Dendam Perempuan Berjubah Merah

Dendam Perempuan Berjubah Merah
Merasuk Ke Dalam Raga Awan!!!


Akhirnya Adinata terdiam untuk sesaat, dia kembali mengingat pesan Awan untuk yang terakhir kalinya, dia teringat ucapan Awan untuk menggunakan tubuhnya dengan sebaik-baiknya. Adinata memejamkan kedua matanya, dan mengucapkan basmallah sebelum memasumi raga Awan, semenjak tinggal di alam gaib bersama makhluk kegelapan, Adinata sudah melupakan kebiasaan nya sebagai manusia.


Whuust...


Setelah membaca basmallah, Adinata melesat masuk ke dalam raga yang sudah tidak bernyawa itu. Tetap ada penolakan di dalam tubuh Awan, tapi Adinata berpasrah diri pada yang Maha Kuasa, dia kembali melantunkan ayat-ayat suci, supaya jiwanya dapat menyatu dengan raga Awan. Ada rasa mencekik di lehernya dan rasa panas di belakang punggungnya, tapi Adinata tetap bertahan dan merasakan semua kesakitan itu. Sampai akhirnya dia tidak bisa merasakan apapun lagi.


Seorang perawat menjerit ketakutan lalu pingsan, dan disusul oleh jeritan perawat lainnya. Dan seorang perawat lainnya berlari keluar Ruang ICU, dia berteriak histeris memanggil Dokter yang berjalan memunggungi nya.


"Dokter pasien atas nama Awan yang dinyatakan meninggal dunia pukul 20.30 tadi, di diaa hidup kembali. Tadi kami sedang menghibur ibunya yang terbangun dari pingsan, ibu itu bersikeras untuk menemui anaknya, tapi sesuatu terjadi, tubuhnya kembali mengejang, dan kami mendengar dia mengerang Dok, lalu dia kembali terkulai lemas, beberapa perawat juga pingsan, tapi beberapa dari kami memberanikan diri, dan memastikan kondisinya. Sungguh diluar dugaan, ketika saya mengecek nadi dan detak jantungnya, ternyata kembali berfungsi meski sangat lemah." Jelas Perawat itu, membuat Dokter cemas dan kembali ke Ruang ICU.


Sesampainya didepan pasien, sang ibu diminta untuk menunggu di luar, Dokter kembali melakukan pengecekan, Dokter itu memakaikan kembali alat-alat kesehatan yang tadi dilepaskan.


"Subhanallah, hanya dengan kuasaMu ya Allah, segala yang tidak mungkin bisa terjadi, hari ini Kau menunjukkan kekuasaanMu, wahai Maha Kuasa yang menguasai kehidupan dan kematian." Ucap Dokter muda itu dengan terduduk di lantai, terdengar pula suara takbir yang berulang kali di ucapkan nya.


Risma kembali menyunggingkan senyumnya, sujud syukur tak lupa dilakukannya. Entah kebaikan apa yang pernah dilakukannya dimasa lalu, karena hidup anaknya kembali.


Adinata kini berada didalam tubuh Awan, dia membuka kedua matanya perlahan. Kepalanya terasa berat dan sedikit pusing, sebelah tangannya terbungkus oleh perban, terasa kaki dan aneh. Sudah hampir satu tahun, dia tidak dapat merasakan apapun secara langsung, pagi itu dia dapat merasakan kembali apapun yang menyentuh kulitnya. Secara perlahan dia menghirup nafas dalam-dalam, tercium aroma khas Rumah Sakit, yang waktu itu sangat tidak disukainya. Tapi pagi itu dia merasa aroma khas Rumah Sakit sangat harum sekali, bahkan dia terus menghirupnya.


"Loh Awan kau sudah bangun Nak?." Tanya nya dengan wajah bahagia.


Awan, siapa Awan, batinku dengan terus mengingat.


"Kenapa Awan, apa kau masih pusing, apa kau ingin minum Nak, biar Ibu ambilkan ya."


Ucap seorang perempuan yang menyebut dirinya Ibu, Adinata sendiri masih bingung dengan semua hal yang terjadi saat itu, dia belum bisa mengingat setiap kejadian sebelumnya. Adinata memejamkan kedua matanya berusaha mengingat semuanya, semakin keras dia mengingat, maka akan semakin keras sakit di kepalanya.


Risma menyodorkan air didalam gelas dengan sedotan di dalamnya.


"Ini Wan diminum dulu, alhamdulillah kau sudah semakin membaik sekarang, kemarin kau sempat sadar tapi terlelap kembali, cepat sembuh ya Wan, biar Ibu tidak hawatir lagi, Ibu tidak ingin kehilangan mu lagi, kalau kemarin kau benar-benar pergi, Ibu tidak tau bisa bertahan tanpamu atau tidak, karena kau satu-satunya hal berharga yang Ibu punya di dunia ini." Ucap Risma seraya mengusap yang sebagian terbungkus oleh perban.


Nampak Adinata merasa nyaman dengan perhatian tulus dari Risma, seakan tubuhnya tau jika kasih sayang yang diucapkan oleh Risma benar-benar dari dalam hatinya.


...Bersambung....