
Setelah Larasati berusaha keras mengingat pemuda yang ada di hadapan nya itu, dia menghembuskan nafasnya panjang seraya bertanya pada pemuda itu.
"Apa yang terjadi denganku, kenapa kau membawaku kesini", seru Larasati kebingungan.
"Aku menemukanmu tergeletak tidak sadarkan diri, karena cemas aku membawamu ke klinik ini, dan dokter yang memeriksa keadaanmu juga mengenalmu", jelas Awan.
Tidak lama setelah itu dokter masuk ke dalam ruangan itu, dokter itu mengatakan hal yang sama dengan Awan, lalu dokter mengatakan jika Larasati demam dan kelelahan, karena itulah dia tidak sadarkan diri semalaman.
"Untung mas Awan segera membawa mbak Laras ke klinik secepatnya, jika tidak mungkin mbak Laras bisa terkena hipotermia, karena tubuh mbak Laras sangat dingin sekali", ucap dokter itu seraya memberikan suntikan pada Laras.
Terlihat Larasati mengkerut kan keningnya dan mengingat apa yang terjadi padanya tadi malam.
Aah iya semalam keadaanku sangat kalut, dan tubuhku sangat lemah setelah bercinta dengan Guntur, aku langsung pergi ke hutan Larangan, pantas saja ragaku yang sebagai manusia biasa tidak kuat, batin Larasati dengan memijat pangkal hidungnya.
"Namamu Awan kan, bukankah kita pernah bertemu sebelumnya, oh iya Terima kasih sudah menolongku semalam".
"Iya sama-sama, aku senang bisa membantumu, kau masih ingat pernah memaki ku di cafe kemarin", tukas Awan dengan tersenyum kecil.
"Hmm maaf ya atas sikapku waktu itu, karena banyak sekali lelaki sok suci yang bersikap munafik seperti itu, karena itulah aku sempat kesal terhadapmu", jelas Larasati yang merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang.
Lalu dokter yang merawatnya memberikan resep obat yang harus ditebusnya di apotik, dan meminta Larasati untuk lebih banyak beristirahat.
Astaga aku lupa menjenguk ibu di Rumah Sakit, lebih baik aku mau pergi sekarang juga, aku tidak ingin ibu mencemaskan ku karena aku tidak mennemuinya disana, batin Larasati seraya bangkit dari tidurnya.
Nampak dokter meminta nya untuk istirahat sebentar, karena kondisinya masih agak lemas, tapi Laras membantah perintah dokter itu, dia bersikeras ingin menemui ibunya di Rumah Sakit, lalu Awan menawarkan diri untuk mengantarkan Laras pergi, tapi sebelum itu dia ingin melakukan ibadah sholat subuh terlebih dahulu, dan setelah lelaki itu melakukan ibadahnya dia membawa Larasati ke dalam mobil nya, nampak gadis itu berjalan tertatih sehingga Awan harus memapahnya dan merangkuk tubuh Larasati, terasa detak jantung Awan berdegup sangat kencang, tapi lelaki itu berusaha menepis pikiran kotornya, sesampainya di dalam mobilnya Awan mengemudikan mobil ke Rumah Sakit yang ada di kota, terdengar di sepanjang perjalanan mereka saling bertanya dan menjawab, dan akhirnya Larasati mengerti kenapa lelaki itu berkopiah dan terlihat sangat santun, Awan itu adalah anak dari seorang pemilik pesantren, tentunya pengetahuan tentang agama sangat didalami nya.
Pantas saja dia berbeda dari lelaki yang pernah ku jumpai sebelumnya, hanya dia dan mas Adinata saja yang tidak memandangku dengan tatapan kotor, sekarang aku mengerti kenapa kau masih perjaka sampai saat ini, batin Larasati dengan menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa kau tersenyum menatapku seperti itu, apakah ada yang lucu dari penampilanku?", tanya Awan.
"Tidak ada, kau mengingatkan ku pada seseorang yang pernah ada dimasa laluku saja", jawabnya dengan menggelengkan kepala.
"Pasti dia kekasihmu ya, apakah dia lebih tampan dariku", guraunya.
"Dia hanya masa laluku saja, sudahlah untuk apa kau tau lebih tampan darimu atau tidak, ternyata kau ini lucu juga orangnya".
Kenapa aku merasa aman dan nyaman berbicara dengan nya, sebenarnya apa yang terjadi padaku, ayolah Laras jangan terbawa suasana hanya karena dia berkelakuan sama seperti mas Adinata, batin Larasati dengan mengusap rambutnya kasar.
"Hai kau kenapa Ras, kepalamu sakit lagi ya, kenapa kau mengacak-ngacak rambut seperti itu".
"Tidak apa-apa Wan, aku hanya hanya".
"Baiklah jika tidak apa-apa, kita sudah sampai di rumah sakit, mari aku antarkan kau masuk ke dalam".
Nampak Larasati salah tingkah dan melangkahkan kakinya keluar dari mobil itu, lalu gadis itupun tersandung kakinya sendiri dan terjatuh, terlihat Awan berjalan tergesa-gesa untuk menolong Larasati, kemudian Awan membantu Laras untuk berdiri, tapi kakinya agak ngilu untuk menopang tubuhnya sendiri, terdengar gadis itu merintih kesakitan dan agak pincang ketika berjalan.
"Sudahlah aku bantu saja ya, sepertinya kakimu keseleo karena terjatuh tadi, dimana ruangan perawatan ibumu".
"Maaf ya aku merepotkanmu lagi, kita tanya pada pihak receptionis saja untuk mengetahui ruang perawatan ibuku".
Setelah mengetahui dimana ruang perawatan ibunya, Awan terus memapah Larasati sampai ke ruangan ibunya, nampak juragan Suripto membulatkan kedua matanya, menatap penuh amarah karena anak tirinya itu datang bersama seorang lelaki muda yang sangat tampan.
Sialan, siapa lagi lelaki itu, aku sudah bersusah payah menjauhkan Larasati dari satu lelaki lain, tapi yang lain nya datang mendekatinya, batin juragan Suripto mendengus kesal.
Terlihat Karsiti terkejut melihat anak gadisnya sedang berjalan tertatih dan agak pincang, Karsiti bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Kau kenapa nduk, darimana saja kau semalaman, ibu menelepon ke rumah, tapi mbok Trinem mengatakan jika kau pergi dan belum kembali ke rumah sampai pagi ini, dan siapa lelaki itu nduk", seru Karsiti dengan wajah cemas.
"Ibu tenang dulu ya, aku akan menjelaskan semuanya, dia ini adalah orang yang telah menolongku, tadi malam setelah pulang dari kampus, aku ingin menemui ibu di rumah sakit tapi taksi yang aku tumpangi mogok, dan aku memutuskan untuk turun dari taksi itu, tapi tiba-tiba hujan lebat sekali, aku hanya berdiri dibawah pohon yang ada di pinggir jalan, karena kedinginan aku sempat pingsan disana, dan dia lah yang telah menolongku, kalau tidak ada Awan entah apa yang akan terjadi padaku bu, dia adalah lelaki yang sangat baik, bahkan dia masih mau mengantarku untuk bertemu ibu, tapi karena aku terlalu terburu-buru kaki ku tersandung dan keseleo, jadi Awan memapahku sampai kesini", jelas Larasati dengan menggenggam jemari ibunya.
"Syukur lah nduk, kau bertemu dengan orang baik, jika tidak mungkin ceritanya akan berbeda", ucap Karsiti seaya memeluk anaknya.
Kemudian juragan Suripto mengucapkan terimakasih seraya memberikan beberapa lembar uang pada Awan, tapi dengan sopan Awan menolak pemberian itu, dia mengatakan ikhlas membantu Larasati tanpa mengharapkan imbalan apapun, lalu Karsiti juga mengucapkan terimakasih pada Awan, karena dia membantu anaknya dengan tulus.
"Semoga gusti Alloh membalas kebaikanmu itu ya nak, di jaman yang serba moderen ini sudah jarang orang baik yang tidak mengharapkan imbalan dan balas budi, sekali lagi ibu sangat senang bertemu dengan pemuda sepertimu", ucap Karsiti menatap kagum pada pemuda yang dirasakan nya cocok untuk menjadi pengganti Adinata.
...Terus dukung Author yuk, supaya update setiap hari, salam sayang untuk kalian semua 🤗😘...
...Bersambung....