Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Malam mencekam di desa lelembut.


Semalaman Larasati tidak dapat memejamkan kedua matanya, jiwa nya resah hatinya kalut, dihati dan pikiran nya masih terbayang kejadian kelam yang menimpa dirinya, air mata Larasati membasahi wajah cantiknya, dan sayu-sayu terdengar suara gending gamelan jawa, seakan ada acara besar diluar sana, nampak Larasati yang penasaran berusaha mengintip dari lubang jendela rumah simbah Gayatri, terlihat di luar sana banyak penduduk dengan memakai baju jaman dulu, layaknya orang-orang di kerajaan masa lampau, tengah berkumpul dengan menari-nari diiringu tabuhan gamelan, beberapa orang lain nya sedang menata sesajen menghadap ke arah utara.


Tiba-tiba dari arah dapur keluarlah simbah Gayatri, nampak beliau membawa berbagai bahan sajen yang diletakan di atas nampan, Larasati berniat membantu simbah Gayatri membawa peralatan sajen itu, tapi perempuan tua itu menolak bantuan Larasati.


"Tidak perlu nduk, ingatlah pesanku jangan keluar dari rumahku, malam ini adalah malam yang sangat sakral di desa ini, karena seluruh penduduk desa Watu mayit akan melakukan ritual persembahan, dan siapapun yang bisa menyenangkan leluhur disini, dia akan diberikan kesaktian yang berlebih, karena kau bukanlah salah satu bagian dari desa ini, aku takut jika sesepuh desa yang lain nya berniat menumbalkan jiwa mu." jelas simbah Gayatri dengan mengkerutkan keningnya.


"Baiklah mbah aku akan tetap berada di dalam rumahmu." sahut Larasati dengan wajah cemas.


"Aku akan menutup pintu rumahku, dan jangan sekali-sekali kau membuka nya, karena tidak ada siapapun yang dapat masuk ke gubuk ku selain diriku yang mengijinkan nya, karena itu lah jika ada yang memanggil atau memintamu untuk keluar, jangan pernah kau menurutinya, bisa jadi itu adalah perbuatan sesepuh desa lain nya, yang telah mengetahui keberadaanmu, dan ingin menumbalkan jiwamu, untuk keuntungan nya sendiri, ingatlah pesanku baik-baik, aku pergi dulu ya nduk." cetus simbah Gayatri seraya berjalan keluar membawa nampan sesajen.


Setelah kepergian simbah Gayatri, Larasati melangkahkan kaki nya ke dapur gubuk itu, dia mengambil minum yang dituangkan dibatok kelapa, Larasati meneguk habis air putih yang sangat menyejukan jiwa nya, dia berjalan kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya, terlihat Larasati berusaha memejamkan kedua matanya, tapi dipikiran nya malah melintas kejadian-kejadian buruk yang telah menimpanya, lalu Larasati bangkit dari tidurnya seraya mengusap rambutnya kasar.


Kenapa harus aku yang mengalami semua ini ya Alloh, apa salahku huhuhu, gumam Larasati didalam hatinya.


Tapi tiba-tiba terdengar suara angin kencang yang berhembus, suara alunan gamelan mendadak berhenti, suasana disana sangat sunyi dan senyap, terlihat Larasati beringsut ke dalam selimut, bulu-bulu halus ditubuhnya meremang, Larasati merasakan aura yang berbeda dari sebelumnya.


Brak brak brak...


Terdengar suara benda-benda berjatuhan di luar gubuk simbah Gayatri, dan sayu-sayu Larasati mendengar suara tangisan perempuan yang mengiba minta tolong.


Huhuhu tuloong aku tulooong...


Nampak Larasati tercekat mendengar suara tangisan itu, gadis itu merasa mengenal pemilik suara itu.


Astagfirullohaladzim itu kan suara simbah Gayatri, apa yang terjadi dengan nya, aku harus menolongnya sekarang juga, batin Larasati didalam hatinya.


Terlihat Larasati berjalan ke depan pintu gubuk itu, tangan nya sudah hampir membuka pintu yang ada didepan nya, tapi Larasati mendadak teringat pesan simbah Gayatri, perempuan tua itu melarang Larasati membuka pintu, meski apapun yang terjadi di luar sana, nampak Larasati sangat resah dia tidak tega mendengar teriakan minta tolong perempuan tua yang telah menolongnya, tapi dia pun sudah diperingatkan untuk tidak membuka pintu rumah itu.


Dok dok dok dok...


Terdengar suara pintu gubuk itu digedor-gedor dari luar, langkah kaki Larasati mundur ke belakang, dengan jantung yang berdegup kencang, lalu terdengarlah suara seorang lelaki tua, yang mengatakan pada Larasati jika jiwa nya dalam bahaya, jika dia terus bertahan di dalam gubuk itu.


"Ya Alloh apa yang harus ku lakukan huhuhu, siapa yang harus ku percaya, ibu... Larasati takut bu huhuhu." ucap Larasati terisak ketakutan.


Nampak Larasati membaca lantunan ayat suci, dan tanpa dia sadari hampir seluruh penduduk desa lelembut itu menyadari kehadiran jiwa nya, dan salah satu sesepuh itu sangat marah, karena Larasati membuat acara sesembahan malam itu berantakan, karena tanpa sadar Larasati menyebut nama Alloh dan membaca ayat-ayat suci, yang sangat pantang dilakukan di desa itu.


Wuussh...


Terlihat cahaya suar keemasan masuk menembus dinding gubuk itu, sedangkan Larasati yang terkejut dan ketakutan tidak fokus untuk melanjutkan doa-doa nya lagi, gadis itu tersudut dipojok ruangan dengan menutupi kedua matanya.


"Tolong jangan sakiti aku huhuhu, ampuni aku jangan tumbalkan jiwaku mbah, aku masih ingin hidup dan membalaskan dendamku huhuhu." seru Larasati terisak dengan mata yang ditutupi menggunakan kedua tangan nya.


"Nduk cah ayu ini aku nduk simbah Gayatri, apa yang kau lakukan nduk, kau sudah mengundang malapetaka untuk dirimu sendiri, bukankah sudah ku katakan jangan membuka pintu itu, tapi kau justru menyebut nama gusti yang agung, dan kau membaca ayat-ayat suci nya, ini adalah desa lelembut nduk, kami semua tidak tahan jika ada yang menyebut dan membaca ayat suci Nya, jika sudah begini aku harus membawamu pergi sekarang juga, jika kau terlalu lama berada di gubukku, mereka akan bersamaan melawanku dan mengambil jiwa mu." tukas simbah Gayatri dengan wajah cemas.


"Tidak... Jangan bawa aku kemanapun, biarkan saja aku kembali ke alamku, aku tidak mau ditumbalkan, aku mohon mbah lepaskan aku." seru Larasati menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak akan menumbalkanmu nduk, justru aku akan menolongmu untuk kembali ke alam manusia, supaya kau bisa membalaskan dendammu secepatnya, apa kau lupa dengan persyaratan yang aku ucapkan tadi, bukankah aku tidak mengatakan jika jiwamu akan ditumbalkan cah ayu." ujar simbah Gayatri dengan mengkerutkan keningnya.


Bagaimana ini siapa yang harus ku percaya, aku takut bu huhuhu, batin Larasati kalut.


"Sekarang aku tau nduk, ternyata kau meragukanku karena ada makhluk lain yang telah mengatakan sesuatu padamu, percayalah padaku nduk hanya aku saja yang dapat menolongmu, karena makhluk lain yang berada di al ini, hanya akan mengambil paksa jiwamu, mereka tidak akan membantumu membalaskan dendam, jika bukan aku yang kau percaya, kau akan celaka nduk, percayalah padaku, mari kita lekas pergi dari sini, sebelum mereka berhasil menangkap jiwamu." cetus simbah Gayatri meyakinkan Larasati.


*


*


...Apakah simbah Gayatri adalah makhluk gaib yang jahat atau baik, tunggu cerita di bab selanjutnya ya, jangan lupa berikan Vote dan hadiahnya, supaya Author semangat untuk update, salam sayang untuk kalian semua....


...Bersambung....