
Nampak Larasati hanya tertunduk pilu mendengar ucapan Awan yang terasa sangat tulus, tanpa terasa air matanya menetes begitu saja, dadanya terasa sesak dengan semua derita yang selama ini dia rasakan, pantang untuk Awan menyentuh gadis yang bukan muhrimnya, tapi tangannya tergerak begitu saja untuk mengusap air mata yang membasahi wajah cantik Larasati.
"Maaf jika aku terkesan memojokkan mu, aku benar-benar tidak beniat menyakiti hatimu, aku hanya ingin membantu mu, percayalah padaku Ras, katakan saja apa yang menjadi bebanmu, sehingga kau memilih jalan sesat itu".
Tanpa bisa ditahannya lagi, Larasati menceritakan semua yang pernah terjadi pada dirinya, nampak Awan sangat terkejut mendengar cerita pedih gadis yang selama ini dia kenal selalu tersenyum manis itu, Awan tidak pernah menyangka jika cerita masa lalu nya sangat kelam.
"Jadi kau terjerumus ke dalam dunia hitam karena kematian ayahmu Ras, aku tau apa yang kau alami itu berat, tapi ingatlah Ras Allah selalu bersama hambanya yang taat, tidak seharusnya kau mengambil jalan pintas ini, jika sudah begini apa yang akan kau lakukan".
"Aku sudah kehilangan segalanya, tidak ada bedanya jika aku harus kehilangan nyawaku, jika aku tidak berhasil mempersembahkan tumbal untuk Kanjeng Ratu, kehormatan ku sudah direnggut dariku, ayahku juga telah tiada, apalagi calon suami ku yang sekarang tidak dapat aku miliki lagi, rasanya tidak ada gunanya jika aku berjalan di jalan yang lurus", seru Larasati berderai air mata.
"Maaf jika aku kembali membuka luka lamamu, setidaknya aku tau kenapa kau jadi seperti ini, jangan kau teruskan kembali dendammu Ras, InsyaAllah aku akan membantumu kembali ke jalan yang benar, perkara penjahat yang belum terungkap sampai detik ini, kau pasrahkan saja pada Allah, cepat atau lambat semuanya bakan terungkap".
"Tolong biarkan aku sendiri Wan, kau tidak perlu kasihan padaku, aku bisa mengatasi segalanya, kau hanya perlu diam dan jangan ikut campur dengan apa yang akan aku lakukan, sekarang keluar lah dari mobilku", cetus Larasati seraya menyeka air matanya sendiri.
Lalu Awan keluar dari mobil Larasati, dan gadis itu bergegas mengemudikan mobilnya pergi dari sana, terlihat Awan menundukkan kepalanya seraya mengusap rambutnya kasar, tanpa diduga Sadam berjalan menghampiri nya dan kembali berdebat dengan nya, tapi Awan berusaha menghindari perdebatan dengan anak pemilik pondok pesantren itu.
Dasar brengsek, karena kau aku kehilangan kesempatan untuk mengenal gadis itu lebih jauh, diam-diam kau berlagak sok suci, tapi nyatanya kau tidak bisa melihat gadis yang cantik dan molek, begitu kau melihatnya kau bersandiwara seakan ingin menyelamatkan ku darinya, munafik kau Wan, lihat saja,aku akan membuat perhitungan padamu, batin Sadam kesal didalam hatinya.
Larasati membanting pintu mobilnya dengan keras, dan membuat ibunya terperanjat dari tempat duduknya, Karsiti berjalan menghampiri anaknya, yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam.
"Nduk cah ayu, sudah ibu bilang kan, jika masuk ke rumah ucapkan salam dulu".
Tanpa menjawab ucapan ibunya, Larasati menghambur ke dalam pelukan ibunya, gadis terisak dengan mata yang sembab, nampak Karsiti tidak berkata apapun lagi, karena dia hanya ingin menenangkan hati anak gadisnya saja, setelah Larasati cukup tenang dan berhenti menangis, Karsiti menanyakan apa yang membuat nya menangis seperti itu, lalu Larasati meminta ibunya untuk berjanji, jika kelak ibunya akan selalu mendukungnya, meski apapun yang telah terjadi ke depannya.
"Kenapa kau berkata seperti itu sayang, kau adalah satu-satunya anak ibu, tanpa kau meminta ibu berjanji seperti itu, tentu saja ibu akan selalu mendukung mu, dan ibulah yang akan selalu berada disampingmu, ketika semua orang berusaha menjatuhkanmu", ucap Kasih seraya memeluk Larasati ke dalam dekapannya.
"Ibu Larasati ke kamar dulu ya, nanti kita bicara lagi", jelasnya seraya berjalan pergi.
"Ada apa dengan Larasati bu, sepertinya dia sedang bersedih?", tanya juragan Suripto langsung duduk disamping istrinya.
"Entahlah mas, mungkin ada yang menyinggung nya, sehingga duka kembali dirasakan nya, mungkin kita harus segera mencarikan jodoh untuknya, supaya Larasati dapat menata kembali hatinya yang terluka, jika seperti ini terus, aku hawatir Larasati bisa depresi mas", jawab Karsiti dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak perlu buru-buru menjodohkan nya, Larasati membutuhkan waktu untuk menyembuhkan dukanya, percaya saja padanya bu, kita hanya perlu memberi dukungan saja".
"Apa kau yakin mas, jika kita hanya perlu memberikannya waktu, sesungguhnya aku ingin Larasati bersama dengan Adinata, karena hanya dia saja yang dapat membuat anakku bersemangat kembali, tapi aku pun sadar, jika keinginan ku mustahil terjadi, ibunya Adinata sudah menetapkan tanggal pernikahan anaknya dengan gadis lain, semoga Larasati tidak semakin terluka setelah mendengar kabar ini".
Sebenarnya apa yang ingin Larasati bicarakan pada ibunya, apakah Karsiti tau jika anaknya itu memiliki sosok penjaga gaib yang bersemayam dalam tubuhnya, kalau aku menanyakan nya pasti Karsiti akan kembali bertanya darimana aku tau hal itu, aah lebih baik aku tidak mengatakannya, batin juragan Suripto dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Larasati merebahkan tubuhnya di ranjang, teringat semua ucapan Awan tadi, hatinya menjadi gelisah setelah mendengar perkataan Awan, apalagi ibunya sering menegurnya yang tidak lagi melakukan ibadah dan mengucapkan salam lagi, jiwa Larasati yang dulu sangat santun, dan tidak pernah meninggalkan ibadahnya, seakan sedang berperang dengan dirinya yang sekarang.
"Aaarggh..." Larasati berteriak kesal dan melemparkan barang-barang yang ada di kamarnya.
...Bersambung....
...Baca novel baru author yuk kak, masih mencoba di genre yang berbeda, jangan lupa berikan Vote dan hadiahnya, terimakasih 🙏...