Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Pengorbanan Pak Cecep.


Singkat cerita pak Cecep berpamitan pada istrinya, dia mengatakan akan membayar semua kesalahan dimasa lalunya, karena telah membuat anak dan istrinya hidup susah, nampak istrinya tidak paham dengan apa yang dikatakan suaminya itu.


Kemudian pak Cecep mendatangi kantor polisi, dia membuat pengakuan besar tentang kejahatan yang tidak pernah dilakukan nya, lalu polisi memasukan nya ke dalam tahanan, tidak lama setelah itu, Karsiti mendapatkan panggilan telepon dari pihak kepolisian, nampak Karsiti sangat bersyukur, karena pelaku kejahatan terhadap almarhum suami, dan anaknya telah ditemukan.


"Pasti kau baru saja mendapatkan telepon dari polisi ya," ucap juragan Suripto dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Iya mas, penjahat itu sudah berada di kantor polisi sekarang."


"Tentu saja dia sudah berada disana, karena anak buahku yang telah menjebloskan nya ke penjara, Umar berhasil mengungkap siapa penjahat yang sebenarnya, aku tidak ingin Larasati semakin salah paham, karena itulah, aku meminta Umar untuk melakukan penyelidikan lebih dalam lagi, dan dia berhasil menemukan bukti-bukti yang disembunyikan, salah satunya adalah pisau yang digunakan untuk menikam juragan Darman."


"Tapi siapa pelaku kejahatan itu mas, kenapa dia begitu kejam pada keluargaku," seru Karsiti dengan mata berkaca-kaca.


Kau tidak akan pernah menyangka, siapa yang menjadi pelaku kejahatan itu, aku sudah merekayasa semuanya, pisau yang telah digunakan untuk menusuk Darman, telah bercampur dengan sidik jari Cecep, dengan begitu polisi akan percaya, jika Ceceplah yang telah membunuhnya, aku tidak bodoh dengan menyerahkan barang bukti begitu saja, karena sidik jariku sudah hilang, dan berganti dengan sidik jari Cecep, batin juragan Suripto didalam hatinya.


"Terima kasih mas, dengan begitu jiwa almarhum mas Darman, akan beristirahat dengan tenang, aku akan memberitau Laras dulu mas," ucap Karsiti seraya berjalan ke kamar anaknya.


Kemudian Karsiti menceritakan segalanya pada Larasati, dia mengatakan jika dalam dari kejahatan yang selama ini mereka cari, telah berhasil ditemukan oleh tangan kanan ayah tirinya.


"Umar sudah menjebloskan nya ke dalam penjara nduk, mari kita ke kantor polisi, karena kau harus memberikan keterangan lagi."


Kemudian mereka berangkat ke Kantor Polisi, nampak juragan Suripto berlagak seperti pahlawan, dia mengatakan pada Larasati, jika dia akan melakukan segalanya untuk kebahagiaan keluarganya.


Kenapa penjahat itu harus diserahkan ke Kantor Polisi, bagaimana caraku untuk membalas dendam, batin Larasati mendengus kesal.


Tidak lama setelah itu, polisi mempertemukan Larasati dengan pak Cecep, tersangka yang diduga melakukan kejahatan, nampak Larasati membulatkan kedua matanya, dia menatap tajam ke arah pak Cecep, nampak pak Cecep hanya terdiam, dengan menundukan kepalanya.


Sorot matanya penuh dengan penderitaan, kenapa naluriku mengatakan jika lelaki ini tidak bersalah, batin Larasati dengan mengkerutkan keningnya.


Kemudian juragan Suripto mengatakan pada pak Cecep, jika dia harus meminta maaf pada istri dan anak tirinya.


"Lihatlah baik-baik, ini adalah gadis yang telah kau nodai, apakah kau tidak merasa bersalah padanya, setelah kau merenggut kehormatan nya, dengan tega kau menghabisi nyawa ayahnya," pekik juragan Suripto seraya menggebrak meja.


Lalu pak Cecep mendongakan kepalanya ke atas, dipandangnya wajah juragan Suripto, yang sedang memberinya isyarat untuk mengikuti perintahnya, kemudian pak Cecep menurutinya, dia bersandiwara dihadapan Larasati dan juga ibunya, nampak dia mengiba, dan bersimpuh dibawah kaki keduanya, dia memohon ampunan atas kehilafan nya.


"Tolong maafkan saya, saya tidak sengaja melakukan itu semua," pekik pak Cecep berderai air mata.


Terlihat Karsiti sangat murka, dia menampar wajah lelaki itu, dan memakinya dengan kata-kata kasar, tapi diluar dugaan Larasati menahan ibunya, dia mengatakan pada ibunya, jika lelaki itu tidal bersalah.


"Entahlah bu, hati kecilku mengatakan jika dia tidak sepenuhnya bersalah, kita tunggu saja proses hukum yang berjalan," jelas Larasati dengan mengkerutkan keningnya.


Perasaan apa ini, jika dia memang penjahat yang selama ini ku cari, kenapa aku tidal tega melihatnya, aaku harus meminta bantuan Kanjeng Ratu Ageng Sedo, tapi dia mengatakan jika aku harus membayar semua yang akan ku minta darinya, karena penjahat itu bersekongkol, dan aku tidak bisa menemukan nya sekaligus, karena Kanjeng Ratu tidak akan sebodoh itu, memberitauku siapa saja penjahat yang sedang aku cari, batin Larasati didalam hatinya.


Nampak Polisi mengatakan, jika mereka harus mencari pelaku lain nya, karena mereka semua berkelompok, dan hanya satu orang saja yang tertangkap, kemudian Larasati mengatakan, jika sebagian dari penjahat itu telah tewas dimangsa binatang buas, dan yang lain nya sedang berada di rumah sakit jiwa, terlihat juragan Suripto tercekat, karena Larasati menceritakan tentang Rudi dan juga Sastro.


"Keduanya sedang kehilangan akal sehatnya, mungkin setelah keduanya waras, saya akan membawa mereka kesini," jelas juragan Suripto dengan menelan ludahnya kasar.


Setelah memberikan keterangan pada polisi, mereka semua kembali ke rumah, disepanjang perjalanan, Larasati mengatakan pada ibu nya, jika dia ingin melanjutkan pendidikan di universitas yang ada di kota.


"Aku tidak ingin larut dalam keterpurukan bu, aku ingin melupakan mas Adinata, dengan begitu akan lebih mudah untukku melupakan nya, aku tidak tahan jika harus bertatap muka lagi dengan nya." jelas Larasati dengan wajah sendu.


"Tapi nduk, ibu hawatir dengan keselamatanmu, bukan nya ibu tidak ingin mengijinkanmu."


Terlihat kedua perempuan itu saling terdiam, nampak Karsiti tidak ingin jauh dari anaknya, sementara Larasati yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan nya, bukan hanya untuk menghindari Adinata, tapi dia juga ingin mencari lelaki yang masih perjaka, supaya Kanjeng Ratu Ageng Sedo terpuaskan hasratnya.


Nampak Larasati terus membujuk ibunya, bahkan dia meminta bantuan ayah tirinya, supaya membujuk ibunya, untuk sesaat juragan Suripto terdiam, dan memikirkan keuntungan dari kepergian Laras ke kota.


Mungkin ada baiknya Larasati pergi ke kota, dengan begitu aku bisa lebih leluasa untuk mengambil alih semua harta bendanya, batin juragan Suripto dengan tersenyum licik.


Setelah itu juragan Suripto mulai membujuk istrinya, dia mengatakan jika Larasati harus membuka lembaran baru, di tempat yang baru.


"Ayolah Kar berikanlah kesempatan pada anakmu, biarkan dia memulai kehidupan barunya di kota, kita bisa menjaganya dari jauh, dan mengunjunginya kapanpun kau mau," bujuk juragan Suripto dengan menggenggam jari jemari Karsiti.


Sesampainya di rumah, Karsiti masih terdiam dan belum memberikan keputusan nya, nampak Larasati berjalan menghampiri ibunya, dan memeluknya dari belakang.


"Aku tau ibu sangat mencemaskan anakmu ini, tapi percayalah bu, Laras akan jauh lebih baik berada di kota, aku akan melanjutkan pendidikanku, dan aku akan buktikan pada ibunya mas Adinata, jika aku adalah perempuan yang terhormat, aku akan merubah pandangan semua warga desa terhadapku bu," ucap Larasati terisak dengan memeluk ibunya.


*


*


...Bersambung....