Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Jiwa yang pergi untuk selamanya.


Adinata kebingungan memilih salah satu mustika yang tersimpan bersama perhiasan lainnya, tiba-tiba dia mendengar suara Ageng Sedo di luar kamarnya.


"Kangmas apakah kau di dalam." Seru Ageng Sedo lantang.


Adinata panik dan menyembunyikan peti kuno itu, secepat mungkin dia melesat menghampiri Ageng Sedo.


"Ada apa Ageng kenapa kau berteriak seperti itu, aku sedang menemui Raja buto dari utara, karena itulah aku kembali ke kamar untuk istirahat sejenak. Mari kita kembali ke singgasana." Ajak Adinata seraya menggenggam tangan Ageng Sedo.


Seorang pelayanan istana melesat mendatangi mereka, nampak wajahnya dipenuhi rasa kecemasan.


"Maaf Kanjeng Ratu, Romomu sedang kesakitan di altar istana, sepertinya kondisi beliau tidak baik."


Sontak saja Ageng Sedo terbelalak mendengar kabar tentang romo nya, tanpa berpikir panjang Ageng Sedo melesat pergi meninggalkan Adinata.


Aku akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, Ageng Sedo sangat mengasihi Romo nya, pasti dia tidak akan sibuk mencariku, batin Adinata dengan mengerutkan keningnya.


Adinata melesat kembali ke kamar dan mengambil mustika candra kenanga, dia sudah menemukan mustika itu yang terbungkus kain merah di dalam peti perhiasan.


Whuust...


Dengan tergesa-gesa Adinata melesat ke taman belakang istana, disana sudah ada Awab yang menunggunya dengan cemas. Keduanya bergegas meninggalkan dunia kegelapan itu, sampai di sebuah Rumah Sakit, nampak seorang perempuan tua sedang menangis di depan ruangan ICU.


"Awan anakku, jangan pergi tinggalkan ibu Nakal huhuhu." Risma meratapi nasib anak satu-satunya.


"Awan apakah kau disini Nak, dengarkan ibu dan lekas bangun dari tidurmu Nak, ibu tidak bisa melihatmu menderita seperti itu." Seru Risma dengan memandang ke segala arah.


Awan tertunduk dengan berurai air mata, kesedihan tidak mampu ditahannya, karena sebentar lagi dia akan meninggalkan dunia itu untuk selamanya. Nampak bayangan hitam terbang mengambang, Awan tau jika itu adalah malaikat maut yang bertugas untuk mengambil nyawanya.


"Setelah kau terbangun dari tidur panjang, genggamlah tangan ibuku, ucapkan permintaan maafku untuknya, karena aku belum bisa membalas jasa-jasanya, mari ikuti aku ke dalam." Ucap Awan lirih dengan penuh kesedihan.


Jiwa Awan merasuk kembali ke dalam raganya, sesosok bayangan hitam sedang berdiri mengambang di ujung ruangan. Tangannya seakan menarik sesuatu dengan perlahan, tubuh Awan mengejang dan alat-alat kedokteran itu berbunyi, menandakan ada yang salah disana, deru nafas Awan semakin tidak teratur, detak jantungnya pun melemah. Risma mengetahui ada sesuatu yang terjadi pada putranya, dengan panik dia memanggil Dokter untuk memastikan kondisi anaknya baik-baik saja.


Tapi takdir berkata lain ketika Dokter sudah sampai di ruangan itu, detak jantung Awan sudah berhenti, tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang. Nampak Dokter melakukan tindakan untuk membuat jantungnya kembali bekerja, tapi nyawa nya sudah tidak dapat tertolong lagi.


Jiwa Awan telah dijemput oleh malaikat maut, dia melambaikan tangan pada Adinata seraya tersenyum penuh makna. Sebelum akhirnya jiwa Awan menghilang bersama malaikat yang memakai jubah putih terbang menuju angkasa.


Dokter memerintahkan perawat untuk mencatat jam kematian Awan, Risma yang terkejut setelah mendengar ucapan Dokter terjatuh pingsan di Koridor Rumah Sakit.


Keadaan disana mendadak kacau karena keluarga dari pasien yang baru saja tiada tidak sadarkan diri, beberapa perawat menolongnya dan membaringkan nya di Ruang pemeriksaan.


Di ruangan lain, Adinata sedang bersiap memasuki raga Awan, dia harus menyesuaikan diri dengan bentuk baru tubuh yang akan dimasukinya. Dengan sekali tarikan nafas Adinata melesat masuk ke dalam raga Awan, tapi ada penolakan di dalam tubuh yang telah menjadi jasad itu. Jiwa Adinata terpental keluar kembali, nampak tubuh Awan bergetar kembali.


Kenapa aku tidak dapat masuk ke dalam tubuhnya, apakah raga itu menolak untuk ku tempati, batin Adinata dengan resah.


...Bersambung....