
Larasati nampak gusar, ia ingin mengurungkan niatnya untuk melakukan ibadah. Tapi Awan kembali meyakinkannya, dan menuntun langkahnya ke sebuah mushola kecil di dalam Rumah Sakit.
"Kau ambil wudhu dulu ya Ras, kita shalat berjamaah di dalam." ucap Awan seraya berjalan ke tempat wudhu.
Di dalam diri Larasati terdapat pergolakan, ia nampak ragu untuk melakukan ibadah. Di dalam hati kecilnya masih tersimpan dendam untuk Juragan Suripto. Ia tak mampu mengendalikan diri, hasratnya untuk membalaskan dendam sangat menggebu-gebu. Ia berjalan pergi meninggalkan mushola itu. Awan yang sedang menunggu di dalam mushola nampak resah menanti kedatangan pujaan hatinya. Tapi ia tak bisa menunggu lebih lama lagi, karena waktu shalat akan segera habis.
Sepertinya Larasati belum siap melakukan ibadah, lebih baik aku shalat lebih dulu, setelah itu aku akan mencarinya." batin Awan di dalam hatinya.
Sementara Larasati kembali menemui Mbok Trinem, dan ia diberi tahu jika Ibunya sudah sadar dan ingin menemuinya. Tak berapa lama seorang perawat datang mencarinya, karena sang Ibu terus memanggil namanya. Dengan rasa cemas yang luar biasa, Larasati melangkah masuk ke dalam ruangan sang Ibu.
"Ndok cah ayu." ucap sang Ibu yang terbaring lemah.
"Iya Bu, Ibu istirahat saja ya, jangan banyak bergerak."
"Apa kau sudah melihat adikmu?"
"Hmm Larasati baru saka datang Bu, jadi Laras belum sempat melihatnya."
Sebenarnya Larasati memang tidak memiliki niat untuk melihat adik bayinya. Ia lebih menghawatirkan keselamatan Ibunya, dan tidak terlalu memikirkan adiknya. Nampak raut wajah sang Ibu gusar, rupanya ia tahu jika Larasati tidak bisa menerima sang adik begitu saja. Lalu Ibunya berusaha memberi pengertian pada Larasati, dan memintanya untuk berlapang dada menerima adik bayinya.
"Nduk Ibu tahu apa yang sedang mengganjal di dalam hatimu. Kau pasti dilema, tak bisa menerima kehadiran adikmu begitu saja. Mengingat siapa ayah dari adikmu itu, dan Ibu dapat memahami nya. Tapi adikmu tak ada sangkut pautnya dengan dosa yang dilakukan ayahnya. Biarlah adikmu itu hidup selayaknya anak-anak yang lainnya, jangan kau hubungkan masa lalu ayahnya dengan kehidupan nya. Terimalah ia seperti adik kandung mu sendiri, karena bagaimanapun ia adalah darah daging Ibu. Sama seperti mu, ia adalah anak Ibu. Jika kelak Ibu sudah tiada, siapa yang akan menyayanginya jika bukan kau satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Karena kita tak akan tahu sampai mana hidup akan membawa kita. Berjanjilah pada Ibu Nduk, jika kau akan selalu menjaga dan menyayangi adikmu itu. Jangan pernah kau membencinya, dan jika kau mampu lupakan dendammu pada Suripto. Biarkan ia menanggung semua dosanya di dalam penjara, Ibu hanya ingin kau tenang dan bahagia menjalani kehidupan dengan normal. Tanpa bersekutu dengan makhluk gaib, hanya itu Nduk yang Ibu inginkan. Apakah kau bisa membuat janji pada Ibu?" ucap Karsiti dengan menggengham tangan Larasati.
Terlihat Larasati menundukkan kepalanya, kedua matanya berkaca-kaca. Hatinya sangat pilu mendengar ucapan sang Ibu, tak terasa bulir-bulir bening dari kedua matanya menetes. Tanpa mengatakan apa-apa rupanya sang Ibu dapat mengetahui isi hatinya. Larasati menjadi dilema setelah mendengar ucapan Ibunya. Bagaimana mungkin ia bisa membuat janji pada sang Ibu, karena di dalam hati kecilnya masih ada dendam yang berkobar, untuk melenyapkan Juragan Suripto.
"Tapi Bu, Laras tak yakin dapat mengubur dendam pada lelaki biadap itu. Kalau untuk masalah adik ku, mungkin aku bisa berusaha menerima kehadirannya. Tapi Laras butuh waktu untuk dapat menyayangi nya setulus hati, jika hanya untuk sekedar menjaganya, mungkin Laras dapat melakukan nya. Tapi jangan harapkan lebih dari itu Bu, Laras tak yakin dapat melakukan nya huhuhu."
"Pelan-pelan Nduk, kau pasti bisa, Ibu tahu itu. Kau adalah anak yang baik, hanya karena nasib buruk saja yang telah membuatmu berubah. Perlahan tapi pasti kau bisa menjadi Larasati yang Ibu kenal dulu. Jika setelah ini kau kembali kecewa atau berduka, jangan salahkan dirimu lagi. Itu semua sudah takdir yang Maha Kuasa. Sekarang temuilah adikmu, gendong ia dan rasakan betapa ia sangat berharganya sama dengan dirimu." pinta Karsiti dengan meneteskan air mata.
Dengan langkah gontai, Larasati berjalan ke ranjang sang adik. Ia memandang wajah adiknya yang sedang terpejam. Larasati berderai air mata, tangannya bergetar ketika menyentuh wajah adiknya. Lalu ia menggendong sang adik dalam dekapannya, kemudian berjalan mendekati Ibu nya. Nampak Karsiti menyunggingkan senyumnya, ia terlihat lega melihat Larasati perlahan dapat menerima sang adik.
Setelah itu Larasati menggendong adiknya dan berjalan ke ranjang Ibunya. Dengan berlinang air mata, Karsiti memeluk Larasati yang sedang membopong adiknya.
"Berikan ia nama yang indah Nduk, Ibu sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi. Ingat pesan terakhir Ibu, tepatilah janji itu." kata Karsiti sebelum ia jatuh pingsan.
Sontak saja Larasati terkejut melihat keadaan Ibunya. Ia berteriak memanggil Dokter, kemudian Awan masuk ke dalam ruangan itu dan memenangkan Larasati.
"Letakan adikmu di ranjangnya, mari kita keluar dulu. Biarkan Dokter memeriksa Ibumu." bujuk Awan seraya memapah Larasati keluar.
Nampak seorang perawat masuk ke dalam ruangan, dengan membawa alat kejut jantung. Semua orang di luar terlihat makin was-was, mereka semua hanya bisa berdoa berharap jika semua akan baik-baik saja. Setelah menunggu hampir empat puluh menit, terlihat seorang Dokter keluar dengan peluh yang membasahi keningnya. Ia menundukkan kepala dengan mengucapkan permintaan maaf, karena ia gagal menyelamatkan nyawa pasiennya. Seketika semua orang langsung meneteskan air mata, hanya Larasati saja yang langsung jatuh pingsan. Sepertinya raganya sudah tak mampu mendapatkan kabar buruk lagi. Dengan segera Awan meminta Mbok Trinem mengurus Larasati, karena ia dan Pak Parjo harus segera mengurus jenazah Karsiti.
"Mbok kalau Larasati sudah sadar tolong segera hubungi saya atau Pak Parjo. Jangan biarkan ia sendirian, saya akan mengurus berkas-berkas kepulangan jenazah Ibu." kata Awan dengan wajah sedih.
Kini Mbok Trinem sedang menunggu Larasati di bangku lorong Rumah Sakit. Ia sedang tak sadarkan diri, dan tergeletak di samping Mbok Trinem. Nampak perempuan tua itu hanya bisa menangis dan meratapi nasib anak-anak Juragannya. Tak berselang lama Larasati sadar, ia bangkit berdiri dengan tubuh sempoyongan.
"Mbak istirahat dulu ya, Mas Awan meminta saya menjaga Mbak Laras disini. Dia sedang mengurus berkas kepulangan jenazah Juragan."
Perkataan Mbok Trinem menyadarkan Larasati, jika saat ini Ibunya telah tiada, dan pergi untuk selamanya. Larasati menjerit histeris dengan berderai air mata, ia berteriak memanggil nama Ibunya berulang kali, seakan tak terima jika Ibunya telah tiada.
"Sabar ya Mbak, Simbok mengerti jika Mbak Laras sangat terpukul dengan berpulangnya Juragan Ibu. Tapi Mbak Laras harus kuat dan berlapang dada, ada adikmu yang masih membutuhkan Mbak Laras. Yang ikhlas ya Mbak, yang sabar."
Nampak kedua mata Larasati membulat dengan sempurna, tangannya mengepal mengingat wajah Juragan Suripto. Menurutnya Ibunya tiada karena lelaki biadap itu.
"Ibu meninggalkan ku untuk selamanya karena ulahmu Suripto, lihat saja aku akan segera mengirimmu ke neraka." batin Larasati di dalam hatinya.
...Tunggu pembalasan dendam Larasati ya, othor lagi sibuk di RL dan menulis cerita Penelusuran gaib rania. Jadi novel ini rada slow updatenya, see you 👋...
...Bersambung. ...