
"Kau tak perlu bingung mas, ini adalah jati dirimu sekarang. Kau mempunyai identitas baru sebagai seorang santri yang besar di pondok pesantren. Bukankah kau memiliki perjanjian dengan Awan? Raga yang telah kau tempati adalah miliknya, bersyukurlah jika ia mengijinkan mu menempati raganya." Larasati menjelaskan kembali apa yang diketahui nya, karena melihat Adinata kembali terkejut setelah sadar dari pingsannya.
Jadi selama ini aku tidak bermimpi? Aku benar-benar menempati raga manusia lain?" batin Adinata kembali mengingat semua yang telah terjadi.
"Apa kau masih Laras yang sama? Larasati yang ku cintai dulu? Seperti yang kau katakan, aku telah menempati raga orang lain. Adinata yang kau kenal telah tiada, ragaku telah di ambil alih oleh sosok gaib. Dan aku terpaksa mengembara ke alam gaib, hanya untuk bisa bersatu lagi denganmu. Tapi yang terjadi tak sesuai dengan yang ku harapkan, aku terpaksa menikahi Ageng sedo. Supaya aku dapat menyelamatkan hidupmu, dan baru ku tau ternyata keputusan ku itu salah. Kau dan Ageng sedo adalah satu, jiwanya telah merasuk ke dalam ragamu. Tapi aku bersyukur, karena Awan merelakan raganya untuk ku tempati. Hidupnya tidak bisa bertahan lama, dan ketika ia menyadarinya, Awan meminta ku menempati raganya. Jadi sekarang inilah jati diriku, apakah kau masih memiliki perasaan yang sama untukku Ras?." Adinata terbaring lemah, matanya sendu memandangi wajah perempuan yang dicintainya.
Larasati menghembuskan nafas panjang, matanya berkaca-kaca menyadari begitu besar pengorbanan Awan untuknya. Laras mengingat setiap waktu yang ia habiskan bersama Awan, dan kini sosok itu telah tiada tanpa kata perpisahan. Adinata menggenggam tangan nya, ia mengerti bagaimana isi hati Larasati saat itu.
"Mungkin kau sudah tak memiliki perasaan yang sama untukku. Karena itulah kau berduka karena Awan telah tiada."
"Bukan begitu mas, aku masih memiliki perasaan yang sama padamu. Tapi aku merasa kehilangan sosok teman yang sangat dekat denganku. Beberapa waktu lalu Awan sangat dekat denganku, ia membantu ku dan menyadarkan ku untuk kembali ke jalan yang benar. Bahkan setelah kepergian nya, aku tak bisa kembali lagi."
Keduanya saling menguatkan dengan bergenggaman tangan, lalu Adinata mengatakan sesuatu yang membuat Larasati terkejut.
"Untuk mengenang kebaikan nya, mulai sekarang panggil aku dengan nama Awan. Jati diriku sekarang adalah Awan bukanlah Adinata."
Mulai hari itu Larasati mulai membiasakan diri dengan Adinata yang telah merubah identitas nya. Lelaki itu melakukan semua kegiatan yang Awan dulu sering lakukan, pergi ke pesantren dan melakukan ibadah, sesuai yang Awan katakan ketika memberikan wasiat terakhirnya.
Di lain tempat Juragan Suripto tak tenang di dalam sel tahanannya, ia sangat ketakutan setelah mendengar cerita mbah Warno. Jika jiwa Larasati telah dirasuki oleh sosok gaib yang sangat sakti, dan sewaktu-waktu sosok itu akan datang untuk menuntut balas padanya. Lelaki itu menjadi tak tenang, setiap waktu ia merasa ketakutan karena merasa di awasi oleh sosok yang tak kasat mata.
"Ampun Larasati, jangan sakiti aku." Pekik Juragan Suripto dengan berlutut penuh ketakutan.
Terdengar suara dentuman yang sangat keras, hingga memekakan gendang telinga. Darah segar bercucuran dari telinga Juragan Suripto, ia memandang ke segala arah. Dan betapa terkejutnya ketika ia menyadari, jika saat itu ia berada di pedalaman hutan yang sangat lebat.
"Dimana aku? bagaimana bisa aku berada di tempat ini, pasti ini hanya mimpi." Batin nya berusaha menangkan diri.
Tapi dari arah belakangnya, terlihat sosok bayangan merah terbang mengambang. Jubah merahnya menjuntai ke tanah, tercium aroma anyir darah, membuatnya bergidik ngeri. Nampak sosok cantik dengan rambut keemasan berdiri mengambang dihadapan nya. Sorot mata yang tajam menatap penuh amarah ke arahnya. Juragan Suripto melangkahkan kakinya pergi, ia berusaha melarikan diri dari sosok yang mengancam kehidupannya. Suara-suara auman binatang bersahutan, seakan menertawakan nya.
Brugh...
Juragan Suripto terjatuh di hadapan sebuah makam, nampak nisan yang bertuliskan nama seseorang yang dikenalnya.
"Sudarman?" ucapnya mendelik dengan menelam ludahnya kasar.
"Apa kau takut padaku Suripto? Apa kau tak ingin bermesraan denganku lagi? Lihatlah baik-baik tubuhku yang molek ini, apa kau tak ingin menikmatinya kembali?" nampak perempuan itu melucuti satu persatu pakaiannya, hingga tubuh polosnya terpampang jelas.
Tanpa di duga pakaian itu ia hempaskan ke arah kaki Juragan Suripto, hingga terdengar suara tulang yang patah.
Krraaaks...
Juragan Suripto jatuh tersungkuh, ia mengerang kesakitan dengan memegangi sebelah kaki nya yang patah. Ia menahan rasa sakit yang luar biasa, hingga ia tak sadarkan diri di tempat.
Pagi pun tiba, seorang petugas polisi datang ke sel tahanan. Seperti rutinitas di pagi hari, para tahanan akan memulai pekerjaan nya membersihkan seluruh kawasan penjara. Tapi seorang tahanan berteriak lantang, mengagetkan seisi kantor kepolisian. Beberapa polisi datang ke sel yang berada paling ujung, dan mereka pun terkejut melihat keadaan Juragan Suripto dengan kaki yang patah dan tulang yang menonjol keluar. Semua orang saling memandang, tak ada yang mengetahui ada apa sebenarnya. Juragan Suripto dibawa ke Rumah sakit pemerintahan, ia mendapatkan penanganan secepatnya. Ketika ia sadar, di dekatnya sudah ada Dokter dan dua petugas polisi. Dokter bertanya padanya, apa yang telah terjadi, kenapa kakinya bisa patah seperti itu. Dengan nafas yang berderu kencang, ia menceritakan semua yang telah di alaminya.
"Apa yang anda katakan pak? Sepanjang malam anda berada di dalam sel, dan pagi hari ditemukan dengan keadaan yang seperti ini." Jelas seorang polisi yang menunggui nya.
Juragan Suripto tercekat mendengar penjelasan polisi itu. Baru ia sadari jika sebelumnya ia memang berada di dalam sel, dan kemungkinan yang terjadi adalah ia bermimpi. Tapi yang membuat keganjalan adalah, kakinya yang patah.
"Sa saya diserang oleh sesosok perempuan gaib pak, di dalam tidur saya bermimpi berada di sebuah hutan. Perempuan itu memiliki dendam padaku pak, karena aku telah melenyapkan ayahnya, dan aku bersama anak buahku telah merenggut kehormatan nya." Sahut Juragan Suripto dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Baiklah jadi benar kau dalang dari kejahatan itu?" petugas polisi mengerutkan keningnya menatap wajah Juragan Suripto.
"Sudah tak ada gunanya aku mengelak, toh nyawa ku terancam karena perempuan itu bersekutu dengan makhluk gaib untuk membalaskan dendamnya. Tolong aku pak, selamatkan aku dari makhluk gaib itu."
Terlihat polisi dan dokter yang ada disana hanya terdiam dan saling memandang. Di jaman yang serba moderen masih ada saja orang yang berpikiran sempit. Meskipun kenyataan nya memang benar, hal gaib semacam itu masih ada.
"Sudahlah, lebih baik anda beristirahat supaya lekas membaik. Meski anda tak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin anda tidak akan bisa berjalan normal kembali. Tapi setidaknya anda tidak perlu kehilangan salah satu kaki anda."
Semua orang meninggalkan juragan Suripto dengan tangan terborgol. Lelaki itu kembali ketakutan seorang diri, hati nya tak tenang, hawatir jika sosok gaib yang dilihatnya di mimpi akan benar-benar datang menemuinya.
...Bersambung. ...
...Hai apakabar semuanya? maaf ya othor lama updatenya, sedang sibuk di real life banyak masalah yang membebani pundak dan pikiran othor. Alhasil novel ini tersendat, begitu juga season 2 desa rawa belatung. Mohon doa nya, semoga semua masalah othor cepat selesai, supaya kembali lancar menulis. Terima kasih 😘💕...