
Karena tidak memiliki pilihan lain, Larasati terpaksa menerima persyaratan dari Kanjeng Ratu Ageng Sedo. Yang terpenting untuk nya saat ini adalah keselamatan nyawa ibu nya, dan tidak menunggu lama lagi dia akan segera melenyapkan Juragan Suripto. Karena Larasati sudah tidak ingin memiliki beban dan pembalasan dendam lagi, dia ingin hidup tenang tanpa terbebani masalah apapun.
"Baiklah Kanjeng apapun keinginan mu, yang terpenting adalah nyawa ibuku selamat. Sekalipun aku tidak memilih untuk memberikan bayi itu padamu, manusia-manusia jahat itu akan melenyapkan nya secara tidak langsung." Ucap Larasati terisak dengan suara bergetar.
Kanjeng Ratu Ageng Sedo tersenyum miring, dia mengayunkan kedua tangan nya. Keluar suara cahaya kemerahan yang di arahkan ke tubuh Larasati.
Whuust...
Bruugh...
Larasati terjatuh, tubuhnya berguling di tanah yang lembab itu. Sebagian kesaktian Kanjeng Ratu Ageng Sedo merasuki tubuhnya kembali, tubuhnya melayang ke udara, percikan api keluar dari dalam tubuhnya, hingga dia menjerit dengan keras, dan seluruh binatang malam yang ada di hutan itu berhamburan pergi dari sarangnya.
Kanjeng Ratu Ageng Sedo tertawa puas melihat pengikutnya telah kembali, sementara Larasati sedang berlutut dihadapannya. Penguasa kegelapan itu kembali mengingatkan tentang keberadaan Adinata di alam manusia, tapi jiwanya tersamarkan di antara manusia lainnya.
"Aku tau kau tidak mengetahui apapun tentang kangmas Adinata, satu pesanku jangan pernah berhianat padaku. Ketika kau mengetahui keberadaan nya, lekas beritau aku. Karena hanya kau yang bebas berkeliaran di alam manusia, sewaktu-waktu dia pasti akan menemuimu, dan kau harus membawanya kepadaku. Jika tidak aku bisa saja mencelakai siapa saja yang ada didekatmu." Ancamnya dengan sorot kekejaman.
"Baik Kanjeng Ratu, aku tidak akan menghianati kepercayaan mu." Larasati tunduk dengan ucapan perempuan gaib itu.
Setelah Kanjeng Ratu Ageng Sedo menghilang, Larasati pergi mencari keberadaan Karsiti. Saat itu dia sedang berada di sebuah toko emas, Larasati membuat si pemilik toko itu melihat, jika emas yang akan di jual Karsiti adalah emas palsu, hingga terjadi ketegangan di antara keduanya.
"Ibu mari kita pulang saja, Larasati akan memberikan aset peninggalan ayah." Ucapnya membohongi ibu nya.
"Kau, kenapa kau mengikutiku. Aku tau jika kau tidak menyukai ayah tirimu, untuk apa kau melakukan semua itu!." Seru Karsiti tidak percaya.
Maafkan Larasati bu, Laras terpaksa menggunakan kesaktian ini, supaya ibu tidak terjebak dalam tipu daya dukun biadap itu, batin Larasati dengan wajah sendu.
Sesampainya di rumahnya, Karsiti diminta untuk beristirahat di kamarnya. Semua peralatan untuk ritual sudah dibuang, dan tanpa sadar Larasati meletakkan mustika candra kenanga di kamar ibu nya. Hingga kekuatan gaib tidak dapat masuk ke dalam Karsiti, tapi perempuan itu seperti orang linglung.
Dret dret dret...
Ponsel Larasati bergertar, nampak panggilan masuk dari Awan.
"Ras kau dimana, sudah beberapa hari kau tidak berkunjung, apa kau ada masalah?." Tanya Awan diseberang telepon sana.
Singkat cerita Larasati menceritakan apa yang terjadi pada ibunya, dan Awan mengatakan akan membantunya.
"Mungkin saja kita harus mengadakan pengajian di rumah mu, supaya semua gaib tidak mempengaruhi ibumu lagi."
"Tapi Wan, kau tau kan kalau aku sendiri memiliki kekuatan dari sosok gaib. Jika kau mengadakan pengajian di rumah ini, aku akan merasa terbakar Wan." Jelas Larasati membuat Awan kembali mengingat kisah hidup Larasati.
Terlintas slide demi slide potongan ingatan, dimana Larasati menceritakan semua kisah hidupnya. Awan yang mengerti dengan permasalahan Larasati nampak menganggukkan kepalanya, seakan tau harus berbuat apa.
...Bersambung....