendatangi Umar yang masih tergeletak di rumahnya.
Tiba-tiba Juragan Suripto merasakan nafas Umar sangat kuat berhembus, lelaki itu mengernyit lalu perlahan menoleh pada Umar yang sedang menatapnya. Mata Umar sangat menakutkan, tidak ada iris pupil disebelah matanya, seluruhnya menghitam.
Sontak saja Juragan Suripto kaget, dia memekik ketakutan lalu melompat dari tempatnya duduk, dia terjatuh di lantai dengan membelalak ngeri melihat aura mengancam dari Umar.
"Mar. Umar, ini aku Juragan mu." Ucapnya berteriak gemetar.
Umar mengulurkan tangannya dan dengan sangat cepat menarik Juragan Suripto. Juragan Suripto merasakan ancaman yang tidak pernah dia alami dari orang yang dipercayai nya, Umar seperti dirasuki sesuatu sehingga tidak mengenalinya sama sekali.
"Mar, sadar Mar." Jerit Juragan Suripto, saat Umar dengan cepat mencekik lehernya.
Juragan Suripto mundur ke arah nakas yang berada di pojok. Dengan nafas yang semakin tercekik dia berusaha menggapai figura foto, sesak karena nafas yang hampir berhenti, membuatnya terbatuk dan semakin tersengal. Sementara Umar menekan cengkeramannya semakin kuat.
Sedikit lagi tangan Juragan Suripto menggapai figura. Saat akhirnya dia berhasil menggapai figura tersebut, Juragan Suripto berusaha keras dengan sekuat tenaga memukulkan figura ke kepala Umar.
Pecahan kaca figura menusuk sebagian wajah Umar, kemudian cekikan itu pun terlepas. Juragan Suripto terbatuk-batuk dengan melihat Umar yang terdiam menunduk. Darah hitam mengalir dari pelipis lelaki itu. Juragan Suripto tercengang melihatnya.
Umar mengusap darah hitam itu lalu menoleh pada Juragan Suripto, tatapan mata mengerikan itu penuh dengan kemarahan.
Merasa terancam, Juragan Suripto secepatnya berlari keluar dari ruangan itu, lalu mengunci ruangan tersebut dari luar, dia melihat meja makan disana, dan mendorongnya ke arah pintu, bertujuan sebagai penghalang agar pintu tidak terbuka dengan mudah.
Gedoran pintu begitu keras membuat Juragan Suripto semakin cemas. Mengapa Umar ingin membunuhnya. Apakah karena dia benar-benar kerasukan.
Gedoran pintu membuat meja makan tergoncang. Juragan Suripto menatap pintu itu dengan hati yang semakin dilanda ketakutan. dia memundurkan langkahnya berharap dengan itu ia akan secepatnya pergi ketika pintu terbuka. Namun kemudian, ia melihat gedoran pintu berhenti. Sunyi senyap, Juragan Suripto menahan nafasnya tapi masih tetap waspada melihat ke arah pintu, ingin sekali dia bergegas pergi dari rumah itu, tapi dia ketakutan untuk menghadapi Umar yang berada diluar sana.
Dengan berjalan mengendap, Juragan Suripto berusaha membuka pintu itu, namun, saat dia berhasil keluar dari ruangan itu, lelaki yang bemata hitam legam itu telah berada di hadapan nya. Juragan Suripto berusaha memberi perlawanan, sebelum akhirnya dia tersungkur. Dengan susah payah Juragan Suripto berusaha bangkit, tetapi kalah cepat dengan tarikan di kakinya, rasa perih menyengat di kakinya, namun Umar tidak sedikitpun mengendorkan cengkeraman itu. Umar menyeret Juragan Suripto yang berteriak meminta tolong. Terlihat kakinya berdarah karena diseret mengenai beberapa ubin yang kasar dan retak.
...Terus dukung Author yuk kak, jangan lupa hadiah dan Vote nya, supaya Author lebih semangat lagi, salam sayang untuk kalian semua š¤ā¤...
...Bersambung. ...