Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Disekap di Alas Roban!!!


Samar-samar Awan membuka kedua matanya. Ia tersadar di dalam sebuah gubuk dengan cahaya yang temaram. Awan memandang ke segala arah, dan ia melihat sosok lelaki tampan sedang duduk dengan menyilangkan kedua kaki nya. Awan berusaha bangkit berdiri, tapi seakan ada ikatan tak kasat mata yang melilit tubuhnya.


"Tolong lepaskan aku, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau membawaku ke tempat ini?." Awan berteriak lantang, tubuhnya menggelepar seperti cacing kepanasan.


Ki Barata membuka kedua matanya, menatap Awan dengan senyum mengejek.


"Kau tak akan bisa terlepas dari belenggu yang melekat di tubuhmu. Aku akan melepasmu ketika Ageng Sedo datang dan bersedia untuk ku persunting." Sahutnya dengan membulatkan kedua matanya.


Ageng Sedo? Siapa dia? Apa hubungannya dengan ku? Kenapa aku menjadi tawanan supaya perempuan itu mau menikah dengannya? Batin Awan penuh tanya.


"Jadi kau benar-benar lupa semuanya? Biar ku ingatkan, Ageng Sedo adalah istri gaibmu. Karena kau sudah merasuk ke tubuh manusia, Ageng Sedo tak dapat mencari dimana keberadaan mu. Tapi aku tau segalanya, dan akan menggunakan mu untuk menekan nya. Kau adalah salah satu kelemahan nya, bersama denganmu akan ku tangkap salah satu pengikutnya. Ageng Sedo tak akan bisa berkutik lagi, dia akan menerima pinanganku. Setelah itu kau akan tetap ku lenyapkan, aku tak ingin mengambil resiko dengan mengampuni nyawamu!." Seru Ki Barata seraya menyalakan dupa.


Ki Barata memanggil burung gagak peliharaan nya, ia memerintahkan nya untuk menemui Larasati dan menyampaikan pesan.


"Melalui bola matamu, wanita itu akan melihat apa yang terjadi disini. Aku ingin dia datang menyerahkan nyawanya sendiri. Beritau dia tentang siapa jati diri lelaki itu yang sebenarnya." Perintah Ki Barata dengan membaca mantra-mantra.


Di tengah kegelapan malam, Larasati masih terjaga di dalam kamarnya. Ia mendapatkan kabar dari ibu Awan, jika putra nya belum kembali ke rumah sampai larut malam. Karena cemas Larasati berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kesaktian yang bersemayam dalam dirinya, tak mampu menembus tabir hitam yang menutupi penglihatan batinnya.


Kenapa aku merasa sangat cemas. Apa yang sebenarnya terjadi pada Awan? Aku harap dia baik-baik saja. Entah kenapa aku merasa lebih dekat dengannya belakangan ini. Batin Larasati penuh tanya.


Tiba-tiba perhatian nya teralihkan dengan seekor burung gagak yang yang ada di atas pohon. Burung itu terus menatapnya seakan ingin menyampaikan sesuatu. Larasati keluar rumah dan berjalan menghampiri burung itu. Sorot matanya memancarkan cahaya suar kemerahan, dan dari dalam mata burung gagak itu, Larasati dapat melihat dimana keberadaan Awan. Laras melihat Ki Barata sedang menginjak dada Awan, dan Awan memekik menahan kesakitan. Terlihat pula penjelasan Ki Barata tentang siapa sebenarnya Awan. Ya jati diri Awan terungkap karena Ki Barata memberikan penglihatan itu padanya.


Ja jadi... Awan benar-benar sudah tiada... Dan raganya ditempati oleh mas Adinata? Batin Larasati dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan dukun yang bekerja sama dengan Suripto?." Gumam Larasati pada dirinya sendiri.


Terlintas di batin Larasati jika lelaki yang dicintainya sedang dalam bahaya. Jiwa Adinata yang berada di dalam raga Awan, saat itu sedang di sekap oleh Ki Barata. Dengan penuh amarah Larasati menggunakan kesaktiannya menembus ruang dan waktu, ia pergi ke bukit Alas Roban hanya dengan sekelebatan saja.


"Lepaskan lelaki yang kau tahan di dalam gubukmu sekarang juga! Jika tidak aku akan melakukan sesuatu padamu!." Seru Larasati dengan membulatkan kedua matanya.


Tanpa tau siapa lawan nya saat itu Larasati datang untuk mempertaruhkan nyawanya. Mbah Warno diperintahkan Ki Barata untuk melumpuhkan Larasati. Karena bagi Ki Barata Larasati bukanlah lawan yang seimbang untuknya. Keduanya saling berhadapan di tengah kegelapan malam. Mbah Warno membaca rapalan mantra, untuk mendatangkan beberapa mayat hidup. Para mayat yang tak pernah ditemukan keberadaannya di tengah hutan angker itu, menjadi budak abadi Ki Barata. Mereka menyerang Larasati dari berbagai arah, tapi Larasati bukanlah manusia biasa. Dengan kekuatan dari sosok gaib yang membantunya selama ini, Larasati berhasil menghancurkan tubuh mayat-mayat itu. Satu persatu mayat hidup itu meleleh bagaikan lilin. Tapi Mbah Warno tak mau kalah begitu saja, ia mengancam Larasati dengan menyebut nama ibu nya.


"Menyerahlah jika kau ingin nyawa ibumu selamat. Saat ini ia sedang hamil tua, dan akan akan segera melahirkan. Kau bisa menyelamudua nyawa sekaligus dengan menyerahkan diri padaku. Lelaki yang kau cintai ada di dalam gubuk itu, pergilah bersamaku dan kau akan melihat keadaan nya." Ucap Mbah Warno dengan tersenyum miring.


"Kenapa kau melibatkan orang lain dalam masalah ini? Kau hanya dibayar oleh Suripto untuk mencelakai ku bukan? Lepaskan dia, urusanmu hanya denganku. Jangan libatkan siapapun." Sahut Larasati menahan amarah.


"Sekarang ini sudah bukan urusan Suripto lagi. Lelaki di dalam gubuk itu adalah titisan suami Kanjeng Ratu Ageng Sedo. Karena itulah Ki Barata ingin menggunakan nya untuk memancing Ratu Ageng datang ke hadapan nya. Dan semua itu hanya akan terjadi jika kau dan lelaki itu terpojok tak berdaya. Kanjeng Ratu Ageng Sedo akan datang untuk menyelamatkan jiwa kalian berdua." Jelas Mbah Warno seraya mengikatkan belenggu tak kasat mata ke tubuh Larasati.


...Setelah hiatus selama sebulan, author mencoba mencari semangat untuk meneruskan novel ini. Semoga semua pembaca terus mendukung untuk melanjutkan cerita ini, InsyaAllah setelah ini tamat akan lanjut ke season 2 Desa Rawa Belatung. Tentu saja dengan dukungan dari semua pembaca tercinta. Yuk berikan semangat dengan memberikan Gift dan Vote nya, Terima kasih all 😘💕...


...Bersambung....


...Buat yang suka genre romance yuk mampir baca ke novel ku yang lainnya 🤗😘...