
Setelah mendapatkan kesadaran sepenuhnya, Larasati mengerutkan keningnya, dia sedang memikirkan langkah apa yang harus diambilnya, kembali dia memejamkan kedua matanya, mengingat berbagai kejadian yang baru saja dilihatnya.
"Tidak, aku tidak boleh lemah, mereka semua adalah orang yang jahat, aku tidak boleh mengampuni mereka, dan kau Umar, matamu melihat semua kejadian bejat itu, tapi kau sama sekali tak berbuat apapun, kehormatan dan Ayahku telah tiada, untuk apa aku mengampuni orang-orang biadap seperti kalian." Pekik Larasati dengan membulatkan kedua matanya.
Aura membunuh sangat terasa, saat Larasati mengatakan siap untuk memulai pembalasan dendamnya. Kanjeng Ratu Ageng Sedo memberikan kekuatan gaibnya pada pengikutnya itu, sebagian jiwa Kanjeng Ratu sudah bersemayam didalam tubuh Larasati.
Aaarrggh...
Larasati berteriak kencang saat energi gaib itu menyatu dengan dirinya, nampak sorot matanya berubah hitam pekat, dengan tersenyum miring, gadis itu melesat secepat kilat. Larasati terbang menembus rimbunnya hutan angker, didalam ingatannya terlihat jelas wajah Umar, yang telah membantu Ayah tirinya dalam melakukan kejahatannya.
Sebelum aku melenyapkan lelaki bejat itu, aku akan menyiksa Sopir itu terlebih dulu, karena kematian untuk Suripto tidak akan ku buat mudah, dia akan merasakan seribu kali kematian datang menjemputnya, tapi dia tidak akan bisa mati dengan mudahnya, akan ku buat dia memohon untuk kematian nya, batin Larasati yang sedang melayang dikegelapan malam.
Dengan panik Umar mengemudikan mobilnya, dia memandang ke segala arah, cemas jika Larasati datang untuk membunuhnya. Saat Umar sedang sibuk dengan kemudinya, samar-samar dia mendengar gema suara orang tertawa.
Chiit...
Umar menginjak rem mobil itu mendadak, dia mendongakan kepalanya keluar dari jendela mobil, hendak mencari pemilik suara tawa tersebut.
"Siapa kau, kenapa kau menggangguku." Seru Umar dengan lantang.
Tiba-tiba Umar merasakan sakit jambakan di rambutnya, lalu tubuhnya tertarik keluar dari mobilnya, kepalanya mendongak ke atas tapi tidak ada siapapun disana, tubuhnya pun melayang terpelanting ke jalan raya, terlihat Umar terengah-engah dengan wajah ketakutan.
"Siapapun kau, tolong jangan celakai aku, aku tidak pernah punya masalah apapun denganmu." Teriak Umar panik.
Suara tawa kembali terdengar olehnya, tidak lama setelah itu, suara petir yang menggelegar mengagetkan nya, membuatnya menggigil ketakutan. Umar melirik ke kanan dan kiri mengawasi sekitar dengan penuh was-was.
Sesaat kemudian Umar melihat cahaya sinar lampu, yang menyoroti seseorang berjubah merah, ia sedang berjalan mendekatinya perlahan. Seluruh kepala dan wajahnya tertutupi jubah tersebut, membuat Umar menyipitkan matanya berusaha mengenali orang tersebut.
Seseorang berjubah merah tersebut berhenti beberapa langkah dari tempat Umar meringkuk ketakutan. Umar melotot melihat rambut panjang yang menjuntai kebawah tanah. Tubuh orang itu melayang tak menyentuh aspal jalan, Umar mengernyit berusaha mengenali orang yang berada di balik jubah tersebut.
"Si siapa kau, kenapa kau menggangguku." Seru Umar dengan menelan ludahnya kasar.
Nampak orang yang di balik jubah merah itu menyunggingkan senyum sinis. Perlahan dia membuka tudung jubahnya, menampakan rambut yang berkilau, lalu dia mendongakkan wajahnya, menatap tajam ke arah Umar yang seluruh tubuhnya gemetar. Terlihat sorot mata berwarna hitam pekat, yang tiba-tiba berubah memerah semerah darah, dia sedang menatap Umar yang terbelalak kaget.
"Mbak Larasati?!" seru Umar dengan suara gemetar.
Umar menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, dia pasti bukan mbak Larasati, gadis itu tidak mungkin akan menyakitiku." Gumamnya dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya.
Melihat Umar menutup matanya rapat-rapat, membuat Larasati terkekeh sinis. "Kau takut padaku pak Umar?." Ejek Larasati dengan tersenyum miring.
Tangan kanan Larasati bergerak ingin mencengkeram leher Umar, menekan, hingga membuat lelaki itu memberontak dengan memukul tangan yang mencengkeram lehernya. Umar terheran-heran, bagaimana seorang perempuan seperti Larasati, memiliki kekuatan yang sangat besar, untuk membuatnya tak berdaya seperti itu.
Senyum Larasati semakin melebar, tanpa aba-aba dia menarik lelaki itu ke atas, lalu menjatuhkan Umar dengan keras.
Bruugh...
Terdengar Umar merintih kesakitan dengan terbatuk-batuk, dia memohon ampun pada Larasati yang sedang berdiri mengambang didepannya.
Larasati menatap lelaki itu dengan angkuh, dia bertanya pada Umar, apa permintaan terakhirnya, sebelum dia menghabisinya.
"Ampun mbak Laras, jangan bunuh aku, kasihan istri dan anak-anak ku, mereka tidak akan sanggup bertahan hidup tanpaku." Ucap Umar berlutut dengan menyatukan kedua tangannya.
"Kasihan?! apa kau juga mengasihani ku dan juga Ayahku waktu itu? kau bersekongkol dengan lelaki biadap itu, bahkan kau tetap bungkam sampai saat ini, jika aku tidak melenyapkan mu, itu akan menjadi penghinaan bagi sumpah ku." Sahut Larasati dengan tersenyum sinis.
"Aku aku terpaksa bungkam mbak, jika aku mengatakan sesuatu pada siapapun, Juragan Suripto akan mencelakai ku dan juga keluarga ku, percayalah mbak, aku tidak bersekongkol dengannya, meski aku bekerja dibawah perintahnya, aku tidak pernah ikut melecehkan mu, bahkan aku tidak turut campur dalam pembunuhan Juragan Darman." Jelas Umar dengan wajah ketakutan.
"Bungkam lah selamanya di neraka." Pekik Larasati seraya menyongkel satu bagian mata Umar.
Sebuah bola mata menggelinding ke jalan raya, Umar mengerang kesakitan dengan memegangi sebelah matanya yang sudah copot dari tempatnya, seluruh wajahnya basah dengan darah yang mengucur deras dari rongga matanya yang bolong.
Larasati tersenyum puas melihat penderitaan Umar, dia menggeliat di jalanan seperti cacing kepanasan.
"Dengan matamu kau melihat semua kejahatan yang menimpaku dan juga Ayahku, bersyukurlah karena aku masih menyisakan satu buah mata untukmu, dan dengan telingamu itu, kau telah mendengar jerit penderitaan ku, ketika tubuhku dijamah oleh semua lelaki bejat itu, aku juga akan menarik telingamu itu sampai putus, akan ku robek mulutmu yang tetap bungkam setelah mengetahui segala perbuatan Juragan Suripto, tapi kau tidak membongkar kejahatannya, dan memilih menutupi segalanya." Pekik Larasati seraya mencabut daun telinga Umar, hingga robek.
Larasati melambai-lambaikan telinga kiri Umar yang masih meneteskan darah segar, nampak Umar berguling-guling menjerit kesakitan,darah segar menutupi sebagian besar wajahnya, terlihat Larasati melemparkan daun telinga Umar ke tengah jalan, jeritan kesakitan dan ucapan ampunan tidak mengubah ekspresi amarah diwajah cantiknya.
Umar berurai air mata merasakan sakit yang tidak terkira, penyesalan menyelimuti dirinya, meski begitu Umar tidak ingin mati begitu saja, dia tidak rela meninggalkan anak dan istrinya dengan cara seperti itu, sekalipun harus mati, Umar menginginkan kematian yang wajar.
"Ampuni aku mbak Larasati, aku mohon." Umar mengiba dengan suara parau.
Dengan sebelah matanya, Umar melihat pergelangan tangannya diinjak oleh Larasati, perempuan itu menjejakkan kakinya dengan sangat kuat, hingga Umar tidak bisa merasakan tangannya yang ternyata sudah remuk.
...Bersambung....