Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Kisah Masa Lampau Sang Kanjeng Ratu.


...🍁Flashback on🍁...


Di masa lampau, Kanjeng Ratu Ageng Sedo hidup berdua dengan ibu nya yang sudah tua renta. Karena sang ibu sudah sakit-sakitan, dan tak mempunyai banyak harta. Ageng Sedo yang saat itu kesusahan mencari uang, untuk biaya hidup dan pengobatan ibu nya, terpaksa meminjam uang pada saudagar kaya raya yang ada di Desa nya. Karena tak mampu mengembalikan uang dan bunga yang dipinjam nya, Ageng Sedo dipaksa menikah dengan saudagar kaya itu. Tak mampu menolak pinangan sang saudagar, Ageng Sedo terpaksa menerima pinangan lelaki tua yang lebih pantas menjadi Ayahnya. Sang ibu yang merasa menjadi beban anaknya, akhirnya menolak merestui pernikahan itu, dan membuat sang saudagar murka. Hingga akhirnya beberapa anak buahnya diminta untuk meracuni perempuan tua itu. Dan ditemukan secarik surat disebelah mayatnya, yang menjelaskan jika sang ibu terpaksa mengakhiri hidupnya karena merasa bersalah, telah menjadi beban bagi anak perempuannya. Dan Ageng Sedo diminta menebus hutang dengan menikahi juragan kaya raya itu.


Ageng Sedo terduduk lemas, seluruh tubuhnya bagaikan tak bertulang. Di depan jenazah ibu nya, Ageng Sedo menangis dan meronta. Sang juragan datang, dan berpura-pura iba atas kepergian ibu nya.


"Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu, mari segera kita kuburkan ibumu." Ucap juragan itu seraya merangkul Ageng Sedo.


Tanpa kata Ageng Sedo menuruti ucapan sang Juragan, karena sesuai wasiat ibu nya. Ageng Sedo diminta segera melangsungkan pernikahan, supaya jiwa ibu nya dapat beristirahat dengan tenang. Padahal semua drama itu adalah ide dari sang juragan. Hingga akhirnya Ageng Sedo mengetahui kebenaran yang ada.


Ketika ia sedang berjalan menuju pelaminan, Ageng Sedo mendengar beberapa anak buah calon suami nya, berbicara tentang kematian ibu nya.


"Jika bukan karena kita yang meracuni perempuan tua itu, juragan tak akan bisa menikahi gadis secantik Ageng Sedo. Kita harus meminta imbalan yang lebih." Celoteh beberapa lelaki yang sedang menenggak air yang memabukkan.


Sontak saja Ageng Sedo terperanjat kaget, ia memundurkan langkahnya. Air mata bercucuran dari kedua matanya. Gadis cantik itu meninggalkan rumah mewah milik sang juragan. Ageng Sedo melarikan diri ke puncak gunung yang ada di desa itu, nyawanya hampir saja melayang karena terjatuh dari atas bukit Sangga Geni. Beruntung nya tubuhnya tersangkut di pohon dan dapat menyelamatkan nyawa nya. Dengan semua penderitaan yang dirasakan nya, Ageng Sedo putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya, tapi ternyata keberadaan nya diketahui oleh sang juragan. Dan semua anak buahnya mengejar Ageng Sedo sampai ke bukit di atas gunung itu.


Karena murka dengan perbuatan Ageng Sedo, sang juragan nekat merenggut kehormatan Ageng Sedo. Di hadapan para pekerja nya, sang juragan menodai kehormatan gadis tak berdaya itu. Karena merasa hina setelah dinodai dihadapan banyak orang. Ageng Sedo menangis dan bersumpah akan membalas dendam pada semua orang yang ada disana. Dia mendongakan kepalanya ke atas langit, dan berteriak lantang. Jika malam ini ia akan mengakhiri hidupnya, dan ia akan merangkak dari neraka untuk membalaskan rasa sakit hati nya.


"Demi seluruh penghuni alam gaib yang ada di atas gunung ini, aku bersumpah akan kembali dari neraka untuk membalaskan dendam pada mereka semua. Wahai seluruh demit dan juga iblis yang ada di tempat ini, datanglah dan bantu aku mewujudkan sumpahku. Dan ambilah semua jiwa manusia laknat ini, apapun akan ku berikan jika kalian bersedia membantu ku!." Seru Ageng Sedo dengan suara bergetar dan mata yang memerah.


Ternyata ucapan Ageng Sedo didengar oleh penguasa gaib, dia kembali dari kematian untuk menuntut balas pada semua orang yang ada disana. Ageng Sedo tersenyum miring dengan tubuh yang berdarah-darah, nampak bayangan hitam itu melesat menyedot aura kehidupan semua orang jahat yang telah menyakiti Ageng Sedo. Mayat-mayat berjatuhan di atas bukit Sangga Geni, membuat semua makhluk gaib berdatangan dan berpesta menggerogoti jiwa-jiwa manusia jahat itu.


Karena penguasa gaib di gunung itu menyukak Ageng Sedo, ia meminangnya dan keduanya menjadi penguasa yang sangat ditakuti di wilayah itu. Dan mulai saat itu Ageng Sedo mendapat gelar Kanjeng, dan dikenal dengan nama Kanjeng Ratu Ageng Sedo.


Dan malam disaat Larasati menjadi korban kejahatan Juragan Suripto, tanpa sengaja Kanjeng Ratu Ageng Sedo merasa terpanggil untuk merasuk ke dalam jiwa Larasati. Melalui bantuan simbah Gayatri, Larasati dituntun untuk menjadi pengikut perempuan gaib itu. Sehingga ia dapat membantu membalaskan dendam, pada manusia laknat yang tega merenggut kehormatan para wanita.


Sejak saat itu setengah jiwa Kanjeng Ratu Ageng Sedo bersemayam didalam raga Larasati


Karena itulah Ageng Sedo pun memiliki perasaan yang sama pada Adinata, lelaki yang sangat dicintai Larasati. Terlebih lagi Adinata adalah reinkarnasi dari lelaki yang pernah dicintai Ageng Sedo di kehidupan masa lampau.


...🍁Flashback off🍁...


Jantung Larasati berdegup sangat kencang, ia tak menyangka jika selama ini jiwanya telah menyatu dengan sosok sesembahan nya. Nampak Kanjeng Ratu Ageng Sedo tersenyum datar dihadapan nya.


"Kau tak perlu risau lagi, bagaimanapun kita adalah satu. Jika kau mencintai Adinata, akupun juga sama. Tak kan ku biarkan kau kehilangan cintamu lagi, sama seperti aku dulu kehilangan cintaku. Hiduplah berbahagia dengan ibumu, buat ia merasa beruntung karena memiliki putri sepertimu. Tebus kesalahan ku dulu karena tak mampu membahagiakan ibuku, aku akan mengambil alih semua dendam yang bersemayam dalam dirimu. Akan ku jadikan budak abadi semua manusia laknat yang telah menyakiti mu. Meskipun begitu kau tak akan bisa melepaskan diri dariku, di malam-malam tertentu kau tetap harus menyediakan tumbal untukku. Pergilah dari tempat ini, bawalah lelaki yang kau cintai, mulailah kehidupan baru kalian. Dan jangan pernah kau lupakan jika jiwa kita adalah satu, kau tak akan bisa melakukan ibadah seperti dulu lagi, meski kau berniat untuk bertaubat, jiwa ragamu akan berontak menolak semua kegiatan yang berhubungan dengan agama." Ucap Kanjeng Ratu Ageng Sedo dengan wibawanya.


...Bersambung. ...