Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Larasati kritis.


Terdengar Bahar mengatakan pada Karsiti, jika dia ingin berbicara empat mata dengan saudara perempuan nya itu, keduanya berjalan ke dalam sebuah ruangan, Bahar mengatakan pada Karsiti, jija dia memiliki firasat buruk dengan kedatangan juragan Suripto.


"Aku tidak suka dengan kedatangan lelaki itu, lebih baik kau tidak usah menerima bantuan nya, bukankah dia mantan kekasihmu dulu Kar." tukas Bahar dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Iya kangmas dia adalah mas Suripto, mantan kekasihku yang dulu merantau ke luar negeri, dan menghilang tanpa kabar, aku juga baru tau jika adalah teman seprofesi almarhum suamiku." jelas Karsiti dengan wajah sendu.


"Jika memang dia datang untuk melayat, kau tidak perlu terlalu banyak bicara dengan nya, lebih baik aku saja yang berada diluar, untuk menyambut pelayat yang datang." ujar Bahar seraya melangkahkan kaki nya ke ruang tamu.


Nampak Bahar berada di ruang tamu, dan juragan Suripto duduk disamping nya, juragan Suripto menyapa Bahar, dan menanyakan kabarnya.


"Bagaimana kabarmu mas Bahar, apakah bisnis kulinermu di kota sukses mas?." tanya juragan Suripto pada Bahar yang menoleh ke arahnya.


Darimana dia tau aku memiliki bisnis kuliner, batin Bahar didalam hati nya.


"Jika mas Bahar mau, kita bisa bekerja sama supaya bisnis kuliner mas Bahar makin berkembang, aku akan menanam modal dibisnis yang mas tekuni saat ini." ucap juragan Suripto berusaha mengambil hati Bahar.


"Terima kasih Rip, sebaiknya lain waktu saja kita bicarakan, karena sebentar lagi jenazah akan segera dibawa ke pemakaman, tidak etis rasanya jika kita membicarakan urusan bisnis sekarang." ujar Bahar seraya bangkit berdiri.


Setelah itu semua pelayat mengantar jenazah juragan Darman ke tempat peristirahatan terakhirnya, terlihat Karsiti berderai air mata melihat jenazah sang suami untuk terakhir kali nya, Bahar pun menenangkan Karsiti yang berderai air mata, sedangkan juragan Suripto yang berdiri tidak jauh dari makam juragan Darman, nampak tersenyum puas melihat kehancuran keluarga mantan kekasihnya itu.


Sekarang kau sudah kehilangan segalanya Karsiti, aku pun akan membuatmu kehilangan harta bendamu, sehingga kau bisa merasakan penderitaan yang dulu ku rasakan, batin juragan Suripto tersenyum kecut.


Setelah proses pemakaman selesai, Karsiti masih bertahan disana untuk mendoakan almarhum juragan Darman, tapi tiba-tiba Karsiti mendapatkan panggian telepon dari Parjo, yang mengabarkan jika kondisi anak semata wayang nya Larasati, mengalami penurunan dan dalam keadaan kritis, terlihat Karsiti berteriak histeris menahan sesak didalam dada nya, perempuan paruh baya itu menangis semakin kencang, sehingga suaranya parau serak.


"Mas Bahar antarkan aku ke rumah sakit sekarang juga huhuhu, Larasati membutuhkanku mas tolong aku huhuhu." seru Karsiti yang sudah lemah tidak berdaya.


"Tapi Kar di rumah mu masih banyak pelayat yang datang, jika tidak ada keluarga di rumah, siapa yang akan menemui para pelayat itu." tukas Bahar dengan mengkerutkan kening nya.


Mendengar pembicaraan mereka, juragan Suripto datang menghampiri keduanya, dia menawarkan diri untuk mengantar Karsiti ke rumah sakit.


"Jika kalian berkenan lebih baik aku saja yang mengantar Karsiti ke rumah sakit, karena jika terlalu lama menunggu, bisa-bisa keadaan anakmu akan semakin memburuk Kar." ujar juragan Suripto menatap tajam pada Karsiti.


"Mungkin yang Suripto katakan benar Kar, lebih baik kau pergi bersamanya ke rumah sakit, karena harus ada keluarga yang berada di rumah duka." jelas Bahar pada Karsiti.


"Jika kau membutuhkan bantuan ku jangan sungkan ya Kar, aku akan selalu ada untukmu, pasti kau akan kesusahan mengurus semua usaha dan bisnis almarhum suamimu, terlebih lagi anak gadismu sedang terbaring di rumah sakit." ucap juragan Suripto dengan menggenggam jemari tangan Karsiti.


"Huhuhu terima kasih mas Suripto, aku memang sedang sangat kalut saat ini, karena yang mengerti usaha dan bisnis almarhum suamiku, hanya anakku Larasati saja, tapi sekarang dia sedang kritis, aku takut dia kenapa-kenapa mas, aku tidak bisa hidup tanpa anakku Larasati, karena hanya dia seorang saja, yang tersisa dari keluarga kecil ku." seru Karsiti berlinang air mata pilu.


Melihat tangisan Karsiti, setengah hati juragan Darman nampak iba, tanpa sadar dia memeluk Karsiti dan menenangkan nya, cinta yang ada untuk perempuan itu masih tersisa didalam hati juragan Darman, dia mengusap lembut air mata Karsiti dan memintanya untuk berhenti menangia.


"Percayalah padaku Karsiti, perasaanku masih sama seperti dulu, alu tidak tahan melihatmu bersedih seperti ini." jelas juragan Darman menatap kedua mata Karsiti.


"Ma maafkan aku mas Suripto, aku tidak seharusnya memelukmu seperti ini, suamiku baru saja dimakam kan, bahkan tanahnya masih basar, bagaimana mungkin kau mengungkapkan perasaanmu seperti ini, tolong mas jangan lakukan ini lagi." cetus Karsiti seraya memalingkan wajahnya.


Tidak berselang lama mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di rumah sakit, Karsiti bergegas turun dari mobil, dia berlari ke ruang icu karena Larasati sedang kritis di dalam sana, nampak juragan Suripto mendengus kesal, karena Karsiti bersikap acuh padanya.


"Kurang ajar berani sekali dia bersikap seperti itu padaku, ternyata aku sudah salah menyia-nyia kan hidupku hanya untuk menunggu perempuan yang sudah mulai tua itu." pekik juragan Suripto dengan membulatkan kedua matanya.


Sesampainya di depan ruangan icu, nampak Parjo menghampiri juragan nya itu, dia mengatakan pada Karsiti, jika Larasati sedang dalam penanganan dokter.


"Ibu yang tenang ya, mbak Larasati pasti akan baik-baik saja, kita berdoa saja bu." seru Parjo sang sopir yang menunggu Larasati di rumah sakit.


"Ya Alloh gusti Jo cobaan apalagi ini huhuhu." ucap Karsiti berderai air mata kesedihan.


"Yang ikhlas bu, mungkin sebentar lagi dokter akan keluar, dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." ujar Parjo dengan mengusap peluh dikeningnya.


Dan dibelakang sana terlihat juragan Suripto, berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, dia menghampiri Karsiti dan membantunya bangkit berdiri, Karsiti sedang duduk mengiba di lantai rumah sakit, dan Parjo tidam berani membangunkan juragan nya itu.


Siapa tuan ini ya sepertinya aku pernah melihatnya, batin Parjo didalam hati nya.


*


*


...Bersambung....